แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Zoya
Malam itu, Elora bermimpi sangat panjang.

Dalam mimpinya adalah saat pertama kali dia bertemu Rezie.

Saat itu, Elora masih berusia 18 tahun ketika mengikuti ayahnya menghadiri jamuan Keluarga Ferdian. Pria itu berdiri di samping piano dengan setelan jas hitam rapi. Jari-jarinya yang panjang memegang segelas sampanye dan wajahnya tampak seperti lukisan.

Elora langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kemudian, dia memberanikan diri mencuri ciuman dari pria itu. Rezie sempat tertegun, lalu tertawa pelan. "Gadis kecil, bukan seperti itu caranya berciuman."

Lalu, dia menahan belakang kepala Elora dan mengajarinya bagaimana cara ciuman yang sebenarnya.

Ciuman itu sangat lama. Begitu lama hingga Elora hampir kehabisan napas, begitu lama hingga sekarang ketika mengingatnya, Elora merasa itu seperti mimpi indah yang tak nyata.

Saat terbangun, bantalnya sudah basah oleh air mata.

Hari sudah terang. Setelah menenangkan diri cukup lama, Elora baru mengambil ponselnya dan menelepon ayahnya.

"Pa, aku sudah cerai." Suaranya serak saat melanjutkan, "Setelah dapat akta cerai, aku bakal ke luar negeri untuk temani kalian."

"Apa Rezie menindasmu?" Suara ayahnya langsung meninggi.

"Nggak." Elora menatap langit yang mulai terang di luar jendela. "Cuma sudah nggak saling mencintai."

Sebenarnya, Rezie yang tidak mencintainya. Dan dia pun tidak akan mencintai Rezie lagi.

Kalimat itu tidak dia ucapkan. Bagaikan menelan pecahan kaca, Elora membiarkan kata-kata itu menggores hatinya hingga berdarah.

Setelah menutup telepon, tiba-tiba muncul permintaan pertemanan di Instagram. Tanpa sadar, Elora menekan tombol setuju. Pihak sana langsung mengirimkan sebuah video.

Di dalam video, Rezie sedang tertidur di sofa. Alisnya sedikit berkerut, bibirnya bergumam memanggil sebuah nama, "Elise ...."

Tak lama kemudian, menyusul pesan panjang.

[ Aku Elise, cinta pertama Rezie. Aku nggak nyangka setelah bertahun-tahun berlalu dan dia bahkan sudah menikah, tapi masih saja belum melupakanku. Hari ini setelah aku kembali ke negara ini, aku baru tahu bahwa di bagian dalam pergelangan tangannya masih ada tato nama panggilanku. ]

[ Semua foto kami dan semua buku harian yang dia tulis, masih tersimpan rapi. Lihat, bahkan dalam mimpinya dia masih manggil namaku. Mungkin dia sedang memimpikan masa lalu kami, bagaimanapun juga itu adalah masa cinta pertama yang nggak akan pernah dia lupakan. ]

Elora menatap rangkaian kata panjang itu, hatinya sudah mati rasa karena terlalu sakit.

Dia hanya membalas satu kalimat.

[ Kamu mau apa? ]

Setelah cukup lama, barulah pihak sana membalas.

[ Nggak mau apa-apa, cuma ingin mengambil kembali sesuatu yang memang milikku. Dia sebentar lagi akan bangun. Kamu percaya nggak, kalau aku bilang aku mimpi buruk, lima hari ke depan dia pasti akan terus menemaniku dan nggak akan menghubungimu sekali pun? ]

Elora tidak membalas lagi.

Sepuluh menit kemudian, pesan dari Rezie masuk.

[ Sayang, ada proyek mendadak, aku harus dinas selama lima hari. Aku tinggalin sekretaris untukmu, kalau ada apa-apa hubungi dia. Jaga dirimu dan anak kita. ]

Elora menatap layar ponsel, lalu tiba-tiba tersenyum. Semakin dia tersenyum, air matanya malah menetes ke layar.

Benar saja, selama lima hari berikutnya Rezie tidak memberi kabar sedikit pun.

Sebaliknya, pesan dari Elise terus berdatangan.

Rezie menemaninya berjalan di tepi pantai, mengajaknya ke puncak gunung melihat matahari terbenam, mengemudikan mobil mengajaknya berkeliling di pinggiran kota ....

Elise mengirim pesan.

[ Tempat-tempat ini dulu sering kami datangi waktu masih pacaran. ]

Elora membaca semuanya tanpa terlewat satu pun. Tiba-tiba dia teringat, tempat-tempat itu juga pernah didatangi Rezie bersamanya.

Dulu Elora mengira itu adalah bentuk romantisnya. Sekarang baru dia paham, itu hanyalah kunjungan ulang ke tempat lama dan Rezie melihat sosok lain dari dirinya ini.

