LOGIN“CLINTOOOON!”
Teriakan siswi-siswi menggema dari lapangan basket sampai koridor sekolah. Suara sepatu berdecit keras di lantai lapangan. Bugh! Bola basket masuk sempurna ke ring. Sorakan langsung pecah. “GILA MASUK LAGI!” “KEREN BANGET!” Di tengah riuh tepuk tangan, Clinton menangkap bola dengan satu tangan sambil menyeringai santai. Kaos basket hitamnya basah oleh keringat. Napasnya sedikit berat, tapi wajahnya masih terlihat percaya diri seperti biasa. “Lagi! Lagi!” teriak seseorang dari tribun. Hendra tertawa sambil melempar bola ke arah Clinton. “Pamer mulu lu.” Clinton melompat tanpa aba-aba. Dan… Brak! Satu tangan menghantam bola masuk ke ring lewat dunk keras yang bikin satu lapangan heboh. Siswi-siswi langsung menjerit histeris. “YA AMPUN!” “Gue nikah aja sekarang!” Dodit sampai ngakak lihat tribun cewek. “Gila. Fans club lu makin barbar.” Clinton cuma mengambil handuk lalu mengusap wajahnya santai. Memang begitu tiap hari. Hampir semua orang di sekolah kenal Clinton. Kapten basket. Juara turnamen antar sekolah. Nilai bagus. Muka bagus. Dan yang paling parah dia sadar dirinya menarik. Di koridor lantai dua, Hani menarik tangan Fanya cepat-cepat. “Ayo cepet!” “Ke mana sih?” “Lapangan!” Marni ikut heboh di belakang. “Clinton lagi latihan!” Fanya mengernyit bingung. “Terus?” “Terus apanya?! Lu belum lihat dia main basket?” “Belum.” Hani langsung memegang dada dramatis. “Kasihan banget hidup lu.” Fanya ketawa kecil meski tetap ikut turun ke bawah. Begitu sampai tribun… suara ramai langsung memenuhi telinga. Cowok-cowok tim basket sedang latihan. Tapi pusat perhatian jelas cuma satu orang. Clinton. Fanya berdiri diam beberapa detik memperhatikan. Gerakan cowok itu cepat. Lincah. Dan entah kenapa gampang banget bikin orang melihat ke arahnya terus. “Dia emang segila itu ya?” tanya Fanya pelan. Marni langsung menjawab tanpa mikir. “Sayangnya iya.” Tepat saat itu Clinton berhasil merebut bola lalu melakukan shooting tiga angka sempurna. Sorakan kembali pecah. Dan di tengah keramaian itu… mata Clinton tanpa sengaja menangkap sosok Fanya di tribun. Gerakannya berhenti sepersekian detik. Hendra langsung sadar. “Ohhh…” Dodit ikut menoleh lalu nyengir. “Pantes dari tadi semangat.” Clinton melempar handuk ke muka Dodit. “Bacot.” Tapi sudut bibirnya terangkat tipis. Selesai latihan, beberapa siswi langsung mengerubungi Clinton. “Clint, nanti jadi nongkrong?” “Foto dong!” “Kamu capek nggak?” Clinton melayani seadanya sambil minum. Tatapannya sesekali malah mencari seseorang di tribun. Dan ternyata Fanya masih di sana. Sedang berdiri sambil mendengarkan ocehan Hani. Clinton langsung berjalan mendekat. Beberapa siswi otomatis minggir memberi jalan. Aura populer itu terasa banget. “Fanya, kan?” Hani dan Marni langsung saling sikut pelan. Fanya menoleh. “Iya.” “Aku Clinton.” “Aku tahu.” Jawaban itu bikin Dodit yang berdiri nggak jauh langsung berbisik ke Hendra, “Wah dingin.” Tapi Clinton malah tertawa kecil. “Minimal nggak lupa nama gue.” Fanya tersenyum tipis. “Harusnya satu sekolah juga tahu.” “Berarti kamu merhatiin gue?” Hani langsung membekap mulut sendiri nahan ketawa. Fanya mengangkat alis kecil. “Percaya diri banget.” “Emang harus.” Clinton menatap Fanya beberapa detik lebih lama. Dan untuk pertama kalinya… ada cewek yang nggak langsung salting di depannya. Aneh. Tapi justru itu menarik. Di sisi lain sekolah Brian sedang duduk sendiri di perpustakaan. Buku fisika terbuka di depannya. Tapi sejak lima menit lalu, halaman yang sama belum dibalik. Suara ramai dari