Mag-log inSeorang gadis yang tidak sengaja terjebak dengan pria tampan berdarah dingin. Pria itu bernama Kaelan, satu-satunya keturunan terakhir Wolfric yang sudah lama punah di dunia ini. “Lepas…lepaskan aku! Tolong, lepaskan! Aku tidak mau menikah denganmu.” Teriak gadis itu mencoba memberontak. Pria yang ada di hadapannya hanya menatapnya sambil menyeringai. “Diamlah! Sekarang kau milikku.”
view moreBRITTANY’S POV
“Get out of bed, Brittany!” Margie yelled before grabbing my legs and pulling me out of bed. I hit the floor with a thud, my head banging against the floor of my room.
“Ouch!” I cried out, clutching my head as I felt my head sting with so much pain, I could have sworn I saw stars in front of my eyes.
I forced myself to my feet and glared daggers at Margaret.
“What the hell was that for?”
She glared back, and snickered at me.
“You promised to come with me to the club today. And I come and find you in bed? You bitch!” She scoffed.
She moved to my wardrobe and threw them open as she started to rummage my clothes.
“Go take a shower, I'll pick a dress for you. Hurry up! Or I'm coming in there and I'll drag you out.” She stated in a threatening tone.
Groaning, I dragged myself to the bathroom. There was no need arguing with Margie when she got like this.
She had been trying to get me to go to the club with her for months ever since she got a new job and moved to Los Angeles.
I had moved too because well, I had nothing waiting for me back at New York and my aunt was more than glad to see me leave.
Margie and I have been roommates ever since. Though we could never be more different. She was wild, a party animal and popular with the guys and I was just well, Brittany.
I quickly showered and stepped out of the bathroom in my towel.
I took one look at the dress Margie had laid out for me and her mischievous smile and froze.
“There's no way in hell I'm wearing that! My mother would roll in her grave if I did.”
I suspected the dress would barely skim my thighs, and it looked too revealing even though I was yet to put it on.
“Oh come on, it's a club. Just try it on.”
Reluctantly, I went to my wardrobe and got my underwear and quickly slipped into them before reaching for the dress.
“No way, Margie!”
The dress was too short. It showed too much of my boobs and it covered little. My thighs and laps were on full display and the dress didn't even have a hand.
She took one look at me and giggled excitedly, clapping her hands like a three year old.
“You're definitely going to get laid in that. You look perfect! Let's go!” She urged.
I eyed her own outfit, and I realized I was probably more decently dressed than she was.
Arguing with her was pointless as usual. I grabbed one of her bags and stuffed my things into it and allowed her to drag me out to her car.
~~~~
Margie was nowhere to be found. She had abandoned me at the bar the moment we got here and I had no idea where she went.
She was probably getting slammed in one of the bathrooms. So like, Margie.
Reluctantly, I ordered a drink. I had no experience with alcohol and I was feeling a bit daring and decided to ask for something strong.
After the second shot, I was feeling lightheaded and my head was buzzing with excitement.
The loud club music was suddenly louder, and I could hear people shouting.
Liking how the alcohol made me feel, I ordered another shot and when the bartender poured me one, I moved to the dance floor, the glass in my hand.
There were so many people, all gyrating against each other's bodies, their movements in sync with the beat blasting from the speakers.
It was a madhouse and I suddenly found myself in the middle of the chaos and I was digging it.
I was just one girl, in the middle of it all, lost in my own world as I moved my hips to the beat of the song, occasionally sipping the drink in my hand.
I turned at a point and bumped into a wall. I stared up into the most intense eyes I had ever seen.
I tried to move away but something held me in place. There was something about him, something so strong and potent, just the sight of him had me transfixed to the spot.
I watched as he closed the distance between us, his hands slipped around my waist just as a slow song came on.
He spinned me and the glass fell from my hand shattering to the ground but I barely noticed.
My hands went round his neck as we swayed to the beat of the music, our gazes locked.
There was something about the way he looked at me that made my blood heat up in minutes.
His hands moved slowly downwards until they were on my ass.
I gasped when he squeezed my ass softly, I looked up at him in alarm and I was embarrassed when I felt moisture gathering in my core.
What the hell was happening?
I was sexy dancing with a stranger in a club!
What if he was a serial killer? Or a Mafia King?
He moved even closer to me, and I could suddenly smell him, feel his breath on my neck.
My senses shut down for several seconds and before I could stop anything, he was kissing me.
He pinned me against him, giving me no room to struggle as his lips ravaged mine.
I clung to him, grabbing the front of his shirt in a tight grip, as I returned his kiss as much as I could.
God, the man could kiss! I moaned into his mouth as I pressed my body closer and closer, wanting to feel him so badly.
I felt his hardness against me and I yelped in surprise and pulled away from him, breathing hard.
But his hands didn't leave my waist.
His dark eyes held mine as he lowered his head and whispered in my ear, “Let's get out of here.”
