Home / Romansa / Cinta Pertama Pak Mayor / Misi Penyelamatan

Share

Misi Penyelamatan

Author: AgilRizkiani
last update Last Updated: 2025-07-25 16:28:27

Altar mengintip cepat dari sisi jendela, lalu meraih telepon genggamnya dan memencet tombol darurat.

“Kode Merah. Serangan mendadak. Koordinat: Apartemen Grand Lestari, Unit 313. Kirim tim sekarang!” suaranya rendah namun tegas, penuh komando.

Sementara itu, Gianina menunduk, tubuhnya bergetar. Ia memeluk anaknya lebih erat, menahan tangis, tak percaya ketenangan malam itu berubah menjadi mimpi buruk.

“Kenapa ini terjadi, Altar?” bisiknya dengan suara gemetar.

“Ssst—mereka bukan cuma mengincarku bisa jadi kalian juga jadi target.”

Wajah Altar berubah kaku. Pikirannya langsung bekerja cepat. Ini bukan serangan acak. Ini terencana. Dan waktu mereka terbatas.

Tiba-tiba, suara pintu didobrak dari bawah apartemen terdengar. Tangga darurat bergemuruh. Penyerang sedang naik—dan mereka tak punya banyak waktu.

“Kita harus keluar dari sini,” gumam Altar. Ia meraih anak Gianina, lalu menatap wanita itu dalam-dalam. “Ikut aku. Percayakan keselamatan kalian padaku.”

Gianina ragu sejenak, tapi melihat keseriusan di mata Altar, ia mengangguk cepat. Mereka bertiga berlari menuju balkon, Altar membuka pintu geser, lalu melirik ke bawah.

“Lima lantai,” gumamnya pelan.

“Terlalu tinggi untuk lompat. Tapi—”

Matanya menangkap saluran pipa besi besar di sisi bangunan—cukup kuat untuk menopang tubuh. Tanpa ragu, ia melepas sabuk dan mengaitkannya di sekitar pipa, membuat jalur turun darurat.

“Aku dulu. Setelah aku turun, kau giring dia turun perlahan. Ikuti perintahku, Gia. Sekarang bukan waktunya takut.”

Dengan cepat, Altar menuruni pipa besi, lalu mengulurkan tangannya dari bawah.

“Sekarang, Gia!”

Dengan tangan gemetar, Gianina memegangi anaknya dan menurunkannya perlahan. Altar menangkap bocah itu dengan kuat, menempatkannya aman di sisi dinding.

“Gianina, sekarang kau!”

Ia ragu sejenak, menatap ke dalam apartemen—ruang yang menyimpan semua memori perjuangannya selama sepuluh tahun. Tapi suara dentingan sepatu mendekat dari lorong membuyarkan semuanya.

Gianina turun dengan susah payah. Begitu kakinya menyentuh tanah, Altar langsung menarik mereka menjauh dari gedung.

Tak lama kemudian, terdengar ledakan kecil dari dalam apartemen—mungkin tembakan yang mengenai peralatan listrik atau bahan mudah terbakar. Cahaya merah menyemburat di jendela unit mereka.

Malam itu Jakarta terasa asing. Suara klakson dan deru kendaraan masih ramai, tapi dunia di sekitar mereka seperti terbelah.

Di sisi gelap kota, Altar menggenggam tangan anaknya dan Gianina erat.

“Aku janji, aku akan lindungi kalian. Mulai malam ini, apapun yang terjadi kalian bukan sendirian lagi.”

Udara malam terasa tajam, menusuk paru-paru. Langit Jakarta menggantung kelabu, dilapisi awan dan sirine yang meraung dari kejauhan. Di tengah gelap dan hiruk-pikuk jalan tikus ibu kota, Mayor Altar akhirnya menemukan tempat berlindung—sebuah rumah tua peninggalan rekan lamanya, tersembunyi di balik gang sempit di wilayah Tanah Abang, tak terdeteksi oleh sistem intelijen mana pun.

Dengan napas memburu, mereka bertiga masuk. Gianina menggenggam tangan anaknya, sementara Altar sigap mengunci semua pintu dan jendela, menurunkan tirai tebal, dan menyalakan alarm senyap militer yang ia sembunyikan di bawah meja kayu reyot.

