Share

BAB IV ASTER CASTY

last update Tanggal publikasi: 2026-05-28 22:23:19

Aku tak menjawabnya dan hanya diam mengikuti langkahnya dari belakang. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa semudah itu aku mempercayai orang asing di tempat seperti ini.

Namun jika dipikir-pikir lagi, kalau dia memang berniat jahat, mungkin sejak tadi aku sudah mati, dijual, atau dijadikan bahan eksperimen aneh entah apa.

...tapi tunggu dulu.

Bagaimana kalau dia memang sedang memanfaatkanku? Pikiran itu langsung membuat bulu kudukku meremang.

Aku terus mengikutinya di belakang. Cahaya lentera yang ia bawa bergoyang pelan mengikutinya melewati lorong yang remang-remang.

Kulihat lagi dirinya - dia berjalan menuju ruangan tempatku tadi bangun. Entah kenapa aku malah gugup dengan situasi ini, dan kenapa dia diam saja, itu membuatku sedikit takut.

Penyihir itu masuk lebih dulu, lalu meletakkan lentera di atas meja kecil dekat dinding. Cahaya keemasan langsung menyebar lembut ke seluruh ruangan. Aku berdiri kikuk di ambang pintu. Dia menoleh ke arahku, tatapannya datar.

"Duduklah."

"Ba... baik," jawabku.

Aku buru-buru masuk dan mencari tempat duduk. Dari sekian banyak tempat, aku memilih duduk di sofa keras tempatku tidur tadi - bukan karena nyaman, tapi karena itu yang paling bersih.

Aku mengamatinya menutup pintu dan berjalan menghampiriku. Aku tidak akan di apa-apakan, kan? Dia berjongkok, mengeluarkan mangkuk porselen, dan dengan gumaman aneh dia melemparkannya ke udara.

Simbol di mangkuk itu menyala dan menyebar menjadi semacam kain tipis transparan yang mengelilingi ruangan.

Cahaya keemasan memenuhi ruangan dengan lembut. Aku kagum melihatnya. Cahaya tipis dan tampak lembut itu mengelilingi kami seolah memberi perlindungan. Apakah sihir memang sekeren ini? Aku tak bisa menghilangkan rasa kagumku.

Penyihir itu menggeser kursi kayu dan duduk tepat di depanku. Tatapannya tajam, seolah mencoba membedah isi kepalaku.

"Jadi," katanya pelan, "kita mulai dengan pertanyaan."

"Ha?"

Sejak saat itu, aku seperti sedang menjalani interogasi kriminal. Dia menanyaiku tentang banyak hal - dari mana asalku, bagaimana aku bisa sampai di tempat itu, siapa keluargaku, siapa guruku, sampai pertanyaan-pertanyaan aneh yang bahkan tidak bisa kumengerti.

"Apakah kau penyihir resmi?"

"Apakah kau terdaftar dalam Menara Sihir Kekaisaran?"

"Bagaimana dengan surat izinmu?"

Aku serasa kriminal yang diinterogasi karena terlibat kejahatan, sungguh. Kami menghabiskan waktu dengan pertanyaan dan berbagai hal yang membuatku bingung. Dia pun banyak sekali membicarakan hal-hal mengenai sihir atau apalah - yang jelas aku tak paham satu kata pun.

Aku hanya menjawab sebisa mungkin. Sisanya lebih banyak kuakhiri dengan, "Aku tidak tahu," atau "Aku tak paham dengan apa yang kau bicarakan." Semakin lama, ekspresinya justru semakin serius.

"Jadi... kesimpulannya," katanya sambil mencubit janggut, "kau bukan dari tempat ini."

"Kurang lebih seperti itu...." kataku.

Dia terdiam cukup lama. Tatapannya berubah aneh - bukan lagi sekadar curiga, melainkan seperti sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar.

"Masih banyak hal lain yang ingin aku tanyakan... salah satunya tentang buku itu."

Aku menelan ludah karena situasi terasa semakin menegangkan saja, ditambah dia yang menatapku seperti tersangka kriminal.

"Apa hubunganmu dengan keluarga Astarot?"

"Aku tak tahu. Aku tak kenal siapa Astarot. Yang jelas, aku memungut buku itu di jalan."

Dia diam sejenak, sepertinya memikirkan sesuatu. Aku berharap itu bukan rencana siksaan untuk membuatku mengaku.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia bangkit dan mengambil buku itu dari sakunya. Dia membalik halamannya perlahan, satu per satu, sambil berjalan ke belakangku.

