Share

Culik Aku, Mas Gery!
Culik Aku, Mas Gery!
Author: Kak Wina

Bab 1

Author: Kak Wina
last update publish date: 2026-05-04 10:25:45

Gelas kristal di atas meja makan memantulkan cahaya lampu gantung yang dingin. Ana menatap bayangannya sendiri di sana, dengan riasan yang sedikit terlalu tebal atas permintaan ibu mertuanya. 

Di sampingnya, Raka sibuk dengan tabletnya, jemarinya bergerak lincah memeriksa grafik pertumbuhan saham Adiguna Group.

​Bagi Raka, hidup adalah papan catur. Dan bagi Ana, hidup adalah menjadi pion paling berguna di papan itu.

​"Pak Gery akan hadir di gala malam ini, Ana," suara Raka memecah keheningan. Nadanya datar, seolah sedang membicarakan cuaca, padahal itu adalah instruksi yang tidak bisa dibantah.

​Ana meletakkan garpunya dengan perlahan. Dia lalu menanggapi ucapan suaminya. 

"Raka, aku baru saja menyelesaikan audit di kantor cabang. Bisakah kita…" Ucapan Ana terputus oleh seruan mertuanya. 

​"Bisakah apa, Sayang?Raka sedang membangun kerajaan untuk masa depan kalian. Tugasmu adalah memastikan pintunya terbuka. Kamu tahu betapa sulitnya posisi kita jika proyek ini jatuh ke tangan orang lain,” ujar bu Dewi dengan tajam. Ibu mertua Ana tersebut menyambar dari ujung meja. Wanita itu menyeduh tehnya dengan anggun, tapi tatapannya setajam belati.

​"Aku hanya merasa lelah, Bu," bisik Ana.

Bu ​Dewi meletakkan cangkirnya dengan denting yang sengaja dikeraskan. Dia sengaja melakukan semua itu untuk memberi teguran keras pada Ana. 

 "Lelah adalah kemewahan yang tidak kita miliki. Ingat, Ana, kamu bukan sekadar istri. Kamu adalah wajah dari kesuksesan Raka. Temui pak Gery, gunakan pesonamu, dan bawa pulang kontrak itu. Bukankah itu alasan kami menerimamu di keluarga ini?" tegas Bu Dewi pada menantunya. 

​Raka bahkan tidak mendongak dari layarnya. Dia hanya menggeser sebuah map berwarna hitam ke arah Ana. 

Suasana ruang tengah malam itu terasa semakin mencekam, bukan karena suara guntur di luar, melainkan karena keheningan yang tajam di antara Raka dan Ana.

​Raka minum kopinya yang sudah mendingin, matanya tak lepas dari map itu. Dia berdehem, memecah kesunyian dengan suara yang sengaja dilembutkan. Sebuah nada yang Ana tahu persis mengandung maksud tersembunyi.

Sementara mertuanya memilih kembali ke kamarnya. Dia tidak mau mendengar perdebatan antara Raka dan Ana. 

​"Sudahlah Ana, kamu mau kan temui pak Gery malam ini?" tanya Raka tanpa menoleh.

​Ana, yang sedari tadi ingin cepat menghabiskan makanannya, menghentikan gerakannya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.

 "Kenapa tidak kau bawa ke kantor besok?" tanya Ana. 

​Raka memutar kursi, menatap istrinya dengan tatapan memohon yang dipaksakan.

 "Tanda tangan Pak Gery itu kuncinya, Sayang. Minggu depan dia akan berangkat ke luar negeri selama sebulan. Kalau kita tidak dapat tanda tangannya malam ini, proyek ini akan menguap. Kita butuh investasi itu untuk menambal lubang di vendor,”

​Ana berbalik, menatap suaminya dengan dahi berkerut. Dia tidak habis pikir dengan rencana suaminya.

 "Malam ini? Ini sudah jam sembilan, Raka. Kenapa kau tidak menemuinya sendiri? Bukankah kalian sudah sering bertemu di lapangan?" protes Ana.

​Raka bangkit dari kursi, melangkah perlahan mendekati Ana. Dia meletakkan tangannya di bahu Ana, tapi Ana merasa sentuhan itu terasa berat dan membebani.

​"Pak Gery itu pria yang keras kepala, Na. Dia egois dan merasa paling hebat. Dan dia juga dikenal playboy. Kalau aku yang datang, dia akan memberikan seribu satu alasan untuk menunda. Dia bosan melihat wajahku yang penuh angka dan data. Tapi kalau kau yang datang... ceritanya akan beda,” ujar Raka dengan nada merayu.

 "Maksudmu apa? Dia itu laki-laki, Raka. Dan aku istrimu. Tidak pantas seorang wanita mendatangi klien laki-laki di jam seperti ini ke hotel atau kantor pribadinya!” seru ​Ana sambil melepaskan tangan Raka dari bahunya.

