로그인Hujan deras mengguyur SMA 1 Pratama saat Brian berdiri diam di lapangan basket dengan wajah penuh d4r4h. Di tribun, Fanya membeku melihat Clinton cowok paling populer di sekolah baru saja memukul Brian di depan semua orang. “Jauhin Fanya,” bisik Clinton dingin. Brian hanya tersenyum tipis, lalu pergi tanpa membalas. Tak ada yang tahu, selama tiga tahun Brian diam-diam mencintai Fanya dari bangku paling belakang. Anak yatim yang hidup pas-pasan itu selalu merasa dirinya terlalu rendah untuk gadis sempurna seperti Fanya siswi pintar dari keluarga kaya yang hidupnya tampak tanpa cela. Namun demi bisa berdiri sejajar dengan Fanya, Brian berubah diam-diam. Ia menjadi atlet sekolah, pelukis berbakat, dan fotografer muda yang mulai dikenal banyak orang. Sayangnya, hati Fanya justru jatuh pada Clinton. Brian memilih mencintai dalam diam… sampai akhirnya ia menghilang setelah kelulusan tanpa penjelasan. Bertahun-tahun kemudian, mereka dipertemukan kembali di Jerman. Fanya akhirnya sadar bahwa lelaki yang paling tulus mencintainya adalah Brian. Namun saat cinta itu akhirnya menemukan jalannya, sebuah rahasia besar terungkap rahasia yang membuat Brian perlahan menjauh dan meninggalkan Fanya untuk kedua kalinya. Karena terkadang, cinta terbesar bukan tentang memiliki… melainkan belajar merelakan seseorang selamanya.
더 보기“Anak itu pingsan!”
Suara teriakan seseorang langsung memecah lorong SMA 1 Pratama yang biasanya ramai di pagi hari. Beberapa murid spontan mundur. Ada yang panik, ada yang malah sibuk mengangkat ponsel diam-diam buat merekam. Seorang cowok terbaring di lantai dekat tangga, wajahnya pucat, napasnya berat. “Woi, bangun…!” salah satu siswa menepuk pipinya pelan. “Dia kenapa?” “Katanya belum makan.” “Anjir, serem banget…” Di tengah keributan itu, seorang siswi baru berhenti melangkah. Rambut hitam panjangnya masih sedikit basah karena gerimis pagi tadi. Seragamnya rapi. Sepatu putihnya bersih. Tapi yang paling mencolok justru cara matanya menatap keadaan sekitar tenang, nggak ikut panik seperti yang lain. “Kasih jalan.” Suaranya nggak keras, tapi cukup bikin beberapa orang refleks minggir. Fanya berjongkok di depan cowok yang pingsan tadi. “Air mineral ada?” Tak ada yang bergerak. “Cepat,” ucapnya lagi, kali ini lebih tegas. Seorang siswa buru-buru menyerahkan botol minum. Fanya membuka tutupnya lalu membasahi sedikit sapu tangannya. “Eh… jangan dipindahin dulu,” katanya saat dua siswa lain mau mengangkat tubuh cowok itu sembarangan. “Kepalanya bisa kebentur.” Beberapa murid mulai saling pandang. “Dia anak baru?” “Nggak tahu… cantik banget.” “Kayak artis.” Fanya nggak peduli. Fokusnya tetap pada cowok di depannya. Tak lama, guru UKS datang bersama satpam sekolah. Cowok itu akhirnya dibawa pergi menggunakan kursi roda. Lorong kembali ramai. Tapi sekarang arah perhatian berubah. Ke Fanya. “Permisi…” Seorang guru perempuan berkacamata datang menghampiri sambil tersenyum ramah. “Kamu siswi pindahan?” Fanya berdiri pelan lalu mengangguk. “Saya Fanya.” “Oh, kamu Fanya?” wajah guru itu langsung berubah cerah. “Yang nilai masuknya paling tinggi itu?” Bisik-bisik mulai terdengar lagi. “Nilai