Aku meliriknya ke belakang dengan heran - kenapa dia melakukan itu? Tapi tiba-tiba dia menutup buku itu dan menyerahkannya kepadaku.

"Pegang."

Aku mengernyit bingung. Hanya itu? Apa sih yang dia mau - aku tak tahu pasti. Aku mengambil buku itu dengan santai, dan saat itulah semuanya berubah.

Begitu telapak tanganku menyentuh buku itu, simbol di permukaan buku itu mulai menyala, memancarkan cahaya keputihan yang membentuk simbol pentagram dan simbol seperti matahari.

Lalu cahaya putih menyembur keluar dari sela-sela ukiran, membentuk simbol aneh yang bergerak liar. Simbol itu seakan hidup - merayap ke tanganku.

Aku refleks melemparkan buku itu, tetapi simbol-simbol itu berhasil merayap ke telapak tanganku. Rasa panas luar biasa dan sakit muncul - rasanya seperti dipanggang dan ditusuk jarum secara bersamaan.

Aku terjatuh ke lantai sambil memegangi tangan kananku dengan panik. Rasanya sakit, sakit sekali! Aku meronta-ronta mencoba menahan rasa sakit itu. Napasku agak tak beraturan, jantungku berdebar kencang, dan pikiranku berputar.

Aku melihat dia berdiri di depanku sambil menatapku kosong. Aku menelan ludah - simbol-simbol itu menempel di kulit tanganku, seakan aku ditato menggunakan besi panas.

Di sela-sela rasa sakit itu, suara-suara aneh muncul di kepalaku. Samar, tumpang tindih, seperti bisikan puluhan orang dari tempat yang jauh.

Aku tak bisa memahami kata-katanya. Tapi semakin simbol itu menempel di tanganku, aku sedikit mendengarnya dengan jelas - satu nama yang mulai terdengar nyata.

Astarot

Astarot

Astarot

Prometeus

Aku berusaha untuk menahannya, tapi simbol di tanganku semakin bermunculan. Aku terus berguling di lantai dengan putus asa, seakan ini adalah akhirku.

Aku tak mampu berpikir jernih lagi. Rasanya tanganku ini ingin aku copot saja. Aku sudah tak sanggup berpikir. Air mataku mulai keluar tanpa sadar karena rasa sakit yang terlalu luar biasa. Apakah aku akan mati di sini, dengan cara seperti ini? Sungguh menyedihkan.

Penglihatanku mulai kabur, tubuhku melemah sedikit demi sedikit. Aku hendak menutup mataku, pasrah. Aku benar-benar sudah tak tahan lagi dengan rasa sakit ini. Saat aku hampir menyerah dan memejamkan mata, aku melirik ke arahnya.

Penyihir itu - dia menerjang ke arahku dan mengangkat tubuhku dari lantai sebelum membaringkanku kembali di sofa. Dia menarik sesuatu dari sakunya, berjongkok di lantai, menggambar sesuatu di atas kertas, lalu melemparkannya ke udara.

Dalam sekejap, kertas itu langsung lenyap. Simbol besar muncul di bawahku, dan sebuah rantai-rantai bercahaya mulai melilit tanganku yang dipenuhi simbol itu. Simbol aneh di kulitku langsung bergetar hebat sebelum perlahan tertahan.

Sementara itu, dia bergegas mengambil buku itu dan dengan cepat menempelkan kertas lain - simbol kembali muncul, kali ini melilit buku itu dan membuat kilauan cahayanya meredup hingga akhirnya benar-benar hilang.

Rasa sakitku perlahan mulai berangsur-angsur mereda.

Aku masih terengah-engah dengan napas yang terasa pendek. Keringat membasahi punggung dan pelipisku seperti orang baru mandi.

Aku kembali meliriknya - dia berjalan ke arahku sambil membawa buku itu. Dia menunduk ke arahku yang sedang terbaring dan menatapku sambil sedikit menyeringai.

"Maaf..." katanya sambil menyeringai. "Aku hanya memastikan sesuatu."

Aku menatapnya tidak percaya.

"Dan sepertinya... tebakanku benar."

Dia lalu membungkukkan badan sedikit seperti seorang bangsawan di film-film, kurasa.

"Jadi, bagaimana jika kita ulangi perkenalan kita?" katanya sambil membungkuk.

"Salam kenal, aku Aster Casty..." katanya sambil menyeringai. "...boleh aku tahu namamu?"

Aku hanya diam mematung di sofa. Otakku masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Dia hampir membuatku mati, dan sekarang malah tersenyum - bahkan sempat menanyakan nama?

