Se connecterKabut malam menyelimuti Vagborn, di lapangan terbuka dengan hamparan salju berdiri beberapa manusia serigala. Suasana tegang sangat terasa.
“Kalian dengar bukan, Rion sudah sadar, ia mengatakan Pangeran kita menyelamatkan manusia.” “Sttt..pelankan suaramu, suasana hati Nona Julia sedang buruk.” Mereka saling berpandangan tahu kalau apa yang mereka bicarakan kali ini bisa membawa petaka. “Apa kalian mempercayai hal itu ?” Suara perempuan terdengar dari balik pepohonan. Langkah kaki terdengar mendekat, para manusia serigala langsung menunduk memberi hormat. Seorang wanita muncul dari bayangan hutan, rambutnya berwarna merah seperti darah, tatapannya tajam dan penuh wibawa. Julia Fenrav. Anak dari salah satu bangsawan kawanan utara. Ia berhenti dan menatap salah satu dari mereka, “apa kalian yakin kalau Pangeran Kael menyelamatkan manusia itu ?” Beberapa manusia serigala itu terdiam, tak berani menjawab. “Katakan saja.” Ucap Julia dingin. Dengan titah itu mereka mengatakan kalau mereka sangat yakin, bukan hanya Rion, namun serigala lain juga sempat melihatnya, hanya saja mereka takut kalau membahas dan melaporkannya. “Memalukan, dari awal harusnya manusia itu bisa dibunuh.” Julia tersenyum tipis, ia tak menyangka kalau Kael masih bersikap lembut pada manusia. Julia pun kembali menanyakan apakah mereka sudah menemukan keberadaan Kael dan juga para bawahannya. “Nona Julia, mengawasi Pangeran Kael cukup sulit, kami tak tahu pasti dimana keberadaannya sekarang. Hanya saja kami tahu kalau Pangeran Kael memperketat penjagaan di Kastil milik mendiang ratu, beberapa kawanan mereka juga ikut mengawasi pergerakan manusia Kekaisaran Lunareth.” “Menarik sekali.” Ucap Julia. Ia menatap bulan yang bersinar terang, ada banyak hal yang tak biasa Kael lakukan. “Bagaimana dengan Yuan dan Noel ? Apa mereka sudah membalas pesanku ?” Tanya Julia. Lagi-lagi beberapa manusia serigala itu menggeleng, Yuan dan Noel bahkan yang lainnya pun tak memberi jawaban pastinya. “Mereka berkali-kali mengatakan kalau Pangeran Kael tak ingin di ganggu siapapun.” Julia terdiam beberapa detik, sebuah senyuman merekah di wajahnya. “Kalau begitu….aku akan menemui dan melihatnya sendiri.” Ucapnya sembari menatap ke arah hutan. “Tidak.” Semua kepala langsung menoleh ke sumber suara itu. “Rion..” “Kenapa ?” Seseorang yang di panggil Rion itu berjalan mendekat, langkahnya berat, ia berjalan sedikit pincang, luka di kakinya masih belum benar-benar pulih. Luka di lehernya pun masih menganga. “Jangan mengusiknya Nona.” Ucap Rion Alis Julia terangkat sebelah, ia bertanya-tanya apa alasan Rion melarangnya. “Apa kau tak melihat kaki dan lukamu yang lain ? Seekor serigala yang dilukai manusia harusnya tak diam, apalagi itu adalah orangku.” Ucap Julia Udara malam semakin dingin, Rion tahu apa yang dimaksud Julia, ia pun juga ingin membalasnya, namun manusia itu dilindungi oleh Pangeran Kael. Sebenarnya pun ia tak ingin melaporkan masalah ini, karena takut Julia justru akan membunuhnya. Semua kawanan pun sebenarnya tahu rasa ketertarikan Julia pada Pangeran Kael. Namun diamnya sia-sia, salah satu serigala lain membocorkannya, dibawah tekanan Rion terpaksa jujur. Rion menatap luka-luka di tubuhnya, rasa sakit masih menjalar di seluruh tubuhnya, ingatan tentang kejadian itu kembali muncul di kepalanya. =========== Saat itu hutan di penuhi bau darah, wanita manusia itu tergeletak penuh luka. Rion memandangnya dengan tajam, luka yang di berikan wanita itu menyakitkan, ada sesuatu di belati dan anak panah miliknya. Ia sudah siap menerkam, namun saat ia menerjang sebuah bayangan hitam melintas cepat di antara pepohonan. Ia menangkap dan melempar Rion ke udara lalu membantingnya dengan keras. Rion menatapnya, mata merah dengan tatapan dinginnya. Pangeran Kael. Serigala lain langsung mundur dan beranjak pergi, mereka tahu siapa yang dihadapi, sedangkan Rion yang terluka parah mencoba bangkit, lolongan kesakitan dan kesedihan keluar dari tenggorokannya. “Manusia itu melukai kawanan kita.” Namun