Partager

Bab 2

Auteur: Kak Wina
last update Date de publication: 2026-05-04 10:27:08

​Pagi harinya tidak membawa ketenangan bagi Ana. Cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden kamar terasa menyilaukan dan menyakitkan, seolah memaksa Ana untuk bangun dan menghadapi kenyataan yang ingin dia hindari.

Belum sempat dia menata hatinya setelah pertengkaran hebat semalam, suara ketukan pintu terdengar. ​Itu bukan ketukan Raka. Tapi Ibu Dewi, mertuanya.

​Ibu Dewi masuk dengan keanggunan yang dingin. Dia duduk di tepi tempat tidur, menatap Ana dengan tatapan yang seolah-olah bisa membaca setiap keraguan di kepala menantunya.

Di belakangnya, Raka berdiri bersandar pada bingkai pintu, melipat tangan di dada dan diam, namun memberikan dukungan penuh pada ibunya.

​"Ana, Raka sudah menceritakan semuanya. Ibu kecewa melihatmu begitu keras kepala menghadapi masalah kecil ini." Ucap Ibu Dewi dengan suara yang lembut, tapi memiliki ketajaman seperti sembilu.

"Masalah kecil, Bu? Raka menghendaki aku merayu laki-laki lain demi bisnis. Apakah itu yang Ibu sebut masalah kecil?" Sahut Ana dengan perlahan duduk dan menarik selimutnya seolah ingin melindungi diri.

​Ibu Dewi menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang dibuat seolah-olah Ana adalah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Dia meraih tangan Ana, menggenggamnya dengan jemari yang dingin.

​"Dengarkan Ibu, Nak. Pernikahan itu bukan hanya soal cinta-cintaan, tapi soal membangun imperium. Keluarga kita sedang berada di ujung tanduk. Proyek pak Gery ini adalah satu-satunya kunci yang kita punya. Jika proyek ini gagal, rumah ini, nama baik keluarga, hingga masa depan cucu-cucu Ibu nanti, semuanya akan hancur." Ucap Ibu Dewi.

​Ana menoleh ke arah Raka, mencari pembelaan, namun suaminya hanya membuang muka. Raka tahu benar bahwa ibunya adalah senjata pamungkas untuk menaklukkan Ana.

​"Tapi ada batasnya Bu, Kenapa harus aku? Kenapa tidak melalui prosedur hukum atau bisnis yang sewajarnya? Menjadikanku umpan untuk Pak Gery... itu merendahkan martabatku sebagai istri Raka." sela Ana dengan suara serak.

​"Siapa yang bilang ini merendahkan? Justru ini adalah bentuk pengabdianmu. Seorang istri yang patuh adalah dia yang tahu kapan harus turun tangan membantu suaminya. Pak Gery itu hanya butuh sentuhan lembut seorang wanita agar hatinya melunak. Kau cukup menemaninya makan malam, sedikit bersikap manis, dan tanda tangan itu akan ada di tangan kita!" Seru Ibu Dewi dengan menaikkan nada bicaranya .

"Tapi Bu, patuh itu bukan berarti....." Ana berusaha mengelak, tapi Ibu mertuanya kembali memotong kalimatnya dengan pedas.

"Cukup Ana! kau tidak ingin disebut sebagai menantu yang membawa sial bagi keluarga ini karena keegoisanmu, bukan? Ingat, Ana, semua yang kau pakai hari ini, perhiasan itu, baju itu, semuanya berasal dari keringat keluarga ini. Sekarang, saat keluarga butuh balas budimu, kau malah berakting sebagai martir?" Tegas ibu Dewi kepada menantunya.

​Ana merasa seolah tembok-tembok kamar itu mulai menghimpitnya. Di satu sisi, dia merasa jijik dengan rencana mereka. Dia merasa seperti barang dagangan yang dipajang di etalase, menunggu pembeli yang tepat untuk memberikan keuntungan. Tapi di sisi lain, doktrin tentang "istri yang patuh" dan "menantu yang berbakti" telah ditanamkan padanya sejak hari pertama ia memasuki rumah ini.

