LOGIN“Pak, besok saya bayar dulu separuh boleh…?”
Suara Brian nyaris tenggelam oleh bising kendaraan di pinggir jalan. Pemilik warung fotokopi di depannya menghela napas kasar sambil melipat tangan. “Kamu ngomong gitu udah dua minggu, Brian.” Brian menunduk. “Iya, Pak. Maaf.” “Kalau bukan karena kasihan sama ibu kamu, udah saya tagih tiap hari.” Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada bentakan. Brian menggenggam tali tasnya kuat-kuat. Di sakunya cuma ada uang tiga puluh ribu. Dan itu harus cukup buat bensin, makan, sama beli obat ibunya malam nanti. “Besok saya lunasin,” ucapnya pelan. Padahal dia sendiri nggak tahu uangnya bakal dapat dari mana. Pemilik warung akhirnya mendecakkan lidah. “Udah sana. Sekolah dulu.” Brian mengangguk cepat lalu buru-buru pergi sebelum rasa malunya makin kelihatan. Motor tuanya meraung pelan saat dinyalakan. Spion sebelah kiri bahkan retak setengah. Breng… breng… “Ayo jangan mati dulu…” Motor itu akhirnya melaju pelan membelah jalan pagi yang mulai ramai. Sementara di sisi kota yang lain Fanya baru membuka mata saat tirai kamarnya disingkap perlahan oleh ART rumah. “Non Fanya… udah jam enam.” “Hm…” “Kata Tuan Alex, sarapan dulu sebelum berangkat.” Fanya mengerjap pelan lalu duduk di kasur empuknya. AC masih dingin. Aroma lavender dari diffuser memenuhi kamar luas bernuansa putih krem itu. Di meja samping tempat tidur, ponselnya penuh notifikasi. Puluhan permintaan follow I*******m baru. Sebagian besar siswa SMA 1 Pratama. Fanya langsung menghela napas panjang. “Cepet juga nyebarnya…” Ruang makan rumah Fanya jauh lebih besar daripada ruang tamu rumah Brian. Lampu gantung kristal menyala hangat di atas meja panjang. Alex duduk sambil membaca berita bisnis di tablet. Sari menuangkan teh ke cangkir putrinya. “Kamu betah sekolah barunya?” tanya Sari lembut. “Lumayan.” “Ada yang ganggu?” Fanya menggeleng. “Anak-anaknya rame aja.” Alex menurunkan tabletnya sedikit. “Kalau ada yang bikin masalah, bilang Papa.” “Nggak separah itu juga, Pa.” “Tetap.” Nada bicara Alex datar, tapi jelas terdengar protektif. Fanya cuma tersenyum tipis lalu mulai makan. Di luar rumah, mobil hitam mewah sudah menunggu sejak tadi. Sementara itu… Brian baru sampai sekolah dengan seragam yang sedikit kusut. Keringat menempel di lehernya. Ia buru-buru memarkir motor di pojok belakang sebelum satpam menegur lagi soal knalpot berisiknya. Saat berjalan menuju kelas, beberapa siswa melewatinya sambil tertawa keras. “Eh, nanti jadi nongkrong nggak?” “Gas lah.” “Clinton traktir katanya.” Brian diam saja sambil terus berjalan. Sampai langkahnya berhenti sesaat di depan papan pengumuman. Sekelompok cowok sedang heboh melihat sesuatu di ponsel. “Parah sih, cantik banget.” “Anjir, zoom dikit.” “Itu mobilnya juga mahal banget.” Brian melirik sekilas. Foto Fanya. Entah siapa yang diam-diam memotretnya saat turun dari mobil tadi pagi. Dadanya langsung terasa nggak enak. “Ngapain nyebar foto orang sembarangan…” gumamnya kecil. “Hah?” salah satu cowok menoleh. Brian langsung pergi sebelum ditanya macam-macam. Jam istirahat. Kantin sekolah penuh suara obrolan dan bunyi sendok beradu. Fanya duduk bersama Hani dan Marni di meja dekat jendela. Baru beberapa menit duduk, dua cowok dari kelas lain datang menghampiri. “Hai, Fanya ya?” Marni langsung melirik Hani. “Nih mulai…” Cowok itu tersenyum sok santai. “Boleh kenalan?” Belum sempat Fanya menjawab sebuah suara lain memotong lebih dulu. “Geser.” Clinton datang sambil membawa minuman kaleng lalu duduk begitu saja di kursi kosong sebelah Fanya. Dua cowok tadi langsung saling pandang kikuk. “Oh… santai, Bro.” Clinton tersenyum tipis. Tapi tatapannya dingin. “Nggak