Share

Bab 2

Author: Eleven
Raisa dan Leo berbaring di atas ranjang di area perabot rumah. Keduanya saling menempel sangat dekat. Raisa bersandar ke telinga Leo dan mengatakan sesuatu dengan suara pelan. Setelah itu, mereka saling menatap dan tersenyum. Suasananya penuh keambiguan.

Mereka tampak seperti sepasang suami istri muda yang bahagia, yang sedang memilih perlengkapan tempat tidur untuk rumah kecil mereka.

Kakakku kebetulan membawa beberapa contoh motif seprai untuk kupilih. Begitu melihat pemandangan itu, dia hendak mendekat untuk mempertanyakan, tetapi langsung kutahan.

"Aku pasti suka pilihan Kakak. Aku nggak punya apa-apa untuk diberikan padamu. Ini tanaman sukulen kesayanganku yang sudah kupelihara bertahun-tahun. Nggak bisa dibawa naik pesawat. Tolong rawat baik-baik ya."

Aku menarik kakakku dan berjalan melewati Leo, berpura-pura tidak melihatnya. Namun, dia justru untuk pertama kalinya berinisiatif menjelaskan, "Irish, jangan salah paham. Aku hanya membantu Raisa mencoba apakah ranjang ini nyaman atau nggak."

"Mantan suami Raisa sudah menemukan tempat tinggalnya sekarang, jadi kurang aman. Aku pikir rumahku yang di dekat sini lagi kosong, jadi kalau Raisa pindah aku bisa lebih tenang. Perabot di rumah juga sudah tua, jadi aku menemaninya pilih yang baru."

"Kamu juga tahu dia sendirian sekarang. Memindahkan barang-barang ini nggak mudah. Kamu janjian sama kakakmu? Kenapa bawa sukulen? Bukankah kamu paling menyayangi mereka? Dulu aku menyentuh sedikit saja nggak boleh."

"Itu rumahmu. Kamu mau mengaturnya bagaimana juga terserah, nggak perlu memberitahuku. Tempat tidur memang harus dicoba sendiri supaya nyaman saat dipakai tidur. Terserah kalian mau bagaimana, nggak perlu memedulikan kami."

Melihat aku tidak mempertanyakannya, Leo pun menghela napas lega.

Setelah berkeliling cukup lama, kami pulang dengan tangan penuh belanjaan. Saat tiba di rumah kakakku, kami kembali bertemu Leo dan Raisa di dalam kompleks. Keduanya sedang membawa berbagai kebutuhan hidup yang baru dibeli.

Leo mengambil semua barang dari tangan Raisa, lalu meniup pelan telapak tangannya yang putih dengan penuh rasa sayang. Begitu mendengar Raisa berkata lapar, Leo langsung merangkulnya dan berjalan ke depan. Aku menyingkir sedikit, membiarkan mereka masuk ke gedung lebih dulu, lalu menekan tombol lift.

Pintu lift perlahan menutup di hadapanku. Aku mendengar Leo memperhatikan Raisa dengan cemas. Apakah dia merasa tidak enak badan, apakah gula darahnya rendah, dan berkata bahwa mereka akan segera pulang supaya dia bisa membuatkan ayam cola kesukaan Raisa.

Aku seolah-olah melihat kami di masa lalu.

Waktu itu karena diet berlebihan dan tidak makan dengan teratur, aku terkena penyakit lambung. Setelah Leo menemaniku ke rumah sakit sekali, dia mulai mengawasiku agar makan dengan baik. Selama aku bilang lapar, dia akan cemas dan penuh perhatian seperti itu.

Dia mempelajari resep-resep makanan yang ramah untuk lambung, turun langsung ke dapur untuk memasak. Katanya dengan begitu aku tidak akan menyia-nyiakan usahanya dan menurut untuk makan dengan baik.

Aku suka berdiri di pinggir dapur melihatnya memasak. Di bawah cahaya lampu berwarna hangat, di tengah aroma makanan, ada rasa bahagia. Dia akan memanggilku si rakus kecil dengan manja, berkata dia belajar memasak demi calon istrinya.

Melihatku melamun, kakakku menghela napas di sampingku.