​Tawa kecil keluar dari mulut Raka, tawa yang terdengar hambar dan meremehkan. Dia kembali mengambil map hitam itu dan menimang-nimangnya.

​"Jangan naif, Ana. Di dunia bisnis, pesona adalah mata uang yang sah. Pak Gery punya kelemahan pada wanita cantik dan cerdas sepertimu. Kau hanya perlu duduk di sana, tersenyum sedikit lebih lama, mungkin sedikit sentuhan di lengannya saat kau menyerahkan pulpen... dia akan tunduk. Dia akan menandatangani apa saja yang kau minta,” lanjut Raka.

​Darah Ana terasa mendidih. Dia merasa seolah-olah oksigen di ruangan itu mendadak habis. 

"Sentuhan? Rayuan? Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau ucapkan, Raka? Kau memintaku menjual harga diriku hanya demi selembar tanda tangan?" bentak Ana dengan nada yang lebih tinggi.

​"Ini bukan soal menjual diri! Ini soal diplomasi! Apa bedanya dengan marketing yang memakai baju ketat di pameran otomotif? Kau melakukannya untuk masa depan kita, untuk rumah ini, untuk gaya hidup yang kau nikmati sekarang!" balas Raka, emosinya mulai tersulut karena penolakan Ana.

​Ana menatap suaminya dengan pandangan yang asing. Pria di depannya bukan lagi sosok yang dulu berjanji akan melindunginya, melainkan seorang oportunis yang melihat segala hal sebagai angka, termasuk istrinya sendiri.

​"Gaya hidup? Aku lebih baik hidup di rumah petak daripada harus menjadi ladang bisnis bagimu. Kau tidak sedang memintaku membantu bisnis kita, Raka. Kau sedang mencoba mengumpankanku pada serigala hanya agar kau bisa memenangkan kontrak." suara Ana bergetar, namun bukan karena takut, melainkan karena amarah yang ditahan.

​Ana melangkah maju, menunjuk map hitam itu dengan jari yang gemetar. Ana tetap mengelak permintaan suaminya.

​"Jika tanda tangan itu begitu penting hingga kau rela menggadaikan martabat istrimu, maka ambillah sendiri. Pergi ke sana dan jadilah laki-laki. Jangan bersembunyi di balik punggungku dan memintaku melakukan hal menjijikkan itu!” Tegas Ana dengan nada yang semakin tinggi.

​Raka terdiam, wajahnya mengeras. Ketegangan di antara mereka kini bukan lagi sekadar perbedaan pendapat, melainkan retakan besar yang mungkin tidak akan pernah bisa direkatkan kembali.

Malam itu, Ana menyadari bahwa dalam permainan bisnis Raka, dia hanyalah salah satu aset yang siap dikorbankan demi keuntungan maksimal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 34

    Suasana di dalam restoran Sunda bergaya paviliun terbuka itu terasa begitu menyejukkan.Suara gemercik air dari kolam-kolam ikan yang mengelilingi tempat makan saung, berpadu dengan aroma harum nasi liwet dan ikan bakar yang baru saja disajikan di atas meja. ​Pelayan baru saja selesai menata piring-piring makanan, meninggalkan Ana dan Gery dalam privasi saung mereka. Ana, yang sejak kemarin selalu memasang benteng pertahanan yang tinggi dan kaku, kini tampak sedikit lebih santai. Sisi humanis Gery yang diaa saksikan di panti asuhan tadi pagi benar-benar telah mengikis sebagian besar rasa curiga dan ketakutannya.​Gery mengambilkan secentong nasi liwet hangat, lalu mengulurkannya ke arah piring Ana dengan gerakan yang sangat natural. "Silakan, Ana. Makan yang banyak. Setelah ini kita akan menghadapi rapat pleno yang panjang, dan saya butuh ketajaman berpikirmu seperti kemarin." Ucap Gery.​"Terima kasih, Pak," sahut Ana, menerima suapan nasi itu dengan senyuman yang jauh lebih tulu

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 33

    Suasana di dalam aula panti asuhan terasa begitu sejuk.Setelah membagikan paket makanan dan bingkisan buku cerita kepada anak-anak, Gery dan Ana diajak oleh Ibu Utami untuk duduk di area selasar dalam yang lebih tenang, berbincang di atas kursi rotan sederhana.​Pelayan panti menyajikan secangkir teh melati hangat dan beberapa potong camilan pasar. Gery tampak begitu menikmati suasananya, menyesap tehnya dengan tenang, sementara jas formalnya kini diletakkan begitu saja di sandaran kursi.​"Saya benar-benar tidak tahu harus mengucapkan terima kasih seperti apa lagi kepada Pak Gery," buka Ibu Utami, matanya berkaca-kaca menatap pria di hadapannya. Ibu pengurus panti itu kemudian menoleh ke arah Ana, seolah ingin membagikan rasa kagumnya. "Ibu Ana, perlu Ibu ketahui, panti ini hampir saja digusur dua tahun lalu karena masalah sengketa tanah dengan pihak pengembang lain. Pak Gery lah yang turun tangan sendiri. Beliau membeli tanah ini atas nama yayasan, merenovasi bangunan yang bocor

