Mag-log inUntuk pertama kalinya Arcellia bangun tanpa merasakan sakit di tubuhnya, luka-luka itu seolah menghilang setelah Kael mengobatinya semalam. Namun begitu ia keluar kamar lagi-lagi yang menyambutnya hanya kesunyian yang membuatnya gelisah.
“Nona Arcellia.” Suara asing itu mengagetkan dirinya. Pria dengan wajah yang tak pernah ia lihat berdiri di depannya, ia mengerutkan kening, ia tak mengenal pria ini, pria itu juga tersenyum padanya, Arcellia tahu senyuman seperti itu adalah sebuah senyum palsu. “Kau siapa ?” Tanya Arcellia. Arcellia mundur perlahan, matanya berputar mencari sesuatu, sesuatu yang bisa ia pakai untuk menghadapi pria asing yang bisa saja adalah seorang penyusup, pencuri, pembunuh ataupun sesuatu yang mengerikan yakni manusia serigala. “Tuan Kael menitipkan sebuah surat.” Meskipun kewaspadaanya sedikit menurun karena hal itu tetap saja Arcellia tak percaya. Ia meminta pria itu untuk melemparkan surat itu padanya. “Tuan memintaku untuk menjaga anda.” “Menjaga ?” “Aneh sekali, Kael tak mengatakan apapun padaku….” Begitu surat itu sudah ia pegang, Arcellia langsung membuka dan membacanya. Noel menyebutkan beberapa percakapan yang pernah terjadi antara Arcellia dan Kael. Bahkan ia mengulang beberapa kalimat yang pernah Kael ucapkan. Tak mungkin orang asing mengetahui semua itu. “Kalau anda masih tak percaya, tanyakan saja padanya nanti saat ia datang.” Ucap Noel. “Dan namaku Noel.” Noel pun meminta Arcellia untuk mengikutinya, dimana ternyata mereka menuju kamar milik ibu Kael, lukisan itu tetap saja menarik perhatiannya. Noel berjalan menuju dinding di samping lukisan. Tangannya menyentuh salah satu ukiran batu. Klik. Suara mekanisme kecil terdengar, perlahan sebagian dinding bergeser. Aroma wewangian tercium begitu dinding itu bergeser. Arcellia terdiam, ia tak menyangka akan ada ruangan seperti ini di kastil milik keluarga Kael. Membuatnya semakin yakin kalau kastil ini dibuat untuk menghindari bahaya. Namun begitu ia mengikuti Noel masuk, ia sedikit terkejut, sebelumnya ia berpikir akan ada jalan rahasia, namun ia justru melihat banyak barang yang akan disukai oleh tiap wanita. “Ini…” Ruangannya memang tak besar, tetapi dipenuhi dengan lemari kaca, dimana di dalamnya tergantung pakaian-pakaian berkilauan yang tentunya mewah meskipun hiasannya sederhana. Ada juga perhiasan-perhiasan emas, namun kebanyakan mempunyai ukiran serigala. Ia juga melihat sebuah mahkota dengan batu permata merah yang cukup besar, namun jika diperhatikan lebih dekat dan lebih detail terdapat ukiran serigala pada batu permata kecil di sekitarnya. Dan mahkota itu tampak sangat megah, seolah tak mungkin dimiliki oleh seorang bangsawan biasa. Arcellia mengerutkan keningnya. “Kenapa semua hal di kastil ini seolah berbau serigala ?” Noel hanya tersenyum santai. “Karena itu memang cocok dengan tempat ini.” Arcellia masih terus memperhatikan gaun-gaun yang tergantung rapi di dalam lemari. Tangannya menyentuh salah satu gaun dengan kain yang lembut dan hangat. “Sepertinya anda sudah menemukan pakaian yang cocok.” Ucap Noel. Arcellia tersenyum. “Meskipun kemeja milik Tuan juga cocok anda pakai.” Ucap Noel lagi sembari memandang Arcellia. Tatapan itu seperti mengoloknya. Ya, selama berada di kastil sejak kejadian itu, ia hanya memakai kemeja milik Kael yang terlalu besar untuk tubuhnya. Arcellia mendecakkan lidah pelan. Noel memperingatkan Arcellia untuk tak pernah menyentuh ataupun memakai pakaian yang ada di lemari kaca dengan ukiran emas di luarnya. “Itu milik ibu Tuan, jadi jangan memakainya, ini larangan