Compartir

Bab 3

Autor: Maya sabir
last update Fecha de publicación: 2026-03-27 16:11:55

Di tengah kegelapan dermaga yang berbau amis, Aara berdiri di bawah lampu jalan yang berkedip. Tak lama kemudian, beberapa mobil hitam mengepungnya. Lorenzo keluar dengan senyum penuh kemenangan.

"Dante benar-benar gila membawamu ke sini sendirian, Gadis Manis," kata Lorenzo sambil mengeluarkan pistolnya.

Namun, sebelum Lorenzo bisa menarik pelatuk, sebuah titik merah laser muncul di dahi pria tua itu. Dari kegelapan di atas kontainer, suara Dante bergema melalui speaker dermaga.

"Satu gerakan salah, Lorenzo, dan otakmu akan menghiasi aspal ini."

Pertempuran pecah. Suara tembakan menyalak memecah kesunyian malam. Aara berlari di antara tumpukan kayu, jantungnya berdegup kencang. Ia melihat Dante melompat dari ketinggian, menembak dengan presisi yang menakutkan sambil terus meneriakkan nama Aara untuk memastikan posisinya.

"Aara! Merunduk!" raungan Dante tenggelam dalam rentetan tembakan yang memekakkan telinga.

Aara menjatuhkan dirinya ke aspal yang dingin, berlindung di balik tumpukan kayu yang berbau apek. Serpihan kayu beterbangan di atas kepalanya saat peluru musuh menghantam tempat persembunyiannya. Ia melihat Dante seperti malaikat maut yang bergerak dalam kegelapan menerjang dua anak buah Lorenzo sekaligus dengan tangan kosong sebelum melepaskan tembakan jarak dekat yang fatal.

Namun, Lorenzo tidak bodoh. Pria tua itu tertawa parau di tengah kekacauan, berlindung di balik mobil antipeluru. "Kau terlalu fokus pada wanitamu, Dante! Itu kesalahan fatal!"

Tiba-tiba, dari arah belakang, seorang penembak jitu yang bersembunyi di atas derek pelabuhan membidik punggung Dante. Aara melihat kilatan lensa teleskop itu.

"DANTE! DI BELAKANGMU!" jerit Aara sekuat tenaga.

Dante berbalik tepat saat peluru meluncur. Ia sempat menghindar, namun peluru itu tetap merobek sisi pinggangnya, membuat sang Mafia terhuyung. Darah segar seketika membasahi kemeja hitam yang ia kenakan.

"Dante!" Aara berlari keluar dari persembunyiannya, mengabaikan bahaya. Ia meraih lengan Dante yang kokoh, mencoba menahan tubuh pria itu agar tidak jatuh.

"Pergi... Aara... aku bilang lari ke mobil!" geram Dante, giginya bergeletuk menahan nyeri yang luar biasa. Meski terluka, ia masih sempat menarik Aara ke belakang punggungnya, menolak untuk menunjukkan kelemahan di depan musuh.

Aku tidak akan meninggalkanmu!" balas Aara, air mata bercampur debu dermaga menghiasi wajahnya.

Marco tiba dengan mobil SUV hitam, ban mobilnya mencit di aspal saat ia melakukan manuver J-turn untuk menghalangi tembakan Lorenzo. "Tuan! Masuk sekarang!"

Dante mendorong Aara masuk ke kursi belakang sebelum menyusul dengan sisa tenaganya. Di dalam mobil yang melaju kencang meninggalkan dermaga, suasana menjadi sangat tegang. Dante menyandarkan kepalanya, napasnya pendek-pendek, sementara tangannya menekan luka di pinggangnya yang terus mengucurkan darah.

"Kita tidak bisa ke mansion. Lorenzo pasti sudah mengirim orang ke sana," ucap Marco sambil memacu kecepatan. "Kita ke Safe House 04 di pinggiran hutan."

Dua jam perjalanan terasa seperti selamanya bagi Aara. Di dalam rumah kayu kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus, Aara terpaksa harus bertindak. Marco harus kembali ke kota untuk mengalihkan perhatian dan mengumpulkan anak buah yang tersisa.

