로그인11 November 434, kekaisaran Kahalin
Aku bermimpi melihat diriku yang masih remaja bersama adikku yang aku gendong ke mana pun aku pergi, tentang kami yang menyukai hal yang sama, melukis. Menggambar, mencorat-coret apa pun yang kami temui, bahkan dinding rumah orang pun tak luput. Kadang-kadang orang-orang akan datang mengomel pada ibuku, dan ibu akan menyita peralatan lukis kami serta mengurung kami di kamar seharian. Namun itu tak menghentikan aku dan adikku. Kami berbagi pensil kecil yang dipotong dua untuk situasi darurat seperti itu, dan kami akan melanjutkan aksi kami selanjutnya sambil tertawa pelan. Aku merindukan saat-saat itu, di mana kami dapat menggambar, melukis, menciptakan apa pun yang kami mau tanpa terkekang, seakan kami bisa membuat dunia kami sendiri. Kami berdua pun berjanji akan menjadi seorang pelukis bersama. Namun semua itu sirna, mimpi itu perlahan menghilang. Setelah ibu meninggal, aku terpaksa mengubur impian itu dalam-dalam. Aku mulai melupakannya dan beralih fokus pada hal lain demi bertahan hidup. Ditambah penyakit adikku yang semakin parah, itu mendorongku berusaha sekuat tenaga agar adikku, setidaknya, bisa mewujudkan impian kami dulu. Namun hatiku terasa sangat sakit. Semuanya terasa sia-sia setelah mengetahui sesuatu yang... entahlah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Alice harus segera dioperasi... Apakah setelah operasi Alice akan sembuh? Kami tak bisa menjaminnya, tapi... kemungkinan hidupnya akan bertambah... Alice... Alice.... Astarot... Astarot... Aku tersentak. Entah berapa lama aku bermimpi tadi. Perlahan aku mulai membuka mata, dan sensasi pertama yang aku rasakan adalah sakit di punggung dan kepalaku. Ayolah, apakah kesan pertama harus seperti ini? Bisakah lebih baik lagi... Melirik sekitar, aku menyadari bahwa aku berada di dalam rumah tua yang agak reyot. Dinding-dindingnya mengelupas, lantainya kotor dan dingin, serta atap berdecit yang terus meneteskan air, membuat lantai sedikit berjamur. Aku masih linglung dengan itu semua. Terakhir kali aku ingat adalah saat aku dibawa terbang oleh penyihir itu dan berakhir pingsan. Aku bahkan masih merasa mual saat ini. Aku mencoba untuk bangkit dari sofa keras yang aku tiduri ketika aku menyadari banyak perban melilit tubuhku. Penyihir itu mengobatiku? Ke mana dia sekarang? Di depanku hanya ada lentera yang memancarkan sinar redup yang menerangi ruangan. Aku bangkit, berjalan dengan sedikit tertatih-tatih, menyenderkan tanganku di dinding yang penuh debu itu, mencoba menelusuri ruangan. Tak lupa aku mengambil lentera yang tergeletak di depanku tadi. Di depan sana ada sebuah pintu. Aku mendorongnya dengan sedikit keras karena pintu itu sepertinya terlalu tua dan macet. Keluar dari sana, aku tak melihat apa pun, hanya lorong berantakan dan gelap. Aku berjalan menelusuri lorong itu, melihat salah satu pintu terbuka sedikit. Aku penasaran dengannya, meski aku agak takut gelap. Aku tetap pergi ke sana dan mengintip ke dalam. Di dalam tak ada siapa-siapa-itu membuatku lega, kukira akan ada adegan jumpscare seperti film horor. Di dalam terlihat berantakan, tapi sepertinya pernah ditinggali orang. Ada lentera mati di atas meja dan koper coklat yang terlihat bersih, kontras dengan barang-barang lain yang terlihat berdebu dan kotor. Apakah itu milik penyihir itu? Aku sempat bertanya pada diriku sendiri. Aku mengitari ruangan itu sebentar. Tak ada yang aneh, hanya koper coklat itu yang membuatku penasaran. Apakah itu berisi peralatan sihir, tongkat ajaib, jubah yang bisa menghilang, atau kacamata yang bisa melihat tembus pandang? Melihatnya saja aku menelan ludah karena rasa penasaranku ini. Apakah aku akan dibunuh jika menyentuh barangnya? Mengingat dia sudah mengobatiku, tak sopan rasanya jika aku menyentuh barang-barangnya tanpa izin. Akhirnya aku mengurungkan niatku. Aku meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya yang keras. Apakah semua pintu di sini memang sangat keras? Ya, ini memang rumah tua reyot, dari sudut pandang mana pun kau melihat, tetap saja tak ada barang bagus di sini. Bau di sini pun tak terlalu aku sukai-campuran bau kayu lapuk dan debu membuat napasku sedikit berat. Apa pun itu, aku tak melihat sesuatu yang lain di sini, selain barang tua dan ubin yang berdecit saat aku berjalan di atasnya. Ke mana penyihir itu? Aku berjalan mengitari lorong yang agak panjang. Kusadari bahwa rumah itu ternyata dua lantai ketika aku melihat tangga menuju ke bawah. Tanpa ragu aku mencoba turun melewati tangga itu dengan susah payah karena kayunya lapuk. Sesampainya di bawah, aku tiba di aula yang agak besar. Di sana aku melihat siluet seseorang yang berdiri di ambang pintu. Dia tampak tinggi dengan kemeja yang lengannya digulung dan rambut putihnya yang berantakan. Aku mengenalinya-dia adalah penyihir itu. Dia tampak berbicara dengan seseorang. Aku mencoba menghampirinya dengan berjalan pelan. "Terima kasih sudah mengurusnya, ya... aku akan melapor nanti..." Di sana ada banyak meja dan kursi berserakan, serta lukisan-lukisan yang hancur. Baru saja aku menuruni tangga, ada seekor tikus yang berlari menjauh. Aku melompat ketika melihatnya-sial, aku paling benci tikus dan semacamnya. Itu membuat bulu kudukku berdiri. Penyihir itu berbalik dan dengan cepat merentangkan tangannya ke arahku. Aku sedikit terkejut melihatnya, tatapannya yang dalam dan tajam seolah melihat musuh. "Ma... maaf..." kataku. "Kau... ternyata sudah bangun," katanya sambil menurunkan lengan. Dia memasukkan sesuatu ke dalam sakunya dan mendekat ke arahku. Aku berdiri di pojok ruangan di bawah tangga sambil terus mengamati sekitar kalau-kalau ada tikus lewat lagi. Dia menyalakan lentera di sampingnya, kemudian berjalan menaiki tangga. "Ikut aku..." katanya "sebaiknya kau cepat."Kata-kata dalam buku itu bergetar sesaat sebelum pudar, dan muncul tulisan baru yang kali ini lebih panjang dari sebelumnya.“Baiklah, bolehkah aku bertanya lebih detail? Aku punya beberapa formula sihir terlarang untuk digunakan, atau aku bisa mengubah fungsiku menjadi senjata.”Sialan, di saat seperti ini buku ini malah menanyakan hal yang berbelit-belit. Bisakah lebih sederhana saja? Aku menelan ludah sambil terengah-engah dan mengepalkan tanganku