"Sudah benar-benar dipikirkan? Sudah benar-benar berakhir?"

Aku mengangguk.

"Sudah waktunya berakhir. Kamu tahu, sejak kecil aku nggak suka ayam cola. Tapi selama bertahun-tahun ini, masakan yang paling dia kuasai justru hidangan itu. Jadi sejak awal, calon istri di hatinya memang bukan aku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cintanya Telah Habis di Orang Lama   Bab 11

    "Irish, maafkan aku, aku salah. Tolong kembalikan Leo padaku. Aku nggak bisa hidup tanpa Leo. Mantan suamiku menemukanku lagi, dia bilang akan datang menjemputku. Aku nggak bisa hidup tanpa Leo, aku mohon padamu!""Cincin ini aku yang diam-diam ambil. Leo nggak tahu. Aku kembalikan padamu. Ke depannya aku nggak akan muncul lagi di hadapanmu. Tolong buatkan surat pencabutan tuntutan untuk Leo, biarkan dia keluar."Kakakku ingin menarik Raisa, tetapi Raisa tidak bergerak. Dengan keras kepala, dia tetap berlutut di depan mobil. Aku agak tidak tega melihatnya. Aku hanya ingin semuanya cepat berakhir.Aku memberikan surat pencabutan tuntutan itu padanya. Raisa membungkuk memberi hormat padaku. Aku pun menaikkan kaca mobil dan pergi.Di lokasi pernikahan, Ayah meletakkan tanganku ke tangan Luigi, lalu menepuknya pelan. Aku hampir menangis.Ini adalah pernikahan yang sudah berkali-kali kuimpikan, hanya saja pengantinnya bukan lagi Leo. Menatap Luigi di depanku, aku merasa ke depannya aku akan

  • Cintanya Telah Habis di Orang Lama   Bab 10

    Aku menatap matanya, lalu menggeleng."Irish, kamu masih marah padaku? Semua ini salahku, maafkan aku ya. Bukankah kita sudah berjanji untuk menua bersama?""Kalau kamu ingin nikah, kita nikah besok! Sekarang aku melamarmu! Menikahlah denganku, Irish!"Sambil berkata demikian, Leo mengeluarkan sebuah cincin, lalu berlutut dengan satu kaki di lantai. Dia berlutut di atas pecahan kaca yang berserakan, tetapi seperti tidak merasakan apa pun."Irish!" Luigi datang.Begitu melihat Luigi muncul, Leo semakin seperti orang gila, hendak menyerbu untuk menarikku."Jauhkan dirimu darinya!" Luigi menarikku ke belakangnya dan berdiri di depanku."Irish, kita sudah bersama sembilan tahun! Kita pernah begitu bahagia, punya begitu banyak harapan dan janji tentang masa depan. Apa hanya karena dia kamu jadi membuangku? Irish, kamu nggak boleh memperlakukanku seperti ini!" kata Leo.Aku tertawa dingin. Jelas-jelas dialah yang membawa Raisa dan menghancurkan hidupku, tetapi sekarang dia justru terus-mener

  • Cintanya Telah Habis di Orang Lama   Bab 9

    Keesokan harinya, mataku yang merah dan bengkak membuat perias pengantin di butik terkejut. Butuh waktu lama mengompres dengan es sebelum bengkaknya turun.Gaun pengantin itu sudah lama Ibu minta orang untuk mendesainnya. Terlihat seperti mimpi, indah dan memukau.Luigi bahkan menatapku sampai terpesona. Kakak mendorongnya sedikit, barulah dia tersadar dan berulang kali mengatakan kalau aku terlihat cantik.Kakak tak sabar memotretku, lalu mengunggahnya ke media sosial.[ Tanpa filter, jepretan langsung! Sehari dibuat terpana oleh kecantikan adikku! ]Menikah benar-benar bukan hal yang mudah. Hanya mencoba gaun pengantin saja sudah membuatku kelelahan.Saat aku pusing berganti-ganti pakaian, tiba-tiba terdengar suara dari pintu. "Permisi, siapa di sini yang namanya Bu Riri? Ada pesanan makanan.""Aku," jawabku refleks.Kurir menyerahkan pesanannya, mengambil foto, lalu pergi.Setelah orangnya pergi, aku bertanya ke sana sini, tetapi tidak ada yang tahu siapa yang memesan. Ini membuatku