tertinggi?” “Serius?” “Cantik, pintar lagi?” Fanya cuma memberi senyum kecil yang tipis sekali. Nggak sombong, tapi juga nggak berusaha terlihat ramah. “Yuk ikut Ibu ke kelas.” Kelas XI-A yang tadinya ribut mendadak sunyi saat wali kelas masuk. “Pagi.” “Pagiii, Bu…” “Hari ini kita kedatangan murid baru.” Beberapa siswa langsung duduk tegak. Ada yang buru-buru merapikan rambut. Saat Fanya masuk ke dalam kelas, suara kursi berdecit pelan terdengar di mana-mana. Hening sesaat. Lalu… “Buset…” “Cantik banget.” “Fix, ini bakal jadi primadona sekolah.” Hani yang duduk di dekat jendela langsung melotot ke Marni. “Gila. Gue cewek aja sampe salting.” Marni ngakak pelan. “Kayaknya anak-anak cowok bakal ribut mulai hari ini.” Di sisi lain kelas, Clinton yang sedang memainkan bolpoin ikut mengangkat kepala. Tatapannya berhenti beberapa detik pada Fanya. Menilai. Lalu menyeringai tipis. Sementara itu… Di bangku paling belakang dekat jendela, seorang cowok masih tertidur dengan kepala bertumpu di lengan. Tak peduli kelas mendadak heboh. Tak peduli semua mata sedang tertuju pada siswi baru itu. “Brian!” bentak wali kelas tiba-tiba. Satu kelas kaget. Cowok di belakang itu tersentak bangun. “Hah?” Rambutnya berantakan. Matanya merah seperti kurang tidur. Tawa kecil mulai terdengar. “Tidur lagi dia.” “Parah sih…” Wali kelas menghela napas panjang. “Kamu lembur kerja lagi?” Brian diam sebentar lalu mengangguk kecil. Bukannya marah, wajah wali kelas malah berubah sedikit iba. “Cuci muka sana.” “Iya, Bu.” Brian berdiri malas sambil mengambil botol minumnya. Dan untuk pertama kalinya… matanya tanpa sengaja bertemu dengan mata Fanya. Cuma dua detik. Tapi anehnya, Brian langsung menghentikan langkahnya. Fanya juga ikut diam. Entah kenapa, cowok kusut dari bangku belakang itu terlihat berbeda dibanding siswa lain yang sejak tadi sibuk memperhatikannya. Tatapan Brian kosong. Lelah. Tapi tenang. Seolah dia hidup di dunia yang berbeda dari keramaian sekolah ini. “WOI, jalan, Brian!” seru salah satu temannya sambil ketawa. Brian langsung sadar lalu pergi keluar kelas tanpa bicara apa pun. Fanya masih memandang pintu kelas yang baru saja tertutup. “Kenapa?” bisik Hani pelan dari sampingnya. Fanya mengerjap kecil. “…nggak kenapa-kenapa.” Tapi entah kenapa… untuk pertama kalinya sejak masuk sekolah itu Fanya malah penasaran pada cowok yang bahkan tidak tertarik melihatnya lebih lama.“Fanya suka cowok kayak gimana sih?” Pertanyaan itu langsung bikin satu meja kantin heboh. “NAH TUH!” Hani menunjuk Marni. “Gue juga penasaran!” Fanya yang lagi minum es teh hampir tersedak. “Kalian nggak ada kerjaan lain?” “Nggak.” Jawaban Hani terlalu cepat sampai Marni ngakak. Jam istirahat siang itu kantin lagi penuh banget. Suara sendok beradu, teriakan abang bakso, sampai suara siswa yang saling panggil bercampur jadi satu. Di meja dekat jendela, Fanya duduk diapit Hani dan Marni yang lagi mode kepo akut. “Ayo jawab,” paksa Marni sambil menopang dagu. “Biar kita bisa nilai cowok-cowok sekolah ini punya harapan apa nggak.” Fanya memutar sedotan pelan. “Kenapa jadi serius begini…” “Soalnya sejak lu masuk sekolah,” kata Hani sambil mencondongkan badan, “anak-anak cowok jadi makin rajin.” Marni langsung nimbrung. “Bahkan Aldi yang biasanya bau ketek sekarang pake parfum.” Mereka bertiga langsung ketawa. Fanya menggeleng geli. “Kalian parah.” “Tapi serius, Fan,” la