yang harus anda patuhi.” Arcellia mengangguk, ia tahu pasti itu barang berharga. Memang gaun di dalam lemari itu lebih mewah dari gaun di lemari lainnya, bahkan ia juga melihat sulaman serigala dengan benang emas di salah satu gaun di lemari itu. Noel pun keluar, ia meminta Arcellia berganti pakaian. Begitu usai, Arcellia merasa lega, pakaian ini lebih nyaman daripada kemeja Kael. “Apa kau tahu kapan Kael akan kembali ?” Tanya Arcellia. Noel menggelengkan kepalanya, namun ia mengatakan pasti tak akan lama, karena Kael punya banyak urusan disini. Mereka pun berjalan keluar, beriringan menjelajahi lorong. “Ada beberapa hal yang membuatku penasaran, berapa lama kau mengenal Kael ? Dan sejak kapan kau bekerja di kastil ini ?” Tanya Arcellia penasaran. Noel menjawab kalau sudah cukup lama ia mengenal Kael, sudah cukup lama juga ia bekerja untuk Kael. Jawaban itu semakin membuat Arcellia penasaran, kalau begitu pastilah Noel mengetahui banyak hal soal Kael dan kastil ini, termasuk rahasia dibaliknya. “Jadi kau juga tinggal di hutan ini ? Apa kau juga tahu soal manusia serigala ? Ahhh…tunggu sebentar, di luar bukannya banyak serigala juga. Bagaimana kau bisa masuk ?” Tanya Arcellia. Noel hanya tersenyum, senyumnya aneh, itu membuat Arcellia kesal, meskipun begitu jawaban Noel tak sedingin Kael. “Anda terlalu banyak bertanya Nona, aku harus menjawab yang mana dulu.” Mata Arcellia membulat, ia tahu kalau lelaki itu seolah tak ingin menjawab pertanyaannya, namun bukannya berhenti, Arcellia justru menceritakan soal manusia serigala yang ia temui, ia pun juga beropini kalau mungkin saja manusia serigala itu marah karena ia memakai darah mereka untuk mengobati lukanya. Noel awalnya tertawa, karena yang Arcellia bicarakan bukanlah orang lain, namun beberapa detik kemudian raut wajahnya dingin, entah mengapa ia terlihat menakutkan. “Darah itu memang masalahnya, darah manusia serigala yang digunakan Tuan untuk anda itu sangat berharga, bahkan aku selalu berpikir…” “Anda tak pantas memakainya.” Jawab Noel. Arcellia mengerutkan keningnya, ia bisa melihat kebencian dalam mata Noel. Ia bertanya mengapa begitu, Arcellia pun juga bertanya apakah Noel tahu bagaimana Kael mendapatkan darah itu mengingat betapa menakutkannya manusia serigala.. “Bagi Tuan mendapatkan darah itu sangat mudah, namun karena itulah jangan sampai anda membuat Tuan memberi darah lagi. Itu berbahaya.” Arcellia menelan ludahnya, ia nampak menjadi beban, namun ia juga mengerti, Noel adalah pelayannya, pelayan di kediamannya pun juga pasti akan mengatakan hal yang sama. Arcellia berjalan beberapa langkah mendahului Noel. “Di rumahku selalu ada pelayan, penjaga, atau tamu yang datang, disini terlalu sunyi dan sangat membosankan. Aku ingin keluar.” Noel langsung berdiri di hadapannya, menghalangi. “Tidak.” Arcellia menyilangkan tangannya, ia merasa kali ini tanpa keberadaan Kael, ialah Tuannya dan Noel pun diutus untuk menemani dan menjaganya. “Aku tahu perjanjian yang anda buat dengan Tuan Kael, secara teknis anda adalah seorang tahanan, tanpa ijinnya sehelai rambut anda pun tak boleh keluar dari kastil ini.” Ucap Noel. “Noel.” “Ya ?” Arcellia mendekat, “apa kau tahu soal janji yang Kael maksud ? Ia bilang aku melupakannya, ia terus menagihnya, namun aku tak ingat, bahkan tak pernah berjanji sebelumnya, jadi aku ingin tahu…apa kau tahu soal itu ?” Noel diam, ia pun nampak berpikir dalam, cukup lama. “Nona…” “Kalau suatu saat anda mengingat janji itu…” Noel pun maju selangkah. “Kuharap anda bukan orang yang tak tahu balas budi.” Arcellia mendengus