Share

Cukup, Aku Gak Tahan!
Cukup, Aku Gak Tahan!
Author: Callme_Tata

Di mana ini?

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-09-16 14:21:00

Setelah kematiannya, Saka hidup dalam tubuh seorang pemuda yang memiliki tiga saudari tiri yang liar semua!

“Apa aku belum mati? Bukannya aku sudah dibunuh oleh para preman kampung itu?”

Saka ingat, dia dipukuli para preman dan tubuhnya sudah memar semua. Namun, entah bagaimana ceritanya, ketika pentungan besi itu sudah mengenai kepalanya, tiba-tiba ia pingsan dan terbangun dalam posisi yang tidak mengenakkan.

Matanya mengerjap cepat, dan semakin lama pandangannya semakin jelas. Ia menatap wanita di hadapannya dengan mata melebar.

“Ke-kenapa banyak wanita seksi dan cantik di sini? Beda sekali dengan wanita-wanita di zamanku?”

Rambut panjang wanita itu terurai di atas bahu, kulitnya putih bersih, wajahnya begitu cantik sampai terasa tidak nyata. Pakaiannya sangat minim. Sebuah gaun malam tanpa lengan, dengan bagian dada yang terbuka, membuat belahannya tampak jelas.

Namun, bukannya senang, Saka justru merasakan risih yang luar biasa. Tangannya buru-buru menepis sentuhan wanita itu dan tubuhnya bergeser menjauh.

"Heh! Siapa kamu?” sentaknya kasar, dan cepat-cepat terbangun sambil membenarkan celananya yang sudah setengah melorot.

“Loh, Kak Saka kenapa? Ini aku Nadia, adikmu." Gadis itu terlihat kebingungan.

“Adikku?"

"Iya. Kenapa Kak Saka gak suka? Biasanya Kakak mau kalau aku manjakan seperti ini.”

“Dasar gadis sinting!" Saka semakin menjauh. “Aku tidak tahu siapa kamu. Dan kenapa kamu tau kalau namaku Saka?"

Nadia adalah adik tiri Arsaka, pemilik tubuh yang Saka sekarang tempati. Ingatan Arsaka belum sepenuhnya masuk ke dalam jiwa Saka, sehingga Saka kebingungan ketika gadis secantik Nadia malah mengelus-elus tubuhnya.

Nadia terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil. "Astaga! Kakak bercanda ya? Jelas-jelas kamu Kak Arsaka, kakakku.”

“Ngawur! Aku ini Sakamukti, bukan Arsaka!” ujar Saka, yang hanya ditanggapi dengan kernyitan dahi dan alis yang mengerut oleh Nadia.

Yang tidak disadari Saka adalah sebelum ia terbangun, Arsaka sang pemilik tubuh sudah meminum obat serangga, di mana orang itu berniat bunuh diri. Naasnya, tubuh itu masih hidup dan jiwanya dimasuki oleh jiwa Sakamukti yang nasibnya sama persis.

Tanpa mempedulikan Nadia, Saka bangkit dari ranjang dan mengamati kamar mewah di sekelilingnya. Ruangan itu begitu luas. Lampu kristal menggantung di langit-langit, ada sofa mewah di dekat jendela, dan berbagai perabotan yang selama ini belum pernah dia lihat.

"Tempat apa ini?” gumamnya, seraya menoleh ke sekitar ruangan.

Pandangannya berakhir pada sebuah cermin besar di dalam kamar. Cepat-cepat ia menghampiri cermin itu, menatap pantulan dirinya di sana.

“Loh … siapa ini?” serunya kaget, sebab ia melihat wajah tampan dan tubuh kekar di pantulan cermin itu.

"Tubuhku … kenapa jadi bagus begini? Dan … wajahku kok tampan sekali? Dulu kan wajahku macam ubi cilembu, kenapa sekarang aku jadi seperti pangeran?”

Bibirnya setengah terbuka menatap itu. Ia ingat betul, bahwa ia hanyalah pemuda kampung berusia 30 tahun yang bisa dibilang buruk rupa.

Seingatnya, dirinya adalah seorang jawara kampung dengan tubuh sedikit gempal, kulitnya sawo matang, dan wajahnya pun kasar seperti omongan ipar.

Namun sosok yang sekarang ia lihat, justru seorang pemuda tampan berusia sekitar 25 tahun. Kulitnya putih, dan wajahnya juga sangat tampan bak oppa Koreyah.

"Gila! Kok aku bisa jadi ganteng begini to? Apa jangan-jangan aku kena kutukan ganteng gara-gara banyak musuh?” Saka masih berdiri di depan cermin, dan sesekali mengusap-usap wajahnya yang tampan.

“Ya ampun, Kak Saka benar-benar aneh hari ini.” Nadia menggeleng pelan, dan kembali melangkah mendekat.

