Teilen

Bab 2: Galau

last update Zuletzt aktualisiert: 02.03.2026 17:01:21

Lampu kota yang ditatap Vino dari jendela apartemennya adalah lampu yang sama yang mengiringi perjalanan taksi Sally menembus kemacetan Jakarta yang menyesakkan.

Namun, bagi Sally, cahaya-cahaya itu tampak kabur, terbiaskan oleh lapisan air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya.

Di dalam kesunyian taksi, ia menyentuh bibirnya berkali-kali dengan jemari yang gemetar, seolah mencoba menghapus jejak panas dan sisa tekanan yang ditinggalkan Vino. Ia ingin sekali membenci Vino, menyalahkan pria itu atas impulsivitas yang gila.

Tapi jauh di lubuk hatinya, Sally lebih membenci dirinya sendiri karena sebuah kenyataan pahit, ia tidak mampu menolak dengan cukup keras. Ada bagian dari dirinya yang justru terpaku, seolah jiwanya sedang mengkhianati komitmen yang selama ini ia agungkan.

​Namun, lamunan gelap itu pecah seketika saat taksinya berbelok memasuki pekarangan rumah.

Dunianya yang baru saja jungkir balik dipaksa tegak kembali oleh sebuah realitas yang dingin.

Di sana, di bawah temaram lampu teras yang kekuningan, sebuah mobil hitam mewah terparkir gagah. Sebuah objek yang seolah menarik Sally kembali ke bumi dengan paksa, mengingatkannya pada kasta, martabat, dan janji. Itu mobil Andrew.

​Andrew, sang tunangan, sudah berdiri di sana menunggunya. Pria itu tampak begitu kontras dengan kekacauan emosional yang baru saja ditinggalkan Sally di apartemen Vino.

Andrew berdiri dengan setelan jas yang masih sempurna tanpa cela, meski ia baru saja menempuh perjalanan udara.

Di tangannya, ia memegang sebuah kotak hadiah berukuran sedang, terbungkus kertas premium dengan pita merah muda yang cantik. Wajahnya yang rupawan dan tenang langsung menyunggingkan senyum tulus yang mematikan begitu melihat Sally turun dari taksi.

​"Kejutan!" suara bariton Andrew menyapa. Suaranya hangat, berat, dan menenangkan—atau setidaknya, seharusnya begitu bagi seorang tunangan yang merindu.

​Andrew melangkah mendekat dengan langkah tegap. Aroma parfum kayu cendana yang mahal dan familiar langsung menyergap indra penciuman Sally.

Aroma itu biasanya melambangkan keamanan, pelabuhan terakhir setelah hari yang melelahkan. Namun malam ini, wangi itu justru terasa seperti vonis bersalah yang mencekik lehernya.

​"Aku mempercepat penerbanganku dari Singapura," bisik Andrew sambil menarik Sally ke dalam pelukannya. Ia mengecup kening Sally lama, sebuah kecupan yang penuh kepemilikan.

"Aku tidak tahan harus menunggu sampai besok untuk memberikan ini padamu. Aku melihatnya di butik dan langsung membayangkan betapa pasnya ini di lehermu."

​Sally mematung di dalam dekapan itu. Kotak hadiah di tangan Andrew terasa seberat batu gunung saat berpindah ke tangannya.

Andrew selalu begitu; setiap kali pulang dari business trip, ia tidak pernah absen membawakan hadiah-hadiah indah.

Andrew sangat baik, sangat romantis, dan perhatiannya nyaris tanpa cela. Namun, justru kesempurnaan itulah yang membuat lambung Sally serasa diaduk.

Setiap inci perhatian Andrew terasa seperti duri yang menusuk kesadarannya tentang apa yang baru saja terjadi di sofa apartemen Vino. Ia merasa seperti seorang penipu yang mengenakan topeng di balik hadiah-hadiah mewah ini.

​Andrew perlahan melepaskan pelukannya, namun tangannya tetap bertengger di bahu Sally. Ia sedikit menunduk untuk menatap wajah tunangannya.

​"Sally? Kamu pucat sekali," Andrew menyentuh pipi Sally. Jarinya yang hangat bergerak turun, ibu jarinya mengusap lembut sudut bibir Sally yang tampak sedikit memerah dan bengkak. "Kamu sakit? Atau kamu tidak makan seharian?"

​Sally tersentak kecil. Sentuhan Andrew di bibirnya terasa seperti sengatan listrik yang menyakitkan. Ia refleks menarik wajahnya sedikit ke belakang, sebuah gerakan defensif yang kasar dan tak tersembunyi. Ruangan terbuka di halaman rumah itu mendadak terasa sempit.

​Mata Andrew yang tajam, mata seorang negosiator ulung, langsung menangkap perubahan mikro dalam gestur Sally.

Senyumnya memang tidak hilang, tapi binar hangat di matanya sedikit meredup, berganti dengan kilat selidik yang tenang namun mengancam. Andrew adalah pria yang terbiasa membaca kebohongan di meja rapat, dan malam ini, ia melihat sesuatu yang asing pada wanita yang dicintainya.

