LOGINSuara benturan pintu ganda yang mengunci rapat dari dalam menggema berat di sepanjang koridor lantai dua mansion keluarga Tawfeeq. Arham mematung di tengah ruangan kamar utama yang luas, membiarkan napasnya memburu tidak beraturan menghantam udara dingin. Pria tegap berusia empat puluh tahun itu menyandarkan punggungnya perlahan pada daun pintu kayu yang kokoh.Jemarinya yang terbalut perban putih mengepal erat hingga luka di tangannya kembali berdenyut perih mengeluarkan tetesan darah segar. Ia menutup kedua matanya rapat-rapat, mencoba menghalau sisa-sisa aroma parfum menyengat yang masih menempel di sekitar hidungnya. Bau itu terasa begitu busuk dan memuakkan, mengotori indra penciumannya yang selama berbulan-bulan terbiasa dengan wangi yang sama sekali berbeda.Arham mengangkat tangan kirinya yang bebas, menempelkan telapak tangan itu tepat di atas dadanya sendiri. Jantungnya bergemuruh hebat bukan karena sisa-sisa gairah atau ketegangan dari pertarungan barusan, melainkan kare
Sentakan keras dari lengan tegap Arham melempar tubuh Gina ke udara sebelum akhirnya terhempas kasar ke atas lantai marmar yang dingin. Gaun tidur merah super tipis bercorak renda hitam yang melilit tubuhnya tersingkap tinggi, memperlihatkan paha dan pinggulnya yang terbuka tanpa perlindungan. Suara benturan tubuhnya dengan lantai keras bergaung nyaring di dalam kamar utama yang temaram.Gina mengaduh kesakitan seraya memegangi siku kakinya yang memar menghantam marmar. Wajahnya yang terpoles bedak tebal berubah pucat pasi, menatap tidak percaya pada sosok Arham yang berdiri mengangkang tepat di hadapannya. Pria itu menundukkan kepala, memancarkan pancaran kebencian yang teramat pekat dari sepasang matanya yang memerah."Keluar dari kamarku!" bentak Arham dengan suara bariton yang begitu menggelegar hingga membuat kaca-kaca jendela kamar bergetar hebat.Arham memajukan langkah tegapnya satu tindak, menunjuk muka Gina dengan jari telunjuk kirinya yang gemetaran menahan amarah. "Jan
Gelombang rasa mual yang luar biasa hebat seketika membakar isi perut Arham. Sentuhan kulit Gina yang dilapisi losion tebal serta serbuan bau parfum menyengat itu tidak melahirkan gairah sedikit pun di dalam dadanya. Tubuhnya menolak secara spontan, memicu reaksi kebencian yang teramat sangat dari dalam lubuk hatinya.Arham memutar tubuhnya dengan sentakan kilat yang teramat kasar. Tangan kirinya yang bebas langsung menyambar pergelangan tangan Gina, mencengkeram tulang kecil itu dengan kekuatan cengkeraman yang sanggup meremukkan kayu keras."Aww! Sakit, Arham! Lepaskan!" pekik Gina melengking seraya berusaha menarik tangannya dari cengkeraman kencang pria itu.Garis-garis rahang Arham menegang kaku, sepasang matanya menyala merah dipenuhi kilatan amarah yang membakar. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap wanita bergaun tidur merah di hadapannya dengan tatapan paling dingin dan menjijikkan yang pernah ada."Siapa yang memberi kamu izin untuk masuk ke kamar ini dan menyentuh
