INICIAR SESIÓNSaat Aara mencoba keluar, pintu bunker terbuka otomatis. Di sana berdiri Marco, tangan kanan Dante yang selalu memasang wajah tanpa ekspresi.
"Tuan Valerius memerintahkan saya untuk mengantar Anda kembali ke kamar atas. Mansion sudah dibersihkan," lapor Marco singkat. Saat melewati koridor menuju kamar sayap timur, Aara melihat jejak-jejak pertempuran semalam. Lubang peluru di dinding marmer dan noda darah yang sedang dibersihkan oleh petugas pembersih khusus. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Dante di ruang kerja yang pintunya terbuka sedikit. Dante sedang berbicara di telepon dengan nada menggelegar. "Cari tahu siapa yang memberi tahu mereka lokasi bunker darurat! Aku ingin kepala pengkhianat itu di mejaku sebelum matahari terbenam!" Dante membanting ponselnya ke meja kayu mahoni. Saat itulah ia menyadari kehadiran Aara di ambang pintu. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap Aara tajam. "Apa yang kau lihat?" gertaknya arogan. Aara tidak mundur. "Terima kasih... untuk sarapannya." Dante tertegun sejenak, rahangnya mengeras. "Itu hanya agar kau tidak pingsan saat aku membawamu ke acara keluarga besok. Aku butuh umpan yang terlihat hidup, bukan mayat kelaparan." Malam berikutnya, Dante memaksa Aara mengenakan gaun sutra berwarna merah darah yang sangat pas di tubuhnya. Kalung berlian melingkari lehernya bukan sebagai perhiasan, tapi sebagai simbol kepemilikan. "Malam ini, kau adalah istri tercintaku," bisik Dante di telinga Aara saat mereka turun dari mobil Rolls-Royce di depan gedung pertemuan rahasia para petinggi Mafia. Dante merangkul pinggang Aara dengan posesif, telapak tangannya terasa hangat namun mencengkeram kuat. "Tersenyumlah, kecuali kau ingin musuhku tahu bahwa kau hanyalah jaminan hutang." Di dalam aula, tatapan semua orang tertuju pada mereka. Dante memimpin jalan dengan keangkuhan seorang raja. Namun, di tengah pesta, seorang pria tua mendekati mereka. Lorenzo, rival abadi keluarga Valerius. "Jadi ini pengantin barumu, Dante? Cantik sekali... sayang jika harus berakhir seperti adikmu," sindir Lorenzo dengan senyum licik. Genggaman tangan Dante di pinggang Aara mengencang hingga terasa sakit. Aara bisa merasakan tubuh Dante menegang, siap untuk meledak. "Jangan pernah menyebut namanya dengan mulut kotor itu, Lorenzo," suara Dante rendah, penuh ancaman yang mematikan. Tiba-tiba, lampu aula padam total. KLIK. Suara kokangan senjata terdengar dari berbagai sudut. Di kegelapan itu, dalam hitungan detik, Aara merasa tubuhnya ditarik paksa. Namun bukan oleh musuh, melainkan oleh Dante. Pria itu mendekapnya erat, melindunginya dengan tubuh besarnya sendiri sambil melepaskan tembakan beruntun ke arah kilatan api senjata lawan. "Tetap di bawahku, Aara!" perintah Dante di sela deru peluru. Dalam kekacauan itu, Aara menyadari satu hal. Meski Dante terus mengatakan bahwa ia hanya "alat", pria itu selalu menempatkan dirinya di antara Aara dan maut. Setelah kekacauan di pesta berhasil diatasi, mereka kembali ke mansion dengan suasana yang jauh lebih gelap. Dante tampak kalap, ia menghancurkan vas bunga di aula dengan tangan kosong. "Kau hampir mati karena aku!" teriak Dante pada Aara, namun matanya memancarkan rasa frustrasi pada dirinya sendiri. Dante mematung