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 32

    Perjalanan menuju pinggiran kota terasa jauh lebih lancar dibandingkan dengan jalur padat di pusat bisnis Jakarta pagi itu. Di dalam kabin mobil yang sejuk, keheningan sempat bertahan lama sebelum akhirnya mobil melambat dan berbelok memasuki sebuah pekarangan yang luas.​Di atas gerbang besi yang bercat putih terkelupas, tertulis papan nama sederhana, Panti Asuhan Kasih Mulia. Bangunan panti itu berbentuk rumah besar bergaya lama dengan halaman rumput yang hijau dan beberapa pohon mangga yang rindang. Suasana di sana terasa begitu tenang, berbanding terbalik dengan ketegangan yang merayap di dada Ana sejak kemarin.​Begitu mobil berhenti dengan sempurna di bawah rindangnya pohon mangga, sang sopir dengan sigap turun dan membukakan pintu belakang. Ana melangkah keluar terlebih dahulu, merapikan blazer biru dongker yang dikenakannya. Sesaat kemudian, Gery menyusul turun. Pria itu langsung melepas jas formalnya, menyampirkannya di lengan kiri, dan membiarkan kemeja putihnya terbuka

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 31

    Mobil sedan perak milik Ana membelah jalanan protokol ibukota yang mulai disergap kemacetan pagi. Sinar matahari pukul setengah delapan terasa mulai menyengat, memantul di antara kaca-kaca gedung pencakar langit. Fokus Ana terbagi antara memperhatikan marka jalan dan mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi rapat pleno penting bersama jajaran direksi perusahaan Gery. Di kursi penumpang, map dokumen biru tua yang sudah ditandatanganinya semalam tergeletak rapi, siap menjadi senjata utamanya hari ini.​Tepat pukul 07.45, Ana melangkah melewati pintu kaca otomatis lobi kantor pusat milik Gery. Anaa berjalan dengan langkah taktis, tumit sepatunya mengetuk lantai marmer dengan irama yang tegas.​Tapi, ketika dia keluar dari lift di lantai tempat ruang rapat utama berada, Ana mendadak menghentikan langkahnya. Dahinya berkerut dalam. Suasana di sekitar ruangan itu teramat sepi. Tidak ada kesibukan staf yang membawa berkas, tidak ada aroma kopi yang biasanya disiapkan untuk menjamu para

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 30

    Sinar matahari pagi yang hangat mulai menerobos masuk melalui celah-celah gorden kamar tidur, memantulkan berkas cahaya di atas lantai kayu. Ana terbangun dengan rasa lelah yang masih menggelayuti sekujur tubuhnya, tapi alarm di ponselnya menjadi pengingat yang kejam bahwa jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.​Sesuai janjinya pada diri sendiri dan juga demi memenuhi ultimatum Ibu Dewi, Ana harus bersiap. Ana mengenakan setelan kerja yang tidak kalah rapi dari kemarin, sebuah blazer berwarna biru dongker yang memberikan kesan tegas dan profesional. Setelah mengecup kening Nia yang masih terlelap setelah tangis semalam, dan berpamitan pada Ibu Sari yang telah menyiapkan sarapan praktis, Ana memacu mobilnya membelah jalanan kota yang mulai merayap padat.​Sebelum kakinya melangkah masuk ke gedung perkantoran Gery yang megah, Ana memutuskan untuk mampir sejenak ke Rumah Sakit Pusat Medika. Dia membutuhkan suntikan kekuatan moral dengan melihat wajah suaminya, meski pria itu masih te

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 29

    Suasana malam di kediaman orang tua Ana terasa begitu sunyi ketika mobil yang dikendarai Pak Anton perlahan memasuki halaman rumah. Ana turun dari mobil dengan langkah yang teramat berat. Tas kerja dan map dokumen dari Gery didekapnya erat di dada, seolah benda-benda itu adalah satu-satunya pelindung yang tersisa dari kerapuhan jiwanya.​Begitu pintu depan diketuk, daun pintu kayu jati itu perlahan terbuka, menampilkan sosok Ibu Sari. Wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kelelahan yang mendalam, tapi matanya langsung memancarkan rasa iba yang teramat sangat ketika menatap putri tunggalnya. Rambut Ana sedikit berantakan, dan riasan tebal yang dipolesnya siang tadi kini tampak kusam, menyembunyikan wajah pucat di baliknya.​"Ana..." bisik Ibu Sari lirih.​Sebelum Ana sempat membalas sapaan ibunya, dari arah dalam rumah terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari tergesa-gesa. Sosok Nia muncul dari balik sekat ruang tamu. Matanya sembab, hidungnya memerah, dan kedua tangan kec

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status