LOGIN“Brian!”
Suara Fanya nyaris kalah oleh deras hujan. Beberapa siswa langsung menoleh ke parkiran saat melihat Brian jatuh terduduk di samping motornya. Cowok itu masih memegangi dada sambil menunduk. Napasnya berat. “Eh, dia kenapa?” “Masuk angin kali.” “Jangan-jangan pingsan lagi…” Orang-orang cuma melihat. Nggak ada yang benar-benar mendekat. Sampai akhirnya Fanya berlari menerobos hujan tanpa pikir panjang. “Fan!” Hani kaget. “Payung!” Fanya nggak peduli. Sepatunya langsung basah kena genangan air. Ia jongkok di depan Brian dengan napas sedikit ngos-ngosan. “Kamu nggak apa-apa?” Brian mengangkat wajah pelan. Mata mereka bertemu lagi. Dan sialnya… di kondisi seacak itu pun, Brian tetap sadar satu hal Fanya cantik banget. “Brian?” Fanya mengernyit khawatir. “Kamu denger aku nggak?” “Iya…” jawab Brian pelan. “Aku nggak apa-apa.” “Boong.” Suara itu datang dari belakang. Hani dan Marni akhirnya ikut mendekat sambil membawa payung. Marni langsung melotot melihat motor Brian. “Ya ampun, ini motor apa kapal pecah?” “Marni!” tegur Hani. “Apa? Gue jujur.” Brian malah ketawa kecil pelan untuk pertama kalinya. Dan itu bikin Fanya sedikit terkejut. Karena biasanya cowok itu selalu terlihat dingin dan susah ditebak. “Kamu sakit?” tanya Fanya lagi. Brian buru-buru menggeleng. “Cuma kecapekan.” “Kecapekan sampai jatuh?” “Nggak separah itu kok.” Petir kembali menggelegar. Hani refleks menutup telinga. “Gue takut petir sumpah.” Marni malah sibuk memperhatikan Brian. “Eh serius, muka lu pucet banget.” Brian terlihat nggak nyaman diperhatikan sebanyak itu. Ia buru-buru berdiri meski sedikit limbung. “Udah, aku pulang dulu.” “Tapi motor kamu” ucapan Fanya terpotong. Breng… Motor itu akhirnya menyala. Brian langsung kelihatan lega. “Nah hidup.” Marni bersiul kecil. “Keajaiban dunia.” Brian menahan senyum lalu memakai helmnya. Sebelum pergi, ia sempat menoleh ke arah Fanya. “Thanks.” Cuma satu kata. Tapi entah kenapa bikin Fanya diam beberapa detik. Brian kemudian melajukan motornya pelan menembus hujan deras. Meninggalkan Fanya yang masih berdiri memandang punggungnya. “Heh.” Suara Hani membuyarkan lamunannya. “Lu kenapa?” “Hm?” “Tatapan lu kok jauh banget.” Marni langsung nyengir jahil. “Jangan-jangan…” “Nggak jelas.” Fanya langsung berjalan duluan menuju mobil jemputannya. Tapi pipinya sedikit hangat. Dan itu cukup bikin Hani serta Marni saling pandang penuh arti. Besok paginya kelas XI-A mendadak ribut bahkan sebelum guru datang. “ANJIR SERIUS?!” “Coba liat lagi!” “Akun siapa yang upload?” Hani buru-buru masuk kelas sambil ngos-ngosan. “Kenapa sih pagi-pagi ribut?” Marni langsung menyodorin ponselnya. “Liat.” Di layar terlihat foto semalam. Foto saat Fanya jongkok di depan Brian di tengah hujan. Jelas banget. Caption-nya bahkan lebih parah. “Anak baru dan cowok misterius bangku belakang?” “Ya Tuhan…” Hani langsung melotot. Kolom komentarnya sudah penuh. “Cocok sih.” “Brian siapa?” “Yang tidur mulu itu bukan?” “Fanya baik banget.” Fanya yang baru masuk kelas langsung berhenti saat beberapa pasang mata melihat ke arahnya. Bisik-bisik mulai terdengar. “Eh itu dia.” “Yang viral.” Fanya mengernyit bingung. “Ada apa?” Marni buru-buru menariknya duduk. “Jangan kaget ya.” Begitu melihat foto di layar, Fanya langsung membeku. “…siapa yang foto?” “Nggak tahu,” jawab Hani. “Tapi udah nyebar semalaman.” Fanya menghela napas panjang sambil memijat pelipis. “Kenapa orang sekolah sini hobi banget bikin drama…” Marni tertawa. “Selamat datang di SMA 1 Pratama.” Di belakang kelas Brian baru masuk. Dan begitu melihat suasana aneh di kelas… firasat buruk langsung muncul. “Woi, artis hujan datang!” teriak Dodit. Satu kelas ketawa. Brian langsung mengernyit. “Apa sih?” Hendra menunjukkan ponselnya sambil