“Jangan mendekat!" Saka berbalik badan cepat, dan menahan langkah Nadia dengan gerakan tangannya.

“Kenapa? Aku cuma ingin memanjakan Kakak seperti biasa,” rayu gadis itu. Jemari lentiknya bergerak memainkan ujung rambut dan mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.

“Apa Kak Saka nggak pengen kayak biasanya? Lihat, aku udah pakai baju dinas malam favorit kakak loh!" Nadia melepaskan tali lingerie berwarna merah maroon yang ia kenakan.

Begitu tali terlepas, suguhan melon kualitas super langsung membuat mata Saka terbelalak, hingga nyaris menyembul keluar dari tempatnya. Jakunnya naik turun, kesusahan menelan saliva yang terasa kering.

"Yakin masih nggak mau?” bisik Nadia yang terus maju, tetapi Saka terus melangkah mundur.

Setiap kali gadis itu mendekat, tubuhnya semakin tegang. Keringat dingin mulai membasahi tengkuk dan telapak kakinya.

Di tubuh aslinya, Saka sudah menghadapi puluhan lawan tanpa gentar, tetapi menghadapi wanita cantik yang tidak dikenalnya seperti ini justru membuat nalurinya berteriak untuk kabur.

“Berhenti di sana!” Saka mundur sekali lagi tanpa melihat ke belakang.

"Kak Saka, awas!” teriak Nadia.

Ctakk!

“Argh!" Kaki Saka tiba-tiba menginjak kabel lecet yang sebagian penutupnya sudah hilang, tepat ketika kakinya sudah mengucurkan keringat dingin..

Tubuh pemuda itu mendadak kaku.

Arus listrik menyambar dari telapak kakinya yang basah oleh keringat dingin. Pandangannya berkunang-kunang, suara Nadia terdengar semakin jauh, dan sebelum sempat memahami apa yang terjadi, tubuhnya ambruk ke lantai.

Bruk!

*

“Ah! Ini dimana lagi?"

Matanya mengerjap pelan. Ketika terbangun, Saka melihat dirinya sudah berada di tempat asing yang semuanya berwarna putih.

Hanya ada dirinya dan seorang pria yang berdiri beberapa meter di hadapannya.

“Kau siapa?” tanyanya dengan suara lemah. Perlahan ia bangkit sambil memegangi dada yang terasa sakit.

Wajah pria itu terlihat pucat, meskipun ada senyum yang tampak lelah di bibirnya. "Aku Arsaka, pemilik tubuh yang sekarang kau tempati.”

“Apa?" Mata Saka membeliak. "Jadi maksudmu, setelah mati … aku bertransmigrasi dalam tubuhmu?”

“Ya.” Pria itu menghela napas panjang. "Tapi aku hanyalah anak angkat di keluarga itu.”

“Benarkah? Lalu kenapa tubuhmu bisa menjadi milikku?” tanya Saka semakin tak mengerti.

“Karena aku sudah muak dengan hidupku.” Tatapan pria itu berubah muram.

“Aku punya dua adik tiri dan satu kakak tiri. Ketiganya selalu menggodaku. Setiap hari aku harus melayani nafsu mereka dan bermain dengan ketiga wanita itu sekaligus. Mereka selalu saja menggodaku. Aku tidak sanggup, aku merasa bahwa semua itu adalah dosa," terang Arsaka panjang lebar.

Saka terdiam mendengar itu. Kehidupan yang dialami Arsaka, sungguh bertolak belakang dengan kehidupan aslinya.

“Aku sudah berkali-kali berdoa. Semoga aku mati dan biarkan orang lain yang menikmati anugerah itu, karena bagiku itu adalah musibah! Aku hanya ingin bebas dari godaan para wanita itu. Aku sangat muak," lanjut Arsaka, seraya tertawa getir. “Dan ternyata doaku terkabul.”

Ucapan itu membuat Saka semakin terdiam. Ia ingin menjawab, tapi sebelum sempat membuka mulut, Arsaka tiba-tiba berbalik badan.

“Tapi kau juga pernah berdoa, bukan?”

“Aku?" Saka menunjuk dirinya sendiri. Ingatannya pun mendadak muncul.

Dahulu, dia adalah seorang jawara silat di kampungnya. Namanya cukup disegani, pukulannya keras, gerakannya cepat, dan hampir tidak ada lawan yang mampu mengalahkannya.

Namun sehebat apa pun dirinya, Saka selalu gagal ketika berurusan dengan perempuan. Berkali-kali dia dikhianati dan dimanfaatkan sampai akhirnya dia pernah memandang langit sambil berdoa penuh air mata.

"Jika aku diberi kehidupan kedua, maka aku ingin memiliki tubuh yang membuat semua wanita menginginkanku.”

