ホーム / Fantasi / DECEMBER DAWN : THE PROPHET / BAB III TERBANGUN ENTAH DIMANA

共有

BAB III TERBANGUN ENTAH DIMANA

last update 公開日: 2026-05-27 21:21:13

11 November 434, kekaisaran Kahalin

Aku bermimpi melihat diriku yang masih remaja bersama adikku yang aku gendong ke mana pun aku pergi, tentang kami yang menyukai hal yang sama, melukis.

Menggambar, mencorat-coret apa pun yang kami temui, bahkan dinding rumah orang pun tak luput. Kadang-kadang orang-orang akan datang mengomel pada ibuku, dan ibu akan menyita peralatan lukis kami serta mengurung kami di kamar seharian.

Namun itu tak menghentikan aku dan adikku. Kami berbagi pensil kecil yang dipotong dua untuk situasi darurat seperti itu, dan kami akan melanjutkan aksi kami selanjutnya sambil tertawa pelan.

Aku merindukan saat-saat itu, di mana kami dapat menggambar, melukis, menciptakan apa pun yang kami mau tanpa terkekang, seakan kami bisa membuat dunia kami sendiri. Kami berdua pun berjanji akan menjadi seorang pelukis bersama. Namun semua itu sirna, mimpi itu perlahan menghilang.

Setelah ibu meninggal, aku terpaksa mengubur impian itu dalam-dalam. Aku mulai melupakannya dan beralih fokus pada hal lain demi bertahan hidup. Ditambah penyakit adikku yang semakin parah, itu mendorongku berusaha sekuat tenaga agar adikku, setidaknya, bisa mewujudkan impian kami dulu.

Namun hatiku terasa sangat sakit. Semuanya terasa sia-sia setelah mengetahui sesuatu yang... entahlah.

Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Alice harus segera dioperasi...

Apakah setelah operasi Alice akan sembuh?

Kami tak bisa menjaminnya, tapi... kemungkinan hidupnya akan bertambah...

Alice...

Alice....

Astarot...

Astarot...

Aku tersentak. Entah berapa lama aku bermimpi tadi. Perlahan aku mulai membuka mata, dan sensasi pertama yang aku rasakan adalah sakit di punggung dan kepalaku. Ayolah, apakah kesan pertama harus seperti ini? Bisakah lebih baik lagi...

Melirik sekitar, aku menyadari bahwa aku berada di dalam rumah tua yang agak reyot. Dinding-dindingnya mengelupas, lantainya kotor dan dingin, serta atap berdecit yang terus meneteskan air, membuat lantai sedikit berjamur.

Aku masih linglung dengan itu semua. Terakhir kali aku ingat adalah saat aku dibawa terbang oleh penyihir itu dan berakhir pingsan. Aku bahkan masih merasa mual saat ini.

Aku mencoba untuk bangkit dari sofa keras yang aku tiduri ketika aku menyadari banyak perban melilit tubuhku. Penyihir itu mengobatiku? Ke mana dia sekarang? Di depanku hanya ada lentera yang memancarkan sinar redup yang menerangi ruangan.

Aku bangkit, berjalan dengan sedikit tertatih-tatih, menyenderkan tanganku di dinding yang penuh debu itu, mencoba menelusuri ruangan. Tak lupa aku mengambil lentera yang tergeletak di depanku tadi.

Di depan sana ada sebuah pintu. Aku mendorongnya dengan sedikit keras karena pintu itu sepertinya terlalu tua dan macet. Keluar dari sana, aku tak melihat apa pun, hanya lorong berantakan dan gelap. Aku berjalan menelusuri lorong itu, melihat salah satu pintu terbuka sedikit.

Aku penasaran dengannya, meski aku agak takut gelap. Aku tetap pergi ke sana dan mengintip ke dalam. Di dalam tak ada siapa-siapa-itu membuatku lega, kukira akan ada adegan jumpscare seperti film horor.

Di dalam terlihat berantakan, tapi sepertinya pernah ditinggali orang. Ada lentera mati di atas meja dan koper coklat yang terlihat bersih, kontras dengan barang-barang lain yang terlihat berdebu dan kotor.

Apakah itu milik penyihir itu? Aku sempat bertanya pada diriku sendiri. Aku mengitari ruangan itu sebentar. Tak ada yang aneh, hanya koper coklat itu yang membuatku penasaran.

Apakah itu berisi peralatan sihir, tongkat ajaib, jubah yang bisa menghilang, atau kacamata yang bisa melihat tembus pandang? Melihatnya saja aku menelan ludah karena rasa penasaranku ini.

Apakah aku akan dibunuh jika menyentuh barangnya? Mengingat dia sudah mengobatiku, tak sopan rasanya jika aku menyentuh barang-barangnya tanpa izin.

