Compartir

Bab 5

Autor: Maya sabir
last update Fecha de publicación: 2026-03-27 23:55:47

Aara hanya bisa mengangguk kaku. Ketakutan itu kini berubah menjadi adrenalin yang menyakitkan.

Tepat saat barisan lampu senter itu hanya berjarak beberapa puluh meter, suara deru mesin mobil yang brutal memecah kesunyian hutan. Tiga buah mobil off-road lapis baja menerjang semak belukar, menghantam barisan anak buah Lorenzo dari arah samping.

RATATATATATA!

Rentetan tembakan balasan menyalak dari atas mobil-mobil tersebut. Sesosok pria melompat turun dari mobil terdepan dengan gerakan taktis yang sempurna. Itu Marco.

"Tuan! Masuk ke mobil!" teriak Marco sambil melepaskan tembakan perlindungan.

Dante segera menarik Aara berlari menerjang hujan peluru menuju mobil Marco. Begitu pintu tertutup rapat, Marco langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, meninggalkan rumah aman yang kini telah rata dengan tanah.

"Laporannya, Marco! Kenapa kalian terlambat?!" bentak Dante, sambil berusaha menahan luka di bahunya.

Marco menatap Dante dari spion tengah dengan ekspresi yang jauh lebih gelap dari biasanya. "Lorenzo melakukan langkah putus asa, Tuan. Saat kami bergerak menuju koordinat ini, tim pengintai melaporkan bahwa Lorenzo telah menjemput paksa Ayah Nona Aara dari tempat persembunyiannya."

Aara yang sedang mencoba mengatur napasnya, mendadak membeku. "Ayah?"

"Dia mengirimkan rekaman ini satu menit yang lalu," Marco menyerahkan sebuah tablet ke tangan Dante.

Di layar tersebut, terlihat ayah Aara duduk terikat di sebuah kursi besi di dalam gudang yang gelap. Wajahnya penuh luka lebam. Di belakangnya, Lorenzo berdiri sambil menempelkan moncong pistol ke pelipis pria tua itu.

"Dante Valerius..." suara Lorenzo terdengar parau dan licik melalui pengeras suara tablet. "Kau memenangkan dermaga, tapi aku memiliki kartu as-mu. Bawa gadis itu ke pabrik pengolahan baja tua di pinggiran kota dalam waktu satu jam. Sendirian. Jika aku melihat ada satu saja anak buahmu di radius satu kilometer, aku akan meledakkan kepala pria ini di depan mata putrinya."

Video berakhir. Kesunyian di dalam mobil itu terasa lebih mematikan daripada ledakan roket tadi.

"Itu jebakan, tuan," desis Marco. "Dia tahu tuan tidak akan membiarkan Aara terluka, tapi dia juga tahu Aara tidak akan membiarkan ayahnya mati."

Aara menatap Dante dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Semua kemarahannya tadi, semua makiannya tentang maut, mendadak sirna digantikan oleh rasa putus asa. "Dante... itu ayahku. Dia memang berengsek, tapi dia satu-satunya keluarga yang kupunya."

Dante terdiam, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia menatap senapan di pangkuan Aara, lalu menatap wajah gadis itu. Pria arogan yang biasanya selalu memiliki rencana cadangan itu kini tampak sedang berperang dengan logikanya sendiri.

"Lorenzo ingin mengulang sejarah," gumam Dante rendah, suaranya mengandung ancaman yang bisa membekukan darah. "Dia ingin aku memilih antara dendamku atau orang yang... ada di dekatku."

"Dante, tolong..." bisik Aara.

Dante memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya dengan kilatan yang sangat dingin. "Marco, siapkan tim cadangan di radius dua kilometer. Aku akan masuk."

"Tuan, itu bunuh diri!" protes Marco.

"Aku tidak bilang aku akan menyerahkan Aara," Dante menoleh pada Aara, tangannya yang kasar namun hangat membingkai wajah gadis itu. "Aku akan membawamu ke sana, tapi kau tidak akan menjadi umpan lagi. Kali ini, kau akan menjadi orang yang menarik pelatuk untuk mengakhiri semuanya."

