Share

Bab 3 - Om, Belum Tidur?

Penulis: EYN
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-03 17:03:38

Lionel berdehem pelan. Hati boleh jedag jedug karena celetukan puterinya, tapi ekspresi wajahnya tetap tenang. 

“Liora,” panggil Lionel dengan nada berwibawa. Serempak Liora dan Meilissa menoleh.

“Papa bukan barang yang bisa dibagi-bagi, Sayang. Tapi kalau kamu mau, Papa bisa menyayangi Meilissa. Sama seperti Papa mencintaimu," katanya kemudian. Matanya yang teduh kembali menatap Meilissa.

Liora tersenyum puas, lalu menghambur ke pelukan Papanya. "I love you, Papa," ucapnya manja - mencium pipi Lionel yang langsung membalasnya dengan peluk dan cium.

Baik Liora maupun Lionel itu tidak sadar kalau Meilissa terpaku di tempatnya dengan perasaan membuncah.

Lionel bisa menyayanginya?

Meilissa menunduk, menyembunyikan merah yang semburat di pipinya.

Kalimat itu berhasil menyentuh relung hatinya yang terdalam, mengisinya dengan sebuah kehangatan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Sedangkan Lionel?

Saat melihat rona merah di pipi Meilissa, ada desiran aneh yang muncul, namun cepat-cepat dia tepis.

"O'ya. Sepertinya kamu tidak membawa kendaraan. Bagaimana caramu pulang?" tanya Lionel, mencoba mengendalikan perasaannya sendiri.

Seperti diingatkan, Meilissa melirik jam dinding. "Saya pulang sekarang saja. Sebentar lagi, bis terakhir lewat."

Lionel mengangguk kecil, lalu bangkit dari duduknya. “Ayo, aku..., ehm…”

Meilissa dan Liora menatapnya hampir bersamaan, menunggu kelanjutan kata-kata lelaki tampan berusia empat puluh tahun itu. 

Lionel merangkul bahu Liora. “Ayo, Liora. Ikut Papa. Kita antar Mei.”

"Tidak mau!" Liora menarik tangannya lalu bersedekap, berpose ala anak kecil keras kepala.

Lionel mengerutkan kening. "Liora,... -"

"Eh, tidak usah, Om. Aku bisa sendiri," potong Meilissa sungkan. Ini sudah malam, pasti Liora lelah dan malas keluar rumah.

"Aku maunya Mei menginap disini, Papa. Jadi, kita tidak perlu mengantarnya," pinta Liora, seperti biasa merengek manja.

Lionel menghela napas. "Sepertinya Papa terlalu memanjakan kamu," keluhnya serba salah. 

Pandangannya beralih ke Meilissa — yang tampak kikuk dan sungkan.

"Mei, kamu tidak mau menemani aku malam ini? Jahat sekali! Aku masih ingin bersamamu,” rengek Liora bersikeras, apa yang dia ingin harus didapat. 

“Eh, bukan gitu. Tapi…” Meilissa bingung harus memberi alasan apa. Tuan rumah berkata akan mengantar pulang, apa etis dia tetap tinggal?

"Pokoknya, kamu harus menginap!" Liora kumat keras kepalanya. Dia bahkan memeluk lengan Meilissa erat, tidak mengijinkan pergi.

Lionel menatap Liora lebih lama, tangannya mengusap dagunya sendiri. Hatinya terbelah antara gemas pada keras kepala Liora dan tidak tega menolak permintaan puteri tersayangnya.

“Liora,” ucapnya tenang tapi tegas, “Papa tidak ingin kamu memaksa Mei. Tapi…” Lionel mengalihkan pandangan kepada Meilissa, “Liora benar. Sebaiknya kamu menginap. Sudah terlalu malam untuk pulang. Kami senang sekali dengan kehadiranmu.”

Meilissa membuka mulut, ingin menolak. Tapi, yang keluar dari mulutnya ternyata berbeda. Tidak bisa dipungkiri rumah ini membuatnya nyaman.

