Share

Bab 142

Penulis: Nayla
Namun tak lama kemudian, Devan memejamkan mata sejenak untuk mencoba menenangkan diri. Dia bukan datang ke sini untuk bertengkar.

Lagi pula, sedekat apa pun hubungan Scarlett dan Mavin, Scarlett tetap istrinya. Mereka sudah menikah secara sah, ada surat nikah, dan itu adalah fakta yang tak bisa dibantah. Dia hanya sedang marah karena urusan anak, itu saja. Begitu amarahnya reda, dia pasti akan menyesal.

Memikirkan hal itu membuat hati Devan terasa jauh lebih tenang. Dia meletakkan buku di sampin
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Qolby Alawiyah
mau cere aja lama banget, gustiiii
goodnovel comment avatar
Kimmy Lesnussa
cerita masalah 1 blm selesai mslh br
goodnovel comment avatar
Rusidah
pret lah devan dari dlu kemane aje
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Cinta Mati Bersama Kepergian Buah Hati   Bab 525

    "Kamu ini kakak Florence. Aku berharap kamu bisa lebih banyak membujuknya."Mavin menatap matanya. "Jadi semua yang kamu lakukan hari ini adalah supaya aku bisa datang ke rumah Keluarga Lutharsa secara wajar dan nggak buat Scarlett curiga?"Nadya mengangguk. "Kamu juga sudah lihat sendiri. Demi Scarlett, adikku hampir kehilangan nyawanya. Aku nggak ingin Florence celaka, juga nggak ingin Scarlett celaka."Di kamar tamu, Edric membaringkan Scarlett di atas ranjang dan menciumnya dengan lembut. Ciuman yang datang bertubi-tubi membuatnya linglung.Saat Scarlett mengira Edric akan melangkah lebih jauh, pria itu justru melepaskannya. Begitu membuka mata, Scarlett kebetulan melihat ekspresi kesakitan yang sekilas melintas di wajah Edric."Ada apa? Lukamu tertarik?" Dia buru-buru bangkit dan duduk.Namun, karena bangun terlalu cepat, pandangannya menggelap dan dia hampir terjatuh. Edric yang sedang berlutut di samping kakinya bereaksi sangat cepat. Dia langsung merangkul pinggang Scarlett dan

  • Cinta Mati Bersama Kepergian Buah Hati   Bab 524

    Di dalam kamar mandi.Nadya bersandar di kusen pintu, sebatang rokok terselip di antara jemarinya. Melalui cermin besar di hadapannya, dia melihat Mavin yang sedang berjalan ke arah sana."Bu Nadya, aku kurang mengerti, apa maksudmu melakukan ini?" tanya Mavin.Nadya tersenyum, lalu menjentikkan abu rokok di ujung jarinya. "Aku sudah melakukannya sejelas itu. Bahkan Scarlett saja sudah bisa melihatnya. Masa kamu nggak bisa?"Mavin sedikit mengernyit. Bukannya dia tidak bisa melihatnya, hanya saja menurutnya dia dan Nadya tidak punya banyak hubungan. Dia tidak memiliki perasaan terhadap Nadya. Selain itu, menurutnya perasaan Nadya terhadapnya muncul terlalu tiba-tiba. Di matanya, sikap Nadya itu lebih mirip permainan.Setelah berpikir sejenak, Mavin berkata dengan sopan, "Maaf, Bu Nadya. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik."Nadya mengangkat alis. Dia berdiri tegak dan mematikan puntung rokoknya, lalu melangkah perlahan mendekati Mavin. "Gimana kalau menurutku kamu sudah y

  • Cinta Mati Bersama Kepergian Buah Hati   Bab 523

    "Mm, memang cukup enak." Nadya meletakkan peralatan makannya. "Ini tipe rasa yang aku suka."Melihat itu, Lydia refleks berdiri dan berkata, "Kalau begitu, aku tambahkan lagi ....""Terima kasih, nggak perlu." Nadya menoleh ke arah Mavin dan tersenyum tipis. "Kalau terlalu banyak malah jadi bosan. Secukupnya justru pas."Dia mengelap tangannya, lalu berdiri. "Kalian lanjut saja makan, aku ke kamar mandi sebentar."Setelah berkata demikian, Nadya berbalik dan pergi.Sejak tadi Scarlett memang terus memperhatikan mereka berdua, jadi tentu saja dia melihat seluruh proses Nadya menggoda Mavin.Setelah Nadya pergi, jelas terlihat bahwa Mavin sedang memikirkan sesuatu dan ingin menyusulnya. Namun, sepertinya ada sesuatu yang membuatnya ragu.Scarlett memperkirakan karena ada banyak orang di sini, jadi Mavin merasa kurang enak.Mungkin karena menyadari tatapannya, Mavin menoleh ke arahnya. Scarlett bereaksi cepat. Dia langsung menunduk dan melanjutkan makan, berpura-pura tidak melihat apa pun