Sore hari di hari kelima, Elora mulai membereskan barang-barangnya.

Perhiasan, tas, pakaian yang diberikan Rezie ....

Semua barang yang berkaitan dengannya dimasukkan ke dalam kardus, lalu disimpan di gudang.

Saat Rezie pulang dengan tubuh lelah, yang dia lihat adalah ruang lemari yang sudah kosong setengah. Dia jelas tertegun sejenak. "Sayang, kamu lagi ngapain?"

Elora bahkan tidak mengangkat kepala. "Nggak ngapa-ngapain, cuma buang beberapa barang yang sudah nggak kepakai."

Rezie tidak berpikir macam-macam. Dia hanya tersenyum, lalu menyerahkan hadiah di tangannya. Satu set buku ilustrasi edisi terbatas. Bulan lalu Elora pernah menyebut ingin mengoleksinya, tak disangka Rezie mengingatnya.

"Sayang ...." Rezie memeluknya dengan alami dan tangan besarnya menyentuh perut Elora. "Akhir-akhir ini mualnya masih parah? Besok jadwal kontrol kandungan, aku temani."

"Nggak perlu." Elora melepaskan diri dari pelukannya. "Ke depannya juga nggak perlu lagi."

Rezie akhirnya menyadari ada yang tidak beres. "Apa maksudmu nggak perlu? Kamu sedang nggak enak badan?"

Seorang pelayan di samping menyela, "Nyonya beberapa hari ini nafsu makannya buruk, hampir nggak makan apa-apa."

Rezie langsung melonggarkan dasinya. "Aku pergi beli bahan makanan dan masak untukmu. Semua yang kamu suka. Yang patuh ya, makan sedikit saja."

Saat berbalik, dia masih sempat berpesan, "Kalian jaga Nyonya baik-baik, jangan sampai dia terbentur atau terluka."

Para pelayan berbisik iri, "Tuan benar-benar baik sama Nyonya ...."

"Kalau cari suami harus yang lebih dewasa, yang tahu cara menyayangi ...."

Elora mendengarnya dengan tenang, kilatan ejekan melintas di matanya. Dulu, Elora juga mengira dirinya menemukan cinta terbaik di dunia. Baru sekarang dia sadar, itu hanyalah permainan pengganti yang dirancang dengan sempurna.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 26

    "Elora, maukah kamu menikah denganku?"Candra berlutut dengan satu kaki, memegang cincin dan menatap Elora.Dikelilingi ayah dan teman-temannya, Elora menatap Candra yang penuh cinta, lalu perlahan mengangguk. Candra langsung memasangkan cincin itu ke jarinya dengan penuh haru.Elora menariknya berdiri. Di tengah sorakan dan ucapan selamat, Candra berbisik pelan, "Aku boleh cium kamu?"Elora mengangguk.Di kejauhan, Rezie berdiri di balik pohon, mengamati mereka berdua dalam diam. Setelah ragu sejenak, dia tetap berjalan mendekat saat kerumunan mulai bubar.Begitu melihatnya, Candra langsung waspada dan berdiri di depan Elora. "Untuk apa kamu datang?"Menghadapi pertanyaan dingin itu, Rezie tidak menunjukkan ekspresi lain. Dia hanya diam, lalu menyerahkan sebuah kotak kepada Elora.Elora tidak menerimanya.Rezie membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah kunci."Aku meninggalkan sebagian harta untukmu di bank. Itu bagian yang seharusnya kamu dapatkan saat perceraian."Elora menatap kunc

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 25

    "Elise, ada seseorang yang ingin menemuimu."Beberapa hari berada di tahanan membuat tubuh Elise jauh lebih kurus. Wajah dan tubuhnya penuh dengan memar. Dia berdiri dengan kaku, lalu dibawa petugas ke ruang kunjungan.Begitu melihat Rezie, dia langsung jatuh terduduk dan memegang tangan petugas."Tolong ... aku nggak mau ketemu dia, aku mau kembali."Petugas itu langsung melepaskan tangannya. "Surat perdamaian sudah ditandatangani. Saya bantu urus prosedurnya, Anda bisa membawanya pergi."Rezie mengangguk.Mendengar hal itu, Elise mengira Rezie sudah berubah pikiran dan langsung meraih pakaiannya."Rezie, aku tahu kamu pasti datang menyelamatkanku. Rezie, cepat bawa aku pergi. Aku nggak tahan lagi di tempat ini."Elise adalah wanita yang dimanjakan sejak kecil, belum pernah dia mengalami penderitaan seperti ini. Selama di tahanan, dia sering diperlakukan kasar oleh petugas dan sesama tahanan karena tidak bisa beradaptasi, sehingga tubuhnya penuh luka.Tatapan Rezie dingin, tetapi suar