santai.” Suasana meja mendadak canggung. Fanya mengernyit sedikit. “Clinton…” “Apa?” “Ngapain sih?” “Ganggu?” Nada Clinton terdengar bercanda. Tapi semua orang di situ tahu cowok itu serius. Dua cowok tadi akhirnya pergi sambil salah tingkah. Hani berbisik pelan ke Marni, “Wah… baru juga.” Marni menahan senyum. Sementara Fanya terlihat sedikit tidak nyaman. Dan dari jauh Brian tanpa sengaja melihat semuanya. Ia berdiri di depan kantin sambil membawa mie instan cup murah dan air mineral. Sendirian. Matanya sempat bertemu dengan mata Clinton. Cowok itu menyeringai tipis seolah menang telak. Brian langsung membuang muka lalu memilih duduk di luar kantin. Di bawah pohon dekat parkiran. Sendok plastiknya patah saat dipakai makan. “Ah, sial…” Ia tertawa kecil sendiri. Miris. Di saat orang lain sibuk mikirin nongkrong sepulang sekolah… Brian malah harus menghitung apakah uangnya cukup buat beli gas di rumah. Ponselnya tiba-tiba bergetar. IBU.. Brian cepat mengangkat. “Hallo?” “Nak…” suara ibunya terdengar pelan. “Obat Ibu habis.” Brian langsung diam. “Yang kemarin?” “Iya…” “Tapi masih ada buat malam ini kan?” Sunyi beberapa detik. Dan sunyi itu cukup buat Brian mengerti jawabannya. Cowok itu menatap uang di dompetnya. Tinggal dua lembar sepuluh ribuan. Napasnya terasa berat. “Ibu jangan pikirin. Nanti Brian beli.” “Tapi uang sekolah kamu…” “Nggak apa-apa.” Padahal itu bohong. Karena sebenarnya uang SPP Brian bulan ini belum dibayar sama sekali. Dan ia bahkan baru sadar… besok adalah batas terakhir pembayaran.“Fanya suka cowok kayak gimana sih?” Pertanyaan itu langsung bikin satu meja kantin heboh. “NAH TUH!” Hani menunjuk Marni. “Gue juga penasaran!” Fanya yang lagi minum es teh hampir tersedak. “Kalian nggak ada kerjaan lain?” “Nggak.” Jawaban Hani terlalu cepat sampai Marni ngakak. Jam istirahat siang itu kantin lagi penuh banget. Suara sendok beradu, teriakan abang bakso, sampai suara siswa yang saling panggil bercampur jadi satu. Di meja dekat jendela, Fanya duduk diapit Hani dan Marni yang lagi mode kepo akut. “Ayo jawab,” paksa Marni sambil menopang dagu. “Biar kita bisa nilai cowok-cowok sekolah ini punya harapan apa nggak.” Fanya memutar sedotan pelan. “Kenapa jadi serius begini…” “Soalnya sejak lu masuk sekolah,” kata Hani sambil mencondongkan badan, “anak-anak cowok jadi makin rajin.” Marni langsung nimbrung. “Bahkan Aldi yang biasanya bau ketek sekarang pake parfum.” Mereka bertiga langsung ketawa. Fanya menggeleng geli. “Kalian parah.” “Tapi serius, Fan,” la
“Lu suka sama Fanya?” Pertanyaan itu keluar begitu aja dari mulut Dodit. Dan sukses bikin suasana kantin mendadak hening di meja basket. Hendra langsung ngakak keras. “Anjir, frontal banget.” Clinton yang sedang minum cola cuma menaikkan alis santai. “Kalau iya kenapa?” “WOOOO!” Satu meja langsung ribut. Dodit sampai nepuk-nepuk meja. “Fix! Kapten kita kena juga akhirnya!” Clinton tertawa kecil sambil menyender di kursi. Tatapannya mengarah ke luar kantin. Tepat ke arah Fanya yang sedang berjalan bersama Hani dan Marni. Rambut panjang cewek itu bergerak pelan tertiup angin. Tangannya sibuk memegang es kopi sambil tertawa kecil mendengar cerita Hani. Clinton memperhatikan beberapa detik. Lalu sudut bibirnya naik tipis. “Menarik aja,” gumamnya. Hendra langsung menyikut bahunya. “Wah bahaya.” “Fan.” “Hm?” Marni mendekat sambil menahan senyum aneh. “Jujur.” “Apa lagi?” “Lu sama Clinton ada sesuatu ya?” Fanya hampir tersedak minum. “A