“Aku…, ehm, kalau Om mengijinkan…,” Meilissa membalas tatapan Lionel malu-malu, “baiklah, Om. Aku menginap.”

“Nah, itu baru temanku,” sorak Liora, menggamit tangan Meilissa dan menarik temannya itu ke kamarnya.

"Kami duluan, Om," pamit Meilissa, berjalan sambil menoleh ke belakang.

“Bye, Girls. Tidur yang nyenyak.” Lionel melambaikan tangan, kedua sudut bibirnya terangkat secara otomatis. Dan, lagi-lagi, tatapan matanya tertuju pada punggung ramping milik Meilissa.

Di kamar Liora, Meilissa menggelengkan kepala melihat kelakuan Liora yang kekanak-kanakan. Padahal Liora yang memaksa supaya dirinya menginap. Dia bilang ingin ngobrol.

Tapi, kenyataannya?

Begitu selesai berganti pakaian, Liora langsung melempar tubuhnya ke tempat tidur. Hanya dalam hitungan detik, suara dengkuran halus sudah terdengar. Menghela napas, Meilissa memandangi wajah Liora yang masih penuh riasan.

“Dasar anak manja. Untung kamu teman terbaikku,” gumamnya sambil tersenyum.

Meilissa lalu mengambil kapas dan pembersih riasan dari meja rias Liora, lalu dengan sangat hati-hati membersihkan wajah Liora. Dia memperlakukan Liora begitu lembut seperti seorang kakak yang sedang menjaga adiknya. Sesekali dia menyingkirkan poni Liora yang menutupi dahi, agar lebih leluasa mengusap bekas maskara dan bedak.

“Nah, begini kan bersih,” bisik Meilissa, puas pada hasil tangannya sendiri.

Tiba-tiba, suara getar ponsel memecah keheningan malam. Khawatir membangunkan Liora, Meilissa buru-buru meraih ponselnya dari atas nakas.

Layarnya menyala, menampilkan satu nama yang membuat dadanya langsung menegang.

Mama.

Firasat buruk langsung melingkupinya.

“Berapa yang akan Mama minta kali ini?” keluh Meilissa, kesal bercampur sedih. Selama ini Miranda, Mama yang sudah melahirkan dia, tidak pernah menelepon selain masalah uang.

Meilissa memejamkan mata, mengingat-ingat jumlah saldo terakhir di rekening dan uang tunai yang tersisa di dompet sembari mengumpulkan keberanian untuk mengangkat telepon.

Telepon berhenti sebentar, hanya untuk kembali bergetar. Meilissa melirik Liora yang masih tidur pulas. Tidak ingin mengganggu temanya, Meilissa memutuskan keluar kamar dengan berjingkat-jingkat.

Dia membiarkan telepon mati dan menyala, sementara langkah-langkah kakinya tanpa suara menyusuri koridor, kemudian masuk ke dapur, bertepatan dengan telepon yang kembali menyala.

Meilissa menatap layar ponsel dengan perasaan sesak, lalu jarinya sedikit bergetar saat menggeser tombol hijau.

“Lama sekali sih?! Cepat transfer satu juta ke rekeningku! Sekarang!” Suara Miranda langsung terdengar, bahkan sebelum Meilissa sempat mengucapkan apa pun. Nadanya kasar dan tinggi.

Meilissa refleks menjauhkan ponsel dari telinga, lalu menghembuskan napas kasar sebelum kembali menempelkan ponsel di telinga.

“Hallo?” sapa Meilissa akhirnya. Dia berbicara sepelan mungkin karena hari sudah malam. Suara-suara biasanya terdengar nyaring ditengah sunyinya malam.

“Apa kamu tuli, hah? Tadi kamu tidak mendengarku? Kirimkan uangnya sekarang!” hardik Miranda, membuat telinga Meilissa terasa pekak.

