Share

BAB 2

last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-24 03:05:17

Brak!

Pintu minimarket terbuka keras karena didorong seseorang dari luar.

“Brian! Cepetan, mie cup dua! Yang pedes!”

“Iya… bentar.”

Brian bergerak cepat dari belakang meja kasir. Tangannya sigap mengambil barang pesanan sambil sesekali menahan batuk kecil.

Jam dinding menunjukkan pukul 01.17 malam.

Minimarket kecil itu masih ramai anak nongkrong dan pengendara yang mampir. Lampu putih terang membuat wajah Brian terlihat makin pucat.

“Kamu belum pulang?” tanya ibu pemilik toko sambil menyusun r0k0k di rak.

“Nunggu shift selesai, Bu.”

“Kemarin juga lembur.”

Brian cuma tersenyum tipis.

“Nggak apa-apa.”

Padahal kepalanya terasa berat sejak tadi sore.

Begitu pelanggan terakhir pergi, Brian langsung duduk sebentar di kursi plastik belakang kasir. Bahunya pegal. Matanya panas karena kurang tidur.

Ponselnya bergetar.

IBU..

Brian langsung mengangkat.

“Hallo?”

“Brian, kamu belum pulang?” suara ibunya terdengar pelan dan serak.

“Sebentar lagi.”

“Kamu makan?”

“Udah.”

Bohong.

Di depannya cuma ada kopi sachet dingin dari tadi sore.

Ibunya diam beberapa detik sebelum berkata pelan,

“Jangan terlalu dipaksa kerja terus, Nak.”

Brian menunduk sambil memainkan struk belanja di tangannya.

“Iya, Bu.”

“Tadi Ibu batuk lagi sampai tetangga depan datang.”

Jantung Brian langsung menegang.

“Sesak?”

“Nggak parah kok…”

Tapi Brian tahu itu bohong.

Sudah hampir dua bulan ibunya sakit-sakitan.

Dan biaya obat nggak murah.

Karena itu Brian mengambil shift tambahan hampir setiap malam.

“Brian?” suara ibunya kembali terdengar.

“Iya?”

“Kamu sekolah jangan sampai ketiduran lagi.”

Brian tertawa kecil hambar.

“Iya… cerewet.”

Setelah telepon ditutup, ia bersandar pelan sambil memejamkan mata beberapa detik.

Tapi anehnya…

yang muncul di kepalanya malah wajah Fanya.

Rambut hitam panjang itu.

Cara bicaranya tadi pagi.

Tatapan matanya.

Brian membuka mata perlahan.

Lalu menghela napas pendek.

“Cantik banget…”

Kalimat itu keluar begitu saja tanpa sadar.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Brian merasa hari sekolah nggak terlalu melelahkan.

Pagi harinya.

Kelas XI-A ribut seperti biasa.

Marni sedang sibuk cerita soal akun gosip sekolah yang mulai membahas Fanya.

“Ini fix parah sih,” katanya sambil memperlihatkan ponsel. “Baru sehari udah masuk postingan.”

Hani ngakak.

“Caption-nya apaan?”

“‘Siswi baru SMA 1 Pratama bikin cowok-cowok gagal fokus.’”

Fanya menghela napas pelan.

“Berlebihan.”

“Lah emang kenyataannya gitu,” jawab Hani santai.

Beberapa bangku belakang terdengar suara siulan kecil.

“Fanyaaaa!”

“Anjir, nengok dikit napa.”

“Besok gue rajin sekolah deh.”

Satu kelas ketawa.

Fanya pura-pura nggak dengar.

Sementara itu…

Brian masuk kelas sambil membawa tas lusuhnya.

Matanya sembab.

Kurang tidur lagi.

Begitu berjalan ke bangku belakang, Dodit langsung nyeletuk,

“Wih, mayat hidup datang.”

Hendra ikut ketawa.

“Kerja mulu sih lu.”

Brian malas membalas. Ia duduk lalu mengeluarkan buku seadanya.

Dan seperti ada magnet

matanya otomatis mencari satu orang.

Fanya.

Cewek itu sedang tertawa kecil bersama Hani dan Marni.

Sinar matahari pagi masuk dari jendela, mengenai wajahnya setengah. Rambutnya bergerak pelan tertiup angin kipas kelas.

Brian diam.

Lama.

Sampai suara Dodit mengagetkannya.

“Ngeliatin siapa lu?”

Brian langsung mengalihkan pandangan cepat.

“Nggak.”

“Boong.”

“Nggak.”

Dodit menyipit curiga.

“Ohhhh…”

Brian mengambil buku lalu menutup muka dengan kesal.

“Berisik.”

