共有

BAB I BUKU ANEH

last update 公開日: 2026-05-24 08:56:02

10 November, 2020

Aku solita, baru saja memecahkan rekor baru sebagai budak korporat dengan keluar kantor pukul dua dini hari. Aku keluar dari gedung kantor sambil menyeret langkah lelah. Lampu-lampu kota masih menyala terang, tetapi jalanan mulai sepi seperti kota mati.

Aku membuka ponselku, notifikasi itu langsung muncul memenuhi layar. Berbagai macam surat cinta dari tukang sampah kompleks, listrik, air, dan... dari rumah sakit.

Ya, beginilah kehidupan seorang tulang punggung keluarga. Kau berharap aku mendapatkan surat cinta?. Aku terkekeh pelan sambil memijat pelipis ku, berhenti sejenak untuk sekadar melupakan layar komputer dan berbagai permasalahan di dalamnya.

Bicara dengan diri sendiri? Ini belum termasuk gila... hanya sedikit saja.

Adikku sakit keras dan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, sementara orang tuaku sudah lama meninggal sejak aku kuliah. Dengan begitu, aku tak punya pilihan selain mengurus adikku. Lucunya, aku bahkan tak yakin bisa mengurus diriku sendiri.

Aku berjalan menyusuri trotoar. Angin malam memang yang terbaik untukku. Selain sepi dan menenangkan, itu juga membuat tubuh dan pikiranku rileks - hanya berlaku bagi orang tak waras sepertiku. Lagipula, orang waras mana yang jalan-jalan jam dua dini hari.

Di dekat halte, aku berhenti sejenak membeli kopi kaleng di mesin penjual minuman, lalu meminumnya sambil berjalan sembari menikmati ketenangan malam. Dilihat dari manapun, wajahku ini sudah seperti bukan manusia - mata panda, rambut lepek, dan pipi penuh bintik. Jika orang lain melihatku, mungkin ia akan lari ketakutan, mengira aku hantu.

"Ah, kopi ini bahkan sudah tak pahit lagi," gumamku sambil menatap langit malam yang tertutup awan.

Aku berniat untuk duduk santai di taman sebentar, mencoba mengistirahatkan pikiranku. Aku melanjutkan perjalanan melewati halte dan proyek gedung yang belum selesai di samping kantorku. Bus sudah tak beroperasi di jam segini, dan memiliki kendaraan pribadi bukan pilihan bagus bagi orang dengan rekening sekarat sepertiku. Jadi, apa pilihanku selain jalan kaki?

Akhirnya aku tiba di depan taman. Aku sempat melirik sekitar untuk memastikan ada gelandangan atau tidak. Bagaimanapun juga, aku adalah seorang gadis yang berjalan sendirian di tengah malam - atau pagi, mungkin. Penting bagiku untuk selalu waspada.

Setelah memastikan taman itu kosong, aku memilih untuk duduk di bagian depan, tak terlalu jauh dari jalan utama. Alasannya sederhana: mencari kursi dengan penerangan lampu. Bagaimanapun, aku juga takut gelap.

Baru saja akan duduk, aku melihat sebuah buku tergeletak di kursi taman. Buku itu tampak antik - halamannya tidak terlalu tebal, dan sampulnya terbuat dari kulit. Ada simbol aneh berbentuk pentagram di tengahnya, beserta simbol-simbol lain yang aku tak tahu itu apa.

"Siapa yang meninggalkan buku yang kelihatannya mahal ini?" kataku sambil mengangkatnya pelan.

Mungkin aku cukup awam soal buku, tapi orang awam pun tahu bahwa itu bukan barang murah. Dilihat dari sudut manapun, itu pasti barang klasik. Aku sempat berpikir, berapa harganya jika aku menjualnya? Tapi aku mengurungkan niatku - maaf, insting bertahan hidupku keluar.

Entah kenapa aku jadi penasaran dengan isinya, jadi aku mencoba membukanya. Tapi buku ini seperti dilem menggunakan lem super - aku bahkan tak bisa membuka sampulnya. Lalu bagaimana cara pemilik buku ini membacanya?

Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri sembari membolak-balik buku itu. Aku tak tahu apa yang merasuki ku hingga aku peduli padanya.

"Buku aneh..."

Awan memecah dirinya sendiri, kini mulai menampakkan bulan sempurna yang berdiri kokoh di atas langit malam. Cahayanya menembus, menerangi sekitar yang ditelan kegelapan. Cahaya itu juga menyinari buku yang aku pegang, membuatnya bereaksi.

Aku yang sibuk membolak-balik buku dikejutkan oleh itu. Simbol pentagram di sampulnya menyala, seketika membuka halamannya. Sekilas aku melihatnya, dan itu... kosong? Buku ini kosong? Aku sempat bingung dengan apa yang aku lihat.

Belum sempat aku memahami apa yang terjadi, cahaya dari buku itu mendadak membesar. Buku itu semakin menyala terang; di tanah sekitar tempat aku berdiri, muncul simbol pentagram besar yang dihiasi simbol-simbol aneh.

Aku menoleh dengan panik, mendapati cahaya dan simbol-simbol itu semakin memenuhi tanah yang aku pijak.

"A... apa ini?!"

Udara bergetar hebat. Cahaya merah menelan seluruh taman. Aku jatuh entah ke mana, melewati ruang gelap yang aneh - ruang itu dipenuhi pernak-pernik cahaya seperti langit berbintang. Terombang-ambing tanpa arah, aku dengan panik mencoba meraih sesuatu, tapi percuma.

Aku terus terseret selama beberapa saat, melewati ribuan - tidak, mungkin ratusan gugus bintang. Hingga tepat di depanku, aku menembus semacam penghalang kaca yang tampak tipis dan bercahaya. Cahaya terang menyinari wajahku, memaksaku menutup mata.

Cahaya terang merobek udara. Celah retakan muncul selebar pintu. Aku terlempar keluar dan mendarat dengan wajahku di tanah. Aku meringis sambil memegangi pipi yang memerah, mencoba bangkit, dan melihat sekeliling.

Pandangan pertama yang aku lihat adalah: aku berada di bangunan tua yang runtuh. Struktur bangunannya masih berdiri kokoh, hanya saja... atapnya tidak ada. Aku melihat ke belakang, mendapati retakan menyusut - dan sesuatu terlempar tepat mengenai wajahku.

Buku itu menghantam wajahku, membuatku terhuyung-huyung ke belakang. Sial, kenapa harus selalu wajahku. Aku mendongak dan menyadari retakan menyusut, mulai menghilang.

Tunggu!

Aku berlari sekuat tenaga menghampirinya meski lutut dan wajahku terasa nyeri. Ketika aku hampir sampai di retakan itu, retakan tersebut menyusut dengan cepat dan hilang tepat di depanku. Bagus. Sekarang satu-satunya jalan pulang hilang.

Aku hampir mengumpat pada dewa karenanya, tapi aku menahannya di tenggorokan dan meyakinkan diriku untuk optimis. Seoptimis apa memangnya aku ini? Dan sepertinya rasa optimis ku kali ini berbuah manis - terima kasih kepada dewa.

Sekelompok orang mendatangiku. Mereka berjubah hitam dan memakai topeng aneh.

"Di mana... artefaknya..."

"Siapa gadis itu..."

Seseorang entah dari mana mendarat dengan keras di depanku. Dia memiliki perawakan tinggi dan memakai topeng - sepertinya topeng ular, entahlah. Apakah aku mendarat tepat di pesta topeng?

"Apa-apaan ini..." katanya. "Cih... ambil apapun yang ada, tangkap gadis itu."

Sepertinya mereka bukan orang baik. Bukannya menuduh, tapi mereka berlari ke arahku dan terlihat tak memiliki niat baik sama sekali. Mereka mulai mendekat. Insting berteriak agar aku lari, tapi kakiku seperti mati rasa.

