เข้าสู่ระบบSungguh asyik sekali terombang-ambing di udara dengan wajah yang sakit ini, saking asyiknya aku sampai ingin muntah.
Pria itu membawaku melesat melewati reruntuhan dengan kecepatan yang membuat isi perutku seperti tertinggal di belakang. Kami terombang-ambing beberapa saat hingga jatuh dengan kecepatan tinggi, tapi dapat mendarat dengan aman di tanah. Sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Terombang-ambing di udara sedikit membuat kepalaku pusing. Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mulutku saat aku terbang tadi. Dia terlihat sangat tenang. Seorang pria yang cukup tampan, dia masih muda. Kira-kira seumurku, tapi dia cukup aneh-rambutnya berwarna putih. Masih muda, kenapa rambutnya putih? Dan pupil matanya berwarna biru, mirip orang Eropa. Dilihat dari segala sisi, dia cukup tampan bagiku. Hanya... kenapa rambutnya itu seperti semak belukar. Dia benar-benar seorang penyihir! Aku bertanya-tanya apakah aku sekarang ada di dunia lain. Aku ingin sekali bertanya padanya, seperti, "Apakah kau benar-benar penyihir? Itu keren!" Tapi aku mengurungkan niatku karena sepertinya situasi sedang tidak kondusif untuk bertanya sekarang. Beberapa orang berjubah hitam itu mengejar kami sampai keluar, diikuti oleh pria dengan topeng ular. Mereka sepertinya tak berniat berbicara dari gerak-gerik mereka, karena tembakan api melesat ke arah kami dan meledak. Penyihir itu segera bergerak menyamping sambil tetap menggendongku, menghindari rentetan serangan berikutnya dengan gerakan ringan seolah angin sendiri yang meniopang tubuhnya. "Orang-orang gila itu..." katanya sambil terus menghindar. "Sebaiknya kamu tetap diam, jangan sampai mulutmu kemasukan serangga." "Eh...?" Penyihir ini melompat dengan lihai melewati reruntuhan seakan kakinya seringan angin. Kami-atau tepatnya dia-melompati beberapa reruntuhan puing bangunan yang tampak kuno dan berlindung di baliknya. "Em... boleh aku bertanya?" kataku. "Sebaiknya nanti..." Dan benar saja, sesuatu menghantam reruntuhan tempat kami sembunyi. Dia sempat menoleh dan membawaku melompat, tapi ledakan sempat mengenai kami. Aku terlempar tak terlalu jauh dan sepertinya kali ini mendarat dengan punggungku. Punggungku terasa nyeri, dan kepalaku berdenging hebat. Dia terlempar di depanku dan sepertinya dia lebih baik dariku. Aku terhuyung-huyung mencoba untuk bangkit, tapi tubuhku rasanya seperti akan rontok. Baru beberapa menit berada di sini dan aku sudah hampir mati terbakar. Hebat sekali-apa selanjutnya aku akan berubah menjadi katak? Penyihir itu bangkit lebih cepat dariku. Dia mendongak ke arah pria bertopeng ular yang kini berjalan mendekat. Tangannya menyala kehijauan dan dengan satu rentangan, sesuatu seperti jarum jatuh entah dari mana. Serpihan-serpihan itu begitu tipis setipis rambut, menghujani kami dan membuat apapun yang disentuhnya melepuh-bahkan sebuah batu. Aku membeku melihatnya. Tapi penyihir itu berlari ke arahku, mengambil sesuatu dari sakunya dan melemparkannya ke udara. Aku kira itu apa, tapi ternyata itu terlihat seperti mangkok. Mangkok porselen yang indah itu terbang ke atasku, merentang menebarkan cahaya tipis seperti tabir dan menghalau hujan jarum. "Tunggu di sini..." katanya. Ya, aku hanya diam melihatnya dengan kagum. Aku bahkan percaya bahwa aku tak pernah keluar kantor dan masih tidur di sana. Dia berdiri, menggumamkan sesuatu yang terasa asing bagiku. Satu tembakan dari tangannya muncul-itu terlihat seperti peluru udara-melesat ke arah pria bertopeng itu dengan kecepatan tinggi. Pria bertopeng ular itu melompat mundur. Penyihir itu tak memberinya kesempatan bernapas sama sekali. Dia berlari ke samping dan kembali menembakkan peluru udara lagi. Itu keren sekali, astaga, seperti itulah pikiranku saat ini. Pria bertopeng itu juga bukan lawan yang lemah. Dia menghindari serangan itu dan menerjang ke depan. Dengan gerakan tajam, satu sabetan cakar kehijauan melesat. Penyihir itu menghindar ke samping dengan lincahnya, menggumamkan sesuatu