dengan napas memburu, buku jarinya berdarah karena menghantam porselen vas tadi. Ia menatap Aara wanita yang seharusnya hanya menjadi bidak catur, namun kini mulai mengacaukan seluruh strateginya. "Kenapa kau begitu peduli jika aku mati?" tantang Aara, air mata mulai mengalir deras, membasahi gaun merah darahnya. "Kau bilang aku hanya umpan! Kau bilang aku bukan siapa-siapa! Bukankah tugasku memang untuk mati agar dendammu terbalas?" Dante menerjang maju, menyudutkan Aara ke dinding marmer hingga gadis itu terhimpit di antara lengan kekarnya yang kaku. Aroma amarah, keringat, dan bubuk mesiu dari tubuh Dante terasa menyesakkan. "Karena aku tidak bisa kehilangan orang lagi, Aara!" raung Dante. Keangkuhannya runtuh sejenak, menyisakan pria yang hancur oleh rasa bersalah yang teramat dalam. "Setiap kali aku melihatmu, aku teringat adikku. Dan setiap kali aku melihatmu dalam bahaya, jantungku seolah berhenti berdetak! Kau mengerti sekarang? Kau adalah kelemahanku yang paling menjijikkan!" Tanpa memberikan kesempatan bagi Aara untuk membalas, Dante menciumnya dengan kasar sebuah ciuman yang penuh dengan keputusasaan, kemarahan, dan gairah yang telah lama ia tekan. Aara terkesiap, namun alih-alih melawan, ia menemukan dirinya membalas ciuman itu, meremas kemeja hitam Dante seolah pria itu adalah satu-satunya pegangannya di tengah badai. Dante melepaskan tautan mereka dengan sentakan, dahinya menempel pada dahi Aara. "Kontrak ini adalah neraka, Aara. Dan aku baru saja menyeretmu lebih dalam ke dalamnya." Setelah kejadian di aula, suasana di mansion menjadi sangat canggung. Dante semakin dingin, seolah ia menyesali ledakan emosinya malam itu. Ia pergi berhari-hari tanpa kabar, meninggalkan Aara dalam pengawalan ketat Marco. Hingga suatu sore, Aara yang merasa bosan menyelinap ke perpustakaan pribadi Dante. Di sana, ia menemukan sebuah laci meja kerja yang tidak terkunci sepenuhnya. Rasa ingin tahunya menang. Di dalam laci itu, tersimpan sebuah map cokelat berisi laporan keuangan ayahnya. Tangannya gemetar saat membaca baris demi baris. Laporan Penyelidikan Valerius: Target Zenobia. Status: Manipulasi Selesai. Aara menutup mulutnya dengan tangan. Ayahnya tidak kalah judi karena nasib buruk. Dante telah memanipulasi seluruh bisnis ayahnya, mencekiknya secara finansial, dan memberikan "pilihan" judi yang mustahil dimenangkan semua itu hanya agar Dante bisa memiliki Aara sebagai alat tawar terhadap pembunuh adiknya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Suara dingin itu membuat jantung Aara hampir melompat keluar. Dante berdiri di ambang pintu, matanya menatap tajam ke arah map yang dipegang Aara. "Kau menghancurkan keluargaku... sengaja," suara Aara bergetar hebat. "Kau tidak hanya membeliku, Dante. Kau yang menciptakan situasi agar aku harus dijual kepadamu!" Dante melangkah masuk, wajahnya kembali menjadi topeng tanpa emosi yang arogan. "Aku melakukan apa yang perlu dilakukan untuk mendapatkan informasi. Ayahmu adalah pengecut yang hanya bicara jika ia kehilangan harta paling berharganya. Yaitu kau." "Kau iblis!" Aara melempar map itu ke wajah Dante. Dante menangkap map itu dengan mudah sebelum menyentuh wajahnya. "Aku memang iblis, Aara. Dan kau terikat kontrak dengan iblis ini selama sisa tahun ini. Jangan