Suara Miranda keras sekali hingga Meilissa tidak perlu menyalakan speaker untuk mendengarnya. “Satu juta, Mel! Mengerti!?”

“Aku tidak punya uang sebanyak itu, Mama,” jawab Meilissa getir. Uang hasil kerja partime-nya sudah hampir habis, dan tanggal gajian masih dua minggu lagi.

“Bohong! Aku tahu kamu masih ada uang di rekening. Aku tidak mau tahu, kirimkan sekarang! Aku butuh uang itu.”

Meilissa memejamkan mata, menahan diri supaya tidak berkata kasar pada Miranda. Dadanya terasa sakit saat menarik napas dan menghembuskannya.

“Mama, uangnya sudah aku pakai untuk membayar biaya hidup kita sehari-hari. Aku… –”

“Mama bilang transfer sekarang! Atau, Mama akan ke rumah temanmu. Si Liora itu. Dia anak orang kaya, pasti bisa meminjamkan uang barang satu juta saja.”

“Mama, jangan ganggu temanku!” seru Meilssa panik, sesaat dia lupa kalau Miranda tidak tahu rumah Liora.

“Kalau begitu, transfer sekarang! Aku tunggu, atau kamu akan menyesal.”

Telepon dimatikan sepihak oleh Miranda. Bahu Meilissa luruh bagai tak bertulang. Air matanya mengalir tanpa permisi.

Tengah malam begini, alih-alih menanyakan keberadaannya, Miranda malah menerornya dengan perintah transfer uang.

Dengan berat hati, Meilissa mengirimkan uang satu juta terakhir yang ada di rekeningnya ke rekening Miranda. Setelah itu dia mengirimkan bukti transfer, berikut dengan hasil tangkap layar yang menampakkan sisa saldo di rekeningnya hanya ada angka nol koma sekian.

“Sudah aku kirim uangnya, Mama. Bulan ini, tidak ada lagi dana tersisa untuk kita,” ketik Meilissa dengan raut muram, sengaja berbohong pada Miranda. Harapannya, bulan ini Miranda berhenti minta uang.

Sebenarnya dia masih menyimpan sedikit uang tunai, yang sengaja diselipkan ke berbagai tempat supaya tidak diambil oleh Miranda.

Pesan terkirim. Meilissa menatap tanda centang yang dengan cepat berubah biru. Tapi, hanya sampai di situ. Tidak ada balasan, apalagi ucapan terima kasih.

“Kalau urusan uang, cepat sekali membacanya,” sinis Meilissa, sudah tidak mampu lagi berpikir positif soal Miranda.

“Mei, kamu tidak tidur?”

Suara Lionel mengagetkan Meilissa. Dia berbalik badan dan melihat Lionel berdiri di ambang pintu dengan piyama tidur berwarna biru tua. Lelaki itu melangkah mendekat dengan ekspresi yang tidak terbaca.

“Eh, Om Lionel?” sapanya, tersenyum kikuk, “Om belum tidur?”

“Aku haus.” Lionel sengaja beralasan. Dia berjalan ke lemari penyimpanan dan mengambil dua buah gelas, lalu mengisinya dengan air.

Meilissa mengikuti Lionel dengan pandangan matanya.

“Minum?” Lionel memberikan salah satu gelasnya kepada Meilissa.

“Terima kasih, Om.”

“Kamu sepertinya sedang ada masalah,” pancing Lionel. Dia mengamati wajah Meilissa dengan seksama karena sebenarnya dia mendengar pembicaraan Meilissa dengan Miranda di telepon tadi.

Meilissa menatap ke gelas di tangannya, matanya terasa panas. “Ada sedikit, Om. Tapi, sudah beres.”

“Ada beberapa masalah yang hanya bisa diselesaikan dengan bantuan orang dewasa…,” Lionel berhenti sejenak, menunggu reaksi Meilissa.

Meilissa mendongak, menatap Lionel dengan sepasang matanya yang sayu.