Raka akhirnya melangkah maju, berlutut di samping ibunya, sehingga kini Ana dikepung oleh keduanya.

​"Na, tolonglah, hanya satu malam. Ini demi kita, Na. Demi masa depan yang selalu kita mimpikan. Apa kau tega melihat Ibu stres karena utang perusahaan yang menumpuk?" bisik Raka, kali ini dengan nada yang jauh lebih manipulatif.

​Ana memejamkan mata. Air mata jatuh di pipinya. Ada perang hebat di dalam dadanya. Dia ingin berteriak bahwa ini salah, bahwa kehormatannya tidak bisa ditukar dengan nilai kontrak miliaran rupiah. Tapi, tatapan intimidasi dari mertuanya dan rengekan pengecut dari suaminya membuatnya merasa lumpuh.

​“Hanya makan malam?” tanya Ana lirih, sebuah pertanyaan yang menandakan pertahanannya mulai runtuh.

"Hanya makan malam, Sayang. Dan sedikit... keramahan. Pastikan dia merasa menjadi pria paling penting di ruangan itu. Selebihnya, biarkan pesonamu yang bekerja." ​Jawab Ibu Dewi dengan senyum penuh kemenangan.

​Ana menunduk layu. Dia merasa martabatnya perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa pahit yang membekas di pangkal tenggorokan. Dia terjebak dalam sangkar emas yang kini pintu-pintunya dikunci rapat oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.

Ana bangkit dari tempat tidur dengan gerakan yang terasa sangat berat, seolah-olah ada beban ribuan ton yang bertumpu di pundaknya. Setiap sendinya terasa kaku. Ia melangkah menuju kamar mandi, menghindari tatapan kemenangan dari mata Ibu Dewi dan sorot lega yang pengecut dari wajah Raka.

Di bawah kucuran air dingin, Ana memejamkan mata, mencoba menghanyutkan rasa mual yang terus mengaduk perutnya sejak semalam.

Dia harus bertahan. Setidaknya untuk Nia, putri kecilnya yang masih terlelap di kamar sebelah.

​Setelah mengenakan pakaian yang paling bersahaja, seolah itu adalah benteng terakhir untuk menjaga harga dirinya, Ana menuntun Nia menuju meja makan.

Nia, yang baru berusia enam tahun, tampak ceria dengan tas ransel bergambar kartun di punggungnya, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang menghantam ibunya.

​Di meja makan, suasana terasa ganjil. Raka duduk di sana sambil membolak-balik koran digital, sementara Ibu Dewi sudah siap dengan secangkir teh dan sepiring roti panggang.

​"Pagi, Cucu Nenek yang cantik, duduklah, Ana. Sarapan dulu. Kamu butuh energi untuk penampilanmu nanti malam.” sapa Ibu Dewi dengan suara yang dibuat semanis mungkin.

​Ana menarik kursi untuk Nia tanpa menyahut. Dia mulai menyuapkan sereal ke piring putrinya dengan tangan yang sedikit gemetar.

​"Aku sudah menelepon asisten Pak Gery, dia bilang Pak Gery sangat senang mendengar bahwa kau yang akan menyerahkan proposalnya secara langsung. Dia bahkan memesan meja khusus di rooftop jam tujuh malam nanti.” Raka membuka suara, nadanya datar seolah sedang membicarakan cuaca.

"Raka, di depan Nia, tolong.” ​sahut Ana dengan meletakkan sendoknya dengan denting yang cukup keras.

​Tapi, Ibu Dewi tidak membiarkan percakapan itu berhenti. Dia menyesap tehnya perlahan, membiarkan uap panasnya menerpa wajahnya yang mulai berkerut.

