เข้าสู่ระบบAnnelise terdiam dengan mata membelalak.
Ia ingat momen ini dan pernah melewatinya. Ia bahkan ingat riasan rambut dan pakaian yang ia gunakan hari itu.
Itu adalah hari di mana mereka harus menemui sang ratu di istana untuk meminta restu dan izin melangsungkan pernikahan.
Anne adalah putri seorang Baron, sementara pria yang akan dinikahinya adalah seorang Marquess yang menguasai seluruh perbatasan Valerian, Victor Langley, yang merupakan suaminya.
Tapi, kenapa Anne bangun di hari sebelum dia menikah dengan Victor?
Menyadari situasinya, Anne segera tahu bahwa ia … mengulang masa ini. Ia kembali ke masa sebelum ia akan menikahi suaminya.
“Di mana calon suamiku?” tanya Anne sedikit gemetar.
“Lord Langley?”
“Victor.”
Rose, sang pelayan, terkesiap. Sebelumnya tak pernah sekalipun ia mendengar Anne memanggil langsung nama calon suaminya secara gamblang.
Anne selalu memanggilnya dengan sebutan ‘Lord’ atau ‘Lord Langley’ sesuai nama belakang keluarga pria itu.
“L-Lord Langley … saya yakin sedang dalam perjalanan kemari, Nona. Tetapi, sepertinya baru akan tiba sore hari.”
Anne terkesiap. Jika ia menunggu Victor datang untuk menjemputnya dan mendaftarkan pernikahan mereka, maka kejadian mengerikan yang sama menimpanya akan berulang.
Ia akan mati dengan tragis, ditinggalkan dalam kondisi sekarat oleh suaminya demi wanita lain.
Jika benar ini adalah kesempatan keduanya, bahwa ia terlahir kembali untuk memperbaiki nasibnya, maka Anne akan memastikan bahwa tak akan ada pernikahan antara dirinya dan pria itu.
Anne berdiri dan bergegas pergi. Pelayannya terkesiap dan berteriak memanggilnya, “Nona Annelise! Anda mau ke mana?!”
“Aku harus bergegas sampai ke Istana dan membatalkan pernikahanku,” sahut Anne cepat, tanpa menoleh.
Rose tercengang. “Nona, A-Anda bilang apa?”
Rose di belakangnya berusaha mengejar, berulang kali memanggil nama nonanya dengan keras. Namun langkah Anne begitu pasti, sorot matanya yang tajam menunjukkan sosok baru.
Anne masih sedikit linglung saat melangkah ke luar kediamannya. Ini masih siang, sedangkan butuh satu setengah jam untuk sampai ke istana.
Anne berharap itu cukup untuk tiba lebih dahulu dari Victor dan menghentikan rencana pernikahan itu.
Kereta kudanya yang berukuran sedang telah menunggu dan ia segera masuk ke dalamnya.
****
Hari masih beranjak sore ketika Anne sampai di Istana.
Jika tak mengingat tata krama, Anne pasti sudah berlari ke dalam istana setelah diizinkan masuk.
Napasnya naik-turun karena panik. Namun, ia sudah bertekad untuk membatalkan pernikahannya hari ini juga.
Anne diarahkan untuk memasuki ruang tunggu istana sebelum menemui sang Ratu. Namun, rupanya Anne tidak sendiri. Ada sosok lain yang juga sedang menunggu untuk bertemu dengan sang Ratu.
Seorang pria tengah berdiri membelakanginya, sedang menatap ke luar jendela dengan kedua tangan terlipat di belakang.
Pria itu memakai surcoat merah marun, dengan rambut hitam yang terikat rapi. Ia memiliki postur tubuh yang tegap dan tinggi.
Anne mendekat, sembari menatap sekeliling. Jika orang lain sampai harus menunggu, maka di manakah sang Ratu berada?
“Permisi, Tuan. Boleh saya tahu mengapa Anda juga menunggu di sini?” tanya Anne.
Sosok tersebut seketika menoleh. Dan saat itulah Anne melihat sosoknya lebih jelas. Pria itu jelas seorang bangsawan jika dilihat dari pakaiannya. Tapi, penampilan dan wajah itu begitu rupawan.
Rahangnya tegas, tatapan matanya dalam dan teduh. Aura itu membuat Anne merasa perlu menunduk hormat.
Pria itu menatap Anne dengan lekat dari bawah hingga ke atas. Pelan-pelan, sudut bibirnya mulai terangkat membentuk senyuman sangat tipis.