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 24

    Pintu ruang rawat tertutup, Elora pun pergi. Rezie duduk terpaku di atas ranjang. Tatapannya terpaku lama pada kursi yang tadi diduduki Elora. "Maaf ...."Dia perlahan melepas cincin di jarinya. Itu adalah cincin pernikahan mereka.Akhirnya, Rezie tidak mampu lagi menahan tangis. Semua ini adalah kesalahannya.Apa yang dikatakan Elise benar, apa yang dikatakan Candra benar, terlebih lagi apa yang dikatakan Elora. Hubungannya dengan Elora sampai di titik ini sepenuhnya akibat perbuatannya sendiri.Setelah lukanya sembuh, Rezie kembali ke negaranya. Dia duduk di rumah sambil menatap ruang yang kosong. Namun, setiap sudutnya dipenuhi kenangan mereka berdua, membuat hatinya terasa perih. Dia berjalan ke kamar bayi di lantai atas.Semua yang ada di dalam ruangan itu dipilih sedikit demi sedikit olehnya dan Elora."Rezie, menurutmu bayi kita nanti laki-laki atau perempuan?"Rezie memeluk Elora dari belakang. "Laki-laki atau perempuan, aku akan tetap menyukainya.""Kalau begitu kita beli baju

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 23

    Saat Candra tiba di rumah keluarga Elora, Elora sedang duduk di sofa menonton televisi."Kamu sudah pulang?"Ayahnya juga menoleh. "Candra sudah kembali?"Candra menyerahkan kue di tangannya kepada Elora. "Iya, tadi lewat toko yang kamu suka, jadi sekalian aku belikan."Elora ragu sejenak sebelum bertanya, "Dia ... gimana?"Gerakan Candra sedikit terhenti. "Dia baik-baik saja, tapi terus bilang ingin ketemu kamu."Mendengar ucapannya, ayah Elora mendengus. "Dia berani mau ketemu Elora? Menyelamatkan Elora itu sudah kewajibannya."Ucapan itu membuat Elora dan Candra sama-sama tertawa.Meski dalam hati khawatir Elora akan luluh karena Rezie menahannya dari pisau, Candra tetap bertanya dengan menghormati keputusannya, "Kamu mau menjenguknya?"Elora ragu sebentar, lalu mengangguk. Sekilas kesedihan melintas di mata Candra. Bernard juga mengira Elora masih belum bisa melupakan Rezie, sehingga dia kembali mendengus."Kenapa kamu masih memikirkannya? Bukankah dia sudah cukup menyakitimu?" Sua

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 22

    Pantulan cahaya dari pisau di tangan Elise jatuh ke mata Elora yang penuh ketakutan."Elora, mati kamu!"Melihat Elise menusuk ke arahnya, Candra dan Rezie hampir bersamaan maju melindunginya.Candra menarik Elora ke dalam pelukannya, sementara Rezie berdiri di depannya, menahan tusukan itu dengan tubuhnya. Elora begitu terkejut hingga saat dipeluk Candra pun dia belum sepenuhnya sadar.Semua orang di restoran ikut terkejut.Serangan Elise gagal. Dia mencoba menarik kembali pisaunya untuk menyerang lagi, tetapi langsung ditendang oleh petugas keamanan yang datang."Cepat panggil ambulans!""Ada pembunuhan!"Restoran langsung kacau.Para pelayan mengeluarkan ponsel dengan panik dan segera menghubungi ambulans."Elora, kamu nggak apa-apa?" Candra menatap Elora yang masih gemetar di pelukannya dengan khawatir. Baru saat itu Elora tersadar, buru-buru memeriksa apakah Candra terluka."Aku nggak apa-apa." Candra memeluknya dan menenangkan dengan lembut.Melihat Elora selamat tetapi Rezie ter

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 21

    Rezie benar-benar seperti orang gila. Di satu sisi dia mengurung Elise, di sisi lain dia menekan Keluarga Rangkuti.Keluarga Rangkuti sendiri memang sudah mengalami masalah besar pada arus dana karena kondisi industri. Terakhir kali mereka sempat bernapas sejenak karena berhasil memanfaatkan hubungan dengan Rezie.Pihak lain yang sebelumnya ingin menyerang Keluarga Rangkuti juga menahan diri karena melihat pengaruh Keluarga Ferdian.Namun kali ini, justru Keluarga Ferdian yang lebih dulu menarik investasinya. Melihat arah situasi berubah, pihak lain pun ikut berbalik menyerang Keluarga Rangkuti. Tak butuh waktu lama, Keluarga Rangkuti langsung jatuh ke dalam krisis.Ayah Elise terus mencoba meneleponnya, tetapi tidak pernah mendapat jawaban. Dengan marah, dia melempar ponselnya ke dinding.Elise terbangun karena rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia menatap sekeliling dengan ketakutan, lalu baru sedikit lega saat tidak melihat Rezie di sana.Rezie mengurungnya di tempat ini, memaksanya m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status