Share

BAB 6

last update publish date: 2026-04-24 03:19:49

Brak!

Meja paling belakang dipukul keras sampai satu kelas tersentak.

“Kalau mau tidur, nggak usah sekolah sekalian!”

Suara Pak Ardi menggema memenuhi kelas XI-A.

Beberapa siswa langsung menoleh ke belakang dengan wajah tegang.

Brian tersentak bangun.

Napasnya berat. Pandangannya masih kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok guru fisika di depannya.

“Kamu pikir saya nggak lihat dari tadi?” suara Pak Ardi tajam.

Kelas mendadak sunyi.

Hani sampai berhenti makan permen.

Marni berbisik kecil, “Waduh…”

Brian mengusap wajah pelan lalu berdiri.

“Maaf, Pak.”

“Maaf?” Pak Ardi tertawa sinis kecil. “Setiap pelajaran saya, kamu selalu tidur.”

Beberapa siswa mulai saling lirik.

Karena memang benar.

Brian hampir selalu tertidur di kelas.

Kadang di jam pertama.

Kadang di tengah pelajaran.

Kadang bahkan saat guru sedang menjelaskan di depan mukanya langsung.

“Kalau nggak niat sekolah, silakan keluar.”

Brian diam.

Tangannya mengepal kecil di samping tubuh.

Di depan kelas, Fanya tanpa sadar memperhatikan wajah Brian lebih lama dari biasanya.

Cowok itu keliatan capek banget.

Bukan malas.

Beda.

Ada lingkar gelap samar di bawah matanya. Seragamnya bahkan sedikit kusut seperti habis dipakai kerja semalaman.

Pak Ardi mendecakkan lidah.

“Sekarang saya tanya.”

Beliau mengambil spidol lalu menulis rumus panjang di papan tulis.

Suara spidol berdecit memenuhi kelas.

“Kalau kamu memang nggak tidur karena malas, coba jawab ini.”

Beberapa siswa langsung melongo melihat soal di papan.

“Gila…”

“Itu soal olimpiade bukan sih?”

“Mana bisa…”

Clinton yang biasanya pede aja sampai mengernyit melihat rumusnya.

Pak Ardi melipat tangan.

“Ayo, Brian.”

Suasana kelas makin tegang.

Brian menatap papan beberapa detik tanpa bergerak.

Lalu…

pelan-pelan ia berjalan ke depan kelas.

Suara langkah sepatunya terdengar jelas karena kelas terlalu sunyi.

Dodit berbisik ke Hendra.

“Mampus ini.”

Namun Brian cuma mengambil spidol hitam dari meja guru.

Dan mulai menulis.

Cekrek.

Cekrek.

Tulisan tangannya rapi.

Cepat.

Tanpa banyak berhenti.

Awalnya beberapa siswa masih santai.

Tapi makin lama…

raut wajah mereka mulai berubah.

Pak Ardi yang tadi terlihat kesal kini malah memperhatikan serius.

Brian memindahkan angka demi angka dengan tenang.

Nggak terburu-buru.

Nggak gugup.

Seolah rumus sepanjang itu cuma soal biasa baginya.

Sampai akhirnya…

ia meletakkan spidol kembali.

“Udah, Pak.”

Sunyi.

Satu kelas memandangi papan tulis penuh perhitungan.

Pak Ardi maju beberapa langkah.

Membaca.

Lalu membaca lagi.

Keningnya perlahan berkerut.

“…”

Beliau menoleh ke Brian.

“Kamu belajar dari mana?”

Brian terlihat bingung.

“Dari buku, Pak.”

“Buku apa?”

“Buku perpustakaan.”

Satu kelas langsung ribut pelan.

“Perpustakaan?”

“Buset…”

Pak Ardi kembali melihat jawaban di papan.

Dan beberapa detik kemudian

beliau tertawa kecil tak percaya.

“Benar semua.”

Kelas langsung pecah.

“HAH?!”

“Serius?!”

