Share

Bab 13

Penulis: Maya sabir
last update Tanggal publikasi: 2026-04-10 00:18:42

Keheningan malam di lantai atas mansion itu mendadak pecah. Suara pecahan kaca terdengar nyaring saat Aara menyapu vas bunga di atas nakas ke lantai, tepat di depan kaki Dante yang masih berdiri mematung.

"Hentikan semua kegilaan ini, Dante!" teriak Aara, dadanya naik turun menahan amarah yang sudah di ujung kepala.

Di luar pintu, Sasha dan Marco saling berpandangan dengan wajah tegang. Para pelayan dan pengawal di lorong menahan napas, mereka seolah lupa cara bernapas. Di mata mereka, Dant
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 17

    Kehancuran mental yang dialami Dante belum pulih, namun semesta tampaknya belum puas menyiksanya. Tengah malam itu, alarm peringatan di ruang bawah tanah melengking memecah keheningan. Dante bergegas turun dengan senapan di tangan, namun yang ia temukan hanyalah genangan darah dan dua pengawal Black Wolf yang tewas dengan leher tergorok rapi. Sel Diego terbuka lebar. Tidak ada tanda-tanda pendobrakan dari luar , ini adalah pekerjaan orang dalam. "Marco! Laporkan!" raung Dante. "CCTV diputus dari dalam, Bos. Seseorang yang memiliki akses tingkat tinggi membuka sel itu," jawab Marco dengan wajah pucat. Penghianatan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ditoleransi Dante, dan sekarang, musuh terbesarnya kembali berkeliaran karena orang yang ia percayai. Di tengah kekacauan pencarian Diego, sebuah jet pribadi mendarat di landasan pacu rahasia keluarga Valerius. Pagi harinya, sebuah mobil mewah berwarna perak berhenti tepat di depan lobi mansion. Seorang wanita turun dengan kea

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 16

    Keheningan yang mencekam menyelimuti gudang tua itu, hanya diselingi oleh deru api yang melalap pintu masuk. Dante perlahan menekuk lututnya di atas lantai semen yang kotor, matanya tidak pernah lepas dari Aara. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepala, posisi menyerah yang paling rendah bagi seorang pria yang pernah dijuluki "Iblis dari Barat". "Tembak aku, Diego. Tapi biarkan dia keluar dari pintu itu sekarang juga," suara Dante tenang, terlalu tenang hingga membuat para anak buah Diego bergidik. Diego menyeringai, jempolnya bermain di atas pelatuk pemicu bom yang melingkar di kursi Aara. "Oh, Dante... kau pikir ini sesederhana peluru di kepala? Tidak. Aku ingin Aara yang melakukannya." Diego menendang sebuah pistol ke arah Aara. Senjata itu berdenting di lantai, berhenti tepat di depan ujung kaki Aara yang gemetar. "Ayo, Sayang," bisik Diego di telinga Aara, napasnya berbau tembakau dan kematian. "Balaskan dendam ayahmu. Balaskan dendam Sofia. Pria di depanm

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 15

    Keesokan harinya, matahari bersinar cerah di atas kota, namun bagi Dante, setiap sudut jalanan terasa seperti medan perang yang tersembunyi. Sesuai janjinya, ia mengizinkan Aara kembali ke toko bunganya. Aara turun dari mobil dengan senyum yang sudah lama tidak terlihat. Meskipun ia tahu Sasha dan beberapa pengawal berpakaian sipil mengawasinya dari kedai kopi di seberang jalan, menghirup aroma tanah basah dan kelopak bunga di tokonya sendiri terasa seperti surga yang direbut kembali. Tiba-tiba, sebuah mobil van hitam meluncur kencang dan menabrak hidran pemadam kebakaran tepat di depan toko bunga Aara. Air menyembur deras, menciptakan kekacauan instan. Di saat yang sama, suara tembakan terdengar dari arah pasar yang berjarak dua blok, memicu kepanikan warga. "Selamat pagi, mawar-mawarku," bisik Aara sambil menyentuh kelopak bunga lili yang baru mekar. Namun, ketenangan itu hanya bertahan dua jam. "Nyonya, masuk ke dalam! Sekarang!" Sasha muncul entah dari mana, menarik Aara

