ホーム / Fantasi / Crowned By The Moon / BAB 8 : Pertanda Bahaya

共有

BAB 8 : Pertanda Bahaya

作者: Vernon Gae
last update 公開日: 2026-03-19 12:00:00

Kabut malam menyelimuti Vagborn, di lapangan terbuka dengan hamparan salju berdiri beberapa manusia serigala. Suasana tegang sangat terasa.

“Kalian dengar bukan, Rion sudah sadar, ia mengatakan Pangeran kita menyelamatkan manusia.”

“Sttt..pelankan suaramu, suasana hati Nona Julia sedang buruk.”

Mereka saling berpandangan tahu kalau apa yang mereka bicarakan kali ini bisa membawa petaka.

“Apa kalian mempercayai hal itu ?”

Suara perempuan terdengar dari balik pepohonan.

Langkah kaki terdengar mendekat, para manusia serigala langsung menunduk memberi hormat.

Seorang wanita muncul dari bayangan hutan, rambutnya berwarna merah seperti darah, tatapannya tajam dan penuh wibawa.

Julia Fenrav.

Anak dari pemimpin kawanan utara.

Ia berhenti dan menatap salah satu dari mereka, “apa kalian yakin kalau Pangeran Kael menyelamatkan manusia itu ?”

Beberapa manusia serigala itu terdiam, tak berani menjawab.

“Katakan saja.” Ucap Julia dingin.

Dengan titah itu mereka mengatakan kalau mereka sangat yakin, bukan hanya Rion, namun serigala lain juga sempat melihatnya, hanya saja mereka takut kalu membahas dan melaporkannya.

“Memalukan, dari awal harusnya manusia itu bisa dibunuh.”

Julia tersenyum tipis, ia tak menyangka kalau Kael masih bersikap lembut pada manusia.

Julia pun kembali menanyakan apakah mereka sudah menemukan keberadaan Kael dan juga para bawahannya.

“Nona Julia, mengawasi Pangeran Kael cukup sulit, kami tak tahu pasti dimana keberadaannya sekarang. Hanya saja kami tahu kalau Pangeran Kael memperketat penjagaan di Kastil milik mendiang ratu, beberapa kawanan mereka juga ikut mengawasi pergerakan manusia Kekaisaran Lunareth.”

“Menarik sekali.” Ucap Julia.

Ia menatap bulan yang bersinar terang, ada banyak hal yang tak biasa Kael lakukan.

“Bagaimana dengan Yuan dan Noel ? Apa mereka sudah membalas pesanku ?” Tanya Julia.

Lagi-lagi beberapa manusia serigala itu menggeleng, Yuan dan Noel bahkan yang lainnya pun tak memberi jawaban pastinya.

“Mereka berkali-kali mengatakan kalau Pangeran Kael tak ingin di ganggu siapapun.”

Julia terdiam beberapa detik, sebuah senyuman merekah di wajahnya.

“Kalau begitu….aku akan menemui dan melihatnya sendiri.” Ucapnya sembari menatap ke arah hutan.

“Tidak.”

Semua kepala langsung menoleh ke sumber suara itu.

“Rion..”

“Kenapa ?”

Seseorang yang di panggil Rion itu berjalan mendekat, langkahnya berat, ia berjalan sekit pincang, luka di kakinya masih belum benar-benar pulih. Luka di lehernya pun masih menganga.

“Jangan mengusiknya Nona.” Ucap Rion

Alis Julia terangkat sebelah, ia bertanya-tanya apa alasan Rion melarangnya.

“Apa kau tak melihat kaki dan lukamu yang lain ? Seekor serigala yang dilukai manusia harusnya tak diam, apalagi itu adalah orangku.” Ucap Julia

Udara malam semakin dingin, Rion tahu apa yang dimaksud Julia, ia pun juga ingin membalasnya, namun manusia itu dilindungi oleh Pangeran Kael. Sebenarnya pun ia tak ingin melaporkan masalah ini, karena takut Julia justru akan membunuhnya.