“CLINTOOOON!” Teriakan siswi-siswi menggema dari lapangan basket sampai koridor sekolah. Suara sepatu berdecit keras di lantai lapangan. Bugh! Bola basket masuk sempurna ke ring. Sorakan langsung pecah. “GILA MASUK LAGI!” “KEREN BANGET!” Di tengah riuh tepuk tangan, Clinton menangkap bola dengan satu tangan sambil menyeringai santai. Kaos basket hitamnya basah oleh keringat. Napasnya sedikit berat, tapi wajahnya masih terlihat percaya diri seperti biasa. “Lagi! Lagi!” teriak seseorang dari tribun. Hendra tertawa sambil melempar bola ke arah Clinton. “Pamer mulu lu.” Clinton melompat tanpa aba-aba. Dan… Brak! Satu tangan menghantam bola masuk ke ring lewat dunk keras yang bikin satu lapangan heboh. Siswi-siswi langsung menjerit histeris. “YA AMPUN!” “Gue nikah aja sekarang!” Dodit sampai ngakak lihat tribun cewek. “Gila. Fans club lu makin barbar.” Clinton cuma mengambil handuk lalu mengusap wajahnya santai. Memang begitu tiap hari. Ham
Brak! Meja paling belakang dipukul keras sampai satu kelas tersentak. “Kalau mau tidur, nggak usah sekolah sekalian!” Suara Pak Ardi menggema memenuhi kelas XI-A. Beberapa siswa langsung menoleh ke belakang dengan wajah tegang. Brian tersentak bangun. Napasnya berat. Pandangannya masih kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok guru fisika di depannya. “Kamu pikir saya nggak lihat dari tadi?” suara Pak Ardi tajam. Kelas mendadak sunyi. Hani sampai berhenti makan permen. Marni berbisik kecil, “Waduh…” Brian mengusap wajah pelan lalu berdiri. “Maaf, Pak.” “Maaf?” Pak Ardi tertawa sinis kecil. “Setiap pelajaran saya, kamu selalu tidur.” Beberapa siswa mulai saling lirik. Karena memang benar. Brian hampir selalu tertidur di kelas. Kadang di jam pertama. Kadang di tengah pelajaran. Kadang bahkan saat guru sedang menjelaskan di depan mukanya langsung. “Kalau nggak niat sekolah, silakan keluar.” Brian diam. Tangannya mengepal kecil di samping tubuh. Di dep
“Brian!” Suara Fanya nyaris kalah oleh deras hujan. Beberapa siswa langsung menoleh ke parkiran saat melihat Brian jatuh terduduk di samping motornya. Cowok itu masih memegangi dada sambil menunduk. Napasnya berat. “Eh, dia kenapa?” “Masuk angin kali.” “Jangan-jangan pingsan lagi…” Orang-orang cuma melihat. Nggak ada yang benar-benar mendekat. Sampai akhirnya Fanya berlari menerobos hujan tanpa pikir panjang. “Fan!” Hani kaget. “Payung!” Fanya nggak peduli. Sepatunya langsung basah kena genangan air. Ia jongkok di depan Brian dengan napas sedikit ngos-ngosan. “Kamu nggak apa-apa?” Brian mengangkat wajah pelan. Mata mereka bertemu lagi. Dan sialnya… di kondisi seacak itu pun, Brian tetap sadar satu hal Fanya cantik banget. “Brian?” Fanya mengernyit khawatir. “Kamu denger aku nggak?” “Iya…” jawab Brian pelan. “Aku nggak apa-apa.” “Boong.” Suara itu datang dari belakang. Hani dan Marni akhirnya ikut mendekat sambil membawa payung. Marni langsung melotot melihat
“Brian belum bayar SPP tiga bulan.” Suara bendahara kelas itu nggak keras. Tapi cukup bikin satu kelas mendadak sunyi beberapa detik. Brian yang baru masuk kelas langsung berhenti di dekat pintu. Tangannya masih memegang helm lusuh. Beberapa kepala mulai menoleh. “Siapa aja emang?” tanya seseorang pelan. Bendahara kelas membuka buku catatan. “Brian. Sama dua anak kelas sebelah.” Hendra langsung melirik ke belakang. “Woi, Bri… lu diburu negara ternyata.” Beberapa anak ketawa kecil. Nggak jahat. Tapi tetap aja bikin tengkuk Brian terasa panas. Cowok itu berjalan ke bangkunya tanpa bicara apa-apa. Tasnya diletakkan pelan. Kursi berdecit kecil saat ia duduk di pojok belakang dekat jendela. Tempat paling aman buat nggak dilihat orang. Atau setidaknya… itu yang selalu Brian pikirkan. “Brian.” Wali kelas masuk sambil membawa map. “Nanti ke ruang administrasi ya.” Brian mengangguk kecil. “Iya, Bu.” Nggak ada alasan. Nggak ada pembelaan. Karena memang belum bayar.