Pabrik baja tua itu berdiri kokoh seperti monster besi di tengah kegelapan malam. Aroma karat dan oli menyengat indra penciuman saat Dante dan Aara melangkah masuk ke area melting shop yang luas. Hanya ada satu lampu gantung yang berayun pelan, menyinari sosok pria yang terikat di sebuah kursi besi Ayah Aara.

"Berhenti di sana, Valerius!" suara Lorenzo menggema dari lantai atas balkon baja. Ia berdiri di sana bersama sepuluh penembak jitu yang mengarahkan moncong senjata ke arah mereka.

Aara gemetar hebat, namun jemarinya mencengkeram erat senapan yang diberikan Dante. Ia melihat ayahnya yang kepalanya terkulai lemas, darah menetes dari pelipisnya.

"Aku sudah datang, Lorenzo. Lepaskan dia," suara Dante tetap tenang, namun dingin yang ia pancarkan jauh lebih mematikan dari biasanya.

"Tentu," Lorenzo menyeringai. Ia memberi isyarat pada anak buahnya di bawah untuk melepaskan ikatan ayah Aara. "Tapi ada satu masalah. Ayahmu ini ternyata lebih licik dari yang kubayangkan. Dia menyimpan rahasia tentang kematian Sofia yang tidak akan pernah kau sukai."

Ayah Aara mendongak, matanya yang bengkak menatap Aara dengan penuh penyesalan. "Aara... maafkan Ayah," bisiknya parau.

Tiba-tiba, Lorenzo tertawa keras. "Tembak mereka!"

DOR! DOR! DOR!

Baku tembak pecah seketika. Dante dengan sigap menarik Aara ke balik pilar baja besar, membalas tembakan dengan akurasi yang mengerikan. Setiap peluru Dante merenggut satu nyawa di atas balkon. Namun, posisi mereka terjepit. Anak buah Lorenzo mulai mengepung dari berbagai arah.

Ayah Aara, yang sudah lepas dari ikatan, melihat seorang penembak jitu dari arah belakang mesin pengolah baja sedang membidik punggung Aara yang sedang mencoba merunduk.

"AARA! AWAS!" teriakan itu memecah kebisingan peluru.

Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, Ayah Aara berlari dengan sisa tenaganya, menerjang ke arah Aara.

BRRRTTTT!

"AYAAAHHH!" jerit Aara histeris. Ia menjatuhkan senjatanya, memeluk tubuh ayahnya yang kini bermandikan darah.

Dante menggeram seperti binatang buas yang terluka. Ia keluar dari persembunyiannya, mengabaikan peluru yang menyerempet lengannya, dan menembak membabi buta ke arah penembak tadi hingga tak bersisa.

Ayah Aara terbatuk, darah kental keluar dari mulutnya. Ia menatap Aara dengan senyum getir. "Ayah... sudah menjualmu... berkali-kali. Tapi malam ini... Ayah tidak akan membiarkan mereka... membawamu lagi. Hiduplah... Aara."

Napas terakhirnya terlepas di pelukan Aara. Pria yang selama ini Aara benci dan cintai itu telah pergi, menebus dosanya dengan nyawa.

Aara terdiam. Tangisnya berhenti, digantikan oleh kekosongan yang membakar. Ia melihat senapan di sampingnya, lalu melihat Lorenzo yang mencoba melarikan diri ke arah tangga darurat.

"Dante," panggil Aara, suaranya kini sedingin es, tanpa ada lagi getaran ketakutan.

Dante berhenti menembak, menoleh ke arah Aara. Ia melihat transformasi di mata istrinya. Gadis lembut yang ia kenal telah mati bersama ayahnya.

"Habisi dia," desis Aara dingin dan datar

Dante menatap Aara, mencari sisa-sisa gadis penakut yang beberapa jam lalu menggigil di dalam bunker. Tidak ada. Yang tersisa hanya sepasang mata yang sedingin es sebuah cerminan dari jiwanya sendiri. Transformasi ini menyakitkan bagi Dante, namun di dunia mereka, ini adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.

Dante melangkah mendekat, meletakkan pistol kustomnya yang masih panas ke telapak tangan Aara yang berlumuran darah ayahnya. Ia membungkus tangan kecil itu dengan tangan besarnya, menuntun moncong senjata itu tepat ke arah Lorenzo yang sedang merangkak di lantai besi, mencoba mencapai tangga.