Dadaku sedikit menegang melihat mereka semakin dekat. Aku mencoba mundur perlahan, tetapi mereka semakin mendekat. Salah satu pria bertopeng menerjang ke arahku - jaraknya mungkin hanya beberapa langkah saja.

Tepat sebelum dia benar-benar menyentuhku, sesuatu menyapu mereka. Angin berkumpul di sekitarku membentuk pusaran kecil, lalu pusaran itu meledak ke depan, membuat pria bertopeng itu terpental mundur.

Dari belakang, seseorang menangkapku. Dia membopongku dan dengan cepat melompat melewati puing-puing. Dengan rentangan tangannya, dia menggumamkan bahasa aneh yang tak aku mengerti - dan dengan sekejap, ia melewati dinding dan melesat keluar.

Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Ini seperti mimpi di siang bolong. Dia merentangkan tangannya, sekali lagi menggumamkan bahasa aneh itu, dan angin berkumpul di sekitar kami, menghempaskan kami ke udara. Kami terbang melesat ke langit seperti kantong keresek yang tertiup angin...

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   FROM ME

    Sebuah Novel Fantasi oleh Coffeeman Never Sleep Halo semua! Aku Coffeeman, seorang penulis pemula yang baru saja merampungkan novel pertamaku. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir ke sini. Karena ini adalah novel pertamaku, tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, aku sangat mengharapkan saran dan kritik dari kalian yang membacanya. Jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat, ya. Terima kasih! Mengenal Dunia: Dalam novel ini, Solita - sang tokoh utama - secara tidak sengaja terlempar ke dunia lain yang penuh dengan sihir: sebuah benua bernama Pandora. Di Pandora, semua orang mampu menggunakan sihir, dan sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di benua ini terdapat beberapa kerajaan yang tersebar luas. Namun, fokus cerita hanya akan berada di Kekaisaran Kahalin - sebuah kekaisaran megah yang terletak di ujung Utara benua Pandora. Definisi Penyihir : Meskipun semua orang di Pandor

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB I BUKU ANEH

    10 November, 2020 Aku solita, baru saja memecahkan rekor baru sebagai budak korporat dengan keluar kantor pukul dua dini hari. Aku keluar dari gedung kantor sambil menyeret langkah lelah. Lampu-lampu kota masih menyala terang, tetapi jalanan mulai sepi seperti kota mati. Aku membuka ponselku, notifikasi itu langsung muncul memenuhi layar. Berbagai macam surat cinta dari tukang sampah kompleks, listrik, air, dan... dari rumah sakit. Ya, beginilah kehidupan seorang tulang punggung keluarga. Kau berharap aku mendapatkan surat cinta?. Aku terkekeh pelan sambil memijat pelipis ku, berhenti sejenak untuk sekadar melupakan layar komputer dan berbagai permasalahan di dalamnya. Bicara dengan diri sendiri? Ini belum termasuk gila... hanya sedikit saja. Adikku sakit keras dan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, sementara orang tuaku sudah lama meninggal sejak aku kuliah. Dengan begitu, aku tak punya pilihan selain mengurus adikku. Lucunya, aku bahkan tak yakin bisa mengurus dir

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB II BERTEMU PENYIHIR

    Sungguh asyik sekali terombang-ambing di udara dengan wajah yang sakit ini, saking asyiknya aku sampai ingin muntah. Pria itu membawaku melesat melewati reruntuhan dengan kecepatan yang membuat isi perutku seperti tertinggal di belakang. Kami terombang-ambing beberapa saat hingga jatuh dengan kecepatan tinggi, tapi dapat mendarat dengan aman di tanah. Sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Terombang-ambing di udara sedikit membuat kepalaku pusing. Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mulutku saat aku terbang tadi. Dia terlihat sangat tenang. Seorang pria yang cukup tampan, dia masih muda. Kira-kira seumurku, tapi dia cukup aneh-rambutnya berwarna putih. Masih muda, kenapa rambutnya putih? Dan pupil matanya berwarna biru, mirip orang Eropa. Dilihat dari segala sisi, dia cukup tampan bagiku. Hanya... kenapa rambutnya itu seperti semak belukar. Dia benar-benar seorang penyihir! Aku bertanya-tanya apakah aku sekarang ada di dunia lain. Aku ingin sekali bertanya padanya, se