“Anjir…”

Hani sampai berdiri setengah.

Marni melotot ke belakang.

“Ini cowok alien apa gimana sih?”

Clinton menyandarkan tubuh ke kursi sambil memperhatikan Brian tanpa ekspresi.

Sementara Fanya…

diam.

Tatapannya belum lepas dari cowok di depan kelas itu.

Untuk pertama kalinya sejak masuk sekolah

Brian terlihat benar-benar berbeda di matanya.

Bukan cowok tukang tidur.

Bukan anak aneh bangku belakang.

Tapi seseorang yang menyimpan sesuatu.

Dan justru karena itu…

dia jadi makin sulit ditebak.

Pak Ardi akhirnya berdeham.

“Kalian semua lihat baik-baik.”

Beliau menunjuk Brian dengan spidol.

“Nilai fisika tertinggi semester lalu di sekolah ini bukan Clinton.”

Beberapa siswa langsung menoleh ke Clinton.

Pak Ardi melanjutkan,

“Tapi Brian.”

Sunyi lagi.

Kali ini lebih parah.

Karena bahkan Clinton yang selalu jadi kebanggaan sekolah pun terlihat sedikit terkejut.

“Nilainya sempurna.”

Bisik-bisik mulai memenuhi kelas.

“Nggak mungkin…”

“Dia?”

“Yang tidur mulu?”

Brian malah terlihat nggak nyaman jadi pusat perhatian.

Ia buru-buru kembali ke bangkunya.

Tapi sekarang suasana berbeda.

Orang-orang mulai memperhatikannya.

Beneran memperhatikan.

Dan itu justru hal yang paling Brian benci.

Jam pelajaran selesai.

Pak Ardi baru keluar kelas saat keributan langsung pecah.

“WOI BRIAN!” teriak Dodit. “Lu nyimpen otak Einstein ya?!”

Hendra ngakak.

“Pantes tidur mulu ternyata udah tamat duluan.”

Brian cuma duduk sambil membuka buku.

“Berisik.”

Marni langsung menoleh ke Fanya.

“Fan.”

“Hm?”

“Cowok itu makin misterius sumpah.”

Fanya nggak langsung jawab.

Matanya masih tertuju ke belakang.

Brian sedang menopang dagu sambil melihat keluar jendela.

Sendirian lagi.

Padahal satu kelas baru aja heboh gara-gara dia.

Aneh.

Kalau jadi orang lain mungkin udah pamer setengah mati.

Tapi Brian malah terlihat ingin menghilang.

Dan entah kenapa…

itu bikin Fanya makin penasaran.

Tiba-tiba

ponsel Clinton dibanting ke meja cukup keras.

Brak.

Suasana langsung hening.

Clinton menatap Brian dari bangkunya.

Tatapannya dingin.

“Kalau sepintar itu,” katanya pelan, “kenapa hidup lu masih berantakan?”

Satu kelas langsung membeku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Abu-Abu   BAB 9

    “Fanya suka cowok kayak gimana sih?” Pertanyaan itu langsung bikin satu meja kantin heboh. “NAH TUH!” Hani menunjuk Marni. “Gue juga penasaran!” Fanya yang lagi minum es teh hampir tersedak. “Kalian nggak ada kerjaan lain?” “Nggak.” Jawaban Hani terlalu cepat sampai Marni ngakak. Jam istirahat siang itu kantin lagi penuh banget. Suara sendok beradu, teriakan abang bakso, sampai suara siswa yang saling panggil bercampur jadi satu. Di meja dekat jendela, Fanya duduk diapit Hani dan Marni yang lagi mode kepo akut. “Ayo jawab,” paksa Marni sambil menopang dagu. “Biar kita bisa nilai cowok-cowok sekolah ini punya harapan apa nggak.” Fanya memutar sedotan pelan. “Kenapa jadi serius begini…” “Soalnya sejak lu masuk sekolah,” kata Hani sambil mencondongkan badan, “anak-anak cowok jadi makin rajin.” Marni langsung nimbrung. “Bahkan Aldi yang biasanya bau ketek sekarang pake parfum.” Mereka bertiga langsung ketawa. Fanya menggeleng geli. “Kalian parah.” “Tapi serius, Fan,” la