“Menunggu Ratu, tentu saja,” jawabnya, sebelum bertanya balik. “Anda sendiri, Lady Annelise Hawthorne, ada keperluan apa di sini?”
Mata Anne sedikit melebar mendengarnya. “Anda mengenal saya?”
"Luke? Kepalaku mulai pusing. Bisakah aku membuka penutup mata ini sekarang?" Sejak perahu mulai meninggalkan daratan sepuluh menit yang lalu, Anne telah menggumamkan segala macam keluhan yang senantiasa Luke dengarkan dengan sabar. Pria itu hanya bisa tertawa melihat gurat kekhawatiran yang jelas di wajah Anne. Terombang-ambing di tengah sungai yang entah akan membawanya ke mana, Anne berpegangan erat pada sisi perahu. Jantungnya berdegub kencang menanti kejutan, tetapi di waktu yang sama ia merasa tak tahan dengan rasa mualnya. Untung saja, kursi pendek yang disediakan Luke ini cukup nyaman untuknya. "Luke? Berhenti tertawa dan jawab aku!" pekik Anne kesal. Ia bisa mendengar tawa halus yang tidak lain berasal dari pria yang tengah membawanya. "Jika aku menjawabmu, tidak akan menjadi kejutan lagi." jawab Luke dengan enteng, seolah tak peduli dengan rengekan wanitanya. "Oh, aku akan muntah dan kejutanmu tidak akan menyenangkan lagi!" Luke tergelak. "Sebentar lagi kita sa
Luke menempatkan kedua tangannya di belakang tubuhnya, sembari berjalan santai. Sesekali ia akan menoleh hanya untuk menatap sosok wanita cantik yang berjalan bersamanya di taman kota pada pagi hari yang cerah ini. Berjalan-jalan menikmati suasana taman rasanya tidak berlebihan bagi mereka untuk mengisi kembali energi yang terbuang selama masa-masa sulit kemarin. Sempurna untuk sebuah kencan pertama mereka di hadapan publik dengan status yang nyata, dan di tengah rumor yang sedang menyebar. Tetapi yang palingn penting, mereka adalah sepasang kekasih sekarang. Menghadapi tatap dari banyak pasang mata kadang kali membuat perut Anne kembali bergejolak. Wajahnya masih memerah, terutama ketika ia sesekali mendongak dan menyadari betapa tampannya pria yang ada di sisinya itu. "Jika aku tidak menyadari bahwa diriku memang menarik, aku pasti mengira kau menatapku sejak tadi karena penampilanku aneh." Luke terkekeh pelan, menoleh ke arah Anne dengan senyum jahilnya. Anne gelagap
Setelah pertengkaran yang begitu hebat, keesokan harinya kabar tentang hubungan gelap antara Victor Langley dan Leah akhirnya tersebar. Tak tanggung-tanggung, rumor tersebut mengatakan bahwa mereka sudah lama tinggal bersama bahkan saat Nona Hawthorne masih menjadi tunangan Langley. Rumor tersebut akhirnya memunculkan spekulasi bahwa batalnya pernikahan Victor dan Anne disebabkan oleh perselingkuhan. Dan meski Victor mengelak sekalipun, kemunculan Leah di tengah-tengah masyarakat akhir-akhir ini dengan sikap manjanya pada Victor, telah membuat banyak orang yakin bahwa rumor itu benar. Banyak dari masyarakat yang mengeluh kasihan pada Anne dan bersimpati padanya. Mereka menilai bahwa tindakan Victor dan Leah sangatlah tidak terpuji, apalagi mereka adalah seorang bangsawan terhormat. Luke tidak ingin repot-repot untuk merasa kasihan. Ia bahkan tak ingin menghilangkan detail sedikitpun tentang Leah seperti rencananya di awal. Namun karena sikap Leah yang berniat membunuh Anne di
Anne tidak yakin apa sebenarnya yang Leah inginkan sampai wanita itu mau mendatanginya langsung ke kediaman Hawthorne yang seharusnya menempuh waktu berjam-jam. Apapun itu, hal tersebut telah membuat Leah amat marah karena sejak Anne tiba di ruang tamu, wanita itu telah memandangnya penuh permusuhan. Beruntung, sang Ayah sedang dalam perjalanan untuk mengurus satu hal dan akan kembali di malam hari bersama Ametis dan Anthony yang memaksa ikut karena masih terkejut dengan apa yang terjadi dan tidak ingin tinggal sendirian. Tampaknya akibat dari pernikahan yang batal itu membuat sang Ayah sibuk. Namun, Anne mensyukuri bahwa mereka semua tidak ada di sore hari yang mencekam itu. "Aku ingin bicara denganmu Anne, berdua saja." sahut Leah dingin. "Jika ada yang harus kau sampaikan, maka sampaikan saja sekarang." balas Luke dingin, sepertinya tidak menyukai ide Leah untuk berbicara empat mata. Atau paling tidak, ia ingin mendengarkan secara langsung apa yang wanita itu inginkan.