harap bisa pergi sebelum aku mendapatkan kepala Lorenzo." Dante tidak memberinya waktu untuk berduka. Malam itu juga, ia menyeret Aara ke dermaga tua di pinggiran kota. Ini adalah lokasi transaksi besar milik Lorenzo. "Pakai ini," Dante menyodorkan sebuah rompi tipis dan sebuah pisau lipat kecil. "Jika terjadi sesuatu, lari ke arah mobil. Marco akan menunggumu di sana." "Kenapa aku harus ikut?" "Karena Lorenzo hanya akan keluar jika ia melihat 'umpan' kesayanganku ini," Dante memeriksa peluru di senjatanya dengan dingin. "Jangan takut. Aku ada di belakangmu. Selalu."Di atas halaman mansion, pertarungan antara Dante dan El Carnicero telah berubah menjadi tarian kematian yang brutal. Dante memuntahkan peluru dari senapan mesin beratnya, namun Algojo itu bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal bagi pria seukurannya, berlindung di balik pilar beton sambil terus merangsek maju. Tiba-tiba, suara tembakan teredam DOR! DOR!bergema melalui frekuensi radio yang terhubung langsung ke sensor suara di dalam bunker. Dante membeku. Itu bukan suara senapan serbu timnya. Itu suara pistol kaliber sembilan milimeter cadangan miliknya yang ia berikan pada Aara. . "AARA!" Dante meraung, suaranya mengalahkan deru helikopter. Kemarahan yang murni dan tak terkendali meledak di dada Dante. Ia melempar senapan mesinnya yang mulai panas ke lantai beranda. Tanpa memedulikan hujan peluru dari pasukan Meksiko, Dante melompat turun dari balkon lantai dua sebuah aksi gila yang bisa mematahkan kakinya. Ia mendarat dengan gulingan taktis di atas aspal, langsung
Suara ledakan pertama menghantam sisi timur mansion, getarannya cukup kuat untuk meruntuhkan lampu kristal di langit-langit kamar Aara. Langit subuh yang tadinya kelabu mendadak memerah oleh kobaran api. "KONTAK! POSISI TIMUR JEBOL!" suara Marco berteriak melalui pengeras suara internal mansion. Dante, yang baru saja melangkah beberapa meter dari kamar Aara, berbalik dengan gerakan predator. Ia tidak lagi memiliki waktu untuk berdebat. Dengan satu tendangan kuat, pintu yang baru saja ia kunci itu terbuka kembali. Ia melihat Aara yang masih meringkuk di lantai, wajahnya pucat pasi tertutup debu reruntuhan. "Dante! Apa itu?!" jerit Aara saat rentetan peluru mulai menghantam dinding luar, menciptakan suara berisik seperti hujan logam. Tanpa menjawab, Dante menyambar tubuh Aara, mengangkatnya dalam satu sentakan kuat. "Sasha! Amankan jalur ke bunker! Sekarang!" perintahnya melalui earpiece. Sasha muncul dari balik kepulan asap di lorong, memegang senapan serbu assault rifle deng
Dante menatap punggung Aara yang menjauh hingga pintu lift tertutup. Begitu sosok istrinya hilang dari pandangan, ekspresi tenang yang ia paksakan tadi runtuh, digantikan oleh aura otoritas yang begitu pekat hingga membuat udara di ruang pemantau terasa berat. Dante mengambil handuk putih, mengusap bercak darah Robert dari tangannya dengan gerakan yang sangat mekanis. "Marco," suaranya rendah, namun bergema dengan ancaman perang. "Aktifkan Protokol Black Eclipse." Marco tertegun sejenak. "Semuanya, Tuan? Bahkan unit yang ada di Kremlin dan Macau?" "Semuanya," desis Dante. "Katakan pada mereka bahwa Valerius sedang memanggil hutang nyawa. Aku ingin setiap jengkal perbatasan, setiap dermaga, dan setiap jalur udara yang dilewati Diego Tiger menjadi kuburan massal sebelum mereka sempat menginjakkan kaki di kota ini." Dante melangkah menuju meja kerja yang dipenuhi monitor satelit. "Panggil pulang si 'Mamba'. Katakan padanya, liburannya di Afrika selesai. Aku punya tugas khusus unt