  • Cinta Abu-Abu   BAB 8

    “Lu suka sama Fanya?” Pertanyaan itu keluar begitu aja dari mulut Dodit. Dan sukses bikin suasana kantin mendadak hening di meja basket. Hendra langsung ngakak keras. “Anjir, frontal banget.” Clinton yang sedang minum cola cuma menaikkan alis santai. “Kalau iya kenapa?” “WOOOO!” Satu meja langsung ribut. Dodit sampai nepuk-nepuk meja. “Fix! Kapten kita kena juga akhirnya!” Clinton tertawa kecil sambil menyender di kursi. Tatapannya mengarah ke luar kantin. Tepat ke arah Fanya yang sedang berjalan bersama Hani dan Marni. Rambut panjang cewek itu bergerak pelan tertiup angin. Tangannya sibuk memegang es kopi sambil tertawa kecil mendengar cerita Hani. Clinton memperhatikan beberapa detik. Lalu sudut bibirnya naik tipis. “Menarik aja,” gumamnya. Hendra langsung menyikut bahunya. “Wah bahaya.” “Fan.” “Hm?” Marni mendekat sambil menahan senyum aneh. “Jujur.” “Apa lagi?” “Lu sama Clinton ada sesuatu ya?” Fanya hampir tersedak minum. “A

  • Cinta Abu-Abu   BAB 7

    “CLINTOOOON!” Teriakan siswi-siswi menggema dari lapangan basket sampai koridor sekolah. Suara sepatu berdecit keras di lantai lapangan. Bugh! Bola basket masuk sempurna ke ring. Sorakan langsung pecah. “GILA MASUK LAGI!” “KEREN BANGET!” Di tengah riuh tepuk tangan, Clinton menangkap bola dengan satu tangan sambil menyeringai santai. Kaos basket hitamnya basah oleh keringat. Napasnya sedikit berat, tapi wajahnya masih terlihat percaya diri seperti biasa. “Lagi! Lagi!” teriak seseorang dari tribun. Hendra tertawa sambil melempar bola ke arah Clinton. “Pamer mulu lu.” Clinton melompat tanpa aba-aba. Dan… Brak! Satu tangan menghantam bola masuk ke ring lewat dunk keras yang bikin satu lapangan heboh. Siswi-siswi langsung menjerit histeris. “YA AMPUN!” “Gue nikah aja sekarang!” Dodit sampai ngakak lihat tribun cewek. “Gila. Fans club lu makin barbar.” Clinton cuma mengambil handuk lalu mengusap wajahnya santai. Memang begitu tiap hari. Ham

  • Cinta Abu-Abu   BAB 6

    Brak! Meja paling belakang dipukul keras sampai satu kelas tersentak. “Kalau mau tidur, nggak usah sekolah sekalian!” Suara Pak Ardi menggema memenuhi kelas XI-A. Beberapa siswa langsung menoleh ke belakang dengan wajah tegang. Brian tersentak bangun. Napasnya berat. Pandangannya masih kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok guru fisika di depannya. “Kamu pikir saya nggak lihat dari tadi?” suara Pak Ardi tajam. Kelas mendadak sunyi. Hani sampai berhenti makan permen. Marni berbisik kecil, “Waduh…” Brian mengusap wajah pelan lalu berdiri. “Maaf, Pak.” “Maaf?” Pak Ardi tertawa sinis kecil. “Setiap pelajaran saya, kamu selalu tidur.” Beberapa siswa mulai saling lirik. Karena memang benar. Brian hampir selalu tertidur di kelas. Kadang di jam pertama. Kadang di tengah pelajaran. Kadang bahkan saat guru sedang menjelaskan di depan mukanya langsung. “Kalau nggak niat sekolah, silakan keluar.” Brian diam. Tangannya mengepal kecil di samping tubuh. Di dep