Akhirnya aku mengurungkan niatku. Aku meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya yang keras. Apakah semua pintu di sini memang sangat keras?

Ya, ini memang rumah tua reyot, dari sudut pandang mana pun kau melihat, tetap saja tak ada barang bagus di sini. Bau di sini pun tak terlalu aku sukai-campuran bau kayu lapuk dan debu membuat napasku sedikit berat.

Apa pun itu, aku tak melihat sesuatu yang lain di sini, selain barang tua dan ubin yang berdecit saat aku berjalan di atasnya.

Ke mana penyihir itu?

Aku berjalan mengitari lorong yang agak panjang. Kusadari bahwa rumah itu ternyata dua lantai ketika aku melihat tangga menuju ke bawah. Tanpa ragu aku mencoba turun melewati tangga itu dengan susah payah karena kayunya lapuk. Sesampainya di bawah, aku tiba di aula yang agak besar.

Di sana aku melihat siluet seseorang yang berdiri di ambang pintu. Dia tampak tinggi dengan kemeja yang lengannya digulung dan rambut putihnya yang berantakan. Aku mengenalinya-dia adalah penyihir itu. Dia tampak berbicara dengan seseorang. Aku mencoba menghampirinya dengan berjalan pelan.

"Terima kasih sudah mengurusnya, ya... aku akan melapor nanti..."

Di sana ada banyak meja dan kursi berserakan, serta lukisan-lukisan yang hancur. Baru saja aku menuruni tangga, ada seekor tikus yang berlari menjauh.

Aku melompat ketika melihatnya-sial, aku paling benci tikus dan semacamnya. Itu membuat bulu kudukku berdiri. Penyihir itu berbalik dan dengan cepat merentangkan tangannya ke arahku. Aku sedikit terkejut melihatnya, tatapannya yang dalam dan tajam seolah melihat musuh.

"Ma... maaf..." kataku.

"Kau... ternyata sudah bangun," katanya sambil menurunkan lengan.

Dia memasukkan sesuatu ke dalam sakunya dan mendekat ke arahku. Aku berdiri di pojok ruangan di bawah tangga sambil terus mengamati sekitar kalau-kalau ada tikus lewat lagi. Dia menyalakan lentera di sampingnya, kemudian berjalan menaiki tangga.

"Ikut aku..." katanya "sebaiknya kau cepat."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   FROM ME

    Sebuah Novel Fantasi oleh Coffeeman Never Sleep Halo semua! Aku Coffeeman, seorang penulis pemula yang baru saja merampungkan novel pertamaku. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir ke sini. Karena ini adalah novel pertamaku, tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, aku sangat mengharapkan saran dan kritik dari kalian yang membacanya. Jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat, ya. Terima kasih! Mengenal Dunia: Dalam novel ini, Solita - sang tokoh utama - secara tidak sengaja terlempar ke dunia lain yang penuh dengan sihir: sebuah benua bernama Pandora. Di Pandora, semua orang mampu menggunakan sihir, dan sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di benua ini terdapat beberapa kerajaan yang tersebar luas. Namun, fokus cerita hanya akan berada di Kekaisaran Kahalin - sebuah kekaisaran megah yang terletak di ujung Utara benua Pandora. Definisi Penyihir : Meskipun semua orang di Pandor

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB I BUKU ANEH

    10 November, 2020 Aku solita, baru saja memecahkan rekor baru sebagai budak korporat dengan keluar kantor pukul dua dini hari. Aku keluar dari gedung kantor sambil menyeret langkah lelah. Lampu-lampu kota masih menyala terang, tetapi jalanan mulai sepi seperti kota mati. Aku membuka ponselku, notifikasi itu langsung muncul memenuhi layar. Berbagai macam surat cinta dari tukang sampah kompleks, listrik, air, dan... dari rumah sakit. Ya, beginilah kehidupan seorang tulang punggung keluarga. Kau berharap aku mendapatkan surat cinta?. Aku terkekeh pelan sambil memijat pelipis ku, berhenti sejenak untuk sekadar melupakan layar komputer dan berbagai permasalahan di dalamnya. Bicara dengan diri sendiri? Ini belum termasuk gila... hanya sedikit saja. Adikku sakit keras dan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, sementara orang tuaku sudah lama meninggal sejak aku kuliah. Dengan begitu, aku tak punya pilihan selain mengurus adikku. Lucunya, aku bahkan tak yakin bisa mengurus dir