Sumpah, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar ingin menjambak rambut seseorang.

Terutama rambutnya yang seperti semak belukar itu.....

//Sang malaikat memberiku bunga, sembari menyembuyikan duri yang perlahan melukai tanganku//

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB XIV PENYIHIR MAGANG

    Kata-kata dalam buku itu bergetar sesaat sebelum pudar, dan muncul tulisan baru yang kali ini lebih panjang dari sebelumnya.“Baiklah, bolehkah aku bertanya lebih detail? Aku punya beberapa formula sihir terlarang untuk digunakan, atau aku bisa mengubah fungsiku menjadi senjata.”Sialan, di saat seperti ini buku ini malah menanyakan hal yang berbelit-belit. Bisakah lebih sederhana saja? Aku menelan ludah sambil terengah-engah dan mengepalkan tanganku yang sedikit gemetar ini.Dalam keadaan itu, aku menjawabnya dengan sangat singkat dan padat.“Ubah dirimu menjadi senjata.”Kenapa aku memilihnya? Sudah jelas, itu bukan pilihan pertama—tidak mungkin bagiku yang tak mengerti sihir, apalagi menggunakan sihir yang jelas asing bagiku. Jadi, pilihan kedua jauh lebih masuk akal untuk dicoba.“Baiklah, memulai fungsi senjata. Tuangkan keinginanmu ke atas kertas, dan sobek aku.”Aku bingung dengan kata “tuangkan” dalam buku ini, apa maksudnya itu. Tak bisakah kau tidak bermain teka-teki di saa

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB XIII PELUANG

    Balok kaca itu meluncur tepat ke arahku dari atas. Aku sudah tak sempat untuk lari. Aku mematung di tempat persembunyian, menatap ke atas tepat ke arah balok kaca itu."Apakah sungguh ini akan berakhir seperti ini?" kataku dengan suara samar, nyaris tak terdengar.Aku mencengkeram buku itu kuat-kuat karena hanya itu yang aku punya. Entah kenapa waktu terasa melambat. Aku sedikit mengingat kembali Ibu dan Alice di bumi. Entah kenapa ingatan ini selalu muncul di saat-saat seperti ini.Apakah ini ingatan sebelum kematian? Jika iya, syukurlah.Balok kaca itu meluncur dengan cepat, hampir jatuh menghantam diriku di bawah. Aku sudah pasrah. Mau bagaimana lagi, aku tak bisa lari. Aku sudah berusaha bertahan sejauh yang aku bisa. Jika ini akhirku, ya mau bagaimana lagi.Hanya... dewa, Tuhan, atau siapapun di sana—aku tahu aku bukan orang yang religius. Aku banyak menyia-nyiakan waktuku, aku juga jarang sekali berdoa. Tapi kali ini saja, aku mohon... jika aku mati di sini, tolong berikan kasih

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB XII PERTARUNGAN PERTAMA YANG EPIK

    Aku tersentak bangun. Kesadaranku kembali ke diriku yang sekarang masih dililit ular itu. Namun ada sesuatu yang berbeda—tanganku yang sebelumnya terasa sakit kini justru ringan, dan simbol-simbol yang terukir di kulitku semakin jelas, menjalar hingga ke pergelangan tangan.Untuk sesaat aku teringat pada wanita itu, yang menyentuh tanganku.Apakah ini ulahnya?Cahaya di tanganku semakin menyala terang. Ular yang melilitku meronta-ronta, mengeluarkan jerit melengking seperti kesakitan. Cengkeramannya mengendur sebelum melemparkanku ke tanah.Aku terbanting ke lantai yang berkilau itu. Melihat ke atas, tubuh monster itu mulai meleleh seperti lilin yang terkena api. Sisiknya mencair, sayapnya hancur, lalu seluruh tubuhnya menyusut hingga berubah menjadi miniatur kecil sebesar telapak tangan.“Ternyata kau menetralkannya!” kata pria bertopeng itu, tampak antusias.Aku sendiri bingung dengan apa yang terjadi, tapi ini pertanda baik. Hingga buku itu muncul di depanku entah dari mana, mengh