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB III TERBANGUN ENTAH DIMANA

    11 November 434, kekaisaran KahalinAku bermimpi melihat diriku yang masih remaja bersama adikku yang aku gendong ke mana pun aku pergi, tentang kami yang menyukai hal yang sama, melukis.Menggambar, mencorat-coret apa pun yang kami temui, bahkan dinding rumah orang pun tak luput. Kadang-kadang orang-orang akan datang mengomel pada ibuku, dan ibu akan menyita peralatan lukis kami serta mengurung kami di kamar seharian.Namun itu tak menghentikan aku dan adikku. Kami berbagi pensil kecil yang dipotong dua untuk situasi darurat seperti itu, dan kami akan melanjutkan aksi kami selanjutnya sambil tertawa pelan.Aku merindukan saat-saat itu, di mana kami dapat menggambar, melukis, menciptakan apa pun yang kami mau tanpa terkekang, seakan kami bisa membuat dunia kami sendiri. Kami berdua pun berjanji akan menjadi seorang pelukis bersama. Namun semua itu sirna, mimpi itu perlahan menghilang.Setelah ibu meninggal, aku terpaksa mengubur impian itu dalam-dalam. Aku mulai melupakannya dan beral

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB IV ASTER CASTY

    Aku tak menjawabnya dan hanya diam mengikuti langkahnya dari belakang. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa semudah itu aku mempercayai orang asing di tempat seperti ini. Namun jika dipikir-pikir lagi, kalau dia memang berniat jahat, mungkin sejak tadi aku sudah mati, dijual, atau dijadikan bahan eksperimen aneh entah apa....tapi tunggu dulu.Bagaimana kalau dia memang sedang memanfaatkanku? Pikiran itu langsung membuat bulu kudukku meremang.Aku terus mengikutinya di belakang. Cahaya lentera yang ia bawa bergoyang pelan mengikutinya melewati lorong yang remang-remang. Kulihat lagi dirinya - dia berjalan menuju ruangan tempatku tadi bangun. Entah kenapa aku malah gugup dengan situasi ini, dan kenapa dia diam saja, itu membuatku sedikit takut.Penyihir itu masuk lebih dulu, lalu meletakkan lentera di atas meja kecil dekat dinding. Cahaya keemasan langsung menyebar lembut ke seluruh ruangan. Aku berdiri kikuk di ambang pintu. Dia menoleh ke arahku, tatapannya datar."Duduklah.""Ba... b

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB V AKU INGIN MEMUKUL WAJAHNYA

    Bagaimana menurutmu jika sekarang kau sedang duduk di depan orang yang hampir saja membunuhmu beberapa menit yang lalu?Ya, kurang lebih seperti itulah situasiku sekarang.Namanya Aster, kalau tak salah. Dia duduk santai sambil mengamatiku dan menyeringai aneh. Entah kenapa senyum itu membuatku ingin memukul wajahnya.Untungnya roti ini enak sekali - aku serasa makan roti buatan Prancis, meski aku tak pernah makan roti Prancis sih.Tapi semua orang tak akan menolak tampilannya yang menggugah selera. Roti panggang berbentuk sabit yang dipanggang sempurna, dengan taburan gula dan buah di atasnya. Aku bukan ahli roti, tapi aku tahu ini yang terbaik - plus tanpa bahan pengawet kimia.Aku mungkin membencinya, tapi kuberikan keringanan untuk setidaknya tak memukul wajahnya. Roti ini benar-benar enak.Dia masih menyeringai ketika aku meletakkan piring di meja."Gimana?""Lumayan," jawabku ketus."Jadi... Solita," dia berhenti sejenak. "Aku minta maaf sekali lagi mengenai tadi..."Dia mendeka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status