"Justru karena ada Nia di sini, kau harus sadar, Ana, Nia butuh sekolah yang bagus. Dia butuh lingkungan yang terjamin. Semua itu tidak jatuh dari langit. Ayahnya sedang berjuang, dan sebagai Ibu, kau punya tanggung jawab untuk memastikan jalan ayahnya mulus.” ujar Ibu Dewi sambil menatap cucunya, namun kata-katanya ditujukan tajam pada menantunya.

​"Aku mendidik Nia untuk menjadi perempuan yang punya harga diri, Bu, bagaimana aku bisa menatap matanya nanti jika aku tahu aku mendapatkan uang sekolahnya dengan cara... merayu pria lain?” sahut Ana dengan suara rendah namun bergetar.

"Merayu itu kata yang terlalu kasar, Ana! Bisakah kau melihatnya secara profesional? Ini hanya public relations. Kau hanya perlu menjadi pendengar yang baik, tertawa pada leluconnya yang garing, dan memastikan dia menandatangani berkas itu sebelum dessert keluar.” ​Ucap Raka sambil meletakkan ponselnya ke meja dengan kasar.

​Ana merasakan dadanya sesak. Aroma mentega dari roti panggang yang biasanya menggugah selera, kini tercium amis di hidungnya.

Ana menatap mertuanya yang terus menatapnya dengan pandangan menuntut, seolah Ana adalah sebuah investasi yang sedang ditagih hasilnya.

​"Nanti sepulang sekolah, Ibu sudah pesankan janji di salon langganan Ibu, rambutmu harus ditata sedikit lebih dewasa. Dan pakailah gaun hitam yang Ibu belikan bulan lalu. Potongan lehernya sangat pas untuk menunjukkan kalung berlian keluarga kita. Pak Gery itu sangat suka detail." lanjut Ibu Dewi tanpa mempedulikan raut wajah Ana yang pucat.

​Ana mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia merasa seperti seekor hewan ternak yang sedang dihias sebelum dibawa ke tempat jagal.

Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut mertua dan suaminya terasa seperti paku yang menancap satu per satu di hatinya.

​"Ayo, Nia. Kita berangkat sekarang," ajak Ana tiba-tiba. Dia tidak sanggup lagi duduk di sana satu menit pun.

​"Sarapanmu belum habis, Ana!" seru Raka.

​"Aku tidak lapar," jawab Ana pendek tanpa menoleh.

​Saat Ana menuntun Nia keluar menuju mobil, dia mendengar suara Ibu Dewi yang masih tertinggal di ruang makan, berbicara pada Raka dengan nada puas.

"Jangan khawatir, Raka. Dia wanita yang cerdas. Dia tahu apa yang harus dilakukan jika dia tidak ingin melihat keluarga ini jatuh miskin." Bisik ibu Dewi pada Raka.

​Di dalam mobil, Ana menggenggam kemudi dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di cermin tengah, ia melihat wajah Nia yang polos melalui pantulan kaca.

Air mata Ana nyaris jatuh, tapi dia menahannya sekuat tenaga. Dia merasa terhimpit di antara dua dunia. kewajiban moral sebagai seorang ibu, dan tekanan dari keluarga yang perlahan-lahan mengikis kemanusiaannya demi pundi-pundi rupiah.

​Bagaimana mungkin orang-orang yang ia sebut keluarga bisa dengan begitu tenang merencanakan penyerahan dirinya kepada orang asing? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sepanjang perjalanan, seirama dengan detak jantungnya yang kian tidak beraturan.

Mesin mobil dimatikan, tapi Ana tetap duduk diam di balik kemudi.

Biasanya, setelah gerbang sekolah Nia tertutup, dia akan segera memacu kendaraannya menuju kantor Raka, berkutat dengan tumpukan invoice dan laporan keuangan yang membosankan namun aman.

Namun hari ini, arah kemudinya berbelok. Dia memarkirkan mobilnya di pinggir sebuah taman kota yang sepi, tak jauh dari sekolah putrinya.