ngakak. “Muka lu viral, Bro.” Brian mengambil ponsel itu. Dan detik berikutnya wajahnya langsung berubah kaku. Foto dirinya dan Fanya semalam terpampang jelas. Jantungnya langsung berdetak nggak karuan. Refleks ia menoleh ke depan. Fanya juga sedang melihat ke arahnya. Canggung. Sunyi beberapa detik. Lalu… Clinton masuk ke kelas. Dan suasana langsung berubah. Cowok itu berjalan santai sambil memasukkan tangan ke saku. Tapi saat matanya menangkap foto di ponsel Hendra langkahnya berhenti. Senyumnya perlahan hilang. “Foto apa itu?” suaranya rendah. Tak ada yang langsung menjawab. Clinton mengambil ponsel Hendra paksa. Lalu melihat foto itu cukup lama. Rahangnya mengeras. Tatapannya perlahan beralih ke Brian di bangku belakang. Dan untuk pertama kalinya Brian bisa merasakan seseorang menatapnya seperti musuh.“Fanya suka cowok kayak gimana sih?” Pertanyaan itu langsung bikin satu meja kantin heboh. “NAH TUH!” Hani menunjuk Marni. “Gue juga penasaran!” Fanya yang lagi minum es teh hampir tersedak. “Kalian nggak ada kerjaan lain?” “Nggak.” Jawaban Hani terlalu cepat sampai Marni ngakak. Jam istirahat siang itu kantin lagi penuh banget. Suara sendok beradu, teriakan abang bakso, sampai suara siswa yang saling panggil bercampur jadi satu. Di meja dekat jendela, Fanya duduk diapit Hani dan Marni yang lagi mode kepo akut. “Ayo jawab,” paksa Marni sambil menopang dagu. “Biar kita bisa nilai cowok-cowok sekolah ini punya harapan apa nggak.” Fanya memutar sedotan pelan. “Kenapa jadi serius begini…” “Soalnya sejak lu masuk sekolah,” kata Hani sambil mencondongkan badan, “anak-anak cowok jadi makin rajin.” Marni langsung nimbrung. “Bahkan Aldi yang biasanya bau ketek sekarang pake parfum.” Mereka bertiga langsung ketawa. Fanya menggeleng geli. “Kalian parah.” “Tapi serius, Fan,” la
“Lu suka sama Fanya?” Pertanyaan itu keluar begitu aja dari mulut Dodit. Dan sukses bikin suasana kantin mendadak hening di meja basket. Hendra langsung ngakak keras. “Anjir, frontal banget.” Clinton yang sedang minum cola cuma menaikkan alis santai. “Kalau iya kenapa?” “WOOOO!” Satu meja langsung ribut. Dodit sampai nepuk-nepuk meja. “Fix! Kapten kita kena juga akhirnya!” Clinton tertawa kecil sambil menyender di kursi. Tatapannya mengarah ke luar kantin. Tepat ke arah Fanya yang sedang berjalan bersama Hani dan Marni. Rambut panjang cewek itu bergerak pelan tertiup angin. Tangannya sibuk memegang es kopi sambil tertawa kecil mendengar cerita Hani. Clinton memperhatikan beberapa detik. Lalu sudut bibirnya naik tipis. “Menarik aja,” gumamnya. Hendra langsung menyikut bahunya. “Wah bahaya.” “Fan.” “Hm?” Marni mendekat sambil menahan senyum aneh. “Jujur.” “Apa lagi?” “Lu sama Clinton ada sesuatu ya?” Fanya hampir tersedak minum. “A
“CLINTOOOON!” Teriakan siswi-siswi menggema dari lapangan basket sampai koridor sekolah. Suara sepatu berdecit keras di lantai lapangan. Bugh! Bola basket masuk sempurna ke ring. Sorakan langsung pecah. “GILA MASUK LAGI!” “KEREN BANGET!” Di tengah riuh tepuk tangan, Clinton menangkap bola dengan satu tangan sambil menyeringai santai. Kaos basket hitamnya basah oleh keringat. Napasnya sedikit berat, tapi wajahnya masih terlihat percaya diri seperti biasa. “Lagi! Lagi!” teriak seseorang dari tribun. Hendra tertawa sambil melempar bola ke arah Clinton. “Pamer mulu lu.” Clinton melompat tanpa aba-aba. Dan… Brak! Satu tangan menghantam bola masuk ke ring lewat dunk keras yang bikin satu lapangan heboh. Siswi-siswi langsung menjerit histeris. “YA AMPUN!” “Gue nikah aja sekarang!” Dodit sampai ngakak lihat tribun cewek. “Gila. Fans club lu makin barbar.” Clinton cuma mengambil handuk lalu mengusap wajahnya santai. Memang begitu tiap hari. Ham