“Lu suka sama Fanya?” Pertanyaan itu keluar begitu aja dari mulut Dodit. Dan sukses bikin suasana kantin mendadak hening di meja basket. Hendra langsung ngakak keras. “Anjir, frontal banget.” Clinton yang sedang minum cola cuma menaikkan alis santai. “Kalau iya kenapa?” “WOOOO!” Satu meja langsung ribut. Dodit sampai nepuk-nepuk meja. “Fix! Kapten kita kena juga akhirnya!” Clinton tertawa kecil sambil menyender di kursi. Tatapannya mengarah ke luar kantin. Tepat ke arah Fanya yang sedang berjalan bersama Hani dan Marni. Rambut panjang cewek itu bergerak pelan tertiup angin. Tangannya sibuk memegang es kopi sambil tertawa kecil mendengar cerita Hani. Clinton memperhatikan beberapa detik. Lalu sudut bibirnya naik tipis. “Menarik aja,” gumamnya. Hendra langsung menyikut bahunya. “Wah bahaya.” “Fan.” “Hm?” Marni mendekat sambil menahan senyum aneh. “Jujur.” “Apa lagi?” “Lu sama Clinton ada sesuatu ya?” Fanya hampir tersedak minum. “A
“CLINTOOOON!” Teriakan siswi-siswi menggema dari lapangan basket sampai koridor sekolah. Suara sepatu berdecit keras di lantai lapangan. Bugh! Bola basket masuk sempurna ke ring. Sorakan langsung pecah. “GILA MASUK LAGI!” “KEREN BANGET!” Di tengah riuh tepuk tangan, Clinton menangkap bola dengan satu tangan sambil menyeringai santai. Kaos basket hitamnya basah oleh keringat. Napasnya sedikit berat, tapi wajahnya masih terlihat percaya diri seperti biasa. “Lagi! Lagi!” teriak seseorang dari tribun. Hendra tertawa sambil melempar bola ke arah Clinton. “Pamer mulu lu.” Clinton melompat tanpa aba-aba. Dan… Brak! Satu tangan menghantam bola masuk ke ring lewat dunk keras yang bikin satu lapangan heboh. Siswi-siswi langsung menjerit histeris. “YA AMPUN!” “Gue nikah aja sekarang!” Dodit sampai ngakak lihat tribun cewek. “Gila. Fans club lu makin barbar.” Clinton cuma mengambil handuk lalu mengusap wajahnya santai. Memang begitu tiap hari. Ham
Brak! Meja paling belakang dipukul keras sampai satu kelas tersentak. “Kalau mau tidur, nggak usah sekolah sekalian!” Suara Pak Ardi menggema memenuhi kelas XI-A. Beberapa siswa langsung menoleh ke belakang dengan wajah tegang. Brian tersentak bangun. Napasnya berat. Pandangannya masih kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok guru fisika di depannya. “Kamu pikir saya nggak lihat dari tadi?” suara Pak Ardi tajam. Kelas mendadak sunyi. Hani sampai berhenti makan permen. Marni berbisik kecil, “Waduh…” Brian mengusap wajah pelan lalu berdiri. “Maaf, Pak.” “Maaf?” Pak Ardi tertawa sinis kecil. “Setiap pelajaran saya, kamu selalu tidur.” Beberapa siswa mulai saling lirik. Karena memang benar. Brian hampir selalu tertidur di kelas. Kadang di jam pertama. Kadang di tengah pelajaran. Kadang bahkan saat guru sedang menjelaskan di depan mukanya langsung. “Kalau nggak niat sekolah, silakan keluar.” Brian diam. Tangannya mengepal kecil di samping tubuh. Di dep






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.