LOGINAara menangis hingga habis air matanya, hingga suaranya serak dan tubuhnya lemas tak bertenaga. Di dalam dekapan Dante, anehnya, ia merasa aman. Aroma mesiu dan darah yang menempel pada pria itu entah bagaimana menjadi satu-satunya hal yang menjejakannya pada kenyataan bahwa mereka berdua masih hidup.
Dante tidak melepaskan pelukannya bahkan ketika isak tangis Aara mereda menjadi napas yang teratur. Ia menggendong Aara perlahan, membawanya ke satu-satunya tempat tidur di rumah aman itu , sebuah kasur tua yang tipis di sudut ruangan. Ia membaringkan Aara dengan hati-hati, seolah gadis itu terbuat dari kaca yang mudah retak. "Istirahatlah," perintah Dante, suaranya kembali rendah namun kehilangan nada arogansinya. Aara menatapnya, matanya sembab. "Kau... kau juga harus istirahat. Lukamu baru saja dijahit." Dante mendengus pelan, duduk di lantai di samping tempat tidur, menyandarkan punggungnya pada dinding kayu. "Aku akan berjaga. Lorenzo tidak akan berhenti setelah malam ini." "Dante," panggil Aara lirih dalam kegelapan remang rumah aman itu. "Kenapa adikmu... kenapa Lorenzo membunuhnya?" Pertanyaan itu membuat tubuh Dante menegang. Kesunyian panjang menyelimuti mereka, hanya terdengar suara jangkrik dari luar dan detak jantung mereka yang perlahan selaras. Aara mengira Dante tidak akan menjawab, namun akhirnya suara berat pria itu terdengar. "Namanya Sofia. Dia berumur sembilan belas tahun. Dia... dia adalah cahaya di dunia kotor ini," suara Dante bergetar sedikit, sebuah retakan langka pada topeng esnya. "Dia jatuh cinta pada orang yang salah. Putra Lorenzo. Lorenzo menggunakannya untuk menjebakku, tapi Sofia... dia mengetahuinya. Dia mencoba memperingatkanku." Dante menjeda, napasnya terasa berat. "Putra Lorenzo menembaknya di depan mataku. Untuk mengirim pesan. Bahwa siapa pun yang kucintai akan berakhir tragis. Sejak malam itu, aku berjanji tidak akan pernah membiarkan diriku memiliki kelemahan lagi." Aara mendengarkan dengan hati teriris. Ia melihat sisi lain dari iblis yang selama ini ia benci. Pria di sampingnya ini hanyalah seorang kakak yang hancur, yang membangun dinding keangkuhan untuk melindungi dirinya dari rasa sakit yang tak tertahankan. Aara mendengarkan dengan hati teriris. Ia melihat sisi lain dari iblis yang selama ini ia benci. Pria di sampingnya ini hanyalah seorang kakak yang hancur, yang membangun dinding keangkuhan untuk melindungi dirinya dari rasa sakit yang tak tertahankan. Perlahan, Aara mengulurkan tangannya dari bawah selimut, menyentuh tangan Dante yang terkepal di lantai. Kulitnya dingin, namun Aara mencoba menyalurkan kehangatan. "Aku minta maaf, Dante. Atas Sofia. Dan... atas semua makianku tadi," bisik Aara. Dante menatap tangan Aara yang menyentuh tangannya. Ia melepaskan kepalannya dan membalik telapak tangannya, menggenggam jari-jari Aara dengan lembut. "Tidurlah, Kecil," gunam Dante, menatap langit-langit kegelapan. "Neraka belum usai, tapi setidaknya untuk malam ini, aku akan memastikannya tidak menyentuhmu." Fajar baru saja menyingsing ketika suara helikopter terdengar mendekati rumah aman. Dante tersentak bangun, senjatanya langsung terarah ke pintu. "Marco?" bisik Aara, terbangun dengan ketakutan "Terlalu cepat untuk Marco," desis Dante, wajahnya kembali arogan dan waspada. "Dia tidak punya helikopter." Dante menarik Aara bangun