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB XI ORANG GILA

    Kalian pergi tamasya ke rumah kaca? Kalau aku justru ke dunia kaca yang menakjubkan—saking menakjubkannya, aku sampai bermain kejar-kejaran dengan seekor ular bersayap hitam dan taring yang siap menjadikanku cemilan.Kau tahu, aku sudah berlari cukup lama. Setelah beberapa saat berhasil lolos darinya, aku menjatuhkan diri di balik dinding cermin sambil mengusap dahiku yang basah. Sekarang aku tahu pentingnya olahraga—selain untuk menjaga tubuh tetap sehat, juga untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti kau dikejar monster di dunia lain.Setidaknya aku berhasil bersembunyi untuk beberapa saat, meski napasku kini terasa pendek sekali."Sial..."Dan sekarang ini sepertinya aku terjebak di dalam sihir orang itu. Dunia ini sangat aneh. Jadi, bagaimana aku bisa keluar dari sini? Aku yang tak tahu apa-apa tentang sihir dipaksa melawan ular ganas dan orang gila? Yang benar saja."Andai ada Aster di sini..."Aku mendongak, melirik sekitar, sekadar memastikan ular itu tak mendekat. Baru saja aku

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB X JALAN JALAN DI DUNIA LAIN LAGI

    Aku membuka mataku di dunia lain lagi, ya.... lagi-lagi di dunia lain. Ini klise sekali. Jatuh tersungkur di antara kaca-kaca yang berkilauan, jidatku terasa sakit. Aku mendapati diriku di dunia yang.... penuh cermin.Aku tak tahu ini apa dan di mana, tapi aku akan menyebutnya dunia cermin, karena sepanjang mata memandang luasnya tempat ini, semuanya terbuat dari kaca cermin yang memantulkan bayanganmu.Kepalaku agak pusing akibat pendaratanku yang selalu tak mulus, ditambah nyeri di lengan kananku yang semakin menjadi. Aku melihat pria itu berdiri di depanku, menatapku sambil menyeringai aneh.Dia mendekat ke arahku sambil membuka tudung jubahnya, memperlihatkan wajahnya. Seorang pria paruh baya, atau bisa kubilang om-om. Dengan kumis tipis dan rambut coklat yang tersisir rapi, daripada seorang kriminal dia malah terlihat seperti pria beradab di film kolosal barat yang sering aku tonton."Si... siapa?" tanyaku."Menarik...." sambil mencubit dagunya.Entahlah, dia selalu bilang mena

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   FROM ME

    Sebuah Novel Fantasi oleh Coffeeman Never Sleep Halo semua! Aku Coffeeman, seorang penulis pemula yang baru saja merampungkan novel pertamaku. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir ke sini. Karena ini adalah novel pertamaku, tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, aku sangat mengharapkan saran dan kritik dari kalian yang membacanya. Jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat, ya. Terima kasih! Mengenal Dunia: Dalam novel ini, Solita - sang tokoh utama - secara tidak sengaja terlempar ke dunia lain yang penuh dengan sihir: sebuah benua bernama Pandora. Di Pandora, semua orang mampu menggunakan sihir, dan sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di benua ini terdapat beberapa kerajaan yang tersebar luas. Namun, fokus cerita hanya akan berada di Kekaisaran Kahalin - sebuah kekaisaran megah yang terletak di ujung Utara benua Pandora. Definisi Penyihir : Meskipun semua orang di Pandor

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB IX TERSESAT

    Sepertinya melihat-lihat pameran ini adalah salah satu pengalaman paling indah dalam hidupku, dan aku bahkan membawa satu suvenir. Aku harap bisa membawa ini pulang dan menunjukkannya pada Alice. Aku yakin dia akan senang.Mungkin dia akan tertawa kecil sambil memuji bentuknya, lalu menyimpannya di

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB VIII PAMERAN SENI

    Sayang sekali pagi yang indah ini harus diwarnai oleh rasa nyeri di tanganku. Tidak terlalu parah, tetapi cukup mengganggu hingga sulit kuabaikan. Entah mengapa, ada pula perasaan tidak nyaman yang mengganjal di dalam dada, seolah sesuatu akan terjadi di depan. Aku dan Aster berjalan menyusuri

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB VII KOTA ARIANA

    Penderitaanku kemarin seakan terbayar ketika aku berjalan menelusuri gemerlap kota yang dipenuhi sihir ini. Aku tak bisa berhenti ternganga ketika melihat sekelilingku. Maksudku... ini seperti dongeng yang diinginkan setiap orang di bumi.Aku benar-benar tidak tahu harus mulai mengagumi yang mana d

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB VI AKU TAK PERCAYA INI NYATA

    12 November 434, Kekaisaran KahalinKali ini aku bangun dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya, setidaknya sakit punggungku sudah mendingan. Hanya saja bau tak sedap sempat tercium di samping rumah, mungkin itu selokan. Ku berikan rating 4/10 untuk rumah ini, 4 untuk roti berbau enak di d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status