"Kau harus menjahitnya, Aara," ucap Dante lirih saat mereka hanya berdua di dalam rumah aman yang remang-remang itu. Ia duduk di atas meja dapur, sudah melepas kemejanya, memperlihatkan tubuh atletisnya yang penuh bekas luka masa lalu dan satu luka baru yang mengerikan.

Dante meraih pergelangan tangan Aara, menariknya hingga wajah mereka sangat dekat. Matanya yang biru es kini meredup, namun arogansinya tetap ada. "Kau adalah istri seorang Mafia sekarang. Darah bukan lagi hal asing bagimu. Lakukan, atau aku akan mati kehabisan darah di depanmu."

Dengan jantung yang berdebar kencang, Aara mulai membersihkan luka itu. Setiap kali jarum menusuk kulitnya, Dante hanya mengerang rendah tanpa suara, rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol.

Setelah selesai, Aara terduduk lemas di lantai, tangannya berlumuran darah Dante. "Kenapa kau melakukan ini? Kenapa memancing Lorenzo dengan membawaku? Kau hampir mati!"

Aara menatap telapak tangannya yang gemetar. Cairan merah pekat itu masih terasa hangat, merembes ke sela-sela jarinya. Bau anyir darah yang bercampur dengan aroma antiseptik di ruangan sempit itu mendadak terasa begitu memuak seolah mencekik paru-parunya.

Keheningan di rumah aman itu justru membuat suara tembakan dan teriakan di dermaga tadi bergema semakin keras di telinga Aara. Bayangan titik merah laser, kilatan peluru, dan mata Dante yang haus darah menghantuinya.

"Selesai," bisik Aara parau, suaranya pecah.

Dante masih bersandar di meja, napasnya mulai teratur meski wajahnya masih sepucat kertas. Ia menunduk, menatap Aara yang masih bersimpuh di lantai dengan bahu yang naik turun tidak beraturan.

"Kau melakukannya dengan baik, Aara. Sekarang bersihkan dirimu dan..."

"TUTUP MULUTMU, DANTE!"

Aara meledak. Ia berdiri dengan sentakan hebat, mengabaikan rasa lemas di kakinya. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah, mengalir deras menghapus debu di pipinya.

"Kau gila! Kau benar-benar iblis!" teriak Aara tepat di depan wajah Dante. "Kau membawaku ke sana seolah aku ini tameng kayu! Kau membiarkan orang-orang itu menodongkan senjata ke arahku hanya untuk memancing bajingan itu keluar!"

Dante mencoba meraih lengan Aara, namun Aara menepisnya dengan kasar. "Jangan sentuh aku dengan tangan berdarah itu! Seumur hidupku, aku tidak pernah membayangkan akan berada di tengah hujan peluru. Aku melihat orang mati di depan mataku, Dante! Aku melihatmu hampir terbunuh!"

"Itu duniaku, Aara. Kau sudah menandatangani kontraknya," balas Dante, suaranya kembali dingin dan arogan meski matanya memancarkan keletihan.

"Kontrak itu tidak mencantumkan bahwa aku harus menjadi saksi pembantaian!" Aara memaki, suaranya melengking penuh frustrasi. "Kau arogan, kau egois, dan kau tidak punya hati! Kau menyeretku ke dalam maut hanya demi dendam lamamu yang terkutuk itu! Apa kau puas sekarang? Apa kepalamu sudah tenang melihatku gemetar ketakutan seperti ini?"

Dante terdiam. Ia membiarkan setiap makian Aara menghantamnya. Untuk pertama kalinya, sang penguasa Milan itu tidak membalas dengan ancaman. Ia hanya menatap wanita di depannya yang hancur berkeping-keping karena ulahnya.

"Kau hampir mati, Dante..." suara Aara melemah, berubah menjadi isak tangis yang memilukan. "Dan bodohnya, aku merasa ketakutan setengah mati jika kau benar-benar pergi. Aku membencimu karena telah membuatku terlibat, tapi aku lebih membenci diriku sendiri karena tidak bisa membiarkanmu mati di dermaga itu!"