Tapi beberapa detik kemudian

tanpa sadar ia kembali melihat ke depan.

Dan kali ini…

Fanya yang justru menoleh ke arahnya.

Mata mereka bertemu.

Jantung Brian langsung berhenti sesaat.

Refleks ia membuang muka lebih dulu.

Sial.

Kenapa deg-degan begini?

Padahal mereka bahkan belum pernah ngobrol.

“Brian.”

Suara wali kelas tiba-tiba terdengar.

“Iya, Bu?”

“Tolong bagikan buku latihan ke depan.”

Brian mengangguk pelan lalu berdiri membawa setumpuk buku.

Saat sampai di meja Fanya, tangannya berhenti sepersekian detik.

“Ini.”

Fanya menerima bukunya sambil tersenyum kecil.

“Thanks.”

Cuma satu kata.

Tapi entah kenapa…

kepala Brian langsung kosong.

Tangannya mendadak dingin.

Dan yang lebih parah

untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Brian berharap sekolah besok datang lebih cepat.

Namun saat ia hendak kembali ke bangku…

suara seseorang terdengar dari pintu kelas.

“Fanya.”

Semua langsung menoleh.

Clinton berdiri di sana sambil memasukkan tangan ke saku celana.

Senyumnya santai.

Tapi cukup bikin satu kelas heboh.

“Buset, Clinton nyamperin.”

“Mulai nih.”

Brian ikut menoleh pelan.

Dan tanpa alasan jelas

dadanya tiba-tiba terasa nggak nyaman saat melihat Clinton berjalan mendekati meja Fanya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Abu-Abu   BAB 9

    “Fanya suka cowok kayak gimana sih?” Pertanyaan itu langsung bikin satu meja kantin heboh. “NAH TUH!” Hani menunjuk Marni. “Gue juga penasaran!” Fanya yang lagi minum es teh hampir tersedak. “Kalian nggak ada kerjaan lain?” “Nggak.” Jawaban Hani terlalu cepat sampai Marni ngakak. Jam istirahat siang itu kantin lagi penuh banget. Suara sendok beradu, teriakan abang bakso, sampai suara siswa yang saling panggil bercampur jadi satu. Di meja dekat jendela, Fanya duduk diapit Hani dan Marni yang lagi mode kepo akut. “Ayo jawab,” paksa Marni sambil menopang dagu. “Biar kita bisa nilai cowok-cowok sekolah ini punya harapan apa nggak.” Fanya memutar sedotan pelan. “Kenapa jadi serius begini…” “Soalnya sejak lu masuk sekolah,” kata Hani sambil mencondongkan badan, “anak-anak cowok jadi makin rajin.” Marni langsung nimbrung. “Bahkan Aldi yang biasanya bau ketek sekarang pake parfum.” Mereka bertiga langsung ketawa. Fanya menggeleng geli. “Kalian parah.” “Tapi serius, Fan,” la

  • Cinta Abu-Abu   BAB 8

    “Lu suka sama Fanya?” Pertanyaan itu keluar begitu aja dari mulut Dodit. Dan sukses bikin suasana kantin mendadak hening di meja basket. Hendra langsung ngakak keras. “Anjir, frontal banget.” Clinton yang sedang minum cola cuma menaikkan alis santai. “Kalau iya kenapa?” “WOOOO!” Satu meja langsung ribut. Dodit sampai nepuk-nepuk meja. “Fix! Kapten kita kena juga akhirnya!” Clinton tertawa kecil sambil menyender di kursi. Tatapannya mengarah ke luar kantin. Tepat ke arah Fanya yang sedang berjalan bersama Hani dan Marni. Rambut panjang cewek itu bergerak pelan tertiup angin. Tangannya sibuk memegang es kopi sambil tertawa kecil mendengar cerita Hani. Clinton memperhatikan beberapa detik. Lalu sudut bibirnya naik tipis. “Menarik aja,” gumamnya. Hendra langsung menyikut bahunya. “Wah bahaya.” “Fan.” “Hm?” Marni mendekat sambil menahan senyum aneh. “Jujur.” “Apa lagi?” “Lu sama Clinton ada sesuatu ya?” Fanya hampir tersedak minum. “A