​Dia butuh udara. Dia butuh ruang di mana suara Raka dan Ibu Dewi tidak bisa menjangkaunya.

Ana melangkah keluar, berjalan pelan menuju sebuah bangku kayu di bawah pohon mahoni yang rindang. Angin pagi berembus lembut, namun kesejukan itu tak mampu memadamkan api kegelisahan di dadanya.

Di depannya, beberapa burung gereja hinggap di tanah, mematuk sisa makanan dengan bebas. Ana iri pada kebebasan itu.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 10

    Suasana di meja makan yang tadinya sunyi mendadak berubah menjadi medan pertempuran yang dingin.Ibu Dewi dengan kelicikan yang dibungkus rapi dalam nada bicara keibuan, sengaja tidak membiarkan topik itu menguap. Dia tahu bahwa kelemahan terbesar Ana adalah putrinya, dan dia tidak ragu untuk menggunakan Nia sebagai pion dalam permainan ini."Nia, kamu tahu tidak? Mama ini orang hebat. Sekarang Mama sedang memegang kunci supaya Nia bisa terus les balet, supaya kita bisa liburan lagi seperti tahun lalu. Tapi, Mama sepertinya lagi capek dan mau menyerah. Kasihan Papa kan, kalau harus berjuang sendiri?" ​Ucap ibu Dewi sambil mengusap rambut Nia perlahan, tapi matanya tetap tertuju tajam pada Ana.​Ana tersedak air yang tengah diminumnya. Dia menatap mertuanya dengan pandangan tidak percaya."Ibu... tolong, jangan libatkan Nia dalam urusan ini. Ini tidak pantas." Sahut Ana.​"Kenapa tidak pantas? Nia berhak tahu bahwa masa depannya ada di tangan ibunya. Ana, Pak Gery itu hanya meminta kam

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 9

    Di lantai bawah, denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kesabaran Ibu Dewi.Meja makan sudah tertata rapi dengan nasi goreng hangat dan aroma kopi yang kuat, tapi kursi di samping Raka masih kosong.​Ibu Dewi melirik ke arah tangga, lalu beralih pada Nia yang sedang mengunyah rotinya dengan pelan."Nia sayang, Bisa bantu Nenek? Coba ke atas, panggil Mama. Katakan pada Mama, kita semua sudah menunggu untuk sarapan. Kalau Mama sakit, bilang Nenek khawatir sekali." Ucap Ibu Dewi dengan nada yang sangat lembut kepada cucunya."Iya, Nek. Mungkin Mama masih mengantuk," jawab Nia dengan polos​ segera turun dari kursinya dan berlari kecil menaiki anak tangga.​Di dalam kamar, Ana masih terduduk di tepi ranjang dengan mata sembab. Saat mendengar ketukan kecil di pintu, dia tersentak.​"Mama? Ini Nia. Buka pintunya, Ma..." Panggil Nia pada ibunya.​Suara bening itu seperti air dingin yang menyiram api kemarahan Ana. Dia segera mengha

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 8

    Keesokan harinya, sinar matahari masuk melalui celah jendela kamar dengan cara yang sangat kontras dengan suasana hati Ana.Dia terbangun dengan sisa riasan mata yang menghitam di bawah kelopak, saksi bisu dari air mata yang dia tahan semalaman. Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja melakukan perjalanan jauh melintasi badai. Di lantai bawah, sayup-sayup terdengar suara Raka yang berbicara dengan nada tinggi dan penuh semangat di telepon.​Ana duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah gaun hitam yang dia sampirkan begitu saja di kursi. ​Pintu kamar terbuka dengan kasar. Raka masuk dengan wajah yang tampak merah padam karena kegembiraan yang meluap-luap. Dia menggenggam ponselnya erat-erat, seolah benda itu adalah piala kemenangan.​"Ana! Kamu tidak akan percaya ini! Barusan Pak Gery menelepon. Dia membatalkan perjalanannya ke luar negeri! Katanya, setelah bertemu denganmu semalam, dia merasa proyek ini terlalu sayang untuk dilewatkan atau diserahkan kepada asistennya. Dia ingin

