LOGIN“Fanya suka cowok kayak gimana sih?”
Pertanyaan itu langsung bikin satu meja kantin heboh. “NAH TUH!” Hani menunjuk Marni. “Gue juga penasaran!” Fanya yang lagi minum es teh hampir tersedak. “Kalian nggak ada kerjaan lain?” “Nggak.” Jawaban Hani terlalu cepat sampai Marni ngakak. Jam istirahat siang itu kantin lagi penuh banget. Suara sendok beradu, teriakan abang bakso, sampai suara siswa yang saling panggil bercampur jadi satu. Di meja dekat jendela, Fanya duduk diapit Hani dan Marni yang lagi mode kepo akut. “Ayo jawab,” paksa Marni sambil menopang dagu. “Biar kita bisa nilai cowok-cowok sekolah ini punya harapan apa nggak.” Fanya memutar sedotan pelan. “Kenapa jadi serius begini…” “Soalnya sejak lu masuk sekolah,” kata Hani sambil mencondongkan badan, “anak-anak cowok jadi makin rajin.” Marni langsung nimbrung. “Bahkan Aldi yang biasanya bau ketek sekarang pake parfum.” Mereka bertiga langsung ketawa. Fanya menggeleng geli. “Kalian parah.” “Tapi serius, Fan,” lanjut Hani. “Lu tipe yang gampang suka orang nggak sih?” Fanya diam sebentar. Matanya tanpa sadar melihat ke lapangan basket di luar kantin. Clinton lagi latihan free throw bersama timnya. Beberapa siswi masih aja nontonin meski panas terik. “Hmm…” Fanya berpikir pelan. “Kayaknya nggak gampang.” “Nah tuh.” Marni langsung semangat. “Berarti standar lu tinggi.” “Mungkin.” “Terus tipe ideal lu apa?” Fanya menggigit sedotannya kecil sebelum menjawab. “Yang pasti… aku suka cowok pintar.” “Ohhh.” Hani langsung mengangguk dramatis. “Minimal otaknya nyala.” “Terus?” Fanya berpikir lagi. “Berbakat juga.” “Kayak?” “Ya… punya sesuatu yang bikin dia beda.” “Anjay,” Marni tepuk meja pelan. “Dalem.” Fanya ketawa kecil. “Apaan sih.” “Udah, lanjut.” Dan tanpa sadar… suara langkah seseorang berhenti di balik rak minuman dekat meja mereka. Brian. Cowok itu awalnya cuma mau beli air mineral sebelum masuk kerja kelompok. Tapi saat mendengar nama Fanya disebut langkahnya otomatis tertahan. “Nah kalau fisik?” tanya Hani antusias. Fanya mengangkat bahu kecil. “Nggak terlalu penting sih.” “BOHONG.” “Astaga…” “Tapi pasti ada lah,” kata Marni. “Masa iya lu suka cowok lemah.” Fanya langsung menggeleng cepat. “Nggak juga. Aku suka cowok yang aktif olahraga.” “Kenapa?” “Karena keren aja dilihatnya.” Hani langsung melirik ke lapangan basket. “Clinton banget berarti.” Fanya nggak jawab. Tapi senyum kecil di wajahnya udah cukup jadi jawaban. Dan di balik rak minuman— jari Brian perlahan mengepal. Pintar. Berbakat. Jago olahraga. Kalimat-kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Dan semakin ia pikirkan… semakin terasa jauh. Karena satu-satunya hal yang ia punya mungkin cuma pintar. Sisanya? Nggak ada. Brian menunduk pelan. Matanya sempat melihat pantulan dirinya di kaca kulkas minuman. Seragam kusut. Lingkar hitam di bawah mata. Dan wajah lelah yang bahkan nggak terlihat menarik sedikit pun. Tiba-tiba “Brian?” Cowok itu tersentak. Fanya berdiri hanya beberapa langkah darinya sambil memegang botol minum. Entah sejak kapan. “Kamu ngapain di situ?” Brian langsung salah tingkah. “Eh… beli minum.” “Oh.” Sunyi sebentar. Hani dan Marni diam-diam memperhatikan dari meja sambil saling sikut. Brian buru-buru mengambil air mineral lalu berjalan cepat ke kasir. Tapi sebelum pergi ia sempat mendengar satu kalimat lagi dari Hani. “Kalau di sekolah ini yang paling cocok sama kriteria lu siapa?” Dan suara Fanya menjawab pelan, “…mungkin Clinton.” Langkah Brian langsung berhenti sepersekian detik. Cuma sepersekian detik. Tapi cukup buat dadanya terasa