"Dari mana kau tahu kalau mereka ternyata punya anak?" Pertanyaan tersebut meluncur begitu saja setelah Anne cukup yakin untuk bertanya. Saat ini, mereka telah kembali ke kediaman Hawthorne. Anne juga sudah mengganti bajunya dari gaun pengantin yang terasa sesak. Tak hanya gaun, ketika Anne sampai bersama Luke, rupanya dekorasi-dekorasi yang sebelumnya dipasang untuk perayaan pernikahan, kini telah lenyap sepenuhnya. Tak ada jejak, seolah persiapan perayaan itu tidak pernah terjadi. Bahkan para pengawal dan pelayan, terutama Mrs. Hill yang berpapasan dengannya pun seolah tak ingin membahas apapun dan hanya menyambutnya seperti biasa. Anne meyakini bahwa ini adalah perintah sang Ayah. Ayahnya yang malang, meski tidak tahu apa-apa, tetap mendukung seluruh keputusan putrinya dan bersedia melakukan apapun untuk Anne. Luke, duduk sembari menyandarkan dirinya di bangku halaman. "Hanya dengan beberapa penyelidikan." "Penyelidikanmu pasti sangat detail karena aku yang telah be
Leah jelas merasa bahwa ia bukanlah ibu yang baik, tetapi tak mengubah fakta bahwa ia tetaplah seorang Ibu. Dan ia rasa, ibu manapun tak akan membiarkan anaknya berada dalam intimidasi orang lain meski setahun terakhir ini, ia lebih banyak menyerahkannya pada Mrs. Milles, sang pengasuh. Leah sudah terlalu lama, atau tepatnya tidak ingat kapan terakhir ia berperan sebagai ibu. Ia lebih memilih hidup di Ibu Kota bersama Victor, bertingkah layaknya seorang Lady terhormat yang belum menikah. Meski memang benar, faktanya, ia masih menghabiskan waktunya menemani Victor dalam mencapai tujuannya. Leah tidak menyesalinya, sama sekai tidak menyesal memiliki seorang anak sebelum seharusnya. Terlebih, ia melahirkan anak laki-laki yang membuat Victor semakin memujanya. Hanya saja, keberadaan anak laki-lakinya kini terancam. Bukan dalam artian fisik, melainkan.... statusnya. Bertahun-tahun Leah dan Victor berusaha menjaga rahasia ini. Leah bahkan harus menelan pil pahit ketika Victor
Mata Anne melebar terkejut melihat tunangannya itu telah tiba di sana.Victor melangkah dengan menghentak-hentak mendekatinya. Lalu ia menarik tangan Anne yang masih digenggam Luke dan menarik gadis itu menjauh.“Permisi, Tuan, nona ini adalah tunangan saya,” desis Victor pada Luke yang hanya menga
Luke Ashford.Ashford … di mana Anne pernah mendengar nama itu? Rasanya Anne pernah mendengarnya.Untuk beberapa saat, wanita itu hanya memandangi wajah pria bernama Luke itu, karena entah mengapa ketika melihatnya dengan jelas saat ini, ia … menjadi merasa sedikit familier.“Apa kita pernah bertem
Pria itu terkekeh pelan melihat keterkejutan di mata Anne.“Siapa yang tak mengenal putri Baron yang akan menikahi seorang Marquess musim ini?”Anne terdiam. Ia tidak begitu ingat jika kabar pernikahannya dengan Victor menjadi berita besar. Dulu, ia hanya fokus pada Victor tanpa mempedulikan hal la
Tubuh Annelise Hawthorne terbaring tak berdaya di tanah penuh darah dan luka, di antara puing-puing kereta kuda yang hancur sebagian.Annelise merasa tak memiliki tenaga lagi, rasa sakit memenuhi sekujur tubuhnya. Ia yakin ia berada di ambang kematian.Memorinya berputar ke beberapa waktu lalu. Ia