Semua kawanan pun sebenarnya tahu rasa ketertarikan Julia pada Pangeran Kael.

Namun diamnya sia-sia, salah satu serigala lain membocorkannya, dibawah tekanan Rion terpaksa jujur.

Rion menatap luka-luka di tubuhnya, rasa sakit masih menjalar di seluruh tubuhnya, ingatan tentang kejadian itu kembali muncul di kepalanya.

===========

Saat itu hutan di penuhi bau darah, wanita manusia itu tergeletak penuh luka.

Rion memandangnya dengan tajam, luka yang di berikan wanita itu menyakitkan, ada sesuatu di belati dan anak panah miliknya.

Ia sudah siap menerkam, namun saat ia menerjang sebuah bayangan hitam melintas cepat di antara pepohonan.

Ia menangkap dan melempar Rion ke udara lalu membantingnya dengan keras.

Rion menatapnya, mata merah dengan tatapan dinginnya.

Pangeran Kael.

Serigala lain langsung mundur danberanjak pergi, mereka tahu siapa yang dihadapi, sedangkan Rion yang terluka parah mencoba bangkit, lolongan kesakitan dan kesedihan keluar dari tenggorokannya.

“Manusia itu melukai kawanan kita.”

Namun Kael tak menjawabnya, ia justru berjalan mendekat ke arah wanita manusia itu, wanita itu sudah kehilangan kesadarannya.

“Pergi.” Titah Kael.

Rion tak bergerak mundur, justru ia berjalan mendekat. Dan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Dalam satu gerakan cepat, tangan Kael berada di lehernya, ia mencekram dengan kuat, ia menyerang Rion lalu kembali melempar dan menghantamkannya dengan keras ke tanah.

Bughh…

Ia melihat Pangeran Kael mengangkat tubuh wanita manusia sialan itu ke dalam pelukannya.

“Dia milikku.” Ucap Kael sembari melirik Rion.

========

Ingatan itu berakhir.

“Pangeran menandai manusia itu.” Ucap Rion.

Suasana di hutan menjadi sunyi setelah perkataan Rion, beberapa dari mereka juga gelisah akan reaksi Julia.

Dengan jelas terlihat kalau Julia marah, namun ia berusaha tenang.

Mereka menunduk, namun tidak dengan Rion, tatapannya justru sedih.

“Apa maksud perkataanmu Rion ? Pangeran kita menandai seorang manusia ?”

Ia berjalan mengelilingi Rion.

“Jangan bodoh, penandaan bukan hal sembarangan, itu juga pertama kalinya mereka bertemu.” Ucap Julia.

Rion hanya terdiam.

Ya, ia tahu seorang serigala memang tak bisa sembarangan menandai manusia, ada aturan, ada syarat yang berat.

“Dan Kael tak akan pernah menandai seorang manusia.” Ucap Julia

Ia berjalan pergi, meskipun dia berkata begitu tetap saja perkataan itu mengganggu pikirannya.

Bagaimana jika Rion benar ?

Bagaimana jika Kael benar-benar melindungi manusia itu sampai mengkhianati keluarganya sendiri ?

“Kalau begitu…aku harus melihat manusia itu sendiri.”

Jauh dari tempat Julia, tepatnya di bagian hutan yang lebih dalam namun tersisihkan.

Kael dan Yuan berjalan di antara pepohonan tua yang menjulang tinggi.

“Yang Mulia…”

“Ia pasti sudah tahu kalau aku akan datang.” Ucap Kael.

Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik akar pohon besar.

“Sudah lama sekali, Lunara.”

Beberapa saat tak ada jawaban, namun begitu perkaaan itu dijawab tubuh Yuan langsung menegang.

“Aku sudah menunggu kedatanganmu.”

Seorang lelaki keluar, rambutnya panjang dan sudah memutih seluruhnya.

Usianya tak muda lagi, namun tubuhnya tak terlihat rapuh seperti orang tua pada umumnya.

Pria itu tersenyum memandang Yuan, matanya yang berwarna putih itu membuat Yuan semakin tak nyaman.