kesal, itu bukan jawaban yang ia inginkan.Cahaya pagi masuk melalui celah jendela, Arcellia terbangun. Ia terbangun karena merasakan sesuatu yang hangat, di dadanya. Refleks ia langsung menyentuhnya, tanda itu masih ada. Hangat. Arcellia bangkit. Yang pertama ia lihat adalah Kael. Ia tenang, seolah tak pernah terjadi apapun. Tak lama pintu terbuka. Lelaki lain yang ia kenal masuk, Yuan. Ia datang dengan membawa nampan berisi makanan. Arcellia diam, pandangannya berubah. Kejadian di aula sebelumnya kembali muncul di kepalanya. Saat lelaki itu menahan amarah Raja, ayah Kael. Yuan pun sempat menatapnya untuk sesaat, tak lama. Tatapannya tak dingin, namun juga tak ramah. Seolah tengah mempertanyakan maksud pandangannya. Yuan meletakkan nampan itu dengan tenang di hadapan Kael. "Apa..." Suaranya pelan, namun cukup jelas. "...kau juga manusia serigala, Yuan?" Sunyi. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Meskipun Arcellia sudah tahu jawabannya, namun ia juga ingin tahu, ingin mendengarnya langsung da
Prangg! Suara pecahan kaca keras memecah ruangan, serpihan itu jatuh berserakan di lantai. Namun Julia tak berhenti, ia terus membanting setiap barang yang ia lihat. Kamarnya kini nampak bak tempat tak terawat. “Tak masuk akal!!” Suaranya menggema. Ia terus berteriak, tak percaya dengan apa yang telah terjadi, ia tertawa sesaat, namun beberapa detik kemudian kembali berteriak penuh amarah. “Menandai-“ “Seorang manusia!” Hening sesaat. Julia menendang ranjangnya sendiri, membuatnya remuk dalam sesaat. “Ia-“ Kalimatnya terputus. “Dia bodoh sekali.” Air mata jatuh. Di sudut ruangan Rion berdiri, diam mengamati, beberapa detik kemudian ia berjalan, mendekat dan memeluk tubuh Julia yang meringkuk. “Nona-“ Suaranya rendah, berharap Julia lebih tenang. “Aku tak pernah tahu apa ritual penyatuan itu.” Hening. Julia membeku, perlahan ia mengangkat pandangannya. “..kau juga tak tahu ?” “Ya, Nona.” Jawabnya. Sunyi. Untuk pertama kalinya, Julia tak bisa m
Lagi-lagi Arcellia tersadar di tempat yang asing, langit-langit batu yang tinggi menyambutnya, ia tak lagi terbangun di dalam penjara ataupun kamar yang ia tempati sebelumnya, entah kenapa saat ini perasaanya lebih tenang. Tangannya refleks naik ke bagian dada, ia masih bisa merasakannya, rasa nyeri yang aneh. Ingatannya kembali pada saat ia berada di ruang persidangan. Tanda di dadanya. Dan- Kael. Arcellia bangkit dari posisi tidurnya, dan dia menangkap keberadaan pria itu. Kael. Berdiri tak jauh darinya sembari menghisap cerutu. Ia nampak tenang, seolah memang sedang menunggu ia bangun. Sesaat Arcellia masih membeku, Kael pun hanya diam menatapnya. Arcellia kembali menekan dadanya, memastikan kalau ini bukanlah sebuah mimpi, dengan suara yang sedikit bergetar, ia bertanya apa yang sebenarnya telah Kael lakukan padanya. Namun laki-laki itu hanya diam, seperti biasanya. Arcellia marah. “Kau menyelamatkanku berkali-kali.” Ia berhenti dan menarik napas dalam-dal
“Cinta..” Raja mengulang kata itu pelan, ia memandang Kael cukup lama, terus mengulang kata-kata itu. “Cinta bukan alasan untuk melanggar aturan kita.” Ucapnya. Kini pandangan raja beralih pada Arcellia, ia mengatakan kalau memang wanita manusia itu bukanlah ancaman, apa bukti yang bisa membebaskannya dari tuduhan itu, mengingat artefak itu pun milik ayahnya. Arcellia yang masih terkejut dan termenung sama sekali tak mendengar ucapan raja, ia hanya menatap Kael dan terus bergulat dengan pikirannya sendiri. Julia kembali berbicara, menurutnya tak mungkin hanya ada 1 artefak. “Yang Mulia Raja..sejujurnya panah yang digunakan wanita ini telah melukai Rion.” Ia berhenti sejenak. “Luka itu..belum pulih hingga saat ini.” Beberapa bangsawan pun menegang, ayah Julia pun juga mengiyakan, meskipun Rion hanyalah manusia serigala biasa, harusnya lukanya bisa sembuh cepat, namun sampai saat ini luka itu masih mengeluarkan darah. “Itu karena dia lemah.” Ucap Kael datar. Ucapan i