  • Cintanya Telah Habis di Orang Lama   Bab 8

    "Kita mau ke mana?" tanyaku setelah beberapa saat."Pergi cari anabul lucu yang bisa menyembuhkanmu," sahut Luigi.Luigi membawaku ke tempat penampungan hewan terlantar miliknya. Dia meletakkan satu kantong makanan kucing ke tanganku. Sudah waktunya memberi makan malam.Hewan-hewan di sini sama sekali tidak terlihat seperti hewan liar atau yang ditelantarkan. Semuanya sangat bersih dan setiap ekor sangat menyukai Luigi.Melihat Luigi kewalahan menurunkan seekor anak kucing yang berusaha memanjat ke punggungnya, aku tak bisa menahan tawa.Suasana hatiku jauh lebih rileks. Aku duduk di bangku panjang. Ada kucing yang cukup berani. Dia mendekat, lalu menyusup ke dalam pelukanku, mengeluarkan dengkuran nyaman.Luigi juga duduk di sampingku. Kami bersama-sama menatap bulan purnama di langit."Tante sudah menceritakan semua tentangmu kepadaku. Kamu menyesal meninggalkannya?" tanya Luigi."Nggak." Suaraku pelan, tetapi sangat tegas."Kalau begitu, aku nggak akan melepaskanmu. Aku nggak akan m

  • Cintanya Telah Habis di Orang Lama   Bab 7

    "Aduh, saking senangnya sampai lupa. Irish, ini putra sulung Keluarga Tanata yang Ibu ceritakan padamu, Luigi. Pria baik dan unggul. Ibu sudah menyelidikinya dengan jelas.""Nggak punya kebiasaan buruk, nggak punya hubungan yang nggak pantas. Ibunya juga kenalan Ibu, orangnya baik sekali. Ke depannya pasti nggak akan ada masalah antara mertua dan menantu."Sambil berkata begitu, Ibu mendorong Luigi sedikit ke arahku.Tinggi Luigi sekilas sekitar 1,9 meter, lebih tinggi satu kepala dariku, membuatku harus mendongak untuk menatapnya. Kenapa orang ini terasa begitu familier?Luigi tersenyum ke arahku. Senyuman itu membuatnya terlihat semakin tampan. Dia menyerahkan buket sukulen yang ada di tangannya sambil berkata, "Aku ingat kamu alergi serbuk sari, 'kan? Dulu kamu juga pernah iri melihat orang lain menerima buket bunga. Ini buket sukulen yang kupesan khusus untukmu."Aku menerimanya dengan agak linglung, lalu tiba-tiba teringat siapa dia. "Kamu ... dokter yang mengoperasi Bobo.""Kamu

  • Cintanya Telah Habis di Orang Lama   Bab 6

    Pada akhirnya, seorang pelayan restoran yang menolongku naik ke darat.Dengan tubuh gemetar, aku pulang ke rumah. Aku mengisi bak mandi dengan air panas dan berendam lama sekali, sampai jari-jariku mengerut. Uap panas membuat pipiku memerah, tetapi tetap tidak mampu menghangatkan hatiku yang sudah dingin.Setelah beres dan keluar dari kamar mandi, langit di kejauhan sudah mulai memutih. Aku menatap rumah yang telah kami tinggali selama sembilan tahun itu untuk terakhir kalinya. Kenangan masa lalu berkelebat di benakku, lalu berhenti pada momen tadi, saat Leo mendorongku ke dalam air.Aku meletakkan kunci dan cincin di atas rak sepatu di dekat pintu, lalu menyeret koper dan meninggalkan tempat itu.Di pesawat, sebelum pengumuman meminta mematikan ponsel, aku mengirimkan pesan terakhir kepada Leo.[ Aku pergi. Ke depannya jangan hubungi aku lagi. Jangan ganggu aku. Aku nggak menginginkanmu lagi. ]Sembilan tahun masa mudaku berakhir di sini. Aku akan melangkah maju.Empat jam kemudian, p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status