lagi-kali ini dia melompat ke udara. Di udara, dengan rentangan tangannya, satu hembusan angin besar menyapu medan pertempuran dan mengangkat debu ke udara hingga menutupi pandangan. Pria bertopeng itu berjingkat ke samping kemudian mundur ke belakang. Pandanganku juga tertutup debu, sayangnya. Pria bertopeng itu sekarang menarik semacam rantai dari balik jubahnya. Rantai itu terlihat tak terlalu panjang, tetapi memiliki badan berduri dengan ujung seperti sabit yang memancarkan cahaya merah samar. Dia memutar-mutar rantai itu di udara, menyapu debu yang menghalangi pandangan. Penyihir itu menghilang entah ke mana. Pria bertopeng itu melirik sekitar, waspada. Dari belakang, penyihir itu muncul. Dengan satu sabetan, pisau angin muncul dan melesat ke arah pria bertopeng itu. Namun sepertinya pria bertopeng itu sudah memperkirakannya. Dia memutar tubuhnya, mengibaskan rantai itu. Dia kembali memutar rantai, percikan cahaya berhamburan. Rantai itu melesat seperti hidup-terlihat seperti ular yang merayap di udara dengan cahaya kemerahan di ujung sabitnya. Melihat itu, penyihir itu menyingkap jubahnya dan melesat terbang ke udara. Dia berusaha menghindari rantai itu di udara, terbang sambil menembakkan peluru udara dengan maksud mengganggu pria bertopeng itu. Rantai itu mencapai batasnya. Melihatnya, penyihir itu langsung berbalik di udara dan dengan rentangan tangannya, kali ini tembakan peluru udara menjadi lebih besar. Aku melihat ini sambil menganga, kagum. Ini benar-benar seperti dongeng yang nyata. Aku bahkan mencoba mencubit pipiku dan itu terasa sakit-berarti ini bukan mimpi, ini benar-benar nyata! Aku terlalu fokus dengan apa yang aku lihat, hingga aku tersadar kembali, aku masih di tanah dengan wajah belepotan. Rasanya tulang wajahku sedikit memar karena aku mendarat dengan kurang mulus. Ledakan demi ledakan, hembusan angin sihir itu berhembus menghantam diriku. Hingga aku sepertinya melupakan sesuatu-bukunya! Aku mencoba melirik sekitar mencari-carinya, dan ternyata ada di sampingku, tergeletak begitu saja. Sejak kapan itu ada di sini? Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Aku mengambilnya. Baru saja akan menyentuhnya, gerombolan pria berjubah hitam itu bergerak mendekatiku. Mereka bergerak dengan cepat dan sepertinya tak berniat memberikan bantuan medis atau pertolongan. Mereka sampai di depanku dan menyerangku dengan berbagai macam sihirnya. Itu keren, tapi tak cukup keren jika aku mati di sini. Untungnya mangkok porselen penyihir itu menghalangi, membuat serangan-serangan itu memantul. "Dia dilindungi artefak!" teriak salah satu dari mereka. "Hancurkan! Aku tak percaya itu akan bertahan lama." Baru saja aku merasa aman, mereka terus menghujani ku dengan serangan-menembakkan api, rantai, panah sihir. Semua mereka keluarkan, membuat mangkok itu semakin bergetar. Ayolah, apa aku terlihat seperti emas hingga membuat kalian gila? Mangkok itu terus bergetar. Aku berharap itu tak hancur atau apapun yang membuat pelindung ini runtuh. Tanpa sadar aku mundur beberapa langkah. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Kakiku terasa sakit dan punggungku seperti habis dipukuli-sial, badanku serasa remuk. Aku mulai memikirkan nasib-nasibku selama ini. Apakah aku akan berakhir di sini? Apakah aku akan mati di tempat yang bahkan aku sendiri tak tahu? Sekonyol inikah hidupku? Ketika pikiran-pikiran itu mulai menenggelamkan diriku, aku tanpa sengaja menyentuh buku itu. Dan hal yang tak aku bayangkan muncul di depanku-buku itu menyala, menampakkan simbol aneh yang sempat aku lihat sekilas saat terlempar ke sini. Cahaya itu merambat ke tanganku, menimbulkan rasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum di telapak tanganku. Buku itu terbuka dengan liar dan berhenti di halaman kosong. Di halaman kosong itu muncul tulisan dengan tinta merah seperti darah. Pelayanmu yang setia dan hebat, Prometeus, siap membantumu!. Aku sempat terpaku sejenak, sebelum muncul suara-suara aneh yang memenuhi kepalaku, membuatku terhuyung-huyung. Astarots. Astarots. Astarots. Suara itu terus-menerus bergema di kepalaku dan rasanya sangat menyiksa. Pandanganku mulai agak sedikit kabur dan tubuhku melemas. Aku jatuh ambruk, berbaring di tanah. Di kejauhan, sekilas aku melihat pertempuran itu sepertinya berhenti karena cahaya yang dikeluarkan buku itu. Penyihir itu mendarat dengan kasar di sampingku. Dengan satu rentangan tangan, dia menghembuskan angin yang menyapu sekitar, menyapu gerombolan itu dan membuat debu menutupi pandangan. Sebelum aku benar-benar menutup mataku, dia terbang melesat ke udara dengan kecepatan tinggi. "Hei... hei..." panggilnya. Tapi rasanya mataku ini benar-benar sangat berat. Suaranya terdengar jauh, pandanganku perlahan menghitam dengan suara penyihir itu yang samar-samar semakin redup. Lalu semuanya berubah gelap.Kata-kata dalam buku itu bergetar sesaat sebelum pudar, dan muncul tulisan baru yang kali ini lebih panjang dari sebelumnya.“Baiklah, bolehkah aku bertanya lebih detail? Aku punya beberapa formula sihir terlarang untuk digunakan, atau aku bisa mengubah fungsiku menjadi senjata.”Sialan, di saat seperti ini buku ini malah menanyakan hal yang berbelit-belit. Bisakah lebih sederhana saja? Aku menelan ludah sambil terengah-engah dan mengepalkan tanganku yang sedikit gemetar ini.Dalam keadaan itu, aku menjawabnya dengan sangat singkat dan padat.“Ubah dirimu menjadi senjata.”Kenapa aku memilihnya? Sudah jelas, itu bukan pilihan pertama—tidak mungkin bagiku yang tak mengerti sihir, apalagi menggunakan sihir yang jelas asing bagiku. Jadi, pilihan kedua jauh lebih masuk akal untuk dicoba.“Baiklah, memulai fungsi senjata. Tuangkan keinginanmu ke atas kertas, dan sobek aku.”Aku bingung dengan kata “tuangkan” dalam buku ini, apa maksudnya itu. Tak bisakah kau tidak bermain teka-teki di saa
Balok kaca itu meluncur tepat ke arahku dari atas. Aku sudah tak sempat untuk lari. Aku mematung di tempat persembunyian, menatap ke atas tepat ke arah balok kaca itu."Apakah sungguh ini akan berakhir seperti ini?" kataku dengan suara samar, nyaris tak terdengar.Aku mencengkeram buku itu kuat-kuat karena hanya itu yang aku punya. Entah kenapa waktu terasa melambat. Aku sedikit mengingat kembali Ibu dan Alice di bumi. Entah kenapa ingatan ini selalu muncul di saat-saat seperti ini.Apakah ini ingatan sebelum kematian? Jika iya, syukurlah.Balok kaca itu meluncur dengan cepat, hampir jatuh menghantam diriku di bawah. Aku sudah pasrah. Mau bagaimana lagi, aku tak bisa lari. Aku sudah berusaha bertahan sejauh yang aku bisa. Jika ini akhirku, ya mau bagaimana lagi.Hanya... dewa, Tuhan, atau siapapun di sana—aku tahu aku bukan orang yang religius. Aku banyak menyia-nyiakan waktuku, aku juga jarang sekali berdoa. Tapi kali ini saja, aku mohon... jika aku mati di sini, tolong berikan kasih
Aku tersentak bangun. Kesadaranku kembali ke diriku yang sekarang masih dililit ular itu. Namun ada sesuatu yang berbeda—tanganku yang sebelumnya terasa sakit kini justru ringan, dan simbol-simbol yang terukir di kulitku semakin jelas, menjalar hingga ke pergelangan tangan.Untuk sesaat aku teringat pada wanita itu, yang menyentuh tanganku.Apakah ini ulahnya?Cahaya di tanganku semakin menyala terang. Ular yang melilitku meronta-ronta, mengeluarkan jerit melengking seperti kesakitan. Cengkeramannya mengendur sebelum melemparkanku ke tanah.Aku terbanting ke lantai yang berkilau itu. Melihat ke atas, tubuh monster itu mulai meleleh seperti lilin yang terkena api. Sisiknya mencair, sayapnya hancur, lalu seluruh tubuhnya menyusut hingga berubah menjadi miniatur kecil sebesar telapak tangan.“Ternyata kau menetralkannya!” kata pria bertopeng itu, tampak antusias.Aku sendiri bingung dengan apa yang terjadi, tapi ini pertanda baik. Hingga buku itu muncul di depanku entah dari mana, mengh