jatuh entah ke mana. Sore harinya. Langit mulai gelap saat Brian bekerja di minimarket. Tangannya sibuk menyusun barang di rak mie instan. Tapi pikirannya nggak fokus sama sekali. “Bri.” “Iya, Bu?” Pemilik minimarket menunjuk tumpukan kardus. “Itu salah susun.” Brian baru sadar ia menaruh kopi ke rak sabun mandi. “Maaf…” Biasanya Brian jarang melamun. Tapi malam ini beda. Kepalanya penuh suara Fanya. Pintar. Berbakat. Jago olahraga. Brian tertawa kecil pahit sambil duduk di bangku belakang gudang. “Jauh banget…” Ponselnya bergetar. Grup kelas lagi-lagi ramai. Hendra mengirim video latihan basket Clinton sore tadi. Caption-nya: “Cowok ideal para cewek.” Notifikasi langsung penuh. “KEREN PARAH.” “Fix calon pacar Fanya.” “Visual + atlet + kaya. Paket lengkap.” Brian membaca semua komentar itu tanpa ekspresi. Lalu pelan-pelan mengunci layar ponselnya. Sunyi. Hanya suara kulkas minimarket berdengung pelan. Beberapa detik kemudian Brian berdiri. Matanya jatuh pada poster kecil di kaca gudang. “PENDAFTARAN EKSKUL BASKET MASIH DIBUKA.” Cowok itu diam menatap poster itu lama sekali. Sampai akhirnya… ia meraih pulpen di meja kasir. Dan malam itu untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Brian mulai melakukan sesuatu yang bahkan terdengar mustahil untuk dirinya sendiri.“Fanya suka cowok kayak gimana sih?” Pertanyaan itu langsung bikin satu meja kantin heboh. “NAH TUH!” Hani menunjuk Marni. “Gue juga penasaran!” Fanya yang lagi minum es teh hampir tersedak. “Kalian nggak ada kerjaan lain?” “Nggak.” Jawaban Hani terlalu cepat sampai Marni ngakak. Jam istirahat siang itu kantin lagi penuh banget. Suara sendok beradu, teriakan abang bakso, sampai suara siswa yang saling panggil bercampur jadi satu. Di meja dekat jendela, Fanya duduk diapit Hani dan Marni yang lagi mode kepo akut. “Ayo jawab,” paksa Marni sambil menopang dagu. “Biar kita bisa nilai cowok-cowok sekolah ini punya harapan apa nggak.” Fanya memutar sedotan pelan. “Kenapa jadi serius begini…” “Soalnya sejak lu masuk sekolah,” kata Hani sambil mencondongkan badan, “anak-anak cowok jadi makin rajin.” Marni langsung nimbrung. “Bahkan Aldi yang biasanya bau ketek sekarang pake parfum.” Mereka bertiga langsung ketawa. Fanya menggeleng geli. “Kalian parah.” “Tapi serius, Fan,” la
“Lu suka sama Fanya?” Pertanyaan itu keluar begitu aja dari mulut Dodit. Dan sukses bikin suasana kantin mendadak hening di meja basket. Hendra langsung ngakak keras. “Anjir, frontal banget.” Clinton yang sedang minum cola cuma menaikkan alis santai. “Kalau iya kenapa?” “WOOOO!” Satu meja langsung ribut. Dodit sampai nepuk-nepuk meja. “Fix! Kapten kita kena juga akhirnya!” Clinton tertawa kecil sambil menyender di kursi. Tatapannya mengarah ke luar kantin. Tepat ke arah Fanya yang sedang berjalan bersama Hani dan Marni. Rambut panjang cewek itu bergerak pelan tertiup angin. Tangannya sibuk memegang es kopi sambil tertawa kecil mendengar cerita Hani. Clinton memperhatikan beberapa detik. Lalu sudut bibirnya naik tipis. “Menarik aja,” gumamnya. Hendra langsung menyikut bahunya. “Wah bahaya.” “Fan.” “Hm?” Marni mendekat sambil menahan senyum aneh. “Jujur.” “Apa lagi?” “Lu sama Clinton ada sesuatu ya?” Fanya hampir tersedak minum. “A