Ia bukan manusia, bukan juga manusia serigala sepenuhnya, ia seorang darah campuran, makhluk sepertinya sangat jarang lahir. Keistimewaannya adalah melihat takdir.

Pria yang Kael panggil dengan nama Lunara itupun kini menatapnya, tatapannya sangat dalam.

“Aku sudah menemukannya, namun ia berkata tak mengingat apapun.” Ucap Kael.

“Akan ada bahaya besar.” Ucap Lunara.

“Apa maksudnya ?” Tanya Kael.

Lunara tersenyum tipis, “takdir jarang menjelaskan dirinya dengan jelas.”

Kael mengepalkan tangannya, suasana pun berubah menjadi tegang.

“Ketika bulan dan darah bertemu semua akan berubah dan bahaya itu dimulai sejak kau menemukannya, kembalilah Pangeran Kael.” Ucap Lunara.

Mendengarnya Kael langsung pergi, perkataan itu mengganggu pikirannya.

Yuan pun menundukkan kepalanya, bagaimanapun Lunara tetaplah tetua untunya meskipun berdarah campuran.

“Jangan pernah berjalan ke arah yang berbeda, saat itu tiba tetaplah menjadi bayangannya.” Ucap Lunara sebelum Yuan pergi.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Crowned By The Moon   BAB 12 : Permainan Sang Pemburu

    Kesadaran Arcellia datang perlahan, rasa sakitnya datang lebih dahulu, di kepala, di tubuh, tiap bagian tubuhnya terasa sakit, sangat sakit. Ia membuka mata perlahan, pemandangan yang ia lihat sangat asing, bukan rumahnya, bukan juga kastil milik Kael. Ia mengatur napas, kepalanya mencoba mengingat apa yang telah terjadi.Hutan.Seorang wanita. Arcellia mencoba menggerakkan tangannya, rasa sakit langsung kembali menjalar, lebih tajam dari yang ia ingat terakhir kali, ia kembali mencoba menggeser tubuhnya, namun nyatanya itu adalah sebuah kesalahan, Arcellia berteriak kesakitan, ia kini tahu bahwa tulang-tulang di tubuhnya remuk. Matanya perlahan menyapu ruangan asing. Gelap, dingin dan asing, bau yang samar tercium, bukan bau darah segar namun sesuatu yang lebih liar. Jantungnya berdetak lebih cepat, tempat ini adalah sebuah penjara. Langkah kaki terdengar, cukup pelan namun cukup jelas di tengah keheningan. Suara langkah

  • Crowned By The Moon   BAB 11 : Pertanda Yang Terlambat

    =Kekaisaran Lunareth= Langit ibu kota tampak lebih gelap dari biasanya, kereta kuda berhenti di depan kediaman Duke. Para pelayan langsung berlari panik. Saat Duke di turunkan mereka langsung berlarian dan minta di panggilkan tabib. Dalam perjalanan Duke dan Putra Mahkota sudah sadarkan diri. Luka di bahu Putra Mahkota belum ditangani sepenuhnya, namun ia tak peduli, tatapannya hanya tertuju pada Duke. “…maaf.” Duke menghela napas. “Itu bukan hutan biasa…” gumamnya. Duke meminta Puta Mahkota untuk kembali ke istana seusai diobati, namun putra mahkota menolak, ia akan mengirim pasukan lagi dan ikut mencari keberadaan Arcellia. “Apa anda tak tahu mereka siapa Yang Mulia ? Mereka adalah makhluk dari legenda itu, pasukan kita tak bertahan lama saat menghadapinya.” “Namun sepertinya Arcellia berada