Kael tak menjawabnya, ia justru berjalan mendekat ke arah wanita manusia itu, wanita itu sudah kehilangan kesadarannya. “Pergi.” Titah Kael. Rion tak bergerak mundur, justru ia berjalan mendekat. Dan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dalam satu gerakan cepat, tangan Kael berada di lehernya, ia mencekram dengan kuat, ia menyerang Rion lalu kembali melempar dan menghantamkannya dengan keras ke tanah. Bughh… Ia melihat Pangeran Kael mengangkat tubuh wanita manusia sialan itu ke dalam pelukannya. “Dia milikku.” Ucap Kael sembari melirik Rion. ======== Ingatan itu berakhir. “Pangeran menandai manusia itu.” Ucap Rion. Suasana di hutan menjadi sunyi setelah perkataan Rion, beberapa dari mereka juga gelisah akan reaksi Julia. Dengan jelas terlihat kalau Julia marah, namun ia berusaha tenang. Mereka menunduk, namun tidak dengan Rion, tatapannya justru sedih. “Apa maksud perkataanmu Rion ? Pangeran kita menandai seorang manusia ?” Ia berjalan mengelilingi Rion. “Jangan bodoh, penandaan bukan hal sembarangan, itu juga pertama kalinya mereka bertemu.” Ucap Julia. Rion hanya terdiam. Ya, ia tahu seorang serigala memang tak bisa sembarangan menandai manusia, ada aturan, ada syarat yang berat. “Dan Kael tak akan pernah menandai seorang manusia.” Ucap Julia Ia berjalan pergi, meskipun dia berkata begitu tetap saja perkataan itu mengganggu pikirannya. Bagaimana jika Rion benar ? Bagaimana jika Kael benar-benar melindungi manusia itu sampai mengkhianati keluarganya sendiri ? “Kalau begitu…aku harus melihat manusia itu sendiri.” Jauh dari tempat Julia, tepatnya di bagian hutan yang lebih dalam namun tersisihkan. Kael dan Yuan berjalan di antara pepohonan tua yang menjulang tinggi. “Yang Mulia…” “Ia pasti sudah tahu kalau aku akan datang.” Ucap Kael. Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik akar pohon besar. “Sudah lama sekali, Lunara.” Beberapa saat tak ada jawaban, namun begitu perkataan itu dijawab tubuh Yuan langsung menegang. “Aku sudah menunggu kedatanganmu.” Seorang lelaki keluar, rambutnya panjang dan sudah memutih seluruhnya. Usianya tak muda lagi, namun tubuhnya tak terlihat rapuh seperti orang tua pada umumnya. Pria itu tersenyum memandang Yuan, matanya yang berwarna putih itu membuat Yuan semakin tak nyaman. Ia bukan manusia, bukan juga manusia serigala sepenuhnya, ia seorang darah campuran, makhluk sepertinya sangat jarang lahir dan berumur panjang. Keistimewaan yang ia miliki adalah melihat takdir. Pria yang Kael panggil dengan nama Lunara itupun kini menatapnya, tatapannya sangat dalam. “Aku sudah menemukannya, namun ia berkata tak mengingat apapun.” Ucap Kael. “Akan ada bahaya besar.” Ucap Lunara. “Apa maksudnya ?” Tanya Kael. Lunara tersenyum tipis, “takdir jarang menjelaskan dirinya dengan jelas.” Kael mengepalkan tangannya, suasana pun berubah menjadi tegang. “Ketika bulan dan darah bertemu semua akan berubah dan bahaya itu dimulai sejak kau menemukannya, kembalilah Pangeran Kael.” Ucap Lunara. Mendengarnya Kael langsung pergi, perkataan itu mengganggu pikirannya. Yuan pun menundukkan kepalanya, bagaimanapun Lunara tetaplah tetua untunya meskipun berdarah campuran. “Jangan pernah berjalan ke arah yang berbeda, saat itu tiba tetaplah menjadi bayangannya.” Ucap Lunara sebelum Yuan pergi.Cahaya pagi masuk masuk melalui celah jendela, Arcellia terbangun. Ia terbangun karena merasakan sesuatu yang hangat, di dadanya. Refleks ia langsung menyentuhnya, tanda itu masih ada. Hangat. Arcel bangkit. Yang pertama ia lihat adalah Kael. Ia tenang, seolah tak pernah terjadi apapun. Tak lama pintu terbuka. Lelaki lain yang ia kenal masuk, Yuan. Ia datang denganmembawa nampan berisi makanan. Arcellia diam, pandangannya berubah. Kejadian di aula sebelumnya kembali muncul di kepalanya. Saat lelaki itu menahan amarah Raja, ayah Kael. Yuan pun sempat menatapnya untuk sesaat, tak lama. Tatapannya tak dingin, namun juga tak ramah. Seolah tengah mempertanyakan maksud pandangannya. Yuan meletakkan nampan itu dengan tenang di hadapan Kael.
