로그인Seorang gadis yang tidak sengaja terjebak dengan pria tampan berdarah dingin. Pria itu bernama Kaelan, satu-satunya keturunan terakhir Wolfric yang sudah lama punah di dunia ini. “Lepas…lepaskan aku! Tolong, lepaskan! Aku tidak mau menikah denganmu.” Teriak gadis itu mencoba memberontak. Pria yang ada di hadapannya hanya menatapnya sambil menyeringai. “Diamlah! Sekarang kau milikku.”
더 보기“…you said she wouldn’t come.”
Lin Yue stopped.
“I did,” Zhao Ming replied.
His voice was calm and unbothered.
Another voice followed, soft, almost amused.
“You’re getting careless.”
Lin Yue’s chest tightened.
She knew that voice.
She knew it, but her mind refused to accept it.
She took another step forward.
The corridor was quiet. The door ahead wasn’t fully closed, just slightly open, a thin line of light cutting through the dim hallway.
“…it doesn’t matter,” Zhao Ming said. “She won’t make a scene.”
A quiet laugh followed.
“She never does.”
Lin Yue’s fingers curled slowly at her side.
Her heartbeat wasn’t just fast, it was heavy.
Each beat landed deeper than the last.
Her mind wasn’t racing.
It was resisting.
Refusing to connect what she was hearing to what it meant.
But her body kept moving closer and closer
Until she stood right in front of the door.
For a second she didn’t touch it.
Didn’t breathe.
Her hand hovered in the air, just inches away.
Then she pushed it open.
The world didn’t stop, It shifted.
Zhao Ming stood too close.
And in front of him was Lin Xue.
Neither of them moved immediately.
As if they didn’t expect her.
As if they thought she really wouldn’t come.
Lin Yue didn’t speak.
Didn’t react.
Didn’t even step back.
Her gaze moved slowly from Zhao Ming to Lin Xue then back again.
She was just looking, not for answers but for something, anything that would make this make sense.
There was none.
Lin Xue recovered first.
Of course she did.
She straightened slightly, smoothing down her clothes like nothing had happened, like this was just another moment she had already prepared for.
Then she smiled.
“Well,” she said softly, “this is awkward.”
Zhao Ming didn’t deny it.
Didn’t explain.
He just looked at Lin Yue.
There was something unreadable in his eyes.
It was not guilt, not panic, something colder.
Lin Yue finally spoke.
“…how long?”
Her voice was quiet.
Like if she spoke any louder something inside her would break.
No one answered.
The silence was uncomfortable but not for them.
Lin Xue tilted her head slightly. “Does it matter?”
That statement hit her.
Lin Yue’s fingers tightened slightly.
Her nails pressed into her palm.
Zhao Ming finally moved.
“Lin Yue,” he said, his tone lower now. “This isn’t the place.”
“The place?”
Lin Yue let out a soft breath, it was almost a laugh but it was not.
“Then where?” she asked.
Zhao Ming didn’t respond immediately.
And that was enough.
Lin Yue nodded slowly.
Something inside her settled, like she realized that it was their decision without her knowing.
She looked at Lin Xue again.
This time longer, she didn't look at her in an angry way, she looked at her with a face of disappointment.
Then she turned and walked out.
She didn't shout or cry immediately, she held her tears back.
After she left Lin Xue let out a small laugh.
“See?” she said lightly. “I told you.”
Zhao Ming didn’t respond.
Lin Yue didn’t stop walking even when her vision blurred slightly.
Not even when her vision blurred slightly.
But this time people noticed.
A staff member standing by the wall glanced at her.
Then quickly looked away.
Another paused mid-step.
Two guests whispered quietly as she passed.
The door she had walked through was still open.
The light from inside spilled into the hallway. It was too bright.
Lin Yue kept walking, her steps didn’t change. Her expression didn’t change.
But something was wrong.
By the time she reached the end of the hallway, her hands felt cold.
By the time she stepped into the elevator, she couldn’t feel them at all.
The doors closed and there was no one watching.
Her reflection stared back at her. It was calm and the same but her eyes were not.
The elevator moved down slowly.
Her phone vibrated.
She didn’t react immediately.
It vibrated again.
And again.
Finally, she looked down.
The message was still there.
From Zhao Ming.
“Come to the hotel. I have something for you.”
Lin Yue stared at it.
Her fingers tightened slowly around the phone.
Because now, she understood that message was never meant for her.