  • Cinta Mati Bersama Kepergian Buah Hati   Bab 522

    Scarlett menyimpan foto-foto itu, lalu memilih satu yang paling dia sukai untuk dijadikan wallpaper ponselnya.Tak lama kemudian, Mavin dan Nadya juga datang.Scarlett menata bahan-bahan yang sudah dicuci bersih dan panci hotpot empat sekat di atas meja. Keenam orang itu kemudian mencari tempat duduk masing-masing.Meja itu berbentuk bundar besar, pas untuk enam orang. Nadya tidak memedulikan yang lain dan langsung duduk di tempat yang dipilihnya.Meskipun Nadya dan Edric adalah kakak beradik, aura mereka sama sekali berbeda. Edric memberi kesan mudah didekati, sedangkan Nadya memancarkan tekanan yang membuat orang asing enggan mendekat.Dalam beberapa hal, dia agak mirip dengan Tiffany.Lydia tidak terlalu berani mendekatinya, jadi dia sengaja duduk dengan satu kursi kosong di antara mereka.Tiffany melirik sekilas, berpikir sejenak. Bukannya duduk di sisi lain, dia justru duduk di antara Lydia dan Nadya.Nadya menoleh dan meliriknya, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Dengan begitu, ti

  • Cinta Mati Bersama Kepergian Buah Hati   Bab 521

    Jadi itu karena Mavin? Bukankah itu berarti dia juga punya perasaan pada Mavin?Api gosip dalam diri Scarlett yang sudah padam kembali menyala tanpa bisa ditahan.Edric berdeham pelan. Barulah Scarlett tersadar. Dia menoleh ke arahnya dan tepat melihat setetes air jatuh dari ujung rambutnya, lalu menetes ke dadanya.Tetesan air itu meluncur perlahan di sepanjang dadanya yang bidang. Scarlett tertegun. Imajinasinya langsung berjalan liar tanpa kendali. Wajahnya seketika memerah."Ada apa? Kenapa wajahmu merah sekali?" tanya Edric, padahal jelas-jelas dia tahu alasannya.Scarlett menarik napas dalam-dalam dua kali. Namun, emosi yang baru saja berhasil dia tenangkan kembali berantakan karena suara Edric yang terdengar begitu menggoda.Pikirannya kacau balau. Tidak bisa. Dia tidak bisa terus berada di sini. Pria ini terlalu mematikan, sementara tekadnya yang tipis sama sekali tidak mampu melawan."Ganti baju, terus kita pergi belanja ke mal. Aku tunggu di mobil." Setelah melontarkan kalima

  • Cinta Mati Bersama Kepergian Buah Hati   Bab 520

    Keesokan harinya, Edric menjalani pemeriksaan lagi. Setelah semua indikator tubuhnya dinyatakan normal, Scarlett membawanya keluar dari rumah sakit.Sesampainya di vila, begitu Edric membuka pintu, dia melihat Sherrif sedang duduk di atas karpet dekat pintu sambil membersihkan bulunya sendiri."Baru beberapa hari nggak ketemu, Sherrif sepertinya sudah lebih besar, dan juga lebih cantik," kata Edric. Saat pertama kali mereka membawanya pulang, bulunya kotor dan kusam. Namun sekarang bulunya berkilau dan lembut seperti pita satin yang bersih. Tubuhnya juga terasa membesar."Namanya juga anak kucing, tumbuhnya cepat," kata Scarlett.Selama Edric dirawat di rumah sakit, dialah yang mengurus anak kucing itu setiap hari. Karena selalu bersama dari pagi hingga malam, Scarlett malah tidak terlalu merasakan perubahan apa pun.Scarlett langsung mengangkat Sherrif ke dalam pelukannya. Secara refleks, dia membenamkan wajahnya ke tubuh si kucing dan menggosokkannya dengan manja.Sama seperti biasan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status