Malam itu Kaelan melangkah perlahan di bawah cahaya rembulan yang samar, mencoba menghindari setiap bunyi ranting atau dedaunan kering yang bisa membongkar keberadaannya. Di balik jendela kamar, istrinya tampak sedang berbicara dengan ibunya. “Huh, untung saja aku bergerak cepat.” Gumamnya pelan. Dia melesat mengitari rumah mertuanya hingga berhenti tepat di depan pintu. Dengan perlahan dia mengetuk pintu tersebut. Tok, tok, tok! Sementara itu di dalam Ayu dan ibunya menoleh saat mendengar ketukan pintu. “Bu, sepertinya itu Mas Kaelan.” Ucap Ayu. “Kamu sudah berbaikan dengan suamimu yu?” Tanya sang ibu. “Hmm, iya bu. Sebenarnya itu hanya kesalahpahaman.” Ujar Ayu beralasan. “Ya sudah, cepat bukakan pintu yu. Kasian suamimu.” Ucap sang ibu dengan lembut. Ayu bergegas menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Sesampainya di depan pintu, Ayu menarik napas panjang sebelum akhirnya memutar gagang pintu. Begitu pintu terbuka, Kaelan langsung menerobos masuk tanpa berkata sepatah k
Malam itu langit tampak gelap gulita, tidak ada bintang satupun menghiasi langit Jakarta. Kawlan tampak berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah kota besar. Setelah pertengkaran dengan Ayu di memutuskan menenangkan diri di Markas bangsa serigala. Di sisi lain Leo tampak sibuk dengan benda pipih yang baru di belikan Fors. “Kae, ini bagaimana menggunkannya?” Tanyanya. Pria tampan itu menghiraukan seruan sahabatnya, tatapannya kosong. “Kae…tolong lah! Aku tidak mengerti menggunakan benda canggih ini.” Gerutunya sambil mengangkat ponsel yang ada di tangannya. Kaelan berbalik, tatapannya tajam seolah Leo telah mengganggunya. “Kau sangat berisik! Aku pergi,” katanya yang langsung nyelonong begitu saja. “Kau mau kemana kae?” Teriaknya lalu kembali fokus pada benda yang di pegangnya. Dia terus menggerutu sambil menatap layar ponselnya. Matanya terpaku pada beberapa ikon warna-warni yang bergerak di layar, merasa sedikit kebingungan dan frustrasi. Dengan ragu-ragu, ia me
"Jadi, maksudmu aku harus meninggalkan hutan dan hidup di antara manusia seperti yang kau lakukan?" Leo menatap Kaelan dengan sorot penuh keraguan. "Aku tidak sekuat itu, Kaelan. Menyaksikan bangsa kita dibantai, lalu hidup berdampingan dengan para pembunuh itu... bukan hal yang mudah." Kaelan mengangguk pelan, memahami keraguan sahabatnya. "Aku tahu, Leo. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Dunia ini telah berubah, dan kita harus menyesuaikan diri atau punah. Aku tidak bisa membiarkan kenangan masa lalu menjadi penghalang. Kita butuh keturunan yang kuat untuk melanjutkan garis keturunan bangsa serigala." Leo terdiam tampak berpikir dejenak sebelum kembali berargumen. "Bagaimana jika mereka tahu kita masih hidup, Kaelan? Jika manusia tahu keberadaan kita… apa yang akan terjadi?" Kaelan menarik napas dalam-dalam, lalu menatap sahabatnya dengan tegas. "Itu risiko yang harus kita ambil. Kita tidak bisa bersembunyi selamanya. Selama kita bisa beradaptasi, tidak ada yang perlu kita
Malam itu Kaelan duduk di ruang keluarga sambil membaca laporan pekerjaan di laptopnya. Sedangkan Ayu di sebelahnya sambil mengelus perutnya yang masih rata. “Mas…” panggil Ayu pelan. Kaelan menoleh, memasang senyum lembut. "Ada apa, Sayang?" Ayu menatapnya dengan wajah polos tapi penuh harap. "Aku kayaknya lagi pengen sesuatu." Kaelan mengangkat alis, lalu menyimpan laptopnya. “Pengen apa? Bilang saja, biar aku carikan.” Ayu menggigit bibirnya menunduk sedikit malu. "Aku pengen makan mangga muda, Mas... yang asam, terus dicocol sama sambal rujak yang pedesnya." Kaelan menahan tawa kecil mengingat kejadian saat ia mencoba sambal ijo untuk pertama kalinya.“Mangga muda ya? Hmm, sebentar aku coba lihat dulu di kulkas. Kalau nggak ada aku akan cari di luar.” Ayu tersenyum lebar, matanya berbinar penuh harapan. “Serius, Mas? Terima kasih ya!” Kaelan mengangguk lalu beranjak menuju dapur untuk memeriksa kulkas. Namun, setelah membuka pintu kulkas dan memeriksa isinya, ia hanya mend
Ayu terdiam, terpaku dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Kaelan. Sebelum sempat menjawab, Kaelan sudah melangkah mendekat. Tanpa bicara lagi, dia menarik Ayu ke dalam dekapannya. “Apa yang kau lakukan?” Tanya Ayu. “Sttt…diamlah!” Jawabnya. Wush! Dalam sekejap, Ayu merasakan tubuh m
Matahari sudah mulai meninggi, sinarnya yang hangat mulai menyinari halaman rumah sederhana itu. Di dapur Ayu sibuk membantu ibunya menyiapkan sarapan. Aroma nasi goreng dan telur yang digoreng memenuhi udara. Ayu mengambil piring-piring dari rak, menyerahkannya pada ibunya yang tengah membalik telu
Wush…Kaelan melesat cepat menuju dalam hutan Halimun yang gelap. Tubuhnya yang kekar melintasi pepohonan dengan liar, setiap langkahnya tak bersuara di bawah bayang-bayang malam. Cahaya rembulan samar-samar menembus celah-celah dedaunan, menyoroti bulu Abu-abu muda yang menutupi tubuhnya. Angin ding
Seperti pasangan pengantin pada umumnya, Kaelan mengajak Ayu menuju kamar. Perlahan dia mengangkat Ayu dalam gendongannya, mengayunkan langkah menuju kamar sederhana berdinding anyaman bambu. Senyum kecil terulas di wajah Kaelan saat ia menatap Ayu, gadis yang baru saja resmi menjadi istrinya. Namu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu