ホーム / Fantasi / DECEMBER DAWN : THE PROPHET / BAB II BERTEMU PENYIHIR

共有

BAB II BERTEMU PENYIHIR

last update 公開日: 2026-05-27 18:58:20

Sungguh asyik sekali terombang-ambing di udara dengan wajah yang sakit ini, saking asyiknya aku sampai ingin muntah.

Pria itu membawaku melesat melewati reruntuhan dengan kecepatan yang membuat isi perutku seperti tertinggal di belakang. Kami terombang-ambing beberapa saat hingga jatuh dengan kecepatan tinggi, tapi dapat mendarat dengan aman di tanah.

Sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Terombang-ambing di udara sedikit membuat kepalaku pusing. Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mulutku saat aku terbang tadi.

Dia terlihat sangat tenang. Seorang pria yang cukup tampan, dia masih muda. Kira-kira seumurku, tapi dia cukup aneh-rambutnya berwarna putih. Masih muda, kenapa rambutnya putih? Dan pupil matanya berwarna biru, mirip orang Eropa. Dilihat dari segala sisi, dia cukup tampan bagiku. Hanya... kenapa rambutnya itu seperti semak belukar.

Dia benar-benar seorang penyihir! Aku bertanya-tanya apakah aku sekarang ada di dunia lain. Aku ingin sekali bertanya padanya, seperti, "Apakah kau benar-benar penyihir? Itu keren!" Tapi aku mengurungkan niatku karena sepertinya situasi sedang tidak kondusif untuk bertanya sekarang.

Beberapa orang berjubah hitam itu mengejar kami sampai keluar, diikuti oleh pria dengan topeng ular. Mereka sepertinya tak berniat berbicara dari gerak-gerik mereka, karena tembakan api melesat ke arah kami dan meledak.

Penyihir itu segera bergerak menyamping sambil tetap menggendongku, menghindari rentetan serangan berikutnya dengan gerakan ringan seolah angin sendiri yang meniopang tubuhnya.

"Orang-orang gila itu..." katanya sambil terus menghindar. "Sebaiknya kamu tetap diam, jangan sampai mulutmu kemasukan serangga."

"Eh...?"

Penyihir ini melompat dengan lihai melewati reruntuhan seakan kakinya seringan angin. Kami-atau tepatnya dia-melompati beberapa reruntuhan puing bangunan yang tampak kuno dan berlindung di baliknya.

"Em... boleh aku bertanya?" kataku.

"Sebaiknya nanti..."

Dan benar saja, sesuatu menghantam reruntuhan tempat kami sembunyi. Dia sempat menoleh dan membawaku melompat, tapi ledakan sempat mengenai kami. Aku terlempar tak terlalu jauh dan sepertinya kali ini mendarat dengan punggungku.

Punggungku terasa nyeri, dan kepalaku berdenging hebat. Dia terlempar di depanku dan sepertinya dia lebih baik dariku. Aku terhuyung-huyung mencoba untuk bangkit, tapi tubuhku rasanya seperti akan rontok. Baru beberapa menit berada di sini dan aku sudah hampir mati terbakar. Hebat sekali-apa selanjutnya aku akan berubah menjadi katak?

Penyihir itu bangkit lebih cepat dariku. Dia mendongak ke arah pria bertopeng ular yang kini berjalan mendekat. Tangannya menyala kehijauan dan dengan satu rentangan, sesuatu seperti jarum jatuh entah dari mana. Serpihan-serpihan itu begitu tipis setipis rambut, menghujani kami dan membuat apapun yang disentuhnya melepuh-bahkan sebuah batu.

Aku membeku melihatnya. Tapi penyihir itu berlari ke arahku, mengambil sesuatu dari sakunya dan melemparkannya ke udara.

Aku kira itu apa, tapi ternyata itu terlihat seperti mangkok. Mangkok porselen yang indah itu terbang ke atasku, merentang menebarkan cahaya tipis seperti tabir dan menghalau hujan jarum.

"Tunggu di sini..." katanya.

Ya, aku hanya diam melihatnya dengan kagum. Aku bahkan percaya bahwa aku tak pernah keluar kantor dan masih tidur di sana.

Dia berdiri, menggumamkan sesuatu yang terasa asing bagiku. Satu tembakan dari tangannya muncul-itu terlihat seperti peluru udara-melesat ke arah pria bertopeng itu dengan kecepatan tinggi.

Pria bertopeng ular itu melompat mundur. Penyihir itu tak memberinya kesempatan bernapas sama sekali. Dia berlari ke samping dan kembali menembakkan peluru udara lagi. Itu keren sekali, astaga, seperti itulah pikiranku saat ini.

Pria bertopeng itu juga bukan lawan yang lemah. Dia menghindari serangan itu dan menerjang ke depan. Dengan gerakan tajam, satu sabetan cakar kehijauan melesat. Penyihir itu menghindar ke samping dengan lincahnya, menggumamkan sesuatu lagi-kali ini dia melompat ke udara.

Di udara, dengan rentangan tangannya, satu hembusan angin besar menyapu medan pertempuran dan mengangkat debu ke udara hingga menutupi pandangan. Pria bertopeng itu berjingkat ke samping kemudian mundur ke belakang. Pandanganku juga tertutup debu, sayangnya.

Pria bertopeng itu sekarang menarik semacam rantai dari balik jubahnya. Rantai itu terlihat tak terlalu panjang, tetapi memiliki badan berduri dengan ujung seperti sabit yang memancarkan cahaya merah samar. Dia memutar-mutar rantai itu di udara, menyapu debu yang menghalangi pandangan.

Penyihir itu menghilang entah ke mana. Pria bertopeng itu melirik sekitar, waspada. Dari belakang, penyihir itu muncul. Dengan satu sabetan, pisau angin muncul dan melesat ke arah pria bertopeng itu. Namun sepertinya pria bertopeng itu sudah memperkirakannya.

Dia memutar tubuhnya, mengibaskan rantai itu.

Dia kembali memutar rantai, percikan cahaya berhamburan. Rantai itu melesat seperti hidup-terlihat seperti ular yang merayap di udara dengan cahaya kemerahan di ujung sabitnya.

Melihat itu, penyihir itu menyingkap jubahnya dan melesat terbang ke udara. Dia berusaha menghindari rantai itu di udara, terbang sambil menembakkan peluru udara dengan maksud mengganggu pria bertopeng itu.

Rantai itu mencapai batasnya. Melihatnya, penyihir itu langsung berbalik di udara dan dengan rentangan tangannya, kali ini tembakan peluru udara menjadi lebih besar.

Aku melihat ini sambil menganga, kagum. Ini benar-benar seperti dongeng yang nyata. Aku bahkan mencoba mencubit pipiku dan itu terasa sakit-berarti ini bukan mimpi, ini benar-benar nyata! Aku terlalu fokus dengan apa yang aku lihat, hingga aku tersadar kembali, aku masih di tanah dengan wajah belepotan. Rasanya tulang wajahku sedikit memar karena aku mendarat dengan kurang mulus.

Ledakan demi ledakan, hembusan angin sihir itu berhembus menghantam diriku. Hingga aku sepertinya melupakan sesuatu-bukunya! Aku mencoba melirik sekitar mencari-carinya, dan ternyata ada di sampingku, tergeletak begitu saja.

Sejak kapan itu ada di sini? Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Aku mengambilnya. Baru saja akan menyentuhnya, gerombolan pria berjubah hitam itu bergerak mendekatiku. Mereka bergerak dengan cepat dan sepertinya tak berniat memberikan bantuan medis atau pertolongan.

Mereka sampai di depanku dan menyerangku dengan berbagai macam sihirnya. Itu keren, tapi tak cukup keren jika aku mati di sini. Untungnya mangkok porselen penyihir itu menghalangi, membuat serangan-serangan itu memantul.

"Dia dilindungi artefak!" teriak salah satu dari mereka.

"Hancurkan! Aku tak percaya itu akan bertahan lama."

Baru saja aku merasa aman, mereka terus menghujani ku dengan serangan-menembakkan api, rantai, panah sihir. Semua mereka keluarkan, membuat mangkok itu semakin bergetar. Ayolah, apa aku terlihat seperti emas hingga membuat kalian gila?

Mangkok itu terus bergetar. Aku berharap itu tak hancur atau apapun yang membuat pelindung ini runtuh. Tanpa sadar aku mundur beberapa langkah. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Kakiku terasa sakit dan punggungku seperti habis dipukuli-sial, badanku serasa remuk.

Aku mulai memikirkan nasib-nasibku selama ini. Apakah aku akan berakhir di sini? Apakah aku akan mati di tempat yang bahkan aku sendiri tak tahu? Sekonyol inikah hidupku?

Ketika pikiran-pikiran itu mulai menenggelamkan diriku, aku tanpa sengaja menyentuh buku itu. Dan hal yang tak aku bayangkan muncul di depanku-buku itu menyala, menampakkan simbol aneh yang sempat aku lihat sekilas saat terlempar ke sini.

Cahaya itu merambat ke tanganku, menimbulkan rasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum di telapak tanganku. Buku itu terbuka dengan liar dan berhenti di halaman kosong. Di halaman kosong itu muncul tulisan dengan tinta merah seperti darah.

Pelayanmu yang setia dan hebat, Prometeus, siap membantumu!.

Aku sempat terpaku sejenak, sebelum muncul suara-suara aneh yang memenuhi kepalaku, membuatku terhuyung-huyung.

Astarots.

Astarots.

Astarots.

Suara itu terus-menerus bergema di kepalaku dan rasanya sangat menyiksa. Pandanganku mulai agak sedikit kabur dan tubuhku melemas. Aku jatuh ambruk, berbaring di tanah. Di kejauhan, sekilas aku melihat pertempuran itu sepertinya berhenti karena cahaya yang dikeluarkan buku itu.

Penyihir itu mendarat dengan kasar di sampingku. Dengan satu rentangan tangan, dia menghembuskan angin yang menyapu sekitar, menyapu gerombolan itu dan membuat debu menutupi pandangan. Sebelum aku benar-benar menutup mataku, dia terbang melesat ke udara dengan kecepatan tinggi.

"Hei... hei..." panggilnya.

Tapi rasanya mataku ini benar-benar sangat berat. Suaranya terdengar jauh, pandanganku perlahan menghitam dengan suara penyihir itu yang samar-samar semakin redup. Lalu semuanya berubah gelap.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   FROM ME

    Sebuah Novel Fantasi oleh Coffeeman Never Sleep Halo semua! Aku Coffeeman, seorang penulis pemula yang baru saja merampungkan novel pertamaku. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir ke sini. Karena ini adalah novel pertamaku, tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, aku sangat mengharapkan saran dan kritik dari kalian yang membacanya. Jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat, ya. Terima kasih! Mengenal Dunia: Dalam novel ini, Solita - sang tokoh utama - secara tidak sengaja terlempar ke dunia lain yang penuh dengan sihir: sebuah benua bernama Pandora. Di Pandora, semua orang mampu menggunakan sihir, dan sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di benua ini terdapat beberapa kerajaan yang tersebar luas. Namun, fokus cerita hanya akan berada di Kekaisaran Kahalin - sebuah kekaisaran megah yang terletak di ujung Utara benua Pandora. Definisi Penyihir : Meskipun semua orang di Pandor

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB I BUKU ANEH

    10 November, 2020 Aku solita, baru saja memecahkan rekor baru sebagai budak korporat dengan keluar kantor pukul dua dini hari. Aku keluar dari gedung kantor sambil menyeret langkah lelah. Lampu-lampu kota masih menyala terang, tetapi jalanan mulai sepi seperti kota mati. Aku membuka ponselku, notifikasi itu langsung muncul memenuhi layar. Berbagai macam surat cinta dari tukang sampah kompleks, listrik, air, dan... dari rumah sakit. Ya, beginilah kehidupan seorang tulang punggung keluarga. Kau berharap aku mendapatkan surat cinta?. Aku terkekeh pelan sambil memijat pelipis ku, berhenti sejenak untuk sekadar melupakan layar komputer dan berbagai permasalahan di dalamnya. Bicara dengan diri sendiri? Ini belum termasuk gila... hanya sedikit saja. Adikku sakit keras dan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, sementara orang tuaku sudah lama meninggal sejak aku kuliah. Dengan begitu, aku tak punya pilihan selain mengurus adikku. Lucunya, aku bahkan tak yakin bisa mengurus dir

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB II BERTEMU PENYIHIR

    Sungguh asyik sekali terombang-ambing di udara dengan wajah yang sakit ini, saking asyiknya aku sampai ingin muntah. Pria itu membawaku melesat melewati reruntuhan dengan kecepatan yang membuat isi perutku seperti tertinggal di belakang. Kami terombang-ambing beberapa saat hingga jatuh dengan kecepatan tinggi, tapi dapat mendarat dengan aman di tanah. Sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Terombang-ambing di udara sedikit membuat kepalaku pusing. Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mulutku saat aku terbang tadi. Dia terlihat sangat tenang. Seorang pria yang cukup tampan, dia masih muda. Kira-kira seumurku, tapi dia cukup aneh-rambutnya berwarna putih. Masih muda, kenapa rambutnya putih? Dan pupil matanya berwarna biru, mirip orang Eropa. Dilihat dari segala sisi, dia cukup tampan bagiku. Hanya... kenapa rambutnya itu seperti semak belukar. Dia benar-benar seorang penyihir! Aku bertanya-tanya apakah aku sekarang ada di dunia lain. Aku ingin sekali bertanya padanya, se

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB III TERBANGUN ENTAH DIMANA

    11 November 434, kekaisaran KahalinAku bermimpi melihat diriku yang masih remaja bersama adikku yang aku gendong ke mana pun aku pergi, tentang kami yang menyukai hal yang sama, melukis.Menggambar, mencorat-coret apa pun yang kami temui, bahkan dinding rumah orang pun tak luput. Kadang-kadang orang-orang akan datang mengomel pada ibuku, dan ibu akan menyita peralatan lukis kami serta mengurung kami di kamar seharian.Namun itu tak menghentikan aku dan adikku. Kami berbagi pensil kecil yang dipotong dua untuk situasi darurat seperti itu, dan kami akan melanjutkan aksi kami selanjutnya sambil tertawa pelan.Aku merindukan saat-saat itu, di mana kami dapat menggambar, melukis, menciptakan apa pun yang kami mau tanpa terkekang, seakan kami bisa membuat dunia kami sendiri. Kami berdua pun berjanji akan menjadi seorang pelukis bersama. Namun semua itu sirna, mimpi itu perlahan menghilang.Setelah ibu meninggal, aku terpaksa mengubur impian itu dalam-dalam. Aku mulai melupakannya dan beral

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB IV ASTER CASTY

    Aku tak menjawabnya dan hanya diam mengikuti langkahnya dari belakang. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa semudah itu aku mempercayai orang asing di tempat seperti ini. Namun jika dipikir-pikir lagi, kalau dia memang berniat jahat, mungkin sejak tadi aku sudah mati, dijual, atau dijadikan bahan eksperimen aneh entah apa....tapi tunggu dulu.Bagaimana kalau dia memang sedang memanfaatkanku? Pikiran itu langsung membuat bulu kudukku meremang.Aku terus mengikutinya di belakang. Cahaya lentera yang ia bawa bergoyang pelan mengikutinya melewati lorong yang remang-remang. Kulihat lagi dirinya - dia berjalan menuju ruangan tempatku tadi bangun. Entah kenapa aku malah gugup dengan situasi ini, dan kenapa dia diam saja, itu membuatku sedikit takut.Penyihir itu masuk lebih dulu, lalu meletakkan lentera di atas meja kecil dekat dinding. Cahaya keemasan langsung menyebar lembut ke seluruh ruangan. Aku berdiri kikuk di ambang pintu. Dia menoleh ke arahku, tatapannya datar."Duduklah.""Ba... b

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB V AKU INGIN MEMUKUL WAJAHNYA

    Bagaimana menurutmu jika sekarang kau sedang duduk di depan orang yang hampir saja membunuhmu beberapa menit yang lalu?Ya, kurang lebih seperti itulah situasiku sekarang.Namanya Aster, kalau tak salah. Dia duduk santai sambil mengamatiku dan menyeringai aneh. Entah kenapa senyum itu membuatku ingin memukul wajahnya.Untungnya roti ini enak sekali - aku serasa makan roti buatan Prancis, meski aku tak pernah makan roti Prancis sih.Tapi semua orang tak akan menolak tampilannya yang menggugah selera. Roti panggang berbentuk sabit yang dipanggang sempurna, dengan taburan gula dan buah di atasnya. Aku bukan ahli roti, tapi aku tahu ini yang terbaik - plus tanpa bahan pengawet kimia.Aku mungkin membencinya, tapi kuberikan keringanan untuk setidaknya tak memukul wajahnya. Roti ini benar-benar enak.Dia masih menyeringai ketika aku meletakkan piring di meja."Gimana?""Lumayan," jawabku ketus."Jadi... Solita," dia berhenti sejenak. "Aku minta maaf sekali lagi mengenai tadi..."Dia mendeka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status