Lionel tersenyum tulus. “Kalau butuh bantuan, katakan saja. Aku tidak tega melihat gadis seusia puteriku memikirkan masalah orang dewasa.”

Meilissa mengerjapkan mata sambil menatap Lionel.

Ada banyak hal yang ingin dia curahkan. Tentang cinta yang tidak pernah dia dapat dari orang tua. Soal tekanan ekonomi yang dibebankan ke bahunya. Dan juga, perasaan lelah dan khawatir akan masa depannya.

Bibirnya terbuka hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 83 - Lionelku

    Meilissa tertegun. Ucapan Liora seperti mengingatkannya pada hubungan rahasia antara dirinya dan Lionel.Sejak kapan caranya bersikap pada Liora perlahan berubah—lebih menyerupai seorang ibu daripada seorang sahabat?Mendapati Meilissa diam saja, kening Liora berkerut.“Mei? Kamu kenapa?” tanyanya sambil menggoyangkan telapak tangan di depan wajah Meilissa.Liora tidak menyadari bahwa ucapannya barusan tanpa sengaja menyentil perasaan sahabatnya. Seperti biasa, dia ceplas-ceplos tanpa banyak pikir.“Eh, tidak. Aku tidak apa-apa," Meilissa tertawa pelan, "Tiba-tiba aku kepikiran tentang masa depan kita setelah ini."Liora mengerucutkan bibir tanpa berkomentar apa-apa. Maka, Meilissa melanjutkan ucapannya, "Apa rencanamu? Apa kamu akan bekerja di klinik Om Lionel? Atau buka apotek sendiri?”Liora langsung melingkarkan lengannya ke lengan Meilissa, menautkan tubuh mereka seperti biasa."Kalau kamu sendiri gimana, Mei?” tanyanya balik. Sebenarnya, Liora belum punya rencana pasti setelah

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 82

    “Ada deh.” Liora mengedipkan mata sambil tertawa cekikikan—jelas-jelas menikmati rasa penasaran Meilissa.Gemasl, Meilissa memutar bola matanya. “Dasar Liora. Kamu...—”Belum sempat kalimat itu selesai, Liora sudah bergerak lebih dulu. Dengan lincah, dia menepuk bahu seorang laki-laki muda yang berdiri tak jauh dari mereka, lalu memberikan ponselnya.“Hey, Kak. Tolong fotokan kami, dong,” pintanya sambil memasang ekspresi memelas yang dibuat-buat. Tanpa menunggu persetujuan, Liora meraih tangan pemuda itu dan langsung meletakkan ponselnya diatas telapak tangan pemuda tampan itu. Laki-laki itu tertawa pelan. Satu tangannya menerima ponsel, sedang tangan satunya mengusap kepala Liora pelan.Diam-diam Meilissa memperhatikan interaksi keduanya dalam diam. Cara pemuda itu mengusap kepala terlihat terlalu akrab untuk disebut teman biasa. Meilissa jadi ingat saat Lionel mengusap kepalanya. "Ayo, Mei!" Liora merangkul lengan Meilissa, menariknya sedikit lebih dekat untuk berpose. “Senyum, M

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 81 - Aw! Aw! Hey!

    Otak Meilissa masih berusaha mencerna arti kalimat Lionel, ketika lelaki itu melangkah pergi dan kembali ke sofa yang tadi dia duduki.Menghembuskan napas panjang, Lionel itu mengeluarkan ponselnya lalu menekan beberapa tombol. Wajahnya seketika berubah serius. Lionel masuk dalam mode kerja.Meilissa berdiri kaku memandang Lionel. Kakinya terasa seperti kehilangan tenaga. Dia berusaha keras untuk tetap berdiri tegak saat pramuniaga kembali menghampiri dan bertanya, "Apakah Nona ingin mencoba model lain?” "Tidak. Yang ini saja." Meilissa menggelengkan kepala. Ketegangan dalam dirinya belum sepenuhnya reda.Beberapa menit selanjutnya, Lionel menyelesaikan pembayaran. Pramuniaga mengucapkan terima kasih, sementara Meilissa hanya mengangguk sopan.Tidak lama, mereka meninggalkan butik dan pergi ke klinik untuk bekerja.Di dalam mobil, suasana terasa lebih hening dari biasanya. Lionel fokus menyetir, sementara Meilissa duduk di kursi penumpang dengan punggung bersandar, menatap lurus ke