“CLINTOOOON!” Teriakan siswi-siswi menggema dari lapangan basket sampai koridor sekolah. Suara sepatu berdecit keras di lantai lapangan. Bugh! Bola basket masuk sempurna ke ring. Sorakan langsung pecah. “GILA MASUK LAGI!” “KEREN BANGET!” Di tengah riuh tepuk tangan, Clinton menangkap bola dengan satu tangan sambil menyeringai santai. Kaos basket hitamnya basah oleh keringat. Napasnya sedikit berat, tapi wajahnya masih terlihat percaya diri seperti biasa. “Lagi! Lagi!” teriak seseorang dari tribun. Hendra tertawa sambil melempar bola ke arah Clinton. “Pamer mulu lu.” Clinton melompat tanpa aba-aba. Dan… Brak! Satu tangan menghantam bola masuk ke ring lewat dunk keras yang bikin satu lapangan heboh. Siswi-siswi langsung menjerit histeris. “YA AMPUN!” “Gue nikah aja sekarang!” Dodit sampai ngakak lihat tribun cewek. “Gila. Fans club lu makin barbar.” Clinton cuma mengambil handuk lalu mengusap wajahnya santai. Memang begitu tiap hari. Ham
Brak! Meja paling belakang dipukul keras sampai satu kelas tersentak. “Kalau mau tidur, nggak usah sekolah sekalian!” Suara Pak Ardi menggema memenuhi kelas XI-A. Beberapa siswa langsung menoleh ke belakang dengan wajah tegang. Brian tersentak bangun. Napasnya berat. Pandangannya masih kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok guru fisika di depannya. “Kamu pikir saya nggak lihat dari tadi?” suara Pak Ardi tajam. Kelas mendadak sunyi. Hani sampai berhenti makan permen. Marni berbisik kecil, “Waduh…” Brian mengusap wajah pelan lalu berdiri. “Maaf, Pak.” “Maaf?” Pak Ardi tertawa sinis kecil. “Setiap pelajaran saya, kamu selalu tidur.” Beberapa siswa mulai saling lirik. Karena memang benar. Brian hampir selalu tertidur di kelas. Kadang di jam pertama. Kadang di tengah pelajaran. Kadang bahkan saat guru sedang menjelaskan di depan mukanya langsung. “Kalau nggak niat sekolah, silakan keluar.” Brian diam. Tangannya mengepal kecil di samping tubuh. Di dep
“Brian!” Suara Fanya nyaris kalah oleh deras hujan. Beberapa siswa langsung menoleh ke parkiran saat melihat Brian jatuh terduduk di samping motornya. Cowok itu masih memegangi dada sambil menunduk. Napasnya berat. “Eh, dia kenapa?” “Masuk angin kali.” “Jangan-jangan pingsan lagi…” Orang-orang cuma melihat. Nggak ada yang benar-benar mendekat. Sampai akhirnya Fanya berlari menerobos hujan tanpa pikir panjang. “Fan!” Hani kaget. “Payung!” Fanya nggak peduli. Sepatunya langsung basah kena genangan air. Ia jongkok di depan Brian dengan napas sedikit ngos-ngosan. “Kamu nggak apa-apa?” Brian mengangkat wajah pelan. Mata mereka bertemu lagi. Dan sialnya… di kondisi seacak itu pun, Brian tetap sadar satu hal Fanya cantik banget. “Brian?” Fanya mengernyit khawatir. “Kamu denger aku nggak?” “Iya…” jawab Brian pelan. “Aku nggak apa-apa.” “Boong.” Suara itu datang dari belakang. Hani dan Marni akhirnya ikut mendekat sambil membawa payung. Marni langsung melotot melihat
“Brian belum bayar SPP tiga bulan.” Suara bendahara kelas itu nggak keras. Tapi cukup bikin satu kelas mendadak sunyi beberapa detik. Brian yang baru masuk kelas langsung berhenti di dekat pintu. Tangannya masih memegang helm lusuh. Beberapa kepala mulai menoleh. “Siapa aja emang?” tanya seseorang pelan. Bendahara kelas membuka buku catatan. “Brian. Sama dua anak kelas sebelah.” Hendra langsung melirik ke belakang. “Woi, Bri… lu diburu negara ternyata.” Beberapa anak ketawa kecil. Nggak jahat. Tapi tetap aja bikin tengkuk Brian terasa panas. Cowok itu berjalan ke bangkunya tanpa bicara apa-apa. Tasnya diletakkan pelan. Kursi berdecit kecil saat ia duduk di pojok belakang dekat jendela. Tempat paling aman buat nggak dilihat orang. Atau setidaknya… itu yang selalu Brian pikirkan. “Brian.” Wali kelas masuk sambil membawa map. “Nanti ke ruang administrasi ya.” Brian mengangguk kecil. “Iya, Bu.” Nggak ada alasan. Nggak ada pembelaan. Karena memang belum bayar.