Aara memukul dada bidang Dante dengan kepalan tangan kecilnya, berkali-kali, meluapkan seluruh trauma dan kengerian yang menghimpit batinnya. Dante tidak menghindar. Ia justru menangkap kedua tangan Aara, menguncinya di dadanya sendiri, membiarkan Aara merasakan detak jantungnya yang masih berdegup kencang.

"Kau benar," bisik Dante, suaranya serak dan dalam. "Aku menyeretmu ke neraka ini. Aku menggunakanmu. Aku pria brengsek yang tidak pantas mendapatkan air matamu."

Dante menarik Aara ke dalam pelukannya, mendekap kepala gadis itu erat ke bahunya yang tidak terluka. Aara meronta sesaat, namun akhirnya menyerah, menangis sejadi-jadinya di pelukan pria yang paling ia benci sekaligus pria yang baru saja mempertaruhkan nyawa untuknya.

"Menangislah," gumam Dante sambil mengusap rambut Aara dengan lembut sebuah tindakan yang jauh dari kesan dingin dan arogan. "Caci maki aku sesukamu. Tapi jangan pernah berpikir untuk pergi, karena di dunia yang kotor ini, hanya di pelukanku kau akan tetap bernapas."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 10

    Di atas halaman mansion, pertarungan antara Dante dan El Carnicero telah berubah menjadi tarian kematian yang brutal. Dante memuntahkan peluru dari senapan mesin beratnya, namun Algojo itu bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal bagi pria seukurannya, berlindung di balik pilar beton sambil terus merangsek maju. Tiba-tiba, suara tembakan teredam DOR! DOR!bergema melalui frekuensi radio yang terhubung langsung ke sensor suara di dalam bunker. Dante membeku. Itu bukan suara senapan serbu timnya. Itu suara pistol kaliber sembilan milimeter cadangan miliknya yang ia berikan pada Aara. . "AARA!" Dante meraung, suaranya mengalahkan deru helikopter. Kemarahan yang murni dan tak terkendali meledak di dada Dante. Ia melempar senapan mesinnya yang mulai panas ke lantai beranda. Tanpa memedulikan hujan peluru dari pasukan Meksiko, Dante melompat turun dari balkon lantai dua sebuah aksi gila yang bisa mematahkan kakinya. Ia mendarat dengan gulingan taktis di atas aspal, langsung

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 9

    Suara ledakan pertama menghantam sisi timur mansion, getarannya cukup kuat untuk meruntuhkan lampu kristal di langit-langit kamar Aara. Langit subuh yang tadinya kelabu mendadak memerah oleh kobaran api. "KONTAK! POSISI TIMUR JEBOL!" suara Marco berteriak melalui pengeras suara internal mansion. Dante, yang baru saja melangkah beberapa meter dari kamar Aara, berbalik dengan gerakan predator. Ia tidak lagi memiliki waktu untuk berdebat. Dengan satu tendangan kuat, pintu yang baru saja ia kunci itu terbuka kembali. Ia melihat Aara yang masih meringkuk di lantai, wajahnya pucat pasi tertutup debu reruntuhan. "Dante! Apa itu?!" jerit Aara saat rentetan peluru mulai menghantam dinding luar, menciptakan suara berisik seperti hujan logam. Tanpa menjawab, Dante menyambar tubuh Aara, mengangkatnya dalam satu sentakan kuat. "Sasha! Amankan jalur ke bunker! Sekarang!" perintahnya melalui earpiece. Sasha muncul dari balik kepulan asap di lorong, memegang senapan serbu assault rifle deng

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 8

    Dante menatap punggung Aara yang menjauh hingga pintu lift tertutup. Begitu sosok istrinya hilang dari pandangan, ekspresi tenang yang ia paksakan tadi runtuh, digantikan oleh aura otoritas yang begitu pekat hingga membuat udara di ruang pemantau terasa berat. Dante mengambil handuk putih, mengusap bercak darah Robert dari tangannya dengan gerakan yang sangat mekanis. "Marco," suaranya rendah, namun bergema dengan ancaman perang. "Aktifkan Protokol Black Eclipse." Marco tertegun sejenak. "Semuanya, Tuan? Bahkan unit yang ada di Kremlin dan Macau?" "Semuanya," desis Dante. "Katakan pada mereka bahwa Valerius sedang memanggil hutang nyawa. Aku ingin setiap jengkal perbatasan, setiap dermaga, dan setiap jalur udara yang dilewati Diego Tiger menjadi kuburan massal sebelum mereka sempat menginjakkan kaki di kota ini." Dante melangkah menuju meja kerja yang dipenuhi monitor satelit. "Panggil pulang si 'Mamba'. Katakan padanya, liburannya di Afrika selesai. Aku punya tugas khusus unt