dan menyeretnya menuju jalur evakuasi di bawah lantai dapur. Namun, sebelum mereka bisa mencapainya, pintu rumah aman didobrak terbuka. Pintu kayu itu hancur berkeping-keping, hantaman sepatu lars militer membuatnya terbang ke tengah ruangan. Dante dengan sigap mendorong Aara ke balik meja kayu tebal yang terbalik, sementara ia sendiri berlutut dengan senjata api yang sudah menyalak. BANG! BANG! BANG! "Masuk ke lubang itu, Aara! Jangan menoleh!" bentak Dante. Suaranya kembali ke mode tempur dingin, tajam, dan tidak terbantahkan. Tiga orang pria berseragam taktis hitam dengan lambang keluarga Lorenzo merangsek masuk melalui jendela dan pintu. Mereka bukan sekadar preman dermaga , mereka adalah unit pembunuh elit. Aara merangkak dengan jemari gemetar menuju celah di lantai dapur yang terbuka, namun langkahnya terhenti ketika rentetan peluru senapan mesin ringan mencabik-cabik lantai hanya beberapa inci dari wajahnya. Debu kayu beterbangan, menutupi pandangannya. "Dante, mereka ada di mana-mana!" jerit Aara. Dante melepaskan tembakan balasan yang tepat mengenai dada salah satu penyerang, namun jumlah mereka terlalu banyak. Peluru-peluru musuh terus menghantam dinding rumah aman yang tipis itu seolah-olah rumah itu hanya terbuat dari kertas. "Lorenzo tidak akan membiarkanmu keluar hidup-hidup, Valerius!" seru sebuah suara dari luar melalui megafon. Itu adalah suara Vico, tangan kanan Lorenzo yang paling sadis. "Serahkan gadis itu, dan mungkin kami akan membiarkanmu mati dengan satu peluru di kepala, bukan dengan siksaan berhari-hari!" Dante menyeringai sinis, sebuah senyuman haus darah yang membuat bulu kuduk Aara berdiri. Ia menatap Aara sejenak tatapan yang kini tidak lagi penuh dengan arogansi, melainkan sebuah janji perlindungan yang absolut. Bawa dia jika kalian bisa melangkahi mayatku!" raung Dante. Ia melemparkan sebuah granat asap ke tengah ruangan. Dalam sekejap, asap putih pekat memenuhi rumah aman itu. Memanfaatkan kekacauan, Dante menerjang maju di tengah kepulan asap. Ia bergerak seperti bayangan cepat, senyap, dan mematikan. Aara bisa mendengar suara hantaman daging, deru napas yang terhenti, dan bunyi tulang patah. Namun, di tengah kepulan asap itu, sebuah tangan besar dan kasar tiba-tiba menyambar leher Aara dari belakang. "DAPAT!" teriak salah satu anak buah Lorenzo. Aara meronta, kakinya menendang udara, mencoba meraih pisau lipat kecil yang diberikan Dante sebelumnya. Dengan keberanian yang muncul dari rasa putus asa, ia menghujamkan pisau itu ke paha pria yang mendekapnya. "ARGH!" pria itu melepaskan cengkeramannya. Dante muncul dari balik kabut asap, wajahnya tercoreng jelaga dan darah musuh. Tanpa ragu, ia melepaskan satu tembakan tepat di dahi pria yang mencoba membawa Aara. Ia kemudian menyambar pinggang Aara, mengangkatnya seolah gadis itu tak berbobot, dan melompat keluar melalui jendela samping tepat saat sebuah roket meluncur menghantam rumah aman itu. BOOM! Ledakan dahsyat melontarkan mereka ke semak-semak pinus yang rimbun. Rumah aman itu kini menjadi lautan api. Dante mendekap Aara di bawah tubuhnya, melindungi gadis itu dari serpihan kayu yang terbakar. " Aku....aku menarik semua permintaan maafku tadi," kesal Aara di tengah deru napasnya yang sesak karena melibatkan dirinya dalam pertarungan nyawa , ia menatap Dante yang kini berlumuran darah di