Prangg! Suara pecahan kaca keras memecah ruangan, serpihan itu jatuh berserakan di lantai. Namun Julia tak berhenti, ia terus membanting setiap barang yang ia lihat. Kamarnya kini nampak bak tempat tak terawat. “Tak masuk akal!!” Suaranya menggema. Ia terus berteriak, tak percaya dengan apa yang telah terjadi, ia tertawa sesaat, namun beberapa detik kemudian kembali berteriak penuh amarah. “Menandai-“ “Seorang manusia!” Hening sesaat. Juli menendang ranjangnya sendiri, membuatnya remuk dalam sesaat. “Ia-“ Kalimatnya terputus. “Dia bodoh sekali.” Air mata jatuh. Di sudut ruangan Rion berdiri, diam mengamati, beberapa detik kemudian ia berjalan, mendekat dan memeluk tubuh Julia yang meringkuk. “Nona-“ Suaranya rendah, berharap Julia lebih tenang. “Aku tak pernah tahu apa ritual penyatuan itu.” Hening.
Lagi-lagi Arcellia tersadar di tempat yang asing, langit-langit batu yang tinggi menyambutnya, ia tak lagi terbangun di dalam penjara ataupun kamar yang ia tempati sebelumnya, entah kenapa saat ini perasaanya lebih tenang. Tangannya refleks naik ke bagian dada, ia masih bisa merasakannya, rasa nyeri yang aneh. Ingatannya kembali pada saat ia berada di ruang persidangan. Tanda di dadanya. Dan- Kael. Arcellia bangkit dari posisi tidurnya, dan dia menangkap keberadaan pria itu. Kael. Berdiri tak jauh darinya sembari menghisap cerutu. Ia nampak tenang, seolah memang sedang menunggu ia bangun. Sesaat Arcellia masih membeku, Kael pun hanya diam menatapnya. Arcellia kembali menekan dadanya, memastikan kalau ini bukanlah sebuah mimpi, dengan suara yang sedikit bergetar, ia bertanya apa yang sebenarnya telah Kael lakukan padanya. Namun laki-laki itu hanya diam, seperti biasanya.
“Cinta..” Raja memandangi Kael cukup lama, terus menerus mengulang kata-kata itu. “Cinta bukan alasan untuk melanggar aturan kita.” Ucapnya. Kini pandangan raja beralih pada Arcellia, ia mengatakan kalau memang wanita manusia itu bukanlah ancaman, apa bukti yang bisa membebaskannya dari tuduhan itu, mengingat artefak itu pun milik ayahnya. Arcellia yang masih terkejut dan termenung sama sekali tak mendengar ucapan raja, ia hanya menatap Kael dan terus bergulat dengan pikirannya sendiri. Julia kembali berbicara, menurutnya tak mungkin hanya ada 1 artefak. “Yang Mulia Raja..sejujurnya panah yang digunakan wanita ini telah melukai Rion.” Ia berhenti sejenak. “Luka itu..belum pulih hingga saat ini.” Beberapa bangsawan pun menegang, ayah Julia pun juga mengiyakan, meskipun Rion hanyalah manusia serigal
Aula Vagborn telah di penuhi para bangsawan, tak ada suara dan tak ada bisik terdengar, seolah tengah menunggu sesuatu yang menarik. Di tengah ruangan Kael berdiri, namun tak seperti biasanya, pakaiannya tak lagi rapi, ada jejak darah yang telah mengering, lengan bajunya pun sedikit robek. Namun Kael masih berdiri tegak, masih menatap dengan percaya diri, seolah tubuh yang melemah itu tak pernah ada. Di atas singgasana Raja memandangnya dengan dingin. Terdengar sebuah suara yang menggema, mengatakan kalau Kael kali ini dipanggil bukanlah sebagai seorang putra raja, melainkan sebagai pihak yang harus menjawab. “Anda membawa manusia ke wilayah kita.” “Melindunginya dan menyerang salah satu dari kita sendiri. Nama itu akhirnya disebut. “Rion.” Para Bangsawan mulai berbisik pelan, namun Raja meminta mereka untuk diam. “Je
Setelah lolongan dan kegaduhan waktu itu, sama sekali tak ada pertumpahan darah, tak ada taring yang mengoyak siapa pun, yang terjadi justru membuat ia semakin kebingungan. Noel dan Yuan yang terlihat santai seolah itu adalah hal yang biasa bagi mereka. Seseungguhnya ia masih sangat ketakutan, namun tiap langkah ia memaksa agar tak goyah, tak ingin membiarkan ketakutan menjatuhkan lagi martabatnya yang tersisa, meski tubuhnya gemetar dan dadanya sesak, ia berusaha agar punggungnya tetap tegak. Kali ini ia dibawa ke ruangan baru, tak seperti sebelumnya, manusia serigala itu membawanya ke tempat yang layak,,tak ada rantai, tak ada jeruji, bahkan ruangan itu tak gelap, tak seperti penjara. Hanya kamar hangat, yang bersih meskipun asing. Namun ia tak menganggap hal ini sebagai kebaikan, ia masih teringat bagaimana wajah polos dan cantik Julia telah menipunya.