“Dan keinginanmu juga terkabul.” Arsaka tersenyum di hadapannya. “Tubuhku adalah tubuh yang selalu diinginkan wanita. Dan mulai sekarang, tubuh itu menjadi milikmu."

Bersamaan dengan itu, Saka merasakan bibirnya basah dan ada kenikmatan yang selama ini tak pernah ia rasakan. Ibu jarinya mengusap bibirnya, tetapi entah kenapa detak jantungnya tak mau stabil kali ini.

"Aku masih belum mengerti ….” Saka hendak bertanya lagi, tetapi sosok pria tersebut mulai memudar.

“Hey, tunggu!”

“Aku sudah muak dengan kehidupan wanita. Jadi, semua kenikmatan yang dulu menjadi bebanku sekarang kuberikan kepadamu. Terimalah!” Suara Arsaka terdengar semakin jauh.

Setelah sosok pria itu menghilang, keadaan di sekeliling Saka pun seketika menjadi gelap seluruhnya.

*

“Uhuk! Uhuk!" Saka terbatuk-batuk dan tersentak bangun.

Udara langsung memenuhi paru-parunya. Pandangannya masih buram, tetapi dia bisa merasakan seseorang berada sangat dekat di wajahnya.

“Kak! Kak Saka udah sadar! Ini Dona, Kak!"

Seorang wanita cantik baru saja menjauh setelah memberikan pertolongan napas buatan untuk Saka.

Dan itu adalah Dona, adik tirinya yang tak kalah liar ketimbang Nadia. Wajahnya terlihat cemas, sementara rambut panjangnya sedikit berantakan. “Aku kira Kakak tidak akan sadar lagi.”

“Argh!" Saka masih linglung. Tangannya menyentuh bibirnya yang terasa basah.

Namun, tiba-tiba matanya membulat. Di bawah sana, ia melihat Nadia yang sedang memasukkan tangan ke dalam celananya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Pingin Diangetin

    Saka bergeming di tempatnya tanpa melangkah mundur sedikitpun.Pengalaman bertarung di masa lalu membuatnya mampu membaca arah lintasan pukulan lawan bahkan sebelum kepalan itu mencapai titik tengah ayunan.Bersamaan dengan luncuran angin tinju yang luput itu, tangan kiri Saka menyusup cepat dari bawah ketiak lawan, menyapu sendi siku Paijo ke arah atas. Pada detik yang sama, telapak tangan kanan Saka mencengkeram punggung tangan pria itu dengan kuncian jemari baja.Saka menolehkan tatapannya ke arah pria gimbal itu dengan sorot mata yang membekukan dan sarat ancaman pembunuhan. "Maju satu langkah lagi, sendi bahu bosmu ini akan kubuat cacat permanen!"Saka sedikit mencondongkan tubuhnya ke bawah, mendekatkan bibirnya tepat di dekat lubang telinga Paijo yang masih mengaduh merayap di atas tanah.Tekanan jemari Saka menekan titik saraf sensitif di pangkal leher preman itu, mengirimkan gelombang ngilu yang melumpuhkan sisa kekuatannya.Saat ingatan Arsaka masuk ke dalam ingatan Saka, se

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Keberanian Saka

    Brak! Brak! Brak!“Ipah, cepat keluar! Buka pintunya! Kalau tidak, kami akan rusak pagarnya!”Ipah terlonjak kaget dari balik tirai jendela ruang tamu, menatap dua sosok bertubuh gempal yang berdiri angkuh di luar pekarangan.Rasa panik seketika menjalar meremas ulu hatinya, membayangkan rasa malu yang tak tertahankan jika para tetangga keluar rumah dan menyaksikan keributan ini. Mengingat beban utang harian yang diam-diam menjerat lehernya tanpa sepengetahuan sang suami, wanita paruh baya itu bergegas menuruni anak tangga teras seraya meremas ujung daster batiknya dengan jemari dingin.Ipah dan Sarah saling berpandangan ketakutan.“Ya ampun! Mereka benar-benar datang!” seru Ipah, lalu buru-buru keluar dengan wajah panik sebelum para preman itu merusak fasilitas rumahnya.Saka yang masih berdiri di halaman pun menoleh untuk melihat sosok yang datang.Dari balik pagar, terlihat dua pria berdiri dengan wajah sangar. Salah satunya bertubuh besar, tatapan matanya tajam, dan dagunya ditumb