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB II BERTEMU PENYIHIR

    Sungguh asyik sekali terombang-ambing di udara dengan wajah yang sakit ini, saking asyiknya aku sampai ingin muntah. Pria itu membawaku melesat melewati reruntuhan dengan kecepatan yang membuat isi perutku seperti tertinggal di belakang. Kami terombang-ambing beberapa saat hingga jatuh dengan kecepatan tinggi, tapi dapat mendarat dengan aman di tanah. Sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Terombang-ambing di udara sedikit membuat kepalaku pusing. Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mulutku saat aku terbang tadi. Dia terlihat sangat tenang. Seorang pria yang cukup tampan, dia masih muda. Kira-kira seumurku, tapi dia cukup aneh-rambutnya berwarna putih. Masih muda, kenapa rambutnya putih? Dan pupil matanya berwarna biru, mirip orang Eropa. Dilihat dari segala sisi, dia cukup tampan bagiku. Hanya... kenapa rambutnya itu seperti semak belukar. Dia benar-benar seorang penyihir! Aku bertanya-tanya apakah aku sekarang ada di dunia lain. Aku ingin sekali bertanya padanya, se

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB III TERBANGUN ENTAH DIMANA

    11 November 434, kekaisaran KahalinAku bermimpi melihat diriku yang masih remaja bersama adikku yang aku gendong ke mana pun aku pergi, tentang kami yang menyukai hal yang sama, melukis.Menggambar, mencorat-coret apa pun yang kami temui, bahkan dinding rumah orang pun tak luput. Kadang-kadang orang-orang akan datang mengomel pada ibuku, dan ibu akan menyita peralatan lukis kami serta mengurung kami di kamar seharian.Namun itu tak menghentikan aku dan adikku. Kami berbagi pensil kecil yang dipotong dua untuk situasi darurat seperti itu, dan kami akan melanjutkan aksi kami selanjutnya sambil tertawa pelan.Aku merindukan saat-saat itu, di mana kami dapat menggambar, melukis, menciptakan apa pun yang kami mau tanpa terkekang, seakan kami bisa membuat dunia kami sendiri. Kami berdua pun berjanji akan menjadi seorang pelukis bersama. Namun semua itu sirna, mimpi itu perlahan menghilang.Setelah ibu meninggal, aku terpaksa mengubur impian itu dalam-dalam. Aku mulai melupakannya dan beral

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB IV ASTER CASTY

    Aku tak menjawabnya dan hanya diam mengikuti langkahnya dari belakang. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa semudah itu aku mempercayai orang asing di tempat seperti ini. Namun jika dipikir-pikir lagi, kalau dia memang berniat jahat, mungkin sejak tadi aku sudah mati, dijual, atau dijadikan bahan eksperimen aneh entah apa....tapi tunggu dulu.Bagaimana kalau dia memang sedang memanfaatkanku? Pikiran itu langsung membuat bulu kudukku meremang.Aku terus mengikutinya di belakang. Cahaya lentera yang ia bawa bergoyang pelan mengikutinya melewati lorong yang remang-remang. Kulihat lagi dirinya - dia berjalan menuju ruangan tempatku tadi bangun. Entah kenapa aku malah gugup dengan situasi ini, dan kenapa dia diam saja, itu membuatku sedikit takut.Penyihir itu masuk lebih dulu, lalu meletakkan lentera di atas meja kecil dekat dinding. Cahaya keemasan langsung menyebar lembut ke seluruh ruangan. Aku berdiri kikuk di ambang pintu. Dia menoleh ke arahku, tatapannya datar."Duduklah.""Ba... b

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB V AKU INGIN MEMUKUL WAJAHNYA

    Bagaimana menurutmu jika sekarang kau sedang duduk di depan orang yang hampir saja membunuhmu beberapa menit yang lalu?Ya, kurang lebih seperti itulah situasiku sekarang.Namanya Aster, kalau tak salah. Dia duduk santai sambil mengamatiku dan menyeringai aneh. Entah kenapa senyum itu membuatku ingin memukul wajahnya.Untungnya roti ini enak sekali - aku serasa makan roti buatan Prancis, meski aku tak pernah makan roti Prancis sih.Tapi semua orang tak akan menolak tampilannya yang menggugah selera. Roti panggang berbentuk sabit yang dipanggang sempurna, dengan taburan gula dan buah di atasnya. Aku bukan ahli roti, tapi aku tahu ini yang terbaik - plus tanpa bahan pengawet kimia.Aku mungkin membencinya, tapi kuberikan keringanan untuk setidaknya tak memukul wajahnya. Roti ini benar-benar enak.Dia masih menyeringai ketika aku meletakkan piring di meja."Gimana?""Lumayan," jawabku ketus."Jadi... Solita," dia berhenti sejenak. "Aku minta maaf sekali lagi mengenai tadi..."Dia mendeka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status