LOGINAnne mengembuskan napasnya lega ketika dirinya sampai di bawah pohon willow yang lebat. Ia menyeka keringatnya di dahi, ia merasa tenaganya habis. Di bawah pohon ini, Luke melepaskan pegangannya, mengizinkan Anne untuk bernapas. Sementara dirinya bersandar di batang pohon dengan kedua tangan terlipat di dada. "Tadi itu sangat gila!" seru Anne, tampak tak percaya dia bisa berakting dengan baik.Luke mengangguk-angguk bangga, "Ya. Kau ternyata lebih baik dari dugaanku,"Anne tertawa. "Kau juga sama, sandiwaramu bagus sekali, Your Grace.""Sandiwara?" Luke terkekeh kecil, menundukkan kepala sejenak lalu menatap humor pada Anne. "Bagian mana yang kau sebut sandiwara?"Anne berkedip, bingung. "Maksud, Anda?"Luke tersenyum misterius, lalu menggeleng. Ia mengalihkan topik, tak ingin Anne terus bertanya. "Hm, sepertinya kau sudah tahu tentang wanita yang bersama Victor.""Aku sangat tahu, bahkan aku tahu sebusuk apa wanita itu nantinya." gumam Anne kesal, tanpa sadar. "Benarkah? Kau tahu?
Kereta putih dengan lambang 'A' berwarna perak milik keluarga Ashford berhenti tepat di depan kediaman Hawthorne pagi-pagi sekali. Tampaknya The Duke of Ashford sendiri tidak hadir dan hanya mengirimkan kereta kuda mewah pada calon tunangannya. Anne menarik napas panjang, merapikan sarung tangan sutranya sembari melirik sang Ayah yang tengah menatapnya dari ambang pintu dengan sorot cemas namun juga penuh harapan. Hari ini, sandiwara, atau apapun yang telah ia rencanakan bersama Luke Ashford, resmi dimulai. Tak butuh waktu lama bagi Anne untuk tiba di taman kota. Hanya satu jam perjalanan, wanita itu sudah terbiasa menghadapi perjalanan panjang karena kediamannya terletak lumayan jauh dari kota. Kereta berhenti tepat di sisi gerbang taman. Di sana, seorang pria turun dari kuda, kemudian memberikan tali kekangnya pada sang pelayan setia. Luke, pria itu maju selangkah, mengulurkan telapak tangannya yang besar untuk membantu Anne turun. Tindakan tersebut langsung mendapatka
"Ayah baru saja menerima surat dari Lord Langley." Anne mematung di tempatnya. Terutama ketika ia melihat kecemasan di wajah Ayahnya yang tak biasa. Wanita itu pelan-pelan mendekat, menyentuh lengan Ayahnya. "Surat? Apa isinya?" Tuan Hawthorne menghela nafas. "Ia bilang ada sesuatu yang salah denganmu, dan jika Ayah tak segera memperbaiki itu, maka ia akan menganggap keluarga kita mengkhianatinya." "Berani sekali dia mengancam Ayah!" pungkas Anne marah, tangannya terkepal erat. "Ayah tidak perlu khawatir. Sang Ratu memberi waktu satu bulan, Victor seharusnya tidak boleh mengganggu kita." "Anne, putriku." Tuan Hawthorne menoleh, menatap putrinya, menuntut sebuah penjelasan. "Ayah perlu tahu apa sebenarnya yang terjadi. Ayah telah mendengar bahwa kemarin, kau meminta di hadapan sang Ratu untuk membatalkan pernikahanmu dengan Lord Langley. Ayah dengar, kau bahkan mengatakan bahwa alasanmu tiba-tiba menolaknya adalah karena kau mencintai pria lain?" Anne terdiam. Ia masih tid
"Lady Hawthorne, aku juga membutuhkan pernikahan ini." Anne menaikkan sebelah alisnya, bingung. "Apa?" "Jika kau membutuhkan alasan logis mengapa aku sangat ingin menikahimu maka ya, aku juga membutuhkannya." Luke melangkah maju, mengikis jarak antara dirinya dan Anne. "Kepulanganku sebagai seorang Duke yang baru telah mengejutkan banyak orang. Tak sedikit yang meragukanku karena terlalu lama menghilang. Karena itu, aku butuh seorang istri dari tanah Valerian yang mampu mendukung posisiku saat ini." lanjut Luke, sorot matanya begitu meyakinkan. Anne tertegun, ia sekarang mengerti maksud Luke. Jadi, mereka sedang membuat kesepakatan untuk saling memanfaatkan. Tetapi masih ada satu hal yang mengganggu Anne. Statusnya jauh di bawah Luke. Anne kembali mendongak, "Tetapi, jika itu tujuan Anda, maka saya rasa Anda salah memilih. Saya hanya putri Baron biasa, kehadiran saya tidak berarti banyak untuk karir politik Anda." "Justru demikian. Aku membutuhkan seorang istri yang ta
Rasanya sudah lama sekali sejak Anne terlihat seperti hari ini. Memakai gaun perak yang sederhana, dengan rambut cokelatnya yang ia biarkan tergerai. Perhiasan yang ia pakai juga tidak semeriah biasanya, kali ini Anne hanya memaka kalung tipis perak dengan anting mutiara. Anne berusaha mengabaikan tatapan penuh keterkejutan dari semua orang yang melihatnya. Termasuk sang Ayah yang juga tengah menatapnya, seolah terpana. Semua mata sedang memandangnya, menyapu dari atas hingga bawah. Wanita itu berjalan menuruni tangga yang akan membawanya ke lantai bawah, tempat di mana semua orang telah menunggunya. Ia diberitahu bahwa ia kedatangan seorang tamu tak biasa, The Duke of Ashford untuk pertama kalinya berkunjung ke kediaman Hawthorne. Anne sampai ke hadapan sang Ayah, melemparkan senyuman hangat setengah malu. Tampaknya, melihat penampilan putri sulungnya itu jauh lebih mengejutkan dari kedatangan seorang Duke di kediamannya. Bagaimana tidak? Tuan Hawthorne baru saja melihat putriny
Anne terbangun pagi-pagi sekali, atau lebih tepatnya ia belum tidur sama sekali sejak semalam. Pikirannya dipenuhi oleh banyak hal. Ia sama sekali tak menyangka bahwa hidupnya akan berubah dalam semalam. Tentang dirinya yang kembali ke masa lalu, usahanya membatalkan pernikahan, dan.... Luke. Pria itu paling banyak memenuhi pikirannya. The Duke of Ashford. Rasanya tidak mungkin ia bisa memiliki hubungan dengan seseorang yang memiliki gelar setinggi itu. Benarkah saat itu ia menyelamatkan pria itu? Hanya saja saat itu masih abu-abu. Anne ingat dirinya pernah menyelamatkan anak laki-laki yang tidak dapat berenang. Kejadian itu tujuh tahun lalu saat ia masih remaja. Fisik Luke kala itu tidak semenawan sekarang, dia juga lebih tinggi, dan yang paling penting... Anne tidak tahu bahwa anak itu adalah seorang pewaris Duke of Ashford. Sejak saat itu, mereka sering bertemu di pesta bangsawan. Mereka berteman selayaknya anak remaja, tak ada yang spesial. Lalu enam bulan kemudian, Anne tid