lapangan basket bahkan terdengar sampai sini. Brak! Sorakan penonton samar masuk lewat jendela. Penjaga perpustakaan sampai menghela napas. “Latihan lagi mereka.” Brian menoleh sekilas ke luar jendela. Dari tempat duduknya, tribun lapangan terlihat sedikit. Dan tanpa sengaja ia melihat Fanya berdiri di sana. Bersama Clinton. Dadanya langsung terasa aneh. Bukan marah. Bukan sedih juga. Cuma… sesak kecil yang nggak bisa dijelaskan. Brian buru-buru menunduk lagi. Mencoba fokus membaca. Namun beberapa detik kemudian ponselnya bergetar. Pesan dari Hendra muncul di grup kelas. Foto Clinton dan Fanya barusan. Caption-nya cuma satu. “Visual sekolah tahun ini.” Notifikasi langsung meledak. “Cocok banget.” “Fix pasangan favorit.” “Brian kalah sebelum mulai.” Jari Brian berhenti tepat di layar. Matanya terpaku pada komentar terakhir. Sunyi. Lalu perlahan… ia mematikan ponselnya. Tapi tepat saat Brian hendak memasukkan HP ke tas seseorang tiba-tiba duduk di kursi depannya. Brian mengangkat kepala. Dan detik itu juga napasnya tertahan. Karena Aldi teman sekelasnya sedang duduk tepat di hadapannya. eh Buset deh!! bikin kaget gue aja lu,, Aldi Pun kaget. jangan - jangan elu........ ah brisik... gue duluan... Brian memakai tasnya lalu pergi...“Fanya suka cowok kayak gimana sih?” Pertanyaan itu langsung bikin satu meja kantin heboh. “NAH TUH!” Hani menunjuk Marni. “Gue juga penasaran!” Fanya yang lagi minum es teh hampir tersedak. “Kalian nggak ada kerjaan lain?” “Nggak.” Jawaban Hani terlalu cepat sampai Marni ngakak. Jam istirahat siang itu kantin lagi penuh banget. Suara sendok beradu, teriakan abang bakso, sampai suara siswa yang saling panggil bercampur jadi satu. Di meja dekat jendela, Fanya duduk diapit Hani dan Marni yang lagi mode kepo akut. “Ayo jawab,” paksa Marni sambil menopang dagu. “Biar kita bisa nilai cowok-cowok sekolah ini punya harapan apa nggak.” Fanya memutar sedotan pelan. “Kenapa jadi serius begini…” “Soalnya sejak lu masuk sekolah,” kata Hani sambil mencondongkan badan, “anak-anak cowok jadi makin rajin.” Marni langsung nimbrung. “Bahkan Aldi yang biasanya bau ketek sekarang pake parfum.” Mereka bertiga langsung ketawa. Fanya menggeleng geli. “Kalian parah.” “Tapi serius, Fan,” la
“Lu suka sama Fanya?” Pertanyaan itu keluar begitu aja dari mulut Dodit. Dan sukses bikin suasana kantin mendadak hening di meja basket. Hendra langsung ngakak keras. “Anjir, frontal banget.” Clinton yang sedang minum cola cuma menaikkan alis santai. “Kalau iya kenapa?” “WOOOO!” Satu meja langsung ribut. Dodit sampai nepuk-nepuk meja. “Fix! Kapten kita kena juga akhirnya!” Clinton tertawa kecil sambil menyender di kursi. Tatapannya mengarah ke luar kantin. Tepat ke arah Fanya yang sedang berjalan bersama Hani dan Marni. Rambut panjang cewek itu bergerak pelan tertiup angin. Tangannya sibuk memegang es kopi sambil tertawa kecil mendengar cerita Hani. Clinton memperhatikan beberapa detik. Lalu sudut bibirnya naik tipis. “Menarik aja,” gumamnya. Hendra langsung menyikut bahunya. “Wah bahaya.” “Fan.” “Hm?” Marni mendekat sambil menahan senyum aneh. “Jujur.” “Apa lagi?” “Lu sama Clinton ada sesuatu ya?” Fanya hampir tersedak minum. “A
