Home / Romansa / Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam! / Bab 4: Sudah Berada di Jalur yang Benar

Share

Bab 4: Sudah Berada di Jalur yang Benar

last update Last Updated: 2025-11-02 11:29:48

“Ada makan malam bareng member gym malam ini. Di kafe dekat apartemen Grand View. Datang, ya?”

Notifikasi pesan masuk di ponsel Jane berbunyi lembut. Ia baru saja meletakkan koper terakhir di pojok apartemennya—tempat yang sudah lama tak ia kunjungi sejak menikah.

Jane membaca pesan itu dua kali, memastikan ia tak salah baca. Kafe itu hanya beberapa blok dari tempatnya sekarang. Ia menggigit bibirnya karena ragu.

Makan malam bersama? Dengan Brian di sana?

Setelah hari panjang yang melelahkan secara emosional, dia ingin menolak. Tapi, mungkin malam ini, sedikit udara segar tidak akan membunuhnya.

Jane berjalan ke lemari kecil di sudut kamar. Tangannya menyingkap beberapa pakaian yang masih tergantung rapi di sana, sisa masa lalu yang kini terasa asing.

Ia memilih dress sederhana warna navy, selutut dengan potongan V di leher, lalu menguncir rambutnya ke atas membentuk sanggul santai.

Sedikit foundation dan lipstik lembut ia oleskan di wajahnya agar tidak tampak terlalu pucat.

Saat menatap bayangan dirinya di cermin, ia hampir tak percaya. ‘Beginikah wajah seorang wanita yang baru saja kehilangan segalanya?’ pikirnya getir.

Namun ada sesuatu di balik matanya malam itu — kekuatan kecil yang mulai tumbuh pelan-pelan.

Saat Jane keluar dari unit apartemen, langkahnya berhenti mendadak.

Di depan lift, berdiri seorang pria berpostur tinggi mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menampakkan urat-urat tangan yang jelas.

Brian.

Jane hampir tidak percaya. “Brian?”

Pria itu menoleh cepat dan ekspresinya terkejut namun berubah lembut dalam hitungan detik. “Kau tinggal di apartemen ini?”

Jane mengangguk pelan. “Iya ... aku tinggal di sini sejak sebelum menikah. Aku ... baru pindah lagi hari ini.”

Ada keheningan kecil yang menggantung di antara mereka. Lift terbuka, tapi tak satupun dari mereka segera melangkah masuk.

Tatapan Brian turun perlahan, memperhatikan gaun yang dikenakan Jane malam itu. “Kau kelihatan berbeda,” katanya akhirnya. “Lebih hidup dari pertama kali aku melihatmu di gym.”

Jane sedikit gugup mendengarnya. “Terima kasih, aku hanya tidak ingin terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan rumah tangganya.”

Brian menatapnya dengan alis terangkat. “Oh. Jadi, rumah tanggamu memang sedang bermasalah?”

Jane menelan salivanya lalu mengangguk kecil. “Ya. Suamiku selingkuh dan memiliki seorang anak. Setelah empat tahun menikah, dan anak itu sudah berusia tiga tahun. Rasanya akulah selingkuhannya.”

Brian menatapnya tanpa sedikit pun menyela. Mendengarkan dengan saksama dan akhirnya mengangguk dengan pelan.

“Tapi, keputusanmu sudah sangat bagus, Jane.”

Jane menoleh pelan ke arah Brian. “Maksudmu?” tanyanya dengan pelan.

Brian menatap lekat wajah Jane dan berhasil membuat wanita itu kembali kaku.

“Melampiaskan semuanya dengan membentuk tubuh yang indah. Aku rasa itu adalah balas dendam yang baik.”

Jane terdiam cukup lama dan hanya menatap Brian yang tubuhnya terlalu dekat dengannya. Bahkan Jane bisa mencium aroma sabun dan cologne dari tubuh Brian, aroma segar yang maskulin, yang berhasil membuat jantungnya berdebar tak karuan.

Setibanya di basement, Brian menahan tangan Jane dan membuat wanita itu menoleh.

“Ikut denganku saja.”

“Huh? Aku … aku bisa naik taksi, Brian. Lagipula ... bagaimana kalau member lain salah paham?”

Senyum tipis muncul di bibir pria itu. “Salah paham tentang apa?”

“Kita datang bersama.”

“Lalu?” Brian mencondongkan tubuhnya sedikit dan matanya mengunci pada milik Jane. “Apakah ada sesuatu di antara kita sampai orang lain harus salah paham?”

Nada suaranya memang terdengar tenang, tapi tatapannya menusuk, terlalu dalam untuk dianggap sekadar candaan. Jane menelan ludah, wajahnya mulai hangat.

“Kau suka menggoda, ya?”

“Aku hanya jujur,” ucapnya lalu membukakan pintu mobil untuk Jane. “Masuklah, Jane.”