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 80 - Leher Jenjang Nan Mulus

    Di saat Lionel terperangkap dalam bayangan Meilissa dan gaun pengantinnya, gadis yang ada di dalam imajinasinya justru sedang memikirkan hal lain.Meilissa masih kepikiran soal Liora yang pergi begitu saja tanpa benar-benar memilih gaunnya.Firasat aneh itu kembali menyelusup di dalam hati Meilissa. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya, tapi tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.Sayangnya, sebelum pikiran tentang Liora menemukan penjelasan nyata, suara pramuniaga itu sudah lebih dulu menyela.“Permisi, Nona Meilissa. Anda ingin mencoba yang mana?"Meilissa tersentak dari lamunannya. Sesaat tadi, dia benar-benar lupa kalau ada seorang wanita cantik sedang menunggu keputusan darinya dengan senyum profesional yang tak pernah luntur."Yang ini saja," putus Meilissa kemudian.Dia menunjuk salah satu gaun selutut dengan potongan A-line yang tergantung di ujung rak. Model pilihan Meilissa tidak jauh berbeda dari gaun Liora. Memang rencananya mereka akan seragaman saat wisuda nanti. Mungk

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 79 - Gaun Pernikahan

    Entah faktor mana yang lebih dominan—kabar kelulusan Liora atau iming-iming liburan dari Lionel. Yang jelas, sejak malam itu Meilissa bekerja dua kali lipat lebih keras dari biasanya. Tenaganya seolah tidak pernah habis.Ada semacam dorongan dalam dirinya untuk menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan sempurna. Tugas akhir selesai dan ujian berhasil dilalui Meilissa dengan hasil yang baik.Hari kelulusan kian dekat. Nama Liora diumumkan sebagai perwakilan lulusan termuda dengan prestasi terbaik. Sebuah pencapaian yang pantas dia dapatkan setelah perjuangannya selama ini.Hal itu sama sekali tidak menimbulkan rasa iri di hati Meilissa, sebaliknya, Meilissa justru ikut dalam kesibukan membantu Liora mempersiapkan pidato kelulusan.Seharian mereka mengurung diri di kamar. Meilissa duduk bersila di atas karpet dengan laptop di pangkuannya, sementara Liora berdiri di depan cermin membaca kalimat-kalimat yang baru saja mereka susun.Mereka memilih kata-kata yang sederhana, tapi mengena. Kali

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 78 - Tidur Bersamamu

    Bulu-bulu halus di lengan Meilissa meremang. Bukan karena udara dingin tengah malam, melainkan karena nada suara Lionel yang terdengar menggoda.Ucapan Lionel membuat pikiran Meilissa berkelana ke arah yang tidak seharusnya. Gugup, Meilissa menunduk dalam-dalam, tidak berani membalas tatapan mata Lionel yang terasa menelanjangi dirinya.“Lihat aku,” perintah Lionel lembut, tapi selalu berhasil membuat jantung Meilissa berdebar lebih cepat.Pelan-pelan sekali, Meilissa mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Lionel. Tatapan itu hangat dan teduh.“Apa yang kamu takutkan?” Lionel tersenyum menenangkan. “Apa kamu keberatan? Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, katakan saja. Jangan kamu simpan sendiri."“Hm…."Meilissa terdiam cukup lama. Jemarinya saling bertaut di pangkuan. Ada satu nama yang terus berputar di kepalanya sejak tadi. Satu sosok yang entah kenapa sama sekali tidak disebut Lionel dalam rencana mereka, padahal orang itu penting bagi mereka.Setelah mengumpulkan keber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status