Dante terengah, darah mulai merembes dari luka barunya. Ia menatap Aara, lalu menatap pistol kustomnya yang kini kosong. Di depannya, dalam balutan asap dan bayangan, berdiri sesosok pria raksasa dengan mantel bulu gelap dan topeng serigala perak. Robert Tiger. Robert melangkah maju, memegang sebuah kapak taktis yang masih bersih dari darah. "Berikan gadis itu, dan aku akan membiarkanmu mati dengan cepat, Dante. Aku butuh kepalanya untuk diletakkan di atas nisan pamanku." Dante perlahan berdiri, meskipun tubuhnya gemetar. Ia tidak mengambil senjatanya yang kosong. Sebaliknya, ia merogoh sesuatu dari balik sabuk belakangnya sebuah pemantik api dan sebuah detonator kecil yang terhubung dengan sisa dinamit di dalam pabrik baja yang belum meledak. "Kau ingin pesta, Robert?" Dante menyeringai, sebuah seringai iblis yang membuat Robert berhenti melangkah. "Aku akan membakar seluruh tempat ini bersamamu di dalamnya." Aara melihat tangan Dante yang memegang detonator. Ia menyadari ren
Lorenzo melolong kesakitan, suaranya parau memantul di dinding-dinding baja yang dingin. Ia mencoba menyeret tubuhnya, meninggalkan jejak darah kental di atas lantai bordes yang berkarat. Matanya liar mencari jalan keluar, namun yang ia temukan hanyalah moncong senjata hitam yang kembali membidik tepat ke arah jantungnya. "Satu untuk kematian Sofia," bisik Aara. DOR! Peluru kedua menghantam paha Lorenzo. Pria itu tersungkur, napasnya tersengal-sengal, menatap Aara dengan tatapan yang kini murni berisi teror. Ia tidak lagi melihat seorang gadis yang bisa ia intimidasi , ia melihat malaikat maut yang mengenakan gaun robek dan lumuran darah. Dante berdiri beberapa langkah di belakang Aara, tangannya bersedekap, mengawasi setiap gerak-gerik istrinya dengan intensitas yang tak terbaca. Ada rasa bangga yang gelap menyusup di dadanya, namun juga ada secercah penyesalan karena harus melihat kemurnian Aara terbakar habis malam ini. "Dan ini..." Aara melangkah hingga ujung sepatunya m
Aara hanya bisa mengangguk kaku. Ketakutan itu kini berubah menjadi adrenalin yang menyakitkan. Tepat saat barisan lampu senter itu hanya berjarak beberapa puluh meter, suara deru mesin mobil yang brutal memecah kesunyian hutan. Tiga buah mobil off-road lapis baja menerjang semak belukar, menghantam barisan anak buah Lorenzo dari arah samping. RATATATATATA! Rentetan tembakan balasan menyalak dari atas mobil-mobil tersebut. Sesosok pria melompat turun dari mobil terdepan dengan gerakan taktis yang sempurna. Itu Marco. "Tuan! Masuk ke mobil!" teriak Marco sambil melepaskan tembakan perlindungan. Dante segera menarik Aara berlari menerjang hujan peluru menuju mobil Marco. Begitu pintu tertutup rapat, Marco langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, meninggalkan rumah aman yang kini telah rata dengan tanah. "Laporannya, Marco! Kenapa kalian terlambat?!" bentak Dante, sambil berusaha menahan luka di bahunya. Marco menatap Dante dari spion tengah dengan ekspresi yang jauh lebih