"Lakukan, Aara," bisik Dante di telinga gadis itu. Suaranya tidak lagi memerintah, melainkan memberikan hak mutlak untuk membalas dendam. "Tarik pelatuknya, dan biarkan iblis ini membayar setiap tetes air mata yang kau keluarkan."

Lorenzo berbalik, wajahnya yang penuh kerutan kini pucat pasi karena teror. "Tunggu! Aara... kau tidak seperti mereka! Kau gadis baik! Jika kau menembakku, kau akan sama kotornya dengan suamimu!"

Aara tidak bergeming. Ia melangkah maju, sepatu hak tingginya berdenting di atas lantai logam, bergema di seluruh pabrik yang kini sunyi karena anak buah Lorenzo telah habis dibantai oleh Dante dan kedatangan tim Marco di luar.

"Kau salah, Lorenzo," suara Aara datar, hampir tidak manusiawi. "Gadis baik itu mati bersama ayahku di lantai ini. Yang berdiri di depanmu sekarang... hanyalah istri seorang Valerius."

DOR!

Tembakan pertama menghantam bahu Lorenzo, membuatnya terjerembap kembali. Lorenzo mengerang, memohon ampun, namun Aara kembali membidik.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 10

    Di atas halaman mansion, pertarungan antara Dante dan El Carnicero telah berubah menjadi tarian kematian yang brutal. Dante memuntahkan peluru dari senapan mesin beratnya, namun Algojo itu bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal bagi pria seukurannya, berlindung di balik pilar beton sambil terus merangsek maju. Tiba-tiba, suara tembakan teredam DOR! DOR!bergema melalui frekuensi radio yang terhubung langsung ke sensor suara di dalam bunker. Dante membeku. Itu bukan suara senapan serbu timnya. Itu suara pistol kaliber sembilan milimeter cadangan miliknya yang ia berikan pada Aara. . "AARA!" Dante meraung, suaranya mengalahkan deru helikopter. Kemarahan yang murni dan tak terkendali meledak di dada Dante. Ia melempar senapan mesinnya yang mulai panas ke lantai beranda. Tanpa memedulikan hujan peluru dari pasukan Meksiko, Dante melompat turun dari balkon lantai dua sebuah aksi gila yang bisa mematahkan kakinya. Ia mendarat dengan gulingan taktis di atas aspal, langsung

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 9

    Suara ledakan pertama menghantam sisi timur mansion, getarannya cukup kuat untuk meruntuhkan lampu kristal di langit-langit kamar Aara. Langit subuh yang tadinya kelabu mendadak memerah oleh kobaran api. "KONTAK! POSISI TIMUR JEBOL!" suara Marco berteriak melalui pengeras suara internal mansion. Dante, yang baru saja melangkah beberapa meter dari kamar Aara, berbalik dengan gerakan predator. Ia tidak lagi memiliki waktu untuk berdebat. Dengan satu tendangan kuat, pintu yang baru saja ia kunci itu terbuka kembali. Ia melihat Aara yang masih meringkuk di lantai, wajahnya pucat pasi tertutup debu reruntuhan. "Dante! Apa itu?!" jerit Aara saat rentetan peluru mulai menghantam dinding luar, menciptakan suara berisik seperti hujan logam. Tanpa menjawab, Dante menyambar tubuh Aara, mengangkatnya dalam satu sentakan kuat. "Sasha! Amankan jalur ke bunker! Sekarang!" perintahnya melalui earpiece. Sasha muncul dari balik kepulan asap di lorong, memegang senapan serbu assault rifle deng

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 8

    Dante menatap punggung Aara yang menjauh hingga pintu lift tertutup. Begitu sosok istrinya hilang dari pandangan, ekspresi tenang yang ia paksakan tadi runtuh, digantikan oleh aura otoritas yang begitu pekat hingga membuat udara di ruang pemantau terasa berat. Dante mengambil handuk putih, mengusap bercak darah Robert dari tangannya dengan gerakan yang sangat mekanis. "Marco," suaranya rendah, namun bergema dengan ancaman perang. "Aktifkan Protokol Black Eclipse." Marco tertegun sejenak. "Semuanya, Tuan? Bahkan unit yang ada di Kremlin dan Macau?" "Semuanya," desis Dante. "Katakan pada mereka bahwa Valerius sedang memanggil hutang nyawa. Aku ingin setiap jengkal perbatasan, setiap dermaga, dan setiap jalur udara yang dilewati Diego Tiger menjadi kuburan massal sebelum mereka sempat menginjakkan kaki di kota ini." Dante melangkah menuju meja kerja yang dipenuhi monitor satelit. "Panggil pulang si 'Mamba'. Katakan padanya, liburannya di Afrika selesai. Aku punya tugas khusus unt