  • Crowned By The Moon   BAB 10 : Di Tangan Sang Serigala

    Hari ini terasa berbeda, Arcellia merasakan sesuatu yang tak nyaman, ia duduk di atas ranjang, ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Hutan selalu terlihat sama seperti biasanya, namun kali ini ia tak melihat keberadaan para serigala, entah kemana. Arcellia berdiri, lalu berjalan membuka pintu kamar, lorong kastil menyambutnya dengan kesunyian. “Tempat ini benar-benar menyebalkan..” Tiba-tiba ia berhenti di tengah lorong, ia tak melihat keberadaan Noel. Biasanya pria itu entah muncul dari mana, mengawasi, mengganggu dan memberi perintah atas nama Kael. “Dia bilang pergi sebentar..namun sampai sekarang belum juga kembali.” Gumamnya. Arcellia kembali berjalan, ia menoleh ke arah jendela besar di ujung lorong, ia melangkah mendekat dan menyibak tirai. Lagi-lagi ia tak melihat keberadaan para serigala. “Aneh…”

  • Crowned By The Moon   BAB 9 : Jejak Yang Terlarang

    Langit ibu kota Kekaisaran Lunareth diselimuti awan kelabu. Kediaman Duke Solmire jauh dari kata tenang, para pelayan pun hanyut dalam kesedihan pula. Prajurit kekaisaran pun menjaga ketat kediaman. Di ruang utama, Duke duduk sembari menatap dingin putra mahkota yang berada di depannya. “Pasukan sudah dikerahkan lagi ke Hutan Utara.” “Pemburu terbaik pun ikut terjun mencari keberadaannya.” Kata Putra Mahkota. Namun Duke tak langsung menjawab, ia seolah menyerah dengan keadaan saat ini. Lalu ia berkata pelan, “aku akan pergi ke hutan utara.” Putra Mahkota menolak, ia tak ingin Duke pergi, kalau sampai terjadi sesuatu, ia tak tahu harus berkata apa pada Arcellia nantinya. “Apa menurut anda putriku itu masih hidup ? Ya, tentu saja aku berharap begitu, namun aku tak ingin berharap lebih. Kalaupun hanya sebuah jasad yang kutemukan, setidaknya akula

  • Crowned By The Moon   BAB 8 : Pertanda Bahaya

    Kabut malam menyelimuti Vagborn, di lapangan terbuka dengan hamparan salju berdiri beberapa manusia serigala. Suasana tegang sangat terasa. “Kalian dengar bukan, Rion sudah sadar, ia mengatakan Pangeran kita menyelamatkan manusia.” “Sttt..pelankan suaramu, suasana hati Nona Julia sedang buruk.” Mereka saling berpandangan tahu kalau apa yang mereka bicarakan kali ini bisa membawa petaka. “Apa kalian mempercayai hal itu ?” Suara perempuan terdengar dari balik pepohonan. Langkah kaki terdengar mendekat, para manusia serigala langsung menunduk memberi hormat. Seorang wanita muncul dari bayangan hutan, rambutnya berwarna merah seperti darah, tatapannya tajam dan penuh wibawa. Julia Fenrav. Anak dari pemimpin kawanan ut

  • Crowned By The Moon    BAB 7 : Penjaga Baru

    Arcellia berdiri di lorong, lagi-lagi ia sendirian, semalam sebelum kehilangan kesadaran Kael mengatakan akan pergi untuk mengurus sesuatu, namun waktu itu ia tak biosa menjawab. Sebenarnya semalam Kael kembali mengobatinya dengan darah manusia serigala, kini luka di seluruh tubuhnya sudah sembuh, menghilang seperti tak pernah ada. Tak lama ia di kagetkan oleh sebuah suara asing. “Nona Arcellia.” Arcellia terkejut, begitu pemilik suara itu muncul dari belakangnya. Pria asing itu kini berdiri di depannya, ia mengerutkan kening, ia tak mengenal pria ini, pria itu juga tersenyum padanya, Arcellia tahu senyuman seperti itu adalah sebuah senyum palsu. “Kau siapa ?” Tanya Arcellia. Arcellia mundur perlahan, matanya berputar mencari sesuatu, sesuatu yang bisa ia pakai untuk menghadapi pria asing yang bisa saja adalah seorang penyusup, pencuri, pembunuh ataupun sesua

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status