MasukMalam semakin larut, dan keheningan di koridor rumah sakit terasa kian mencekam. Ana masih berdiri di depan kaca ruang trauma, menatap kosong ke arah tubuh Raka yang belum juga menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Matanya terasa panas karena air mata yang mengering, dan punggungnya terasa kaku akibat ketegangan yang mendera sejak siang tadi.Ibu Dewi, yang sejak tadi duduk termenung di kursi tunggu, perlahan bangkit berdiri. Langkah kakinya yang lambat terdengar menggema di sepanjang koridor yang sepi. Ibu Dewi berjalan mendekati Ana, lalu berdiri di samping menantunya itu, ikut menatap ke dalam ruang perawatan melalui kaca transparan."Ana... Lebih baik sekarang kamu pulang saja." panggil Ibu Dewi, suaranya terdengar jauh lebih rendah dan lelah dibandingkan beberapa jam lalu.Ana tidak langsung menoleh. Dia hanya mengerjapkan matanya yang sembap. "Aku mau di sini, Bu. Aku mau menunggu Mas Raka sampai dia sadar." Jawab Ana.Ibu Dewi menghela napas panjang, lalu memutar tubuhnya
Langkah kaki Ana terdengar samar, beradu dengan sunyinya selasar Rumah Sakit Pusat Medika yang kian larut. Aroma antiseptik yang tajam kembali menyergap indra penciumannya, membawa atmosfer kecemasan yang sempat teralihkan selama beberapa jam di restoran tadi. Setiap langkah yang diambil terasa berat, seolah-olah seluruh sisa energi di tubuhnya telah terkuras habis setelah menghadapi pesona sekaligus tekanan dari Gery. Tapi, pikiran tentang Raka yang terbaring tak berdaya memaksa kedua kakinya untuk terus melangkah maju menuju ruang trauma.Ketika berbelok di koridor utama, dari kejauhan Ana sudah bisa melihat sosok Ibu Dewi yang duduk gelisah di kursi tunggu. Wanita tua itu masih mengenakan pakaian yang sama dengan pakaian tadi siang, gurat wajahnya tampak kusut, tapi matanya yang tajam langsung menangkap kehadiran Ana yang berjalan mendekat.Ibu Dewi seketika bangkit dari duduknya. Alih-alih menyambut menantunya dengan pertanyaan tentang kondisinya atau kelelahan yang tergamba
Gery menghentikan gerakan tangannya yang hendak memotong sisa daging di piringnya. Dia meletakkan pisau dan garpu perak itu perlahan di atas meja, menimbulkan bunyi dentingan halus yang memecah keheningan sesaat di antara mereka. Pria itu menyandarkan tubuhnya pada kursi kulit yang empuk, melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap Ana lekat-lekat.Di bawah temaram lampu gantung Restoran Lavender, Gery bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana pundak Ana yang tegap itu sebenarnya menyimpan beban yang teramat berat. Lapisan kosmetik tebal di wajah wanita itu tidak mampu menyembunyikan gurat kelelahan yang mendalam, juga binar kecemasan yang terus terpancar dari matanya setiap kali melirik jam tangan. Ada ketegaran yang luar biasa, tapi sekaligus kerapuhan yang tertahan.Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ada kilat lain di mata Gery. Sifat sinis dan hasrat berburu yang biasanya mendominasi ketika dia berhadapan dengan wanita, perlahan melunak berganti menjadi rasa kasih
Suasana di dalam Restoran Lavender terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk debu proyek yang mereka lalui sore tadi. Alunan musik jazz bertempo lambat mengalun lembut dari sudut ruangan, berpadu dengan temaram lampu gantung yang memberikan kesan mewah sekaligus intim. Di atas meja kayu mahoni di hadapan mereka, pelayan baru saja menyajikan dua porsi hidangan utama yang mengeluarkan aroma gurih, lengkap dengan segelas jus jeruk segar untuk Ana.Gery tampak sangat menikmati suasana tersebut. Dengan gerakan yang tenang dan elegan, ia mulai memotong daging steaknya, lalu menyuapkannya ke dalam mulut dengan santai."Daging di sini selalu menjadi yang terbaik di kota ini, Ana," buka Gery setelah menelan makanannya.Gery matanya menatap Ana yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya tanpa gairah. "Kamu harus mencobanya. Jangan biarkan pikiranmu terus-menerus tertinggal di rumah sakit. Tubuhmu juga butuh energi untuk menghadapi hari esok." Lanjut Gery.Ana memaksakan sebua
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat warna jingga yang keunguan di atas hamparan tanah merah proyek. Kegiatan peninjauan lapangan yang menguras energi itu akhirnya selesai seiring dengan bergantinya sif kerja para buruh bangunan. Debu-debu yang beterbangan perlahan mengendap, digantikan oleh udara malam yang mulai terasa dingin.Ana melangkah kembali menuju mobil sedan hitam mewah milik Gery. Blazer hitamnya kini sedikit berdebu di bagian ujung lengan, dan kakinya terasa pegal setelah berjam-jam berdiri serta berjalan mengitari area fondasi. Tapi, dibalik kelelahan fisiknya, ada sedikit rasa lega karena dia berhasil melewati ujian pertama di lapangan dengan sangat profesional.Pintu mobil kembali dibukakan oleh sang sopir, dan Ana masuk ke dalam kabin yang sejuk, mengambil posisi duduk yang sama seperti siang tadi, sedekat mungkin dengan jendela kiri. Gery menyusul masuk tak lama kemudian. Mobil pun bergerak perlahan, meninggalkan area proyek yang mu
Setelah santap siang yang terlambat itu selesai, suasana di bawah tenda berangsur-angsur kembali tenang. Para pekerja tampak lebih segar, sisa-sisa kelelahan di wajah mereka seolah tersapu oleh keramahan hidangan mewah dan obrolan santai tadi. Gery berdiri dari bangku kayunya, membersihkan tangannya dengan tisu, lalu kembali mengenakan jas hitamnya yang sempat disampirkan.Dengan bahasa tubuh yang penuh wibawa, dia memberi isyarat kepada mandor utama untuk mengumpulkan seluruh jajaran staf administrasi, pengawas lapangan, hingga arsitek junior yang terlibat dalam proyek tersebut. Sekitar dua puluh orang kini berdiri melingkar di bawah naungan tenda, menciptakan atmosfer rapat lapangan yang serius namun kondusif.Ana melangkah mendekat, berdiri sedikit di belakang Gery dengan buku catatan kecil di tangannya. Ana bersiap untuk mencatat poin-poin penting dari amandemen kontrak yang mungkin akan dibahas secara lisan terlebih dahulu.Gery berdehem kecil, seketika menarik perhatian p