​"Ada yang salah, Sayang? Kamu bersikap seolah aku adalah orang asing. Kamu seperti... habis melihat hantu," ucap Andrew dengan nada yang mulai kehilangan kehangatannya.

​"Aku... aku cuma kecapekan, Bang. Maaf. Tadi aku habis dari tempat Vino, membantu dia bikin konten video," jawab Sally dengan suara yang hampir habis, nyaris seperti bisikan yang pecah.

​"Vino lagi?" Nama itu keluar dari mulut Andrew dengan nada yang datar, namun ada penekanan dingin yang tak bisa diabaikan. Ia memperhatikan bagaimana Sally terus-menerus menghindari kontak mata, bagaimana jemari tunangannya itu meremas kotak hadiah hingga kertas kado itu sedikit lecek.

Andrew tahu hubungan mereka hanya sahabat sejak kecil, tapi sebagai pria, ia selalu merasakan aura kompetisi yang tidak sehat setiap kali nama Vino mencuat.

​Andrew tidak melepaskan tatapannya. Ia mulai merasakan ada sesuatu yang retak, sesuatu yang tidak sinkron antara kata-kata Sally dan bahasa tubuhnya.

"Vino memang selalu punya cara untuk membuatmu 'lelah', ya? Tapi bibirmu..." Andrew menjeda kalimatnya, matanya menyipit menatap luka kecil atau mungkin bekas gigitan yang samar di bibir Sally.

"Kenapa bibirmu sampai bengkak seperti itu, Sal? Konten apa yang kalian buat sampai meninggalkan bekas seperti itu?"

“Hah? Video tugas kok! Ga ada hubungannya sama bibir” Elak Sally.

​Udara di halaman rumah itu mendadak terasa membeku. Sally tahu, Andrew bukan pria yang bisa disumpal dengan alasan klise seperti

"Ini…aku tidak sengaja menabrak pintu". Kebohongan itu akan terdengar sangat menghina kecerdasan Andrew.

​Tepat saat Sally hendak membuka mulut untuk mencari pembelaan, ponsel di saku tasnya bergetar kuat.

Sebuah notifikasi masuk dengan suara denting yang nyaring di tengah keheningan malam itu. Layar ponselnya menyala di dalam tas, membiaskan cahaya yang cukup untuk menarik perhatian Andrew.

​Tanpa perlu melihat, Sally tahu itu dari Vino. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

Dan di hadapan Andrew yang kini menatapnya dengan penuh curiga, Sally menyadari bahwa rahasia satu jam lalu di apartemen Vino kini menjadi bom waktu untuk persahabatan dan juga hubungannya dengan Andrew.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 7: Momen Kebenaran

    Koridor rumah sakit itu terasa begitu dingin, seolah-olah oksigen di sana telah membeku menjadi kristal es yang menusuk paru-parunya, mata Sally basah oleh air mata. Dia menangis sedari tadi di dalam taksi. Ia sudah membayangkan hal terburuk terjadi pada sahabatnya.“Kalau sampai sesuatu terjadi pada Vino, aku gak bisa maafin diriku sendiri”Sally berdiri mematung di bawah pendar lampu neon yang berkedip pucat. Setelah membaca pesan singkat dari Andrew—sebuah salam perpisahan yang terasa seperti vonis mati—ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dengan tangan yang mati rasa.Di dalam tasnya, terselip sebuah amplop cokelat yang diberikan Andrew sesaat sebelum kekacauan ini dimulai. Andrew telah melunasi reservasi gedung pernikahan mereka untuk bulan depan. Harapan Andrew baru saja ia hancurkan demi sebuah "panggilan darurat" yang kini menghantarkan langkahnya ke ambang ketakutan yang nyata.Sally melangkah terburu-buru menuju bangsal UGD. Dari kejauhan, ia melihat Rian berdi

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 6: krisis Pilihan

    Andrew sengaja memilih sudut restoran yang paling tersembunyi. Hanya ada pendar cahaya lilin kecil dan denting denting piano yang samar di latar belakang. Ia mengabaikan hidangan di depannya, matanya hanya terfokus pada Sally yang tampak gelisah, sesekali memainkan ujung taplak meja. Andrew meraih tangan Sally, menggenggamnya dengan lembut namun pasti. Ia menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan ego dan amarahnya yang meledak sore tadi. "Sal," panggilnya dengan suara rendah yang menenangkan. "Aku nggak mau kita terjebak di lingkaran yang sama terus. Pertengkaran, kecemburuan, dan orang-orang yang selalu berdiri di tengah kita. Aku capek kalau harus terus-terusan merasa seperti orang asing di hidupmu sendiri." Andrew menatap mata Sally, mencari kejujuran di sana. "Malam ini, aku cuma mau ada kita. Tanpa gangguan, tanpa nama lain yang disebut. Aku mau kita coba lagi, bener-bener dari nol. Bisa?" Sally tertegun. Ketulusan di mata Andrew hampir membuatnya luluh. Ada rasa bersa