  • Cinta Semalam Sang Mafia   BB 7

    Dante terengah, darah mulai merembes dari luka barunya. Ia menatap Aara, lalu menatap pistol kustomnya yang kini kosong. Di depannya, dalam balutan asap dan bayangan, berdiri sesosok pria raksasa dengan mantel bulu gelap dan topeng serigala perak. Robert Tiger. Robert melangkah maju, memegang sebuah kapak taktis yang masih bersih dari darah. "Berikan gadis itu, dan aku akan membiarkanmu mati dengan cepat, Dante. Aku butuh kepalanya untuk diletakkan di atas nisan pamanku." Dante perlahan berdiri, meskipun tubuhnya gemetar. Ia tidak mengambil senjatanya yang kosong. Sebaliknya, ia merogoh sesuatu dari balik sabuk belakangnya sebuah pemantik api dan sebuah detonator kecil yang terhubung dengan sisa dinamit di dalam pabrik baja yang belum meledak. "Kau ingin pesta, Robert?" Dante menyeringai, sebuah seringai iblis yang membuat Robert berhenti melangkah. "Aku akan membakar seluruh tempat ini bersamamu di dalamnya." Aara melihat tangan Dante yang memegang detonator. Ia menyadari ren

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 6

    Lorenzo melolong kesakitan, suaranya parau memantul di dinding-dinding baja yang dingin. Ia mencoba menyeret tubuhnya, meninggalkan jejak darah kental di atas lantai bordes yang berkarat. Matanya liar mencari jalan keluar, namun yang ia temukan hanyalah moncong senjata hitam yang kembali membidik tepat ke arah jantungnya. "Satu untuk kematian Sofia," bisik Aara. DOR! Peluru kedua menghantam paha Lorenzo. Pria itu tersungkur, napasnya tersengal-sengal, menatap Aara dengan tatapan yang kini murni berisi teror. Ia tidak lagi melihat seorang gadis yang bisa ia intimidasi , ia melihat malaikat maut yang mengenakan gaun robek dan lumuran darah. Dante berdiri beberapa langkah di belakang Aara, tangannya bersedekap, mengawasi setiap gerak-gerik istrinya dengan intensitas yang tak terbaca. Ada rasa bangga yang gelap menyusup di dadanya, namun juga ada secercah penyesalan karena harus melihat kemurnian Aara terbakar habis malam ini. "Dan ini..." Aara melangkah hingga ujung sepatunya m

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 5

    Aara hanya bisa mengangguk kaku. Ketakutan itu kini berubah menjadi adrenalin yang menyakitkan. Tepat saat barisan lampu senter itu hanya berjarak beberapa puluh meter, suara deru mesin mobil yang brutal memecah kesunyian hutan. Tiga buah mobil off-road lapis baja menerjang semak belukar, menghantam barisan anak buah Lorenzo dari arah samping. RATATATATATA! Rentetan tembakan balasan menyalak dari atas mobil-mobil tersebut. Sesosok pria melompat turun dari mobil terdepan dengan gerakan taktis yang sempurna. Itu Marco. "Tuan! Masuk ke mobil!" teriak Marco sambil melepaskan tembakan perlindungan. Dante segera menarik Aara berlari menerjang hujan peluru menuju mobil Marco. Begitu pintu tertutup rapat, Marco langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, meninggalkan rumah aman yang kini telah rata dengan tanah. "Laporannya, Marco! Kenapa kalian terlambat?!" bentak Dante, sambil berusaha menahan luka di bahunya. Marco menatap Dante dari spion tengah dengan ekspresi yang jauh lebih

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status