Kalian pergi tamasya ke rumah kaca? Kalau aku justru ke dunia kaca yang menakjubkan—saking menakjubkannya, aku sampai bermain kejar-kejaran dengan seekor ular bersayap hitam dan taring yang siap menjadikanku cemilan.Kau tahu, aku sudah berlari cukup lama. Setelah beberapa saat berhasil lolos darinya, aku menjatuhkan diri di balik dinding cermin sambil mengusap dahiku yang basah. Sekarang aku tahu pentingnya olahraga—selain untuk menjaga tubuh tetap sehat, juga untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti kau dikejar monster di dunia lain.Setidaknya aku berhasil bersembunyi untuk beberapa saat, meski napasku kini terasa pendek sekali."Sial..."Dan sekarang ini sepertinya aku terjebak di dalam sihir orang itu. Dunia ini sangat aneh. Jadi, bagaimana aku bisa keluar dari sini? Aku yang tak tahu apa-apa tentang sihir dipaksa melawan ular ganas dan orang gila? Yang benar saja."Andai ada Aster di sini..."Aku mendongak, melirik sekitar, sekadar memastikan ular itu tak mendekat. Baru saja aku
Aku membuka mataku di dunia lain lagi, ya.... lagi-lagi di dunia lain. Ini klise sekali. Jatuh tersungkur di antara kaca-kaca yang berkilauan, jidatku terasa sakit. Aku mendapati diriku di dunia yang.... penuh cermin.Aku tak tahu ini apa dan di mana, tapi aku akan menyebutnya dunia cermin, karena sepanjang mata memandang luasnya tempat ini, semuanya terbuat dari kaca cermin yang memantulkan bayanganmu.Kepalaku agak pusing akibat pendaratanku yang selalu tak mulus, ditambah nyeri di lengan kananku yang semakin menjadi. Aku melihat pria itu berdiri di depanku, menatapku sambil menyeringai aneh.Dia mendekat ke arahku sambil membuka tudung jubahnya, memperlihatkan wajahnya. Seorang pria paruh baya, atau bisa kubilang om-om. Dengan kumis tipis dan rambut coklat yang tersisir rapi, daripada seorang kriminal dia malah terlihat seperti pria beradab di film kolosal barat yang sering aku tonton."Si... siapa?" tanyaku."Menarik...." sambil mencubit dagunya.Entahlah, dia selalu bilang mena
Sebuah Novel Fantasi oleh Coffeeman Never Sleep Halo semua! Aku Coffeeman, seorang penulis pemula yang baru saja merampungkan novel pertamaku. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir ke sini. Karena ini adalah novel pertamaku, tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, aku sangat mengharapkan saran dan kritik dari kalian yang membacanya. Jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat, ya. Terima kasih! Mengenal Dunia: Dalam novel ini, Solita - sang tokoh utama - secara tidak sengaja terlempar ke dunia lain yang penuh dengan sihir: sebuah benua bernama Pandora. Di Pandora, semua orang mampu menggunakan sihir, dan sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di benua ini terdapat beberapa kerajaan yang tersebar luas. Namun, fokus cerita hanya akan berada di Kekaisaran Kahalin - sebuah kekaisaran megah yang terletak di ujung Utara benua Pandora. Definisi Penyihir : Meskipun semua orang di Pandor
Sepertinya melihat-lihat pameran ini adalah salah satu pengalaman paling indah dalam hidupku, dan aku bahkan membawa satu suvenir. Aku harap bisa membawa ini pulang dan menunjukkannya pada Alice. Aku yakin dia akan senang.Mungkin dia akan tertawa kecil sambil memuji bentuknya, lalu menyimpannya di
Sayang sekali pagi yang indah ini harus diwarnai oleh rasa nyeri di tanganku. Tidak terlalu parah, tetapi cukup mengganggu hingga sulit kuabaikan. Entah mengapa, ada pula perasaan tidak nyaman yang mengganjal di dalam dada, seolah sesuatu akan terjadi di depan. Aku dan Aster berjalan menyusuri
Penderitaanku kemarin seakan terbayar ketika aku berjalan menelusuri gemerlap kota yang dipenuhi sihir ini. Aku tak bisa berhenti ternganga ketika melihat sekelilingku. Maksudku... ini seperti dongeng yang diinginkan setiap orang di bumi.Aku benar-benar tidak tahu harus mulai mengagumi yang mana d
12 November 434, Kekaisaran KahalinKali ini aku bangun dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya, setidaknya sakit punggungku sudah mendingan. Hanya saja bau tak sedap sempat tercium di samping rumah, mungkin itu selokan. Ku berikan rating 4/10 untuk rumah ini, 4 untuk roti berbau enak di d