Althafariz, bocah itu, duduk di atas sofa usang tanpa sedikit pun takut di wajahnya. Matanya justru berbinar penasaran, menatap Altar seperti pahlawan dari komik yang sering ia baca.

“Keren, Om! Tadi waktu lompat dari balkon, Om kayak di film!”

“Fariz! Ini bukan permainan!” bentak Gianina tiba-tiba, suaranya gemetar, nyaris menangis.

Altar menoleh, melihat Gianina berdiri di tengah ruangan—wajahnya merah, matanya penuh amarah yang terbakar oleh rasa takut.

“Lihat apa yang kau bawa ke hidup kami, Altar!”

“Gianina, aku—”

“Kau pikir cuma karena kau datang membawa pengakuan dan janji manis, hidup kami akan berubah jadi bahagia?!”

“Bukan itu maksudku—aku hanya ingin melindungi—”

“Lindungi?! Dari apa?! Dari ancaman yang datang justru karena kau muncul lagi?! Dulu kau menyuruhku hilangkan anak kita, dan sekarang sekarang kau menyeret kami ke dalam dunia penuh peluru dan ketakutan!”

Suara Gianina pecah. Air matanya tumpah tanpa bisa ditahan. Ia memeluk Althafariz erat-erat, seolah dunia akan merenggut anaknya kapan saja.

“Aku sudah cukup kehilangan! Sepuluh tahun aku membesarkannya sendirian. Menyembunyikan siapa ayahnya. Menahan tanya demi tanya saat dia berkata, ‘Semua temanku punya ayah, Bu, aku kenapa enggak?’”

“Dan sekarang sekarang kau datang dan membiarkan dia nyaris mati!”

Altar berdiri kaku. Setiap kata Gianina seperti peluru yang ditembakkan tepat ke jantungnya.

Ia ingin berkata. Tapi tak ada kata-kata yang cukup layak untuk menebus luka itu.

Akhirnya, ia hanya berkata lirih.

“Aku tahu aku membawa bahaya. Tapi lebih dari itu, Gia … aku membawa kebenaran. Dan kebenaran ini, meski pahit, adalah satu-satunya jalan untuk membuat kita bebas.”

Gianina tertawa kecil, getir. Ia melepaskan pelukannya dari Fariz, menatap Altar tajam.

“Bebas? Atau hancur bersama?”

Altar menunduk. Dalam hening, terdengar dentingan tetesan air dari wastafel bocor. Waktu berjalan pelan seperti siksaan.

Fariz, bocah polos itu, menatap mereka berdua—bingung, tapi diam. Ia lalu berdiri pelan, berjalan ke arah Altar.

“Om, kamu ayahku, ya?”

Altar tertegun. Matanya langsung menatap Gianina. Wanita itu diam, membeku di tempat.

“Aku dengar tadi Ibu nangis dan bilang soal waktu aku di perut. Apa kamu ayahku?” tanya Fariz polos, matanya besar penuh cahaya kejujuran.

Altar berlutut, menatap langsung anak itu, dan suaranya keluar pelan—penuh air mata.

“Iya, kalau Ibumu izinkan, aku ingin jadi ayahmu. Meski aku datang terlambat. Meski aku bodoh karena dulu takut. Tapi kalau aku diberi kesempatan aku ingin menebus semuanya.”

Fariz tersenyum kecil.

“Kalau kamu ayahku berarti kamu harus jagain kami, ya?”

Air mata menetes di pipi Altar.

“Iya, Nak. Ayah janji.”

Dan tiba-tiba—DOR!!

Suara tembakan lagi. Kali ini dari luar.

Altar langsung bangkit, tubuhnya menutupi Gianina dan Fariz. Ia meraih pistol yang tergantung di balik sabuk, matanya tajam kembali seperti prajurit di medan tempur.

“Mereka sudah menemukan kita!”

Gianina berteriak pelan, menahan tubuh Fariz agar tetap di belakangnya. Suara langkah kaki terdengar berat, menyusuri gang sempit, menginjak genangan air dan kerikil. Mereka mengepung—perlahan tapi pasti.

Altar merapat ke jendela kecil, mengintip di sela tirai.

“Tiga orang. Persenjataan lengkap. Ada sniper di atap gedung depan.”

Jantungnya berdebar kencang. Ia menoleh pada Gianina.