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 7

    Malam kian larut saat mobil Ana perlahan memasuki pelataran rumah. Dia duduk diam di balik kemudi selama beberapa menit, membiarkan mesin mobil tetap menyala.Dia menatap map hitam di kursi penumpang, selembar kertas bertanda tangan yang telah menukar ketenangan jiwanya.​Dia menyentuh wajahnya di cermin. Riasan dari salon tadi masih sempurna, tapi di matanya, dia hanya melihat orang asing yang baru saja menggadaikan harga diri demi kenyamanan orang lain. Lalu Ana mematikan mesin, mengambil map itu, dan melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa seperti penjara mewah.​Begitu pintu jati itu terbuka, Raka dan Ibu Dewi ternyata sudah menunggu di ruang tengah.Mereka duduk dengan gelisah, namun seketika bangkit berdiri saat melihat sosok Ana muncul. Suasana yang tadinya sunyi berubah menjadi riuh dengan harapan yang egois.​"Ana! Kamu sudah pulang? Bagaimana? Dia tanda tangan? Katakan padaku dia setuju!" Ucap Raka sambil menghampiri Ana dengan langkah lebar. Wajahnya berseri-seri, matan

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 6

    "Pak Gery, saya melakukan ini karena saya percaya bahwa Mas Raka adalah pria yang berdedikasi, dan saya percaya bahwa kerja sama ini bukan hanya soal keuntungan materi, tapi soal kepercayaan dua belah pihak." Jawab Ana dengan suaranya lembut namun memiliki ketegasan yang tertahan.Gery terdiam, jemarinya yang semula masih mencoba menyentuh tangan Ana di atas meja kini berhenti."Sama seperti Bapak yang menghargai kesetiaan dan pengabdian, saya pun berada di sini sebagai wujud komitmen saya pada visi yang Bapak dan suami saya bangun. Bukankah kerja sama terbaik adalah yang didasari oleh rasa hormat terhadap nilai-nilai keluarga?" Lanjut Ana dengan tegas.Gery tampak tertegun sejenak mendengar jawaban Ana yang begitu tertata, sebuah jawaban yang mengingatkannya bahwa wanita di depannya bukanlah sekedar pajangan, melainkan sosok yang memiliki kedalaman berpikir.​"Jawaban yang sangat cerdas, Ana, kau benar-benar tahu bagaimana cara menempatkan diri," gumam Gery dengan senyum yang tampak

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 5

    "Terima kasih atas pujiannya, Pak Gery. Saya menghargai waktu Bapak untuk bertemu malam ini." Ucap ​Ana dengan menarik tangannya perlahan, mencoba memaksakan sebuah senyuman yang terasa kaku di wajahnya. ​"Silakan duduk, Ana. Boleh saya panggil Ana saja, kan? Rasanya terlalu formal jika kita menggunakan embel-embel Nyonya di suasana seindah ini," ujar pak Gery sambil menarikkan kursi untuk Ana.​Setelah memesan hidangan pembuka, keheningan yang canggung mulai menyelimuti meja tersebut. Ana meletakkan map hitam yang dibawanya di atas meja, seolah ingin segera menyelesaikan urusan ini.​"Pak Gery, mengenai berkas yang saya bawa... Mas Raka bilang Bapak sudah meninjaunya," Ucap Ana untuk membuka pembicaraan ke arah profesional.​Tapi, Pak Gery hanya melirik map itu sekilas, lalu kembali menatap wajah Ana. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak sangat santai.​"Berkas itu bisa menunggu, Ana. Angka-angka hanya akan merusak suasana malam yang romantis ini. Aku lebih tertarik membica

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status