Brak! Meja paling belakang dipukul keras sampai satu kelas tersentak. “Kalau mau tidur, nggak usah sekolah sekalian!” Suara Pak Ardi menggema memenuhi kelas XI-A. Beberapa siswa langsung menoleh ke belakang dengan wajah tegang. Brian tersentak bangun. Napasnya berat. Pandangannya masih kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok guru fisika di depannya. “Kamu pikir saya nggak lihat dari tadi?” suara Pak Ardi tajam. Kelas mendadak sunyi. Hani sampai berhenti makan permen. Marni berbisik kecil, “Waduh…” Brian mengusap wajah pelan lalu berdiri. “Maaf, Pak.” “Maaf?” Pak Ardi tertawa sinis kecil. “Setiap pelajaran saya, kamu selalu tidur.” Beberapa siswa mulai saling lirik. Karena memang benar. Brian hampir selalu tertidur di kelas. Kadang di jam pertama. Kadang di tengah pelajaran. Kadang bahkan saat guru sedang menjelaskan di depan mukanya langsung. “Kalau nggak niat sekolah, silakan keluar.” Brian diam. Tangannya mengepal kecil di samping tubuh. Di dep
“Brian!” Suara Fanya nyaris kalah oleh deras hujan. Beberapa siswa langsung menoleh ke parkiran saat melihat Brian jatuh terduduk di samping motornya. Cowok itu masih memegangi dada sambil menunduk. Napasnya berat. “Eh, dia kenapa?” “Masuk angin kali.” “Jangan-jangan pingsan lagi…” Orang-orang cuma melihat. Nggak ada yang benar-benar mendekat. Sampai akhirnya Fanya berlari menerobos hujan tanpa pikir panjang. “Fan!” Hani kaget. “Payung!” Fanya nggak peduli. Sepatunya langsung basah kena genangan air. Ia jongkok di depan Brian dengan napas sedikit ngos-ngosan. “Kamu nggak apa-apa?” Brian mengangkat wajah pelan. Mata mereka bertemu lagi. Dan sialnya… di kondisi seacak itu pun, Brian tetap sadar satu hal Fanya cantik banget. “Brian?” Fanya mengernyit khawatir. “Kamu denger aku nggak?” “Iya…” jawab Brian pelan. “Aku nggak apa-apa.” “Boong.” Suara itu datang dari belakang. Hani dan Marni akhirnya ikut mendekat sambil membawa payung. Marni langsung melotot melihat
“Brian belum bayar SPP tiga bulan.” Suara bendahara kelas itu nggak keras. Tapi cukup bikin satu kelas mendadak sunyi beberapa detik. Brian yang baru masuk kelas langsung berhenti di dekat pintu. Tangannya masih memegang helm lusuh. Beberapa kepala mulai menoleh. “Siapa aja emang?” tanya seseorang pelan. Bendahara kelas membuka buku catatan. “Brian. Sama dua anak kelas sebelah.” Hendra langsung melirik ke belakang. “Woi, Bri… lu diburu negara ternyata.” Beberapa anak ketawa kecil. Nggak jahat. Tapi tetap aja bikin tengkuk Brian terasa panas. Cowok itu berjalan ke bangkunya tanpa bicara apa-apa. Tasnya diletakkan pelan. Kursi berdecit kecil saat ia duduk di pojok belakang dekat jendela. Tempat paling aman buat nggak dilihat orang. Atau setidaknya… itu yang selalu Brian pikirkan. “Brian.” Wali kelas masuk sambil membawa map. “Nanti ke ruang administrasi ya.” Brian mengangguk kecil. “Iya, Bu.” Nggak ada alasan. Nggak ada pembelaan. Karena memang belum bayar.
“Pak, besok saya bayar dulu separuh boleh…?”Suara Brian nyaris tenggelam oleh bising kendaraan di pinggir jalan.Pemilik warung fotokopi di depannya menghela napas kasar sambil melipat tangan.“Kamu ngomong gitu udah dua minggu, Brian.”Brian menunduk.“Iya, Pak. Maaf.”“Kalau bukan karena kasihan
Brak! Pintu minimarket terbuka keras karena didorong seseorang dari luar. “Brian! Cepetan, mie cup dua! Yang pedes!” “Iya… bentar.” Brian bergerak cepat dari belakang meja kasir. Tangannya sigap mengambil barang pesanan sambil sesekali menahan batuk kecil. Jam dinding menunjukkan pukul
“Anak itu pingsan!” Suara teriakan seseorang langsung memecah lorong SMA 1 Pratama yang biasanya ramai di pagi hari. Beberapa murid spontan mundur. Ada yang panik, ada yang malah sibuk mengangkat ponsel diam-diam buat merekam. Seorang cowok terbaring di lantai dekat tangga, wajahnya pucat, napa