“Ambil tas hitam di bawah sofa. Ada dokumen, uang tunai, dan peta rute pelarian.”

Gianina buru-buru menarik tas besar itu, tangannya gemetar. Fariz menatap sang ayah dengan campuran kagum dan takut.

“Om, kita bakal selamat kan?”

Altar menatap anak itu dengan tatapan yang tak bisa dibohongi penuh cinta dan kekhawatiran.

“Ayah akan pastikan kalian keluar hidup-hidup.”

BOOOM!!

Sebuah granat kejut dilempar ke halaman belakang, menghantam kaca jendela kecil dan meledak dalam semburan cahaya putih menyilaukan. Altar menggertakkan gigi, merangkul dua orang yang ia cintai dan menggiring mereka ke ruang bawah—pintu kayu tersembunyi di lantai ruang makan, menuju lorong evakuasi lama yang nyaris terlupakan.

Di luar, suara instruksi militer terdengar jelas.

“Target ada di dalam! Masuk perlahan, hidup-hidup kalau bisa!”

“Tembak kalau melawan!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Pertanyaan Althafariz

    Lampu portable yang ada di dalam tas Althafariz pun sedikit membantu menerangi ruangan yang sempit. Putranya juga segera memakai jaket tebal yang ternyata ada di dalam tasnya — untung saja Gia selalu rapi menyusun barang-barang anaknya.Jam sudah larut, udara semakin dingin. Altar melihat Gia yang masih duduk tegak, memandang gelap di luar pondok sederhana itu. "Kamu tidak bisa tidur, ya Gia?" tanyanya lembut, mendekat dan duduk di sampingnya.Gia mengangguk perlahan, matanya penuh ketakutan. "Aku takut ... ada ular atau hewan lain yang masuk." Dia melihat Fariz yang sudah tertidur nyenyak di tengah mereka, ditutupi dengan jaketnya. "Aku khawatir sesuatu menyentuh dia."Altar memegang tangannya dengan lembut. "Jangan khawatir. Aku sudah memeriksa seluruh pondok, dan aku akan berjaga semalaman. Tidak akan ada yang menyentuh kalian berdua." "Kamu tau nggak, pas lagi jadi tentara, aku pernah bertemu ular besar di hutan. Tapi aku tahu cara menghindarinya — cukup jaga jarak dan jangan gan

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Terjebak Di Hutan

    Ia tidak bisa gegabah, takut jika mereka adalah sindikat berbahaya.Dirinya mengikuti arah CCTV yang menunjukkan mobil CRV hitam itu. Jalan semakin sempit dan terjal, menuju kawasan hutan yang jarang dilalui. Udara menjadi sejuk dan penuh bau dedaunan basah. Saat ia hampir mencapai mobil itu yang berdiri di pinggir hutan, tiba-tiba BOOOM! — mobil itu meledak dengan ledakan besar yang menyemprotkan api dan puing ke segala arah.Kekerasan ledakan itu memukul badannya, membuatnya terpental ke belakang dan jatuh ke lorong tebing yang dalam. Tubuhnya bergeser di permukaan batu kasar, menabrak bebatuan satu per satu sampai akhirnya mendarat di tanah datar di bawah. Saat ia mencoba bangkit, tangannya kiri tertusuk oleh sebatang kayu yang tajam yang bersarang di antara batu. Darah memancar keluar, tapi ia tidak mempedulikan rasa sakit yang menyengat. Hanya satu hal yang ada di benaknya: anak dan istrinya.Dengan tangan yang berdarah ia menopang dirinya berdiri, melangkah dengan langkah yang g

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Luka Itu

    Gianina tersenyum, ia mengantarkan Sang putra ke sekolah. Altar memang sudah jauh lebih dulu berangkat ke istana negara karena banyak sekali persoalan pemerintah yang perlu dirinya selesai.Hari ini dirinya akan menemui Tuan Wibowo. Jika ada pemilihan orang paling bijak, tentu saja Altarlah yang akan menjadi juaranya. Lelaki itu menasehatinya tentang kedua orang tua dan juga keluarganya.Bagaimanapun juga kesalahan seperti apa yang telah mereka perbuat, tetap saja darah Tuan Wibowo mengalir juga di dalam tubuhnya.Altar juga telah mengatur janji antara anak dan ayah itu.Gianina terlihat gelisah, dirinya bolak-balik mengetukkan jari di meja. Dulu dirinya sangat ingin disayangi dan juga dicintai oleh sang ayah, tapi karena rasa sayangnya dan rasa cintanya itu justru ia harus terpukul ke dalam jurang cemburu bahkan rasa sakit hati yang mendalam. "Gia."Suara serak, khas sang ayah. Membuat hati dari Gianina, terenyuh. Sebelum menoleh ia memejamkan mata sebentar lalu menghembuskan napas.