atasnya. Dante bangkit, menarik Aara untuk berdiri, meski bahunya yang baru dijahit kini kembali mengeluarkan darah segar. Di depan mereka, di antara pepohonan, puluhan lampu senter mulai mendekat. Mereka terkepung di tengah hutan pinus yang dingin, dengan satu-satunya jalan keluar adalah menembus barisan kematian tersebut. Cahaya senter dari pasukan Lorenzo menyapu pepohonan pinus seperti jemari kematian yang mencari mangsa. Dante menarik Aara ke balik batang pohon besar, napasnya memburu, sementara rembesan darah di bahunya mulai membasahi jaket taktis yang ia kenakan. "Pegang ini," desis Dante. Ia menyodorkan sebuah senapan serbu cadangan ke tangan Aara. Tangan gadis itu dingin dan gemetar hebat saat menyentuh logam besi yang dingin. "Aku tidak bisa, Dante! Aku tidak pernah..." bahu Aara, memaksanya menatap matanya yang berkilat tajam di tengah kegelapan. "Ini bukan lagi tentang kontrak atau hutang. Ini tentang napasmu. Jika kau melihat bayangan bergerak di antara pohon, tarik pelatuknya atau mereka yang akan menghentikan jantungmu. Mengerti?!"Dante terdiam sesaat, menatap bingkai foto yang permukaannya sudah sedikit retak dan kusam itu. Ia mengambil napas dalam, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya. "Foto itu rusak karena air laut setahun yang lalu," jawab Dante, suaranya terdengar serak. "Sama seperti pemiliknya, foto ini nyaris hancur terbawa badai." Lumina memicingkan mata, mengusap permukaan kaca bingkai yang buram itu dengan ujung kemejanya yang terkena tepung. "Kasihan ya. Sudah wajahnya tidak kelihatan, auranya pun suram sekali. Dia ini siapa, Tuan Bos? Mantan pacar? Atau... saingan bisnis yang Tuan culik terus stres?" Dante hampir saja tersedak harga dirinya sendiri mendengar analisis asal-asalan Lumina. "Dia... seseorang yang sangat berharga. Tapi aku terlalu bodoh untuk menyadarinya sampai dia menghilang." Lumina menatap Dante dengan tatapan yang sulit diartikan. Tiba-tiba, ia menepuk bahu Dante dengan sangat keras , begitu keras hingga Dante sediki
Kabar mengenai kembalinya Aara menyebar seperti api di antara orang-orang kepercayaan Dante. Sasha, yang selama setahun ini mengasingkan diri ke sebuah biara di pinggiran kota untuk menebus rasa bersalahnya karena gagal melindungi Aara di malam badai itu, langsung memacu mobilnya menuju mansion begitu menerima telepon singkat dari Marco. Sasha melangkah masuk ke lobi dengan wajah yang sembap dan napas memburu. Ia sudah menyiapkan ribuan kata maaf dan air mata untuk bersimpuh di kaki sang nyonya. Namun, pemandangan yang ia temukan justru membuatnya mematung di ambang pintu besar. Lumina Aara yang "baru" sedang duduk bersila di atas meja marmer lobi yang harganya setara dengan sebuah apartemen mewah. Ia sedang asyik membuka bungkusan kerupuk ikan dari tas kainnya, membuat remah-remahnya berjatuhan di lantai yang baru saja dipoles. "Wih, Marco! Ini kerupuk hasil jemuran Kakek langsung, garingnya minta ampun! Cobain satu, jangan kaku-kaku ama