Malam itu Kaelan melangkah perlahan di bawah cahaya rembulan yang samar, mencoba menghindari setiap bunyi ranting atau dedaunan kering yang bisa membongkar keberadaannya. Di balik jendela kamar, istrinya tampak sedang berbicara dengan ibunya. “Huh, untung saja aku bergerak cepat.” Gumamnya pelan. Dia melesat mengitari rumah mertuanya hingga berhenti tepat di depan pintu. Dengan perlahan dia mengetuk pintu tersebut. Tok, tok, tok! Sementara itu di dalam Ayu dan ibunya menoleh saat mendengar ketukan pintu. “Bu, sepertinya itu Mas Kaelan.” Ucap Ayu. “Kamu sudah berbaikan dengan suamimu yu?” Tanya sang ibu. “Hmm, iya bu. Sebenarnya itu hanya kesalahpahaman.” Ujar Ayu beralasan. “Ya sudah, cepat bukakan pintu yu. Kasian suamimu.” Ucap sang ibu dengan lembut. Ayu bergegas menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Sesampainya di depan pintu, Ayu menarik napas panjang sebelum akhirnya memutar gagang pintu. Begitu pintu terbuka, Kaelan langsung menerobos masuk tanpa berkata sepatah k
Malam itu langit tampak gelap gulita, tidak ada bintang satupun menghiasi langit Jakarta. Kawlan tampak berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah kota besar. Setelah pertengkaran dengan Ayu di memutuskan menenangkan diri di Markas bangsa serigala. Di sisi lain Leo tampak sibuk dengan benda pipih yang baru di belikan Fors. “Kae, ini bagaimana menggunkannya?” Tanyanya. Pria tampan itu menghiraukan seruan sahabatnya, tatapannya kosong. “Kae…tolong lah! Aku tidak mengerti menggunakan benda canggih ini.” Gerutunya sambil mengangkat ponsel yang ada di tangannya. Kaelan berbalik, tatapannya tajam seolah Leo telah mengganggunya. “Kau sangat berisik! Aku pergi,” katanya yang langsung nyelonong begitu saja. “Kau mau kemana kae?” Teriaknya lalu kembali fokus pada benda yang di pegangnya. Dia terus menggerutu sambil menatap layar ponselnya. Matanya terpaku pada beberapa ikon warna-warni yang bergerak di layar, merasa sedikit kebingungan dan frustrasi. Dengan ragu-ragu, ia me
"Jadi, maksudmu aku harus meninggalkan hutan dan hidup di antara manusia seperti yang kau lakukan?" Leo menatap Kaelan dengan sorot penuh keraguan. "Aku tidak sekuat itu, Kaelan. Menyaksikan bangsa kita dibantai, lalu hidup berdampingan dengan para pembunuh itu... bukan hal yang mudah." Kaelan mengangguk pelan, memahami keraguan sahabatnya. "Aku tahu, Leo. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Dunia ini telah berubah, dan kita harus menyesuaikan diri atau punah. Aku tidak bisa membiarkan kenangan masa lalu menjadi penghalang. Kita butuh keturunan yang kuat untuk melanjutkan garis keturunan bangsa serigala." Leo terdiam tampak berpikir dejenak sebelum kembali berargumen. "Bagaimana jika mereka tahu kita masih hidup, Kaelan? Jika manusia tahu keberadaan kita… apa yang akan terjadi?" Kaelan menarik napas dalam-dalam, lalu menatap sahabatnya dengan tegas. "Itu risiko yang harus kita ambil. Kita tidak bisa bersembunyi selamanya. Selama kita bisa beradaptasi, tidak ada yang perlu kita
Malam itu Kaelan duduk di ruang keluarga sambil membaca laporan pekerjaan di laptopnya. Sedangkan Ayu di sebelahnya sambil mengelus perutnya yang masih rata. “Mas…” panggil Ayu pelan. Kaelan menoleh, memasang senyum lembut. "Ada apa, Sayang?" Ayu menatapnya dengan wajah polos tapi penuh harap. "Aku kayaknya lagi pengen sesuatu." Kaelan mengangkat alis, lalu menyimpan laptopnya. “Pengen apa? Bilang saja, biar aku carikan.” Ayu menggigit bibirnya menunduk sedikit malu. "Aku pengen makan mangga muda, Mas... yang asam, terus dicocol sama sambal rujak yang pedesnya." Kaelan menahan tawa kecil mengingat kejadian saat ia mencoba sambal ijo untuk pertama kalinya.“Mangga muda ya? Hmm, sebentar aku coba lihat dulu di kulkas. Kalau nggak ada aku akan cari di luar.” Ayu tersenyum lebar, matanya berbinar penuh harapan. “Serius, Mas? Terima kasih ya!” Kaelan mengangguk lalu beranjak menuju dapur untuk memeriksa kulkas. Namun, setelah membuka pintu kulkas dan memeriksa isinya, ia hanya mend
Kaelan kembali membawa piring dengan sepotong roti panggang berisi telur ceplok dan sayuran segar, memang terlihat biasa, tapi setidaknya bisa mengenyangkan istrinya. Ia tersenyum kecil, sedikit merasa bersalah."Maaf ya, sayang. Mungkin ini lebih cocok untukmu," katanya sambil meletakkan piring itu
Pagi itu suasana rumah terasa berbeda. Ayu sibuk berkemas, memeriksa satu per satu barang yang akan dibawanya ke Jakarta. Hari ini ia akan ikut bersama suaminya, meninggalkan rumah orang tuanya untuk beberapa waktu.Ratna berdiri di ambang pintu kamar Ayu, memperhatikan putrinya dengan tatapan sedih.
“Aaaaaaa!” Ayu terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal. Keringat dingin membasahi dahinya, sementara jantungnya berdegup kencang. Tangannya gemetar saat ia mencoba mengatur napas. Kamar yang gelap terasa mencekam setelah mimpi buruk yang baru saja menghantuinya."Ayu, ada apa?" Kaelan l
Ayu menatap Kaelan dengan pandangan kosong, kata-kata yang baru saja diucapkan lelaki itu berputar-putar dalam pikirannya. Dia terdiam, tak tahu harus merespons apa. Di balik sinar matahari sore yang menerobos masuk melalui jendela, wajah Kaelan tampak tegang, penuh dengan beban yang tak terlihat s
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