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Pembayaran

    Setelah urusan di rumah selesai, Altar bersiap berangkat menuju Istana Kepresidenan. Seragamnya rapi, wajahnya serius, meski dalam hatinya masih teringat pada Gia dan Fariz.Namun sebelum mobil dinasnya melaju, ia mendapat laporan langsung dari pihak TNI Angkatan Darat. Informasi itu membuat langkahnya terhenti sejenak.“Komandan, izin melapor. Gunawan resmi diturunkan dari pangkat perwira ke tingkat paling rendah. Semua hak dan fasilitasnya dicabut. Keputusan ini mutlak setelah audit militer menemukan banyak pelanggaran serius,” ujar seorang prajurit dengan nada tegas.Altar mengangguk singkat. Akhirnya roda keadilan itu bergerak juga, pikirnya.Tak berhenti di situ, kabar lain pun datang.“Kemudian, Kamelia Yasmin Wibowo sedang diburu oleh media. Kasus prostitusi yang menyeret namanya kini ramai di kalangan pejabat. Bahkan beberapa tokoh yang pernah memiliki hubungan dengannya sedang diincar aparat dan wartawan.”Altar terdiam, matanya menajam. Ia tahu cepat atau lambat, kebenaran a

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Suasana Canggung Di Meja Makan

    Gianina menutup pintu itu dengan perasaan campur aduk. Matanya panas, dadanya sesak. Ada kerinduan yang berteriak di dalam dirinya, tapi luka yang ditorehkan keluarganya masih terlalu dalam. Rasanya seperti berperang dengan hatinya sendiri—antara rindu dan sakit yang tak kunjung sembuh.Di ruang belajar, Althafariz tetap fokus menyalin catatan, sama sekali tak menyadari pergolakan hati ibunya. Suara pensil yang beradu dengan kertas menjadi satu-satunya bunyi yang menenangkan di tengah kekacauan batin Gianina.Malam semakin larut ketika Altar baru saja pulang bekerja. Wajahnya terlihat letih, seragamnya masih melekat di tubuh. Namun langkahnya terhenti begitu melihat Bu Rusmala masih duduk di ruang tamu, mata bengkak karena menangis.Tanpa sungkan, Bu Rusmala langsung berjongkok di hadapan Altar, menatapnya dengan penuh harap. Suaranya bergetar, pecah oleh tangis yang tertahan.“Altar izinkan Ibu menginap di sini malam ini. Aku … aku benar-benar merindukan anakku.” Matanya menoleh seki

  • Cinta Pertama Pak Mayor    Penyesalan Seorang Ibu

    Bu Rusmala masih terguncang. Ia tidak menyangka, suami yang selama ini ia hormati dan percayai ternyata menyimpan rahasia kelam. Kaisar pun terpukul-selama ini ia membela Kamelia dengan sepenuh hati, bahkan memusuhi Gianina, namun kenyataannya justru ia dibutakan oleh kebohongan.Pak Wibowo terdiam pucat. Wajahnya penuh penyesalan dan rasa malu yang dalam. Sementara itu, Gianina hanya menunduk. Air matanya jatuh, bukan karena bahagia, melainkan karena luka lamanya kembali terbuka."Maaf, Tuan Wibowo," ucap Altar tenang namun tegas. "Saya tidak bermaksud lancang membuka aib keluarga Anda. Tapi Anda sendiri yang selama ini keras kepala, menutup telinga dari kebenaran, hingga Gianina harus menanggung semua penderitaan. Maka, biarlah malam ini semuanya terbongkar."Altar menggenggam tangan Gianina dengan penuh kelembutan, seolah berkata bahwa kini ia tidak lagi sendirian. Dengan langkah pasti, Altar mengajak Gianina dan Althafariz meninggalkan gedung mewah itu. Bu Widya serta Alenta menyu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status