Jane akhirnya duduk. Saat Brian masuk ke sisi pengemudi, aroma kulit dan parfum di dalam mobil bercampur dengan detak jantungnya yang makin tak stabil. Mobil melaju perlahan keluar dari parkiran.

Beberapa menit pertama hening. Hanya suara mesin dan musik lembut yang mengalun dari radio. Hingga Brian memecah kesunyian.

“Jadi, apa langkahmu selanjutnya?”

Jane menoleh. “Langkah?”

“Dengan suamimu yang sudah mengkhianatimu itu. Siapa namanya?”

“Andrew,” jawabnya kemudian menghela napas panjang dan menatap ke luar jendela. “Aku akan menceraikannya.”

Nada suaranya datar, tapi ada keteguhan di sana.

Brian tidak langsung menanggapi. Ia menatap jalan di depannya dan rahangnya menegang sedikit.

“Berani juga kau mengambil keputusan itu dengan cepat,” gumamnya.

Jane tersenyum pahit. “Setelah tahu dia punya anak dengan wanita lain sejak awal pernikahan kami, apalagi yang harus kupikirkan lama-lama?”

Brian melirik sekilas, suaranya rendah. “Tapi kadang, keputusan seperti itu tidak sesederhana yang terlihat. Kau masih mencintainya?”

Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke dalam dada Jane. Ia terdiam dan hanya menatap jalan yang diterangi lampu kota.

Mobil meluncur melewati deretan toko dan restoran, tapi pikirannya melayang jauh.

Apakah dia masih mencintai Andrew?

“Aku tidak tahu,” akhirnya Jane berkata dengan lirih. “Mungkin aku mencintai kenangan tentang dia. Pria yang dulu aku kira baik. Tapi sekarang, aku hanya ingin sembuh.”

Brian mengangguk perlahan. “Kalau begitu, kau berada di jalur yang benar.”

“Jalur?”

“Jalur untuk menemukan dirimu sendiri lagi.”

Ia menatap Jane sesaat, tatapan tajam dan terlalu dalam sampai membuat Jane menelan ludahnya berkali-kali.

“Dan mungkin menemukan seseorang yang jauh lebih pantas untuk kau perjuangkan dan kau cintai.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (8)
goodnovel comment avatar
yesi rahmawati
Brian ada something nih sama Jane
goodnovel comment avatar
wieanton
brian kamu ksh kode apa nih ke Jane, hmm? kyknya kamu naksir dlm pandangan pertama ya?
goodnovel comment avatar
Chiekal
brian..... kayanya ada something nih ama jane xixiixix
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 64: Kerjasama untuk Menghancurkan John

    Beberapa jam setelah bercinta yang cukup panas yang mereka lalui, Jane dan Brian masih berbaring berdampingan di sofa ruang keluarga apartemen Jane masih tanpa mengenakan apa pun di tubuh mereka.Hanya saling menggenggan dan berpelukan menikmati malam sunyi dan mengobati rindu masing-masing hati.Jane menatap langit-langit cukup lama, lalu menghela napas pelan. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya sejak tadi, sebuah kejanggalan yang tak bisa dia abaikan begitu saja.Perlahan, dia memiringkan tubuhnya dan menoleh ke arah Brian yang berbaring di sampingnya. Wajah pria itu tampak santai, tetapi sorot matanya menunjukkan kewaspadaan yang tak pernah benar-benar padam.“Brian,” panggil Jane dengan suara rendah namun serius.Brian menoleh dan menatapnya penuh perhatian. “Ada apa?” tanyanya dengan nada suara yang lembut, seolah siap mendengarkan apa pun yang akan Jane katakan.Jane menarik napas lebih dalam sebelum akhirnya berkata, “Ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang terjadi sebelum ka

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 63: Meleburkan Semua Hasrat

    Jane melangkah pelan menghampiri Brian yang masih berdiri di depan pintu unit apartemennya.Cahaya lampu lorong memantulkan bayangan keduanya di dinding, menciptakan suasana canggung yang sarat dengan perasaan tak terucap.Jane berhenti tepat di hadapannya, menatap wajah Brian yang terlihat lelah namun penuh penahanan emosi.Tanpa berkata apa pun, Jane meraih gagang pintu dan membukanya. Ia menggeser tubuhnya sedikit ke samping, memberi ruang.“Masuklah,” ucapnya singkat, suaranya terdengar tenang, meski dadanya berdegup lebih cepat dari biasanya.Brian tampak sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Jane akan bersikap demikian mudah setelah semua jarak yang tercipta di antara mereka.Namun ia tidak menolak. Dengan langkah ragu namun mantap, Brian masuk ke dalam apartemen itu, sementara Jane menutup pintu di belakang mereka.Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Jane meletakkan tas kerjanya di atas sofa, lalu berbalik ke arah dapur. “Aku akan mengambilkan minuman,” katanya sambil berjal

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 62: Aku tidak Main-Main

    Langkah John terhenti seketika ketika mendengar ucapan Brian barusan. Tubuhnya membeku di ambang pintu apartemen, punggungnya masih menghadap Brian.Selama beberapa detik, keheningan menggantung di udara, berat dan menyesakkan, seolah ruangan itu menahan napasnya sendiri.Perlahan, John menoleh. Tatapannya datar, dingin, tanpa emosi yang mudah ditebak. Sorot matanya bertemu dengan pandangan Brian yang kini berubah sepenuhnya.Tidak ada lagi sikap santai atau nada mengusir semata. Yang tersisa hanyalah kemarahan yang tertahan, terbungkus rapi dalam kendali diri yang rapuh.Brian melangkah satu langkah mendekat. Rahangnya mengeras, otot-otot di lehernya menegang.“Jangan pernah berpikir untuk merebut Jane dariku,” ucapnya dengan suara rendah namun penuh tekanan. “Jika kau berani melakukannya, aku akan melaporkan semuanya.”John mengangkat alisnya tipis. “Semuanya?” tanyanya pelan, nyaris mengejek.“Ya,” jawab Brian tegas. “Pada orang tua kita. Dan juga pada istrimu. Semua yang sudah kau

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 61: Ingin Merebut Jane dariku?

    Apartemen Brian dipenuhi aroma khas keringat dan karet.Di sudut ruangan, sebuah samsak tinju bergoyang pelan setelah menerima rentetan pukulan yang terukur dan bertenaga.Brian berdiri tegak di hadapannya, kedua tangannya terbalut hand wrap hitam, rahangnya mengeras, napasnya teratur.Setiap pukulan yang dia lepaskan tidak sekadar menguji fisik, melainkan juga menjadi saluran bagi kegelisahan yang sejak beberapa hari terakhir enggan meninggalkannya.Pintu apartemen terbuka tanpa banyak suara. John masuk dengan langkah santai, seolah tempat itu juga miliknya.Dia menyandarkan punggungnya pada dinding dekat pintu, dengan kedua tangan terlipat di dada seraya menatap adiknya dengan sorot mata menilai.Tidak ada sapaan. Hanya keheningan yang dipenuhi suara pukulan berulang ke permukaan samsak.“Beberapa hari ini kau hanya di rumah,” ujar John akhirnya, suaranya terdengar ringan namun menyimpan nada mengusik. “Kenapa tidak melatih Jane lagi?” tanyanya dengan nada datarnya.Brian tidak menj

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 60: Perbuatan John?

    Jane dan Sita duduk berhadapan di sudut kantin kantor yang tidak terlalu ramai. Jam makan siang hampir berakhir, sebagian besar karyawan sudah mulai kembali ke meja kerja masing-masing.Di atas meja mereka, dua piring makanan terhidang. Spageti di hadapan Jane tampak nyaris tidak tersentuh, sementara minuman dingin di sampingnya sudah mulai mencair.Sejak beberapa menit lalu, Sita memperhatikan sahabatnya itu dengan kening berkerut. Jane sama sekali tidak menikmati makanannya.Garpu di tangannya hanya bergerak mengaduk-aduk spageti tanpa tujuan, seolah pikirannya berada jauh dari tempat itu.“Jane,” panggil Sita akhirnya, suaranya terdengar agak menegur.“Jam masuk tinggal sebentar lagi. Kalau kau tidak berniat makan, setidaknya berhentilah memainkan makananmu.”Jane tersentak kecil. Ia menghentikan gerakan tangannya dan meletakkan garpu di atas piring. Napasnya terhembus panjang, berat, seakan ada beban besar yang sejak tadi menekan dadanya.“Aku sedang tidak berselera,” jawab Jane s

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 58: Kecurigaan Jane

    Jane berdiri tegak di hadapan meja kerja John dengan map berwarna biru tua di tangannya.Wajahnya tampak tenang dan profesional, sebagaimana yang selalu ia tunjukkan setiap kali berada dalam ruang kerja atasannya itu.Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui jendela besar di balik meja John, memantulkan bayangan samar pada lantai marmer yang mengilap.“Ini laporan perkembangan proyek terakhir,” ujar Jane dengan suara jelas dan terukur sambil menyerahkan map tersebut.“Seluruh tahapan utama sudah berjalan sesuai rencana. Jika tidak ada kendala berarti, proyek ini dapat dinyatakan selesai dalam beberapa minggu ke depan.”John menerima map itu dan mengangguk singkat. “Baik,” ucapnya.Dia lalu membuka dokumen tersebut sekilas dan memeriksa halaman-halaman awal dengan tatapan serius. “Kau sudah memastikan semua detail teknis dan administrasi terpenuhi?” tanyanya kemudian.“Sudah,” jawab Jane mantap.“Untuk penjabaran yang lebih rinci mengenai aspek teknis dan anggaran akhir, sekretaris

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status