Keesokan paginya, pemandangan di Desa Teluk Karang mendadak gempar. Sebuah Rolls-Royce Phantom hitam mengkilap terparkir sembarangan di antara tumpukan keranjang ikan yang bau amis. Dante Valerius turun dari mobil tanpa jas, hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan jam tangan seharga satu unit rumah mewah di desa itu. "Tuan, Anda yakin?" Marco bertanya dengan ragu sembari memegangi topi jerami yang baru saja ia beli di pasar. "Diam dan ambil jaring itu, Marco," titah Dante datar. Di pinggir pantai, Aara yang kini lebih suka dipanggil Lumina sedang asyik tertawa bersama para nelayan sambil menarik jaring besar. Rambutnya diikat asal-asalan, wajahnya terkena cipratan air laut, tapi ia terlihat jauh lebih hidup daripada saat ia mendekam di mansion Valerius. "Lumina! Si tampan kemarin datang lagi!" teriak seorang nelayan. Lumina menoleh dan hampi
Setahun telah berlalu sejak malam yang menghancurkan itu. Kerajaan bisnis Valerius masih berdiri kokoh, namun atmosfer di dalamnya kini lebih menyerupai peti mati yang dingin. Dante Valerius tidak lagi menjadi "Iblis dari Barat" yang berapi-api , ia telah berubah menjadi hantu yang hidup. Setiap malam, Dante duduk di paviliun bunga yang kini terbengkalai. Bunga-bunga matahari yang dulu dirangkai Aara telah lama kering dan mati, sama seperti binar di matanya. Ia masih mengenakan kalung pengunci magnetik milik Aara di pergelangan tangannya, satu-satunya benda yang tersisa selain potongan kain gaun yang mulai memudar. "Tuan, Anda harus makan," Marco berbisik, berdiri di kejauhan. Wajah Marco kini penuh dengan bekas luka, namun kesedihannya untuk tuannya jauh lebih dalam. "Apakah laut sudah memberikan jawabannya hari ini, Marco?" tanya Dante tanpa menoleh. Suaranya datar, nyaris tak terdengar. "Masih nihil, Tuan. Kami sudah men
Keheningan di tepi pantai itu kini hanya menyisakan deru mesin speedboat yang semakin menjauh dan kepulan asap yang mulai menipis. Dante berdiri mematung, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Di telapak tangannya, sisa foto polaroid yang hancur itu menusuk kulitnya hingga berdarah, namun ia tak merasakannya. Sensasi satu-satunya yang tersisa adalah kehampaan yang mencekik tempat di mana jantungnya seharusnya berada, kini telah hilang dibawa pergi ke tengah laut yang hitam. "Tuan! Kapal itu menuju ke arah perairan internasional! Mereka menggunakan pengacau sinyal, pelacak pada pergelangan kaki Nyonya hilang dari radar!" Marco berlari mendekat dengan bahu yang bersimbah darah, wajahnya penuh penyesalan. Dante perlahan menoleh. Sorot matanya bukan lagi kemarahan seorang manusia, melainkan kekosongan seorang predator yang telah kehilangan alasan untuk tetap waras. "Siapkan helikopter. Sekarang." Aara terbangun denga
"Hanya lalat yang tersesat, Nyonya," jawab Sasha cepat, namun matanya melirik Dante.Wajah Dante berubah seketika. Sorot matanya yang tadi lembut saat menatap bunga, kini kembali menjadi sedingin es kutub. "Marco, bawa Nyonya ke kamar utama. Aktifkan protokol level dua. Jangan biarkan dia melihat ke arah gerbang.""Dante! Apa yang terjadi?" Aara mencoba menahan lengan suaminya.Dante mencium telapak tangan Aara dengan penuh pengabdian yang menyesakkan. "Seseorang dari masa lalumu sebelum kita menikah... dia mencoba mengirimkan surat cinta, Aara. Dia pikir dia bisa mengetuk pintuku dan meminta waktu untuk berbicara dengan 'tunangan' lamanya."Rahang Dante mengeras hingga urat lehernya menonjol. "Aku akan pergi keluar untuk menjelaskan padanya bahwa di tanah Valerius, masa lalu tidak memiliki hak untuk bernapas."Aara ditarik dengan lembut namun tegas oleh Marco kembali ke dalam mansion. Dari jendela lantai atas yang antipeluru, ia melihat