Aula Vagborn telah di penuhi para bangsawan, tak ada suara dan tak ada bisik terdengar, seolah tengah menunggu sesuatu yang menarik. Di tengah ruangan Kael berdiri, namun tak seperti biasanya, pakaiannya tak lagi rapi, ada jejak darah yang telah mengering, lengan bajunya pun sedikit robek. Namun Kael masih berdiri tegak, masih menatap dengan percaya diri, seolah tubuh yang melemah itu tak pernah ada. Di atas singgasana Raja memandangnya dengan dingin. Terdengar sebuah suara yang menggema, mengatakan kalau Kael kali ini dipanggil bukanlah sebagai seorang putra raja, melainkan sebagai pihak yang harus menjawab. “Anda membawa manusia ke wilayah kita.” “Melindunginya dan menyerang salah satu dari kita sendiri.” Nama itu akhirnya disebut. “Rion.” Para Bangsawan mulai berbisik pelan, namun Raja meminta mereka untuk diam. “Jelaskan.” Ucap Raja dengan tegas. Kael tak langsung menjawab, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Karena dia tak mendengar perintahku.” Raja belum ber
Setelah lolongan dan kegaduhan waktu itu, sama sekali tak ada pertumpahan darah, tak ada taring yang mengoyak siapa pun, yang terjadi justru membuat ia semakin kebingungan. Noel dan Yuan yang terlihat santai seolah itu adalah hal yang biasa bagi mereka. Sesungguhnya ia masih sangat ketakutan, meski tubuhnya gemetar dan dadanya sesak, Arcellia memaksa punggungnya untuk tetap tegak. Tak ingin membiarkan ketakutan menjatuhkan lagi martabatnya yang tersisa Kali ini ia dibawa ke ruangan baru, tak seperti sebelumnya, manusia serigala itu membawanya ke tempat yang layak, tak ada rantai, tak ada jeruji, bahkan ruangan itu tak gelap, tak seperti penjara. Hanya kamar hangat, yang bersih meskipun asing. Namun ia tak menganggap hal ini sebagai kebaikan, ia masih teringat bagaimana wajah polos dan cantik Julia telah menipunya. Di luar pun para manusia serigala menjaga kamarnya, yang berarti ia tetap saja dikurung, dadanya kembali menegang. Arcellia kembali memegang belatinya, genggamann
Kabut malam menyelimuti Vagborn, di lapangan terbuka dengan hamparan salju berdiri beberapa manusia serigala. Suasana tegang sangat terasa. “Kalian dengar bukan, Rion sudah sadar, ia mengatakan Pangeran kita menyelamatkan manusia.” “Sttt..pelankan suaramu, suasana hati Nona Julia sedang buruk.”
Arcellia tak pernah menyangka, bantuan yang diminta oleh Kael ternyata adalah memasak untuk dirinya sendiri. Arcellia mengiyakan, toh makanan itu juga untuk dirinya sendiri, sebenarnya ia tak bisa memasak makanan yang rumit, jadi ia hanya membuat sup sederhana menyesuaikan bahan yang Kael bawakan.
Untuk pertama kalinya, Arcellia terbangun dengan tubuh yang lebih ringan. Ia membuka selimut dan mendapati luka di kakinya sembuh, ia berpikir pasti Kael yang mengobatinya saat ia tertidur. “Lukaku jauh lebih membaik dari sebelumnya, benarkah itu darah manusia serigala ?” Gumamnya seorang diri.
Arcellia menatap sisi rahang Kael dengan kening berkerut, ia yakin tadi melihat sebuah bulu, namun sekarang bulu itu sudah tak ada. Beberapa kali ia mengedipkan mata memastikan. Namun tetap saja bulu berwarna putih itu tak ada. "Kenapa kau menatapku seperti itu ?" Tanya Kael. Arcellia terdiam se