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 5: Batas yang Terang

    Malam hari setelah Andrew pulang dengan dingin, sunyi hanya suara detak jam dinding. Sally berdiri di depan cermin riasnya, tergeletak kunci cadangan rumah Vino yang tadi ia bawa pulang, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan besok.Sally menatap pantulan diri nya. Ia terlihat berantakan_maskaranya sedikit luntur, matanya lelah. Ia memegang kunci itu, meremas erat sampai pinggiran besi kunci itu menekan telapak tangannya.“Sampai kapan, Sal? Sampai kapan kamu mau jadi pahlawan buat semua orang, tapi jadi penjahat buat diri kamu sendiri” Sally berbisik pada pantulannya di cermin. Ia tertawa getir, matanya berkaca-kaca.“Kamu takut Vino ngerasa terbuang? Atau kamu takut kehilangan rasa ’di butuhkan’ itu? Kamu tahu Andrew bener. Kamu tahu batasan itu perlu. Tapi kenapa rasanya kaya kamu lagi mutus urat nadi kamu sendiri?”“Andrew butuh bukti kalau dia prioritas. Vino butuh tahu kalau kamu bukan lagi anak kecil yang bisa dia jagain selamanya. Dan kamu…kamu butuh berhenti n

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 4: Serba Salah

    Sally langsung bengong. Dia ga nyangka kalau Andrew bakal semurkah ini hanya masalah martabak dan perhatian Vino padanya. Padahal dari dulu Vino juga begini.“Sangat gak wajar, Sal!” Dumal Andrew lagi."Ya karena aku yang cerita sama dia tadi pas ngerjain tugas, Bang!" bela Sally, mulai merasa disudutkan."Lalu kenapa tidak cerita sama aku? Kenapa harus dia yang tahu lebih dulu?!""Bang... kita kan baru ketemu ini. AKu gak tahu Abang datang hari ini dan aku juga berniat mengajak Abang keluar makan sebentar lagi, tapi Abang langsung bahas soal Vino terus..."Andrew mengusap wajahnya kasar, napasnya memburu. "Aku juga tidak suka melihat dia keluar masuk rumahmu seperti itu, seolah-olah ini rumah dia sendiri! Tidak sopan!"Sally terdiam. Ia tidak bisa membantah kalimat itu karena memang begitulah kenyataannya. Sejak kecil, pintu rumahnya selalu terbuka untuk Vino, begitu juga sebaliknya. Sally bahkan punya kunci cadangan rumah Vino, dan ia sering membuatkan kopi untuk ibu Vino ta

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 3: Cemburu

    “Ada apa sayang, siapa yang menghubungi mu?” Tanya Andrew sembari menatap pada tas Sally “Ah, itu biasalah Bang, mungkin si Vino yang penasaran ingin segera melihat hasil editan vidio tadi” Dengan dada yang penuh debar dan wajah pucat pasi sally menjawab pertanyaan Andrew. Sally tahu jika Andrew bukan tipikal orang yang mudah percaya. “Vino lagi?” dengan sedikit wajah yang kurang ramah, nampak jelas tersirat wajah kesal Andrew. Baru saja bertemu sudah mengganggu lagi. Sally dapat melihat perubahan air muka tunangannya. Dia langsung merogoh tasnya mengambil ponsel dan mematikannya. “Abang marah?” tanya Sally lembut. "Marah? Apa aku pernah melarangmu?" Suara Andrew terdengar berat, ada nada getir yang tertahan di sana. "Aku tidak keberatan kamu pergi dengan Vino. Tapi saat aku ada di sini, bisa tidak fokusmu hanya untukku?" Sally menghela napas, merasa suasana mulai tidak enak. "Bang... kami tadi benar-benar hanya mengerjakan tugas. Tidak ada yang lain." "Aku percaya pad

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 2: Galau

    Lampu kota yang ditatap Vino dari jendela apartemennya adalah lampu yang sama yang mengiringi perjalanan taksi Sally menembus kemacetan Jakarta yang menyesakkan. Namun, bagi Sally, cahaya-cahaya itu tampak kabur, terbiaskan oleh lapisan air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya. Di dalam kesunyian taksi, ia menyentuh bibirnya berkali-kali dengan jemari yang gemetar, seolah mencoba menghapus jejak panas dan sisa tekanan yang ditinggalkan Vino. Ia ingin sekali membenci Vino, menyalahkan pria itu atas impulsivitas yang gila. Tapi jauh di lubuk hatinya, Sally lebih membenci dirinya sendiri karena sebuah kenyataan pahit, ia tidak mampu menolak dengan cukup keras. Ada bagian dari dirinya yang justru terpaku, seolah jiwanya sedang mengkhianati komitmen yang selama ini ia agungkan. ​Namun, lamunan gelap itu pecah seketika saat taksinya berbelok memasuki pekarangan rumah. Dunianya yang baru saja jungkir balik dipaksa tegak kembali oleh sebuah realitas yang dingin. Di sana,

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status