  • Cinta Semalam Sang Mafia   BB 7

    Dante terengah, darah mulai merembes dari luka barunya. Ia menatap Aara, lalu menatap pistol kustomnya yang kini kosong. Di depannya, dalam balutan asap dan bayangan, berdiri sesosok pria raksasa dengan mantel bulu gelap dan topeng serigala perak. Robert Tiger. Robert melangkah maju, memegang sebuah kapak taktis yang masih bersih dari darah. "Berikan gadis itu, dan aku akan membiarkanmu mati dengan cepat, Dante. Aku butuh kepalanya untuk diletakkan di atas nisan pamanku." Dante perlahan berdiri, meskipun tubuhnya gemetar. Ia tidak mengambil senjatanya yang kosong. Sebaliknya, ia merogoh sesuatu dari balik sabuk belakangnya sebuah pemantik api dan sebuah detonator kecil yang terhubung dengan sisa dinamit di dalam pabrik baja yang belum meledak. "Kau ingin pesta, Robert?" Dante menyeringai, sebuah seringai iblis yang membuat Robert berhenti melangkah. "Aku akan membakar seluruh tempat ini bersamamu di dalamnya." Aara melihat tangan Dante yang memegang detonator. Ia menyadari ren

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 6

    Lorenzo melolong kesakitan, suaranya parau memantul di dinding-dinding baja yang dingin. Ia mencoba menyeret tubuhnya, meninggalkan jejak darah kental di atas lantai bordes yang berkarat. Matanya liar mencari jalan keluar, namun yang ia temukan hanyalah moncong senjata hitam yang kembali membidik tepat ke arah jantungnya. "Satu untuk kematian Sofia," bisik Aara. DOR! Peluru kedua menghantam paha Lorenzo. Pria itu tersungkur, napasnya tersengal-sengal, menatap Aara dengan tatapan yang kini murni berisi teror. Ia tidak lagi melihat seorang gadis yang bisa ia intimidasi , ia melihat malaikat maut yang mengenakan gaun robek dan lumuran darah. Dante berdiri beberapa langkah di belakang Aara, tangannya bersedekap, mengawasi setiap gerak-gerik istrinya dengan intensitas yang tak terbaca. Ada rasa bangga yang gelap menyusup di dadanya, namun juga ada secercah penyesalan karena harus melihat kemurnian Aara terbakar habis malam ini. "Dan ini..." Aara melangkah hingga ujung sepatunya m

  • Cinta Semalam Sang Mafia   Bab 5

    Aara hanya bisa mengangguk kaku. Ketakutan itu kini berubah menjadi adrenalin yang menyakitkan. Tepat saat barisan lampu senter itu hanya berjarak beberapa puluh meter, suara deru mesin mobil yang brutal memecah kesunyian hutan. Tiga buah mobil off-road lapis baja menerjang semak belukar, menghantam barisan anak buah Lorenzo dari arah samping. RATATATATATA! Rentetan tembakan balasan menyalak dari atas mobil-mobil tersebut. Sesosok pria melompat turun dari mobil terdepan dengan gerakan taktis yang sempurna. Itu Marco. "Tuan! Masuk ke mobil!" teriak Marco sambil melepaskan tembakan perlindungan. Dante segera menarik Aara berlari menerjang hujan peluru menuju mobil Marco. Begitu pintu tertutup rapat, Marco langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, meninggalkan rumah aman yang kini telah rata dengan tanah. "Laporannya, Marco! Kenapa kalian terlambat?!" bentak Dante, sambil berusaha menahan luka di bahunya. Marco menatap Dante dari spion tengah dengan ekspresi yang jauh lebih

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status