  • Cinta Abu-Abu   BAB 5

    “Brian!” Suara Fanya nyaris kalah oleh deras hujan. Beberapa siswa langsung menoleh ke parkiran saat melihat Brian jatuh terduduk di samping motornya. Cowok itu masih memegangi dada sambil menunduk. Napasnya berat. “Eh, dia kenapa?” “Masuk angin kali.” “Jangan-jangan pingsan lagi…” Orang-orang cuma melihat. Nggak ada yang benar-benar mendekat. Sampai akhirnya Fanya berlari menerobos hujan tanpa pikir panjang. “Fan!” Hani kaget. “Payung!” Fanya nggak peduli. Sepatunya langsung basah kena genangan air. Ia jongkok di depan Brian dengan napas sedikit ngos-ngosan. “Kamu nggak apa-apa?” Brian mengangkat wajah pelan. Mata mereka bertemu lagi. Dan sialnya… di kondisi seacak itu pun, Brian tetap sadar satu hal Fanya cantik banget. “Brian?” Fanya mengernyit khawatir. “Kamu denger aku nggak?” “Iya…” jawab Brian pelan. “Aku nggak apa-apa.” “Boong.” Suara itu datang dari belakang. Hani dan Marni akhirnya ikut mendekat sambil membawa payung. Marni langsung melotot melihat

  • Cinta Abu-Abu   BAB 4

    “Brian belum bayar SPP tiga bulan.” Suara bendahara kelas itu nggak keras. Tapi cukup bikin satu kelas mendadak sunyi beberapa detik. Brian yang baru masuk kelas langsung berhenti di dekat pintu. Tangannya masih memegang helm lusuh. Beberapa kepala mulai menoleh. “Siapa aja emang?” tanya seseorang pelan. Bendahara kelas membuka buku catatan. “Brian. Sama dua anak kelas sebelah.” Hendra langsung melirik ke belakang. “Woi, Bri… lu diburu negara ternyata.” Beberapa anak ketawa kecil. Nggak jahat. Tapi tetap aja bikin tengkuk Brian terasa panas. Cowok itu berjalan ke bangkunya tanpa bicara apa-apa. Tasnya diletakkan pelan. Kursi berdecit kecil saat ia duduk di pojok belakang dekat jendela. Tempat paling aman buat nggak dilihat orang. Atau setidaknya… itu yang selalu Brian pikirkan. “Brian.” Wali kelas masuk sambil membawa map. “Nanti ke ruang administrasi ya.” Brian mengangguk kecil. “Iya, Bu.” Nggak ada alasan. Nggak ada pembelaan. Karena memang belum bayar.

  • Cinta Abu-Abu   BAB 2

    Brak! Pintu minimarket terbuka keras karena didorong seseorang dari luar. “Brian! Cepetan, mie cup dua! Yang pedes!” “Iya… bentar.” Brian bergerak cepat dari belakang meja kasir. Tangannya sigap mengambil barang pesanan sambil sesekali menahan batuk kecil. Jam dinding menunjukkan pukul

  • Cinta Abu-Abu   BAB 1

    “Anak itu pingsan!” Suara teriakan seseorang langsung memecah lorong SMA 1 Pratama yang biasanya ramai di pagi hari. Beberapa murid spontan mundur. Ada yang panik, ada yang malah sibuk mengangkat ponsel diam-diam buat merekam. Seorang cowok terbaring di lantai dekat tangga, wajahnya pucat, napa

  • Cinta Abu-Abu   BAB 3

    “Pak, besok saya bayar dulu separuh boleh…?”Suara Brian nyaris tenggelam oleh bising kendaraan di pinggir jalan.Pemilik warung fotokopi di depannya menghela napas kasar sambil melipat tangan.“Kamu ngomong gitu udah dua minggu, Brian.”Brian menunduk.“Iya, Pak. Maaf.”“Kalau bukan karena kasihan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status