Pintu tebal kamar mandi berbahan kaca buram itu terdorong pelan dari dalam, mengeluarkan uap hangat yang membumbung tipis ke udara kamar. Arham melangkah keluar dengan tubuh basah kuyup, membiarkan sisa-sisa tetesan air mengalir dari dada bidang berototnya menuju ke perut yang terpahat rata. Pria tegap berusia empat puluh tahun itu hanya melilitkan selembar handuk putih tebal di pinggangnya, sementara tangan kirinya sibuk mengusap rambut hitamnya yang basah menggunakan handuk kecil.Tangan kanannya yang terbalut perban putih masih membeku di samping tubuh, terasa berdenyut perih tersiram uap panas. Arham berjalan gontai mendekati meja vas bunga di dekat jendela besar, menarik napas panjang untuk menetralkan Pikirannya yang masih dipenuhi kekacauan usai kepergian Zara.Tiba-tiba, aroma parfum menyengat beraroma vanila manis yang sangat kuat menyergap indra penciumannya secara mendadak. Aroma itu terasa begitu asing dan menusuk hidung, berbanding terbalik dengan wangi lembut bunga me
Dentang nyaring piring porselen yang dihempaskan kasar ke atas meja kaca terdengar menggema di dalam kamar utama. Gina berdiri tegap di depan cermin rias yang menjulang tinggi, menatap pantulan dirinya sendiri dengan sepasang mata yang berkilat penuh amarah. Perban tipis yang melekat di pipi kirinya bergerak-gerak seiring dengan helaan napasnya yang naik turun tak beraturan.Ia memandangi gaun tidur sutra merah menyala yang kini melekat di tubuhnya, lalu mengusap sisa-sisa bedak tebal di lehernya secara kasar. Semua kemewahan yang ada di dalam kamar ini seolah hanya menjadi pajangan bisu yang sengaja mengejek kekalahannya. Ibu Lusi terang-terangan memperlakukannya bagaikan patri plastik yang tak berguna, sementara Sean yang berusia tujuh tahun justru menjerit ketakutan tiap kali mendengar namanya dipanggil."Kalian semua pikir aku ini cuma barang pajangan yang bisa dibuang sesuka hati?!" desis Gina dengan suara tertahan yang sarat akan racun.Ia melangkah ke tepi ranjang besar ber
Salah seorang penjaga berseragam hitam melangkah maju satu tindak, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Maaf, Nyonya Gina. Tuan Arham memberi perintah tegas bahwa tidak ada yang boleh mengganggu Mas Sean pagi ini.""Apa kamu bilang?!" pekik Gina dengan mata melotot lebar, menunjuk dada penjaga itu dengan ujung telunjuknya. "Saya ini calon ibu tirinya! Saya mau melihat anak itu! Singkirkan badan kalian sekarang juga!""Perintah Tuan Arham sangat jelas, Nyonya," sahut penjaga itu dengan suara dingin tanpa keraguan sedikit pun. "Kami hanya menjalankan instruksi langsung dari pemilik rumah ini."Gina mengetakkan giginya kencang-kencang, matanya berkaca-kaca menahan rasa malu dan amarah yang nyaris meledakkan pikirannya. Tanpa memedulikan barikade dua penjaga itu, Gina memajukan tubuhnya dan memukul pintu kayu bercat biru itu menggunakan telapak tangannya kencang-kencang.Brak! Brak! Brak!"Sean! Buka pintunya!" jerit Gina dengan suara melengking yang menggema di sepanjang lor
Sean menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu yang diangkat tinggi-tinggi, menatap lurus ke arah Zara dengan sepasang mata yang berkilat menantang, menanti ledakan amarah yang ia harapkan akan keluar dari mulut wanita yang paling ia benci di dalam mansion ini. Bocah i
Sentuhan bibir Arham bergerak makin menuntut, membelenggu seluruh kesadaran Zara di dalam ruang kabin yang sempit dan remang. Pria matang itu tahu benar bagaimana cara mendominasi setiap jengkal pertahanan wanita melalui ritme ciuman yang sarat pengalaman hidup selama empat dekade. Zara merasakan
Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang
"Aku tidak ketakutan, Anton! Aku hanya sedang berpikir logis!" bentak Gina sembari menegakkan tubuhnya, menepis tangan Anton dari bahunya dengan kasar. Ia berdiri dari sofa, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu impor dengan langkah kaki yang menghentak-hentak gelisah. "Aku mencintaimu, kamu t