  • Cinta Abu-Abu   BAB 7

    “CLINTOOOON!” Teriakan siswi-siswi menggema dari lapangan basket sampai koridor sekolah. Suara sepatu berdecit keras di lantai lapangan. Bugh! Bola basket masuk sempurna ke ring. Sorakan langsung pecah. “GILA MASUK LAGI!” “KEREN BANGET!” Di tengah riuh tepuk tangan, Clinton menangkap bola dengan satu tangan sambil menyeringai santai. Kaos basket hitamnya basah oleh keringat. Napasnya sedikit berat, tapi wajahnya masih terlihat percaya diri seperti biasa. “Lagi! Lagi!” teriak seseorang dari tribun. Hendra tertawa sambil melempar bola ke arah Clinton. “Pamer mulu lu.” Clinton melompat tanpa aba-aba. Dan… Brak! Satu tangan menghantam bola masuk ke ring lewat dunk keras yang bikin satu lapangan heboh. Siswi-siswi langsung menjerit histeris. “YA AMPUN!” “Gue nikah aja sekarang!” Dodit sampai ngakak lihat tribun cewek. “Gila. Fans club lu makin barbar.” Clinton cuma mengambil handuk lalu mengusap wajahnya santai. Memang begitu tiap hari. Ham

  • Cinta Abu-Abu   BAB 6

    Brak! Meja paling belakang dipukul keras sampai satu kelas tersentak. “Kalau mau tidur, nggak usah sekolah sekalian!” Suara Pak Ardi menggema memenuhi kelas XI-A. Beberapa siswa langsung menoleh ke belakang dengan wajah tegang. Brian tersentak bangun. Napasnya berat. Pandangannya masih kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok guru fisika di depannya. “Kamu pikir saya nggak lihat dari tadi?” suara Pak Ardi tajam. Kelas mendadak sunyi. Hani sampai berhenti makan permen. Marni berbisik kecil, “Waduh…” Brian mengusap wajah pelan lalu berdiri. “Maaf, Pak.” “Maaf?” Pak Ardi tertawa sinis kecil. “Setiap pelajaran saya, kamu selalu tidur.” Beberapa siswa mulai saling lirik. Karena memang benar. Brian hampir selalu tertidur di kelas. Kadang di jam pertama. Kadang di tengah pelajaran. Kadang bahkan saat guru sedang menjelaskan di depan mukanya langsung. “Kalau nggak niat sekolah, silakan keluar.” Brian diam. Tangannya mengepal kecil di samping tubuh. Di dep

  • Cinta Abu-Abu   BAB 5

    “Brian!” Suara Fanya nyaris kalah oleh deras hujan. Beberapa siswa langsung menoleh ke parkiran saat melihat Brian jatuh terduduk di samping motornya. Cowok itu masih memegangi dada sambil menunduk. Napasnya berat. “Eh, dia kenapa?” “Masuk angin kali.” “Jangan-jangan pingsan lagi…” Orang-orang cuma melihat. Nggak ada yang benar-benar mendekat. Sampai akhirnya Fanya berlari menerobos hujan tanpa pikir panjang. “Fan!” Hani kaget. “Payung!” Fanya nggak peduli. Sepatunya langsung basah kena genangan air. Ia jongkok di depan Brian dengan napas sedikit ngos-ngosan. “Kamu nggak apa-apa?” Brian mengangkat wajah pelan. Mata mereka bertemu lagi. Dan sialnya… di kondisi seacak itu pun, Brian tetap sadar satu hal Fanya cantik banget. “Brian?” Fanya mengernyit khawatir. “Kamu denger aku nggak?” “Iya…” jawab Brian pelan. “Aku nggak apa-apa.” “Boong.” Suara itu datang dari belakang. Hani dan Marni akhirnya ikut mendekat sambil membawa payung. Marni langsung melotot melihat

  • Cinta Abu-Abu   BAB 4

    “Brian belum bayar SPP tiga bulan.” Suara bendahara kelas itu nggak keras. Tapi cukup bikin satu kelas mendadak sunyi beberapa detik. Brian yang baru masuk kelas langsung berhenti di dekat pintu. Tangannya masih memegang helm lusuh. Beberapa kepala mulai menoleh. “Siapa aja emang?” tanya seseorang pelan. Bendahara kelas membuka buku catatan. “Brian. Sama dua anak kelas sebelah.” Hendra langsung melirik ke belakang. “Woi, Bri… lu diburu negara ternyata.” Beberapa anak ketawa kecil. Nggak jahat. Tapi tetap aja bikin tengkuk Brian terasa panas. Cowok itu berjalan ke bangkunya tanpa bicara apa-apa. Tasnya diletakkan pelan. Kursi berdecit kecil saat ia duduk di pojok belakang dekat jendela. Tempat paling aman buat nggak dilihat orang. Atau setidaknya… itu yang selalu Brian pikirkan. “Brian.” Wali kelas masuk sambil membawa map. “Nanti ke ruang administrasi ya.” Brian mengangguk kecil. “Iya, Bu.” Nggak ada alasan. Nggak ada pembelaan. Karena memang belum bayar.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status