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Main Air sama Nadia - Dona

    “Siapa yang main-main sama aku, hah?” Saka mengusap wajah dan meludah karena air masuk ke mulut.Ia berusaha mencari sumber air tersebut. Namun bukannya berhenti, semprotan itu malah semakin deras.“Hey, berhenti, setan!” Saka mengejar selang yang bergerak liar di tanah.Bukannya berhasil menangkap, selang itu justru berputar dan kembali menyemprot wajahnya.“Woy! Kau ini selang atau ular India, hah?”Saka hampir saja terpeleset karena lantai di bawah kakinya sudah basah. Ia akhirnya berhasil menangkap ujung selang tersebut, lalu langsung menekan aliran airnya.“Siapa yang kurang kerjaan begini?” Ia mengusap wajahnya yang basah dan mengacak rambutnya dengan kesal.Dari balik mobil, tiba-tiba terdengar suara tawa. “Hahaha!”Saka langsung menyipitkan mata. Suara itu sangat dia kenal.“Sial! Dua siluman kelabang itu lagi!” sungutnya geram.Benar saja!Nadia dan Dona keluar dari balik mobil. Kedua gadis itu sudah mengenakan pakaian kuliah. Kemeja rapi, celana panjang, serta tas yang masih

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Dua Jin Dasim

    "Siapa ini?"Tubuh Saka langsung menegang. Sepasang lengan tiba-tiba melingkar di perutnya dari belakang, membuat selang air yang sedang dipegangnya hampir terlepas.Kepalanya tertunduk. Dilihatnya sepasang tangan mulus berkulit putih sedang memeluk perutnya. Jemari lentiknya bahkan bermain berputar-putar di area pusarnya, membuat Saka sedikit merasa geli.Ia hendak meraih sepasang tangan itu dan ingin dihempaskannya dengan kasar. Namun, ekor matanya menangkap sosok wanita yang ternyata bukan Dona ataupun Nadia.“Dia?” Seketika matanya membulat, karena wanita yang memeluknya ternyata adalah Sarah.Berbeda dengan beberapa saat lalu yang hanya mengenakan bra dan celana dalam, kini Sarah sudah mengenakan kaus kebesaran yang longgar hingga menutupi tubuhnya. Rambut panjangnya masih sedikit berantakan, wajahnya terlihat lelah.Tanpa mengatakan apa-apa, Sarah menyandarkan kepalanya di punggung Saka. Tubuhnya menempel lekat, hingga Saka bisa merasakan dua bukit kenyal gadis itu tertekan di p

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Si Cantik, Masa Lalunya

    “Dia … kenapa bisa ada di sini?”Saka masih berdiri mematung di tempat. Matanya terus mengikuti wanita yang berjalan perlahan ke arahnya.Semakin dekat, semakin jelas sosok wanita itu terlihat. Rambut panjang yang terurai sampai punggung, kulit putih bersih, leher jenjang, serta bentuk tubuhnya yang begitu sempurna membuat Saka seperti sedang melihat seseorang dari masa lalunya.“Tidak! Ini pasti cuma halusinasi. Tidak mungkin kalau dia adalah Sari,” gumamnya, menggeleng tak percaya.Sari, seorang wanita yang dulu sangat dia kagumi dulu. Bukan hanya cantik, tetapi kecantikannya seperti berada di tingkatan yang tidak bisa dijangkau oleh para lelaki biasa.Banyak pria yang pernah mencoba mendekatinya, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil meluluhkan hati Sari. Saka sendiri pun hanya mampu mengaguminya dari jauh. Sebab wanita secantik Sari tentu tak akan mau menerima cinta dari pria macam opet seperti dirinya.Dan sekarang, setelah mati lalu transmigrasi, wanita yang mirip dengan Sari

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Sedotan seperti di Manga

    “Ah! Kak Saka!" Tangan halus Nadia terus masuk ke dalam celana Saka dan meremas-remas tombak yang sudah mulai menegang.Darah Saka berdesir hebat. Miliknya terasa berdenyut dan basah, meskipun Nadia hanya meremasnya dari luar celana dalam.Dengan cepat, Saka melepaskan tangan Nadia dari miliknya. "Gadis gila! Apa yang kamu lakukan?” Ia menjauh dan menarik selimut sampai menutupi tubuhnya. Wajahnya tampak merah padam. Tombak pusakanya masih berdiri tegak akibat diremas-remas oleh Nadia. Sedangkan bibirnya juga masih basah gara-gara modus Dona memberikannya nafas buatan.“Kalian berdua jangan sentuh tubuhku lagi!” sentaknya kasar.“Loh, Kak Saka kenapa sih? Biasanya Kakak nggak pernah keberatan. Malah Kakak suka kalau dimanjakan sama kami," suara Nadia dibuat mendayu-dayu.Saka terdiam mendengar itu. Entah kenapa, seperti ada ingatan ke masa lalu. Ia seolah merasa jika selama ini memang selalu dimanjakan oleh kedua gadis cantik itu.“Aneh,” batinnya.Barusan dia sama sekali tidak menge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status