“CLINTOOOON!” Teriakan siswi-siswi menggema dari lapangan basket sampai koridor sekolah. Suara sepatu berdecit keras di lantai lapangan. Bugh! Bola basket masuk sempurna ke ring. Sorakan langsung pecah. “GILA MASUK LAGI!” “KEREN BANGET!” Di tengah riuh tepuk tangan, Clinton menangkap bola dengan satu tangan sambil menyeringai santai. Kaos basket hitamnya basah oleh keringat. Napasnya sedikit berat, tapi wajahnya masih terlihat percaya diri seperti biasa. “Lagi! Lagi!” teriak seseorang dari tribun. Hendra tertawa sambil melempar bola ke arah Clinton. “Pamer mulu lu.” Clinton melompat tanpa aba-aba. Dan… Brak! Satu tangan menghantam bola masuk ke ring lewat dunk keras yang bikin satu lapangan heboh. Siswi-siswi langsung menjerit histeris. “YA AMPUN!” “Gue nikah aja sekarang!” Dodit sampai ngakak lihat tribun cewek. “Gila. Fans club lu makin barbar.” Clinton cuma mengambil handuk lalu mengusap wajahnya santai. Memang begitu tiap hari. Ham
Brak! Meja paling belakang dipukul keras sampai satu kelas tersentak. “Kalau mau tidur, nggak usah sekolah sekalian!” Suara Pak Ardi menggema memenuhi kelas XI-A. Beberapa siswa langsung menoleh ke belakang dengan wajah tegang. Brian tersentak bangun. Napasnya berat. Pandangannya masih kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok guru fisika di depannya. “Kamu pikir saya nggak lihat dari tadi?” suara Pak Ardi tajam. Kelas mendadak sunyi. Hani sampai berhenti makan permen. Marni berbisik kecil, “Waduh…” Brian mengusap wajah pelan lalu berdiri. “Maaf, Pak.” “Maaf?” Pak Ardi tertawa sinis kecil. “Setiap pelajaran saya, kamu selalu tidur.” Beberapa siswa mulai saling lirik. Karena memang benar. Brian hampir selalu tertidur di kelas. Kadang di jam pertama. Kadang di tengah pelajaran. Kadang bahkan saat guru sedang menjelaskan di depan mukanya langsung. “Kalau nggak niat sekolah, silakan keluar.” Brian diam. Tangannya mengepal kecil di samping tubuh. Di dep
“Brian!” Suara Fanya nyaris kalah oleh deras hujan. Beberapa siswa langsung menoleh ke parkiran saat melihat Brian jatuh terduduk di samping motornya. Cowok itu masih memegangi dada sambil menunduk. Napasnya berat. “Eh, dia kenapa?” “Masuk angin kali.” “Jangan-jangan pingsan lagi…” Orang-orang cuma melihat. Nggak ada yang benar-benar mendekat. Sampai akhirnya Fanya berlari menerobos hujan tanpa pikir panjang. “Fan!” Hani kaget. “Payung!” Fanya nggak peduli. Sepatunya langsung basah kena genangan air. Ia jongkok di depan Brian dengan napas sedikit ngos-ngosan. “Kamu nggak apa-apa?” Brian mengangkat wajah pelan. Mata mereka bertemu lagi. Dan sialnya… di kondisi seacak itu pun, Brian tetap sadar satu hal Fanya cantik banget. “Brian?” Fanya mengernyit khawatir. “Kamu denger aku nggak?” “Iya…” jawab Brian pelan. “Aku nggak apa-apa.” “Boong.” Suara itu datang dari belakang. Hani dan Marni akhirnya ikut mendekat sambil membawa payung. Marni langsung melotot melihat
“Brian belum bayar SPP tiga bulan.” Suara bendahara kelas itu nggak keras. Tapi cukup bikin satu kelas mendadak sunyi beberapa detik. Brian yang baru masuk kelas langsung berhenti di dekat pintu. Tangannya masih memegang helm lusuh. Beberapa kepala mulai menoleh. “Siapa aja emang?” tanya seseorang pelan. Bendahara kelas membuka buku catatan. “Brian. Sama dua anak kelas sebelah.” Hendra langsung melirik ke belakang. “Woi, Bri… lu diburu negara ternyata.” Beberapa anak ketawa kecil. Nggak jahat. Tapi tetap aja bikin tengkuk Brian terasa panas. Cowok itu berjalan ke bangkunya tanpa bicara apa-apa. Tasnya diletakkan pelan. Kursi berdecit kecil saat ia duduk di pojok belakang dekat jendela. Tempat paling aman buat nggak dilihat orang. Atau setidaknya… itu yang selalu Brian pikirkan. “Brian.” Wali kelas masuk sambil membawa map. “Nanti ke ruang administrasi ya.” Brian mengangguk kecil. “Iya, Bu.” Nggak ada alasan. Nggak ada pembelaan. Karena memang belum bayar.