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 14

    Hari-hari berlalu, dan dinamika di dalam mansion Valerius mulai bergeser secara drastis. Ruang latihan yang dulunya menyeramkan kini sering terdengar suara tawa kecil atau perdebatan seru tentang jenis musik yang diputar. Sasha dan Aara tidak lagi terlihat seperti instruktur dan murid, melainkan dua sahabat yang berbagi rahasia di sela-sela latihan fisik. Sasha bahkan mulai menemani Aara minum teh di sore hari atau sekadar duduk di taman belakang , area yang sebelumnya sangat dibenci Aara. Kedekatan mereka begitu nyata ,Aara mulai bercerita tentang bunga favoritnya, sementara Sasha sesekali menceritakan misi-misi konyol (yang sudah disaring ketat agar tidak terdengar terlalu berdarah) untuk menghibur Aara. Namun, di balik layar monitor ruang kerjanya, ada satu pria yang hatinya mulai terasa terbakar bukan oleh amarah musuh, melainkan oleh rasa cemburu. Dante berdiri di balkon ruang kerjanya, memperhatikan dari jauh bagaimana Aara tertawa lebar saat Sasha melakukan gerakan kickbo

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 13

    Keheningan malam di lantai atas mansion itu mendadak pecah. Suara pecahan kaca terdengar nyaring saat Aara menyapu vas bunga di atas nakas ke lantai, tepat di depan kaki Dante yang masih berdiri mematung. "Hentikan semua kegilaan ini, Dante!" teriak Aara, dadanya naik turun menahan amarah yang sudah di ujung kepala. Di luar pintu, Sasha dan Marco saling berpandangan dengan wajah tegang. Para pelayan dan pengawal di lorong menahan napas, mereka seolah lupa cara bernapas. Di mata mereka, Dante Valerius adalah dewa kematian yang titahnya tak boleh dibantah. Siapa pun yang berani meninggikan suara di depan pria itu biasanya berakhir di dasar sungai dengan beton di kaki mereka. Tapi Aara? Dia justru melangkah maju, menantang maut. "Kau bilang kau melindungiku? Ini bukan perlindungan, Dante! Ini pemenjaraan!" Aara menunjuk ke arah pintu kamar yang selalu dijaga ketat. "Aku ingin hidupku yang dulu! Aku ingin bangun pagi dan pergi ke toko bunga tanpa harus dikawal lima mobil lapis baj

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 12

    Di mansion Valerius, keheningan pasca penculikan itu meledak menjadi badai murka. Dante terbangun beberapa saat kemudian setelah dr. Adrian menyuntikkan stimulan ke pembuluh darahnya. Namun, yang bangkit dari lantai itu bukan lagi Dante yang tenang; ia adalah iblis yang kehilangan benderanya. "SHASHA!!!" Raungan Dante menggetarkan kaca-kaca jendela yang tersisa. Shasha masuk ke ruangan dengan wajah pias, bahunya gemetar , sebuah pemandangan langka bagi sang pembunuh berdarah dingin. "Di mana kau saat mereka menyentuhnya?!" Dante menerjang, mencengkeram kerah jaket taktis Shasha dan menghantamkannya ke dinding hingga retak. Mata Dante berkilat merah, murni kegilaan. "Aku membayar kesetiaanmu untuk menjadi bayangannya! Dan kau membiarkan tikus porselen itu membawanya pergi?!" "Gas itu... mereka masuk lewat jalur udara darurat yang seharusnya sudah ditutup, Dante..." Shasha berbisik, suaranya tercekat. "Bunuh aku sekarang jika itu bisa membawanya kembali. Tapi jika tidak, biarkan

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 11

    Keheningan di kamar itu terasa begitu pekat, hingga suara detak jam dinding terdengar seperti hantaman palu. Dante mematung. Tangan yang tadi terulur untuk membelai Aara menggantung di udara, perlahan mengepal hingga buku-bukunya memutih. Aura di sekitar Dante berubah seketika. Jika tadi ia adala

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 10

    Di atas halaman mansion, pertarungan antara Dante dan El Carnicero telah berubah menjadi tarian kematian yang brutal. Dante memuntahkan peluru dari senapan mesin beratnya, namun Algojo itu bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal bagi pria seukurannya, berlindung di balik pilar beton sambil

  • Cinta Semalam Sang Mafia   BB 7

    Dante terengah, darah mulai merembes dari luka barunya. Ia menatap Aara, lalu menatap pistol kustomnya yang kini kosong. Di depannya, dalam balutan asap dan bayangan, berdiri sesosok pria raksasa dengan mantel bulu gelap dan topeng serigala perak. Robert Tiger. Robert melangkah maju, memegang seb

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 6

    Lorenzo melolong kesakitan, suaranya parau memantul di dinding-dinding baja yang dingin. Ia mencoba menyeret tubuhnya, meninggalkan jejak darah kental di atas lantai bordes yang berkarat. Matanya liar mencari jalan keluar, namun yang ia temukan hanyalah moncong senjata hitam yang kembali membidik t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status