Home / Thriller / Collateral / CHAPTER II : AMATEUR SPY

Share

CHAPTER II : AMATEUR SPY

Author: bubblejuni
last update publish date: 2026-08-17 17:31:23

Kantor Walikota masih berjalan seperti biasa tiga hari setelah kematian Samuel White, yang mana adalah hal paling mengganggu dari seluruh pekerjaan Sara selama nyaris satu tahun terakhir: betapa cepatnya birokrasi menelan sebuah kematian dan memuntahkannya kembali sebagai satu baris di memo internal. Divisi humas sudah mengeluarkan pernyataan resmi—ucapan belasungkawa yang ditulis dengan bahasa selegal mungkin, menyebut Samuel sebagai "mitra berharga dalam inisiatif keamanan siber kota," tanpa sekali pun menyebut kata FBI, tanpa sekali pun menyebut kata jantung, hanya "kehilangan mendadak yang mengejutkan kita semua."

Sara sendiri yang menyusun draf pertama pernyataan itu. Ironi semacam itu sudah lama berhenti terasa lucu baginya.

Yang tersisa dari malam gala itu di mejanya sekarang hanyalah tumpukan administrasi biasa—faktur katering yang belum dibayar, daftar tamu yang harus diarsipkan, surat terima kasih standar untuk para donatur yang harus ia tandatangani atas nama Walikota. Pekerjaan sekretaris sesungguhnya, ironisnya, adalah penyamaran paling sempurna yang pernah diberikan agensinya—tidak ada yang lebih membosankan, dan karenanya lebih tak tersentuh kecurigaan, daripada seorang perempuan yang menghabiskan pagi harinya menghitung berapa lusin gelas anggur yang pecah selama sebuah acara resmi.

Jadi ketika resepsionis di lantai bawah menelepon mejanya jam sepuluh pagi, mengabarkan ada seorang laki-laki yang ingin bicara dengan "siapa pun yang bertanggung jawab atas acara makan malam kemitraan minggu lalu," Sara hanya merapikan map di tangannya dan turun dengan wajah yang sudah dilatih untuk terlihat sedikit terganggu tapi tetap profesional—wajah seorang pegawai negeri yang terlalu sibuk untuk basa-basi tapi terlalu sopan untuk menunjukkannya.

Laki-laki itu berdiri di lobi dengan cara yang langsung membuat radar internal Sara berbunyi sebelum ia sempat membaca kartu namanya. Bukan karena setelan jasnya—setelan itu cukup rapi, cukup generik, jenis yang dibeli dari department store menengah oleh seseorang yang ingin terlihat kredibel tanpa terlihat mencolok. Yang membuatnya berhenti sejenak adalah cara laki-laki itu berdiri: kaki sedikit terbuka, berat badan terbagi rata, bahu yang terlalu lebar untuk jas yang dikenakannya, jenis tubuh yang dibentuk oleh sesuatu yang jauh lebih keras daripada duduk di belakang meja detektif swasta mengurus kasus perceraian dan klaim asuransi.

"James Green," katanya, menyodorkan kartu nama yang, begitu Sara terima, terasa terlalu baru untuk seseorang yang katanya sudah lama berkecimpung di bidang investigasi swasta. "Saya diminta oleh keluarga Samuel White untuk menyelidiki kematiannya."

Sara menerima kartu itu dengan senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun—senyum yang berkata saya percaya sepenuhnya pada apa yang baru saja Anda katakan sambil di dalam kepalanya, sesuatu yang jauh lebih dingin sudah mulai bekerja.

Keluarga White tidak ada.

Ia sudah membaca berkas itu tiga kali sejak Whistler mengirimkannya subuh tadi—Samuel White, lima puluh delapan tahun, duda sejak enam tahun lalu setelah istrinya meninggal karena kanker, pasangan yang, menurut catatan, sudah yatim piatu sejak usia dua puluh dan tidak punya saudara kandung yang tercatat di sistem mana pun. Anak tunggal mereka, seorang laki-laki bernama Daniel, terakhir tercatat memutus kontak dengan ayahnya delapan tahun lalu, alamat terakhir entah di Portland atau Seattle—catatan itu sendiri tidak konsisten, seolah bahkan negara pun kehilangan jejak Daniel White begitu ia memutuskan menghilang dari kehidupan ayahnya. Tidak ada saudara. Tidak ada mertua yang masih hidup. Tidak ada satu pun nama yang bisa dihubungi dalam kolom "next of kin" di berkas kepegawaian FBI-nya sendiri, selain sebuah nomor kosong yang, kalau ditelusuri, berujung pada firma hukum yang mengurus wasiatnya—bukan keluarga, hanya prosedur.

Jadi siapa pun yang menyewa James Green, itu bukan keluarga White.

"Keluarga yang mana," kata Sara, nadanya tetap ringan, hampir seperti pertanyaan administratif biasa, sambil membalikkan kartu nama itu di antara jarinya seolah sedang memeriksa kualitas kertasnya. "Setahu saya Pak White tidak memiliki keluarga dekat yang tercatat."

Ada jeda. Singkat, nyaris tidak kentara, tapi Sara sudah menghabiskan terlalu banyak tahun membaca jeda semacam itu untuk melewatkannya begitu saja.

"Kerabat jauh," kata James, terlalu cepat untuk terdengar seperti jawaban yang sudah lama ia siapkan. "Klien saya lebih suka tetap anonim untuk saat ini. Bukan hal yang aneh dalam kasus semacam ini."

"Tentu," kata Sara, tersenyum lagi, menyimpan kartu nama itu ke saku blazernya dengan gerakan yang terlalu rapi untuk terlihat sekadar formalitas. "Apa yang bisa saya bantu, Tuan Green?"

James mengeluarkan sebuah buku catatan kecil—prop, pikir Sara, terlalu klise untuk seseorang yang benar-benar bekerja dengan cara ini di tahun ini, tapi cukup meyakinkan bagi siapa pun yang tidak dibayar untuk curiga. "Saya ingin tahu soal katering malam itu. Siapa pemasok anggurnya, siapa yang menuangkan gelas untuk Pak White secara spesifik, dan apakah ada seseorang yang punya akses ke minumannya sebelum disajikan."

"Anda menduga keracunan," kata Sara, bukan pertanyaan.

"Saya menduga," kata James, menatapnya lurus untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, "bahwa seorang laki-laki dengan riwayat aritmia yang stabil selama bertahun-tahun tidak tiba-tiba mati dua puluh menit setelah minum anggur di sebuah acara yang, kebetulan sekali, diselenggarakan oleh Anda."

Ah. Jadi ini bukan sekadar basa-basi pembuka.

Sara membiarkan keheningan itu bertahan sedikit lebih lama daripada yang seharusnya nyaman bagi kedua belah pihak, menatap James dengan ekspresi yang sengaja ia buat sedikit terluka, sedikit defensif—reaksi wajar seorang pegawai negeri yang baru saja dituduh secara halus telah membunuh tamu undangannya sendiri.

"Kalau begitu," katanya akhirnya, "mungkin lebih baik kita bicara di tempat yang lebih privat. Saya bisa perlihatkan catatan kateringnya. Aslinya, bukan yang sudah diarsipkan untuk publik."

Ia melihat sesuatu berkelebat di mata James—kepuasan, mungkin, atau sekadar kelegaan seorang penyelidik yang akhirnya mendapat akses yang ia harapkan—dan itulah yang membuat Sara semakin yakin bahwa laki-laki di depannya ini, siapa pun dia sebenarnya, bukan detektif yang disewa keluarga fiktif untuk kasus asuransi rutin.

Ia membawanya melewati dua lorong dan satu tangga darurat, ke sebuah ruang arsip kecil di sayap timur gedung yang, ia tahu persis, adalah satu-satunya titik buta dalam sistem CCTV seluruh lantai—celah yang sudah ia catat sejak minggu pertama bekerja di sini, bukan karena kebetulan, tapi karena bagian dari pekerjaannya adalah tahu persis di mana ia bisa menghilang dari pengawasan kapan pun ia butuh.

Pintu tertutup di belakang mereka dengan suara klik pelan.

"Jadi," kata Sara, berbalik menghadapnya, suaranya masih dalam mode sekretaris ramah selama tepat setengah detik lebih lama—cukup lama untuk membuat James lengah, cukup singkat untuk tidak membuang momentum.

Lalu tangannya sudah bergerak.

Ia menangkap pergelangan tangan kanan James sebelum laki-laki itu sempat memproses apa yang terjadi, memutarnya ke belakang dengan sudut yang cukup menyakitkan untuk melumpuhkan tanpa mematahkan, dan mendorong tubuhnya ke dinding arsip dengan kekuatan yang jelas tidak pernah diajarkan dalam pelatihan sekretaris manapun di dunia ini.

"Who the fuck are u," kata Sara, suaranya rendah, dekat dengan telinganya, semua kelembutan tadi lenyap sepenuhnya.

Untuk sepersekian detik, James—atau siapa pun namanya—diam saja, tubuhnya kaku menahan sakit, tapi Sara bisa merasakan sesuatu yang aneh di bawah kekagetannya: bukan panik murni. Perhitungan. Penilaian ulang yang cepat, jenis yang hanya dimiliki seseorang yang sudah terlatih untuk tidak pernah benar-benar terkejut, hanya tertunda.

"I can ask the same question," kata James akhirnya, suaranya tercekat sedikit karena posisi lengannya, tapi tetap tenang dengan cara yang membuat Sara semakin waspada, bukan semakin lega. "Sekretaris biasa nggak akan bisa mutar lengan orang dewasa dan mojokin mereka ke tembok arsip kayak gini, kau tau."

"Bukan aku yang mulai bohong soal keluarga yang nggak ada," kata Sara, mengeratkan pegangannya sedikit, cukup untuk membuat James mendesis pelan. "Jadi coba lagi. Siapa yang benar-benar bayar kau, James—kalau itu memang nama aslimu, yang mana aku ragu."

Ada jeda lain—lebih panjang kali ini, dan di dalamnya Sara bisa melihat laki-laki itu menghitung, sama seperti dirinya sendiri sedang menghitung: berapa banyak yang harus diakui, berapa banyak yang masih bisa disembunyikan, dan apakah versi malam ini akan berakhir dengan salah satu dari mereka berbohong lebih baik daripada yang lain.

"Kalau aku jawab," kata James pelan, "kau harus jawab juga. Karena setauku pertanyaan siapa-kau-sebenarnya itu berlaku dua arah, Sara Riders—kalau memang itu nama aslimu, yang mana aku juga ragu."

Sara tidak melonggarkan pegangannya. Tapi untuk pertama kalinya sejak pintu arsip itu tertutup, sesuatu di dadanya—sesuatu yang terlalu mirip rasa hormat profesional untuk membuatnya nyaman—mulai mengakui bahwa mungkin, untuk kali ini, ia baru saja menemukan lawan yang benar-benar setara.

James menahan napas, merasakan cengkeraman Sara yang tidak melonggar sedikit pun. Ruang arsip itu gelap, hanya diterangi lampu darurat merah kecil di sudut plafon, cukup untuk membuat bayangan mereka berdua terlihat seperti dua siluet yang saling mengunci.

"Fine," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan. "Aku bukan penyelidik swasta. Tapi aku juga bukan musuhmu, kalau itu yang kau khawatirkan."

"Itu bukan jawaban," kata Sara, mendorong pergelangan tangannya sedikit lebih tinggi. "Nama agensi. Sekarang."

Ada jeda panjang, cukup lama untuk membuat Sara mempertimbangkan apakah ia perlu menaikkan lagi sudut lengan itu untuk mendapatkan jawaban, sebelum James akhirnya menghela napas—bukan menyerah, lebih seperti seseorang yang baru saja kalah dalam kalkulasi risiko yang sudah ia jalankan sejak awal percakapan ini.

"BIN," katanya akhirnya, satu kata, keluar seperti sesuatu yang lebih berat dari yang seharusnya dimiliki dua suku kata. "Badan Intelijen resmi milik negara Indonesia, aku bertugas divisi satu yang spesialisasinya memang intelijen luar negeri. Tepatnya wilayah Amerika Serikat dan Kanada."

Sara tidak melepaskan pegangannya, tapi sesuatu di kepalanya mulai bekerja lebih cepat, menyusun ulang setiap detail malam gala itu dengan lensa baru. Badan Intelijen milik negara, suatu negara dimana dirinya berasal namun enggan sekali ia mengunjungi tempat tersebut lagi.

Bukan FBI, bukan agen lokal, bukan bahkan agensi swasta seperti tempatnya sendiri bernaung—negara asing yang tiba-tiba sangat peduli soal kematian seorang konsultan cybersecurity Amerika, cukup peduli untuk mengirim orang menyamar sebagai detektif swasta di kantor Walikota New York.

Sara mendengus keras. "Mereka tidak ajarkan untuk berbohong atau bagiamana?"

"Bagaimana denganmu? Tempatmu berasal juga tidak mengajarkan berbohong hingga aku saja mengenali senyum palsu yang kau pamerkan di lobi tadi," kata James. Pegangannya pada sosok yang dua kali lebih besar darinya sedikit melonggar, membuat James mampu membebaskan diri.

James mundur dua langkah begitu lengannya lepas sepenuhnya, tangan kanannya otomatis terangkat menggosok pergelangan yang masih terasa panas bekas cengkeraman Sara. Tapi ia tidak lari. Tidak juga menyerang balik. Ia hanya berdiri di sana, mengatur napas, menatap Sara dengan cara yang, anehnya, terasa lebih seperti penilaian ulang daripada amarah.

Sara sendiri tidak bergerak mengejar.

Kalimat James masih menggantung di kepalanya, menolak pergi—bukan karena menyakitkan, tapi karena tepat sasaran. Senyum di lobi tadi pagi. Ia pikir senyum itu cukup sempurna untuk lolos dari siapa pun yang bukan sesama profesional. Ternyata ia salah, dan entah kenapa itu mengganggunya lebih dari yang seharusnya.

Ia juga tidak berniat menjelaskan kenapa kalimat "tempat kau berasal" tadi sempat membuat sesuatu di dadanya berhenti sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya diizinkan sebuah nama negara. Itu bukan percakapan untuk ruang arsip kantor Walikota, dan bukan juga percakapan untuk orang asing yang baru saja ia coba patahkan lengannya.

Ia mendorong semua itu kembali ke tempat biasa ia menyimpannya—rapi, terkunci, tidak akan mengganggu pekerjaan.

"Divisi Satu," katanya akhirnya, mengulang kata-kata James dengan nada sengaja dibuat datar. "Amerika Serikat dan Kanada. Berarti Jakarta masih anggap New York cukup penting buat ditempatin agen tetap."

"New York selalu penting," kata James, suaranya kembali stabil sekarang setelah lengannya bebas. "Terutama kalau separuh uang kotor dunia lewat sini dulu sebelum dicuci bersih di tempat lain."

"Itu belum jawab pertanyaanku," kata Sara, menyilangkan tangan, kembali ke nada dingin dan terkendali. "Kenapa Jakarta peduli soal orang Amerika yang mati kena serangan jantung palsu?"

"Karena Samuel White bukan cuma konsultan FBI." James bersandar ke rak arsip di belakangnya, seolah baru sadar kakinya masih agak gemetar dari adrenalin. "Dia aset kami. Sudah delapan tahun. Double agent—dia kasih kami akses ke apa pun yang FBI temukan soal jaringan pencucian uang yang lewat New York, dan sebagai balasannya kami kasih dia intel yang bikin dia keliatan brilian di depan atasannya sendiri. Kesepakatan yang cukup rapi selama delapan tahun, sampai minggu lalu."

"Apa yang berubah minggu lalu?"

"Dia bilang dia nemu sesuatu yang, katanya, 'lebih besar dari yang bisa dia pegang sendirian'." James mengangkat bahu, meski ekspresinya tidak seringan gestur itu. "Dia nggak sempat jelasin lebih jauh dari itu. Tiga hari kemudian dia mati di kursi belakang taksi."

Sara menyandarkan punggung ke pintu, mencoba menampilkan ketenangan yang jauh lebih tipis daripada yang terlihat. "Apa yang dia pegang," katanya, "yang cukup penting sampai negaramu kirim orang buat nyamar jadi detektif swasta."

"Kunci," kata James akhirnya. "Bukan kunci fisik. Kredensial akses tingkat tertinggi ke sistem verifikasi yang menghubungkan setidaknya tiga clearing house besar di Wall Street—sistem yang, kalau disusupi dengan cara yang benar, bisa bikin siapa pun memindahkan, membekukan, atau melenyapkan triliunan dolar dalam hitungan menit, dan membuatnya terlihat seperti kesalahan teknis biasa, bukan serangan."

Sara merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tengkuknya—bukan takut untuk dirinya sendiri, tapi kesadaran akan skala sesuatu yang jauh lebih besar dari satu nyawa yang hilang di kursi belakang taksi.

"Kredensial semacam itu nggak seharusnya dipegang satu orang," katanya pelan.

"Memang nggak seharusnya." James mengangguk, seolah dia sendiri sudah lama berdebat soal itu dengan orang-orang di atasnya. "Tapi sistem itu dirancang biar tetap bisa jalan kalau terjadi krisis nasional, kalau protokol normal nggak bisa diakses—makanya ada satu 'kunci darurat' yang dipegang manusia, bukan server. Samuel dipilih karena dia satu-satunya orang di persimpangan itu yang dipercaya dua negara sekaligus. FBI percaya karena rekam jejaknya. Kami percaya karena dia milik kami duluan."

"Dan sekarang kuncinya hilang," kata Sara, "bareng orangnya."

"Dan sekarang kuncinya hilang," James mengulang, "bareng orangnya, di sebuah gala yang kau atur, dua meter dari CEO perusahaan teknologi Indonesia yang entah kenapa ngobrol empat mata sama dia semalam sebelum dia mati."

Sara menatapnya lama. Jadi dia tahu soal itu juga.

"Kau lihat itu," katanya, bukan pertanyaan.

"Aku lihat cukup banyak hal malam itu," kata James, "termasuk seorang sekretaris pribadi yang menghabiskan dua jam mengawasi ruangan dengan cara yang nggak diajarkan di sekolah administrasi manapun."

Untuk pertama kalinya sejak pintu arsip itu tertutup, ada sesuatu yang mendekati senyum di sudut bibir Sara—bukan karena situasinya lucu, tapi karena ironi dari dua orang yang sama-sama menyamar, sama-sama mengawasi orang yang sama, tanpa satu pun tahu yang lain ada di ruangan itu sampai semuanya sudah terlambat untuk tetap rahasia satu sama lain.

"Baiklah," katanya akhirnya, melangkah menjauh dari pintu, memberi James ruang yang jelas dia butuhkan setelah lima menit terakhir. "Aku nggak akan bilang aku kerja buat siapa. Belum. Tapi aku akan bilang ini: kalau ada yang berencana menjatuhkan Wall Street pakai kredensial yang barusan kau sebutin, itu bukan cuma masalah negaramu atau negaraku. Itu masalah semua orang yang punya rekening bank."

"Jadi kita kerja sama."

"Kita kerja sama," kata Sara, "sampai kuncinya ketemu. Setelah itu, semua taruhan batal, dan aku nggak janji nggak akan mutar lenganmu lagi kalau kepentingan kita mulai beda arah."

James menggosok pergelangan tangannya sekali lagi, menatapnya dengan ekspresi yang, untuk pertama kalinya, terlihat lebih seperti hormat daripada waspada. "Fair enough," katanya. "Sekarang—soal hard drive yang katamu 'menguap tanpa jejak' semalam sebelum kau telepon atasanmu."

Sara membeku sepersekian detik.

"Bagaimana kau tahu soal itu."

Senyum kecil muncul di wajah James, senyum pertama yang benar-benar terlihat sejak ia melangkah masuk ke lobi pagi ini—dan untuk pertama kalinya, senyum itu terlihat jauh lebih percaya diri daripada siapa pun yang baru saja mengaku hampir dipatahkan lengannya lima menit lalu.

"Karena," katanya, "aku juga bukan satu-satunya orang di ruangan itu malam ini yang tahu cara menyadap telepon."

Sara menatapnya lama, menghitung ulang—untuk kesekian kalinya pagi ini—berapa banyak yang sebenarnya sudah diketahui laki-laki di depannya, dan berapa banyak dari kendali yang ia kira ia pegang sejak awal percakapan ini yang, ternyata, tidak pernah benar-benar ada di tangannya sama sekali.

"Kau nyadap telepon pribadiku," katanya pelan, "dan tetap berani datang ke sini sendirian, tanpa backup, buat interogasi seorang perempuan yang baru saja kau lihat sendiri bisa mematahkan lenganmu kalau dia mau."

"Aku nggak bilang aku sendirian," kata James.

Itu adalah kalimat yang, dari semua kalimat yang keluar dari mulutnya pagi ini, paling berhasil membuat Sara benar-benar diam.

Ia masih memproses implikasi dari kalimat itu—backup yang tidak terlihat, entah menunggu di lobi, di tangga darurat, atau sudah berdiri di antara pegawai lain yang lalu-lalang di luar pintu arsip ini seolah tidak terjadi apa-apa—ketika James melanjutkan, suaranya berubah, kehilangan nada defensif yang tadi mendominasi separuh percakapan mereka.

"Jadi ini yang mereka incar," gumam Sara, cukup pelan hanya untuk didengar oleh dirinya sendiri. "Dan sekarang kuncinya hilang, karena orang tidak ada."

"Sebagaian menduga seperti itu, sebagian lagi kalau kunci itu telah berpindah tangan ke seseorang yang membunuhnya." kata James. "Dan orang itu berdiri tepat dihadapanku."

"Me?" tanya Sara menunjuk dirinya sendiri.

"Apa yang dilakukan agen intelijen swasta di kantor Walikota New York dengan posisi yang sangat strategis?"

Sara menatapnya lama, mencerna tuduhan itu dengan ekspresi yang, ia harap, terlihat lebih seperti hiburan daripada kepanikan yang sebenarnya mulai menjalar di bawah kulitnya.

"Logika yang menarik," katanya akhirnya, "mengingat aku baru tahu soal 'kunci' itu tiga puluh detik yang lalu, dari mulutmu sendiri. Kau serius mau bilang aku bunuh orang buat sesuatu yang bahkan aku nggak tahu namanya sampai kau yang kasih tahu?"

"Atau kau cuma pura-pura nggak tahu dengan sangat meyakinkan," kata James, meski nadanya sudah kehilangan sedikit keyakinan yang tadi ada di kalimat pertamanya. "Kau bilang sendiri, malam itu tugasmu cuma mengawasi Samuel. Bukan kebetulan kalau orang yang ditugaskan mengawasi seseorang, kebetulan juga orang terakhir yang tahu persis kapan dan di mana dia sendirian."

"Kalau aku beneran bunuh dia dan ambil kuncinya," kata Sara, melangkah maju satu langkah, cukup dekat untuk membuat James kembali waspada, "kenapa aku masih di sini, tiga hari kemudian, ngurusin faktur katering dan nerima tamu yang ngaku-ngaku detektif keluarga fiktif, alih-alih udah kabur ke suatu tempat yang nggak punya perjanjian ekstradisi?"

James tidak langsung menjawab, dan Sara mengambil itu sebagai kemenangan kecil.

"Karena," lanjutnya, "kalau aku sepintar yang kau kira, aku juga cukup pintar buat tahu bahwa kabur justru bakal bikin aku keliatan bersalah. Tinggal di tempat, tetap kerja seperti biasa—itu jauh lebih meyakinkan buat siapa pun yang mengawasi. Termasuk kau."

"Itu argumen yang bisa dipakai orang yang bersalah dan orang yang enggak," kata James, meski suaranya sudah jauh lebih pelan dari sebelumnya.

"Betul." Sara mengangkat bahu. "Makanya aku nggak akan buang waktu meyakinkanmu. Tapi coba pikir dari sudut lain, James—atau apa pun namamu. Kau juga ada di ruangan itu malam ini. Kau tahu soal kunci itu sebelum aku. Kau punya akses buat nyadap telepon pribadiku, yang artinya kau juga punya akses ke banyak hal lain yang aku bahkan belum kepikiran. Kalau aku boleh main tuduh-tuduhan, aku bisa dengan mudah bilang kaulah yang bunuh asetmu sendiri—entah karena dia mau bocorin sesuatu ke pihak yang salah, atau karena Jakarta memutuskan lebih murah menghilangkan dia daripada terus membiayai operasinya selama delapan tahun."

Rahang James mengeras.

"Aku nggak bunuh aset sendiri."

"Aku juga nggak bunuh orang yang cuma aku suruh awasin dari jarak sepuluh meter," kata Sara, suaranya kembali dingin, terkendali. "Jadi sekarang kita berdua sama-sama punya alasan buat curiga satu sama lain, dan sama-sama nggak punya bukti yang cukup buat membenarkan kecurigaan itu. Selamat datang di titik paling nyaman dari kerja sama macam ini."

James menghela napas panjang, menggosok wajahnya dengan satu tangan—gestur seseorang yang baru sadar interogasinya sendiri baru saja berbalik arah dan menghantam mukanya sendiri.

"Oke," katanya akhirnya. "Fair. Aku nggak punya bukti kau yang ambil kuncinya. Kau nggak punya bukti aku yang bunuh Samuel. Kita berdua cuma dua orang asing yang kebetulan sama-sama nyamar di acara yang sama, sama-sama curiga satu sama lain, dan sama-sama nggak punya satu pun petunjuk nyata soal siapa yang beneran bawa kunci itu pergi."

"Yang berarti," kata Sara, "kita berdua buang-buang waktu saling curiga, sementara siapa pun yang beneran punya kunci itu udah tiga hari di depan kita."

James menatapnya lama, mempertimbangkan sesuatu yang jelas belum sepenuhnya ia putuskan.

"Kalau kau beneran nggak ada hubungannya sama hilangnya kunci itu," katanya akhirnya, "berarti kau bakal sama pentingnya kayak aku buat nyari siapa yang ada."

"Aku udah bilang itu dari awal," kata Sara. "Cuma kau yang terlalu sibuk nuduh aku buat dengerin."

Sudut bibir James bergerak sedikit, nyaris seperti senyum yang ia tahan mati-matian, meski matanya masih menyimpan sisa kewaspadaan yang tidak sepenuhnya hilang.

"Baiklah," katanya. "Kerja sama. Tapi aku tetap akan mengawasimu."

"Sama," kata Sara. "Anggap saja kita berdua saling jadi jaminan bahwa yang lain nggak macam-macam."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Collateral   CHAPTER VIII : BROKEN GLASS

    Pintu apartemen 1803 baru saja menutup di belakangnya waktu James mendengar decit sepatunya sendiri di karpet abu-abu, satu-satunya suara di koridor sepi itu selain dengungan AC yang tidak pernah benar-benar berhenti. Ia berjalan menuju lift dengan kepala penuh—Sara, Samuel White, nama yang belum ia dengar, laporan yang harus ia susun tanpa benar-benar tahu apa yang harus ia tulis di dalamnya.Ponselnya bergetar di saku jaket. Ia meraihnya, layar menyala dengan pesan dari atasannya, dan itulah alasan kenapa matanya sempat teralih dari jendela besar di ujung koridor—jendela kaca setinggi langit-langit yang menghadap ke arah gedung apartemen lain di seberang jalan, salah satu fitur "mewah" yang selalu dibanggakan brosur properti New York, pemandangan kota di malam hari yang berkelap-kelip tanpa peduli apa pun yang terjadi di baliknya.Kaca itu pecah sepersekian detik sebelum suara tembakan sampai ke telinganya.Bukan urutan yang seharusnya masuk akal—James tahu itu, bagian otaknya yang

  • Collateral   CHAPTER VII : OVERDUE

    Butuh tiga hari bagi James untuk berhenti mencari alasan supaya jantung Samuel White berhenti berdetak secara wajar.Tiga hari itu ia habiskan sendirian di ruang aman kedutaan, membongkar ulang setiap laporan toksikologi yang bisa ia akses—resmi maupun yang seharusnya tidak pernah keluar dari server BIN sama sekali—sampai akhirnya ia menemukan satu nama teknik yang cuma pernah ia baca sekali di modul pelatihan lanjutan, jenis yang diajarkan sebagai referensi, bukan sebagai keahlian yang harus dikuasai: serangan jantung yang diinduksi lewat titik tekanan saraf tertentu, nyaris mustahil dideteksi kecuali autopsi dilakukan dalam enam jam pertama oleh seseorang yang tahu persis apa yang harus dicari.The Forge mengajarkan itu. Bukan BIN, bukan CIA, bukan satu pun agensi yang pernah masuk radar James sepanjang kariernya.Ia tidak butuh bukti lagi setelah itu. Ia cuma butuh alamat.Dan percakapan di kamar hotel Amar tiga hari lalu—yang sebagiannya ia dengar sendiri lewat sadapan yang seharu

  • Collateral   CHAPTER VI : SOMEONE IMPORTANT

    Sara juga memiliki kemampuan untuk muncul di ruangan seolah dia bagian dari furniturnya sejak awal—bukan berteleportasi (itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia ini), melainkan hasil dari bertahun-tahun mempelajari satu kebenaran sederhana yang kebanyakan orang tidak pernah sadari: tidak ada yang benar-benar memperhatikan siapa yang membawa nampan, siapa yang memegang clipboard, atau siapa yang berdiri di sudut ruangan dengan earpiece kecil di telinga. Orang-orang penting terlalu sibuk merasa penting untuk bertanya-tanya siapa yang melayani kepentingan mereka. Ada banyak hal yang tidak disadari kebanyakan orang, apalagi pada kerumunan orang penting. Orang-orang penting terlalu sibuk merasa penting untuk bertanya-tanya siapa yang melayani kepentingan mereka. Juga terlalu sibuk pada pikiran mereka sendiri sehingga mengabaikan kalau ada manusia yang mampu menyelinap masuk kemana saja. Ia sudah berada di sebuah kamar hotel mewah, jauh sebelum resepsi di lantai bawah bahkan menc

  • Collateral   CHAPTER V : SECOND SHOE

    "Kita perlu lacak sumber transaksinya," kata Sara, sudah berdiri, jarinya bergerak ke salah satu keyboard sambil separuh badannya masih menghadap James. "Tapi nggak dari sini. Fed Reserve pasti udah mulai audit internal begitu ada percobaan akses kayak gitu, dan kalau timku ikut nongol di log mereka sekarang, itu bakal jadi pertanyaan yang nggak perlu.""Jadi kita nunggu?""Kita nunggu jejaknya dingin dulu," kata Sara, "baru kita masuk lewat pintu belakang yang nggak ninggalin catatan kunjungan."James menyandarkan diri ke meja, mengamatinya bekerja—dan untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke ruangan ini, ia membiarkan dirinya benar-benar diam cukup lama untuk memperhatikan, bukan cuma mendengarkan“James, kau kenal Amaruddin Adnan.” kata Sara secara tiba-tiba.“Semua orang kenal dia, Sara.” kata James, bahunya sedikit rileks daripada ketika dia memasuki ruangan ini. “Orang terkaya se Asia, masuk top 50 orang terkaya di dunia. Orang-orang bilang kalau dirinya itu Tony Stark yang k

  • Collateral   CHAPTER IV : TRUST EXERCISE

    Kantor yang dimaksud Sara bukan gedung Walikota.James baru sadar itu ketika mobil yang mereka naiki—Sara yang menyetir, tentu saja, dengan cara yang membuat James diam-diam berpegangan pada pegangan pintu selama dua blok pertama—berbelok menjauh dari arah City Hall, masuk ke jalan sempit di sisi selatan Financial District, berhenti di depan bangunan tanpa papan nama, hanya nomor 47 yang nyaris pudar di atas pintu logam yang terlihat seperti pintu masuk gudang biasa."Ini bukan kantor Walikota," katanya, lebih sebagai observasi daripada pertanyaan."Kau pintar juga," kata Sara, sudah keluar dari mobil, tidak menunggu James untuk membuka pintunya sendiri. "Kantor Walikota itu tempat aku kerja jadi Sara Riders. Ini tempat aku kerja jadi diriku sendiri."Bagian dalam bangunan itu jauh lebih rapi daripada yang seharusnya dimiliki gudang biasa—lorong pendek dengan pencahayaan yang terlalu terang untuk terasa nyaman, tiga lapis pintu yang masing-masing membutuhkan kombinasi berbeda untuk di

  • Collateral   CHAPTER III : JUST NORMAL SATURDAY

    Sara tengah menikmati hari Sabtunya yang indah di sebuah kafe yang terletak di pinggiran jalan area Lower Manhattan—satu-satunya hari dalam seminggu ketika ia mengizinkan dirinya sendiri untuk benar-benar tidak menjadi siapa-siapa.Bukan Sara Riders, sekretaris pribadi Walikota yang tersenyum tepat pada waktunya dan tahu persis kapan harus menuang ulang gelas anggur seseorang. Bukan juga aset The Forge, nama sandi yang cuma dikenal segelintir orang lewat radio enkripsi dan pesan berkode di balik panel dapur. Cuma seorang perempuan dengan rambut lurus asli tanpa catokan, memakai jaket denim yang sudah ia pakai sejak entah kapan di kehidupan mana, duduk di meja kecil paling pojok sebuah kedai kopi yang menunya lebih mahal dari yang seharusnya tapi croissant-nya cukup enak untuk membuat harga itu terasa hampir masuk akal.Distrik finansial di hari Sabtu punya energi yang aneh—kosong dari jas dan dasi yang biasa memenuhi trotoarnya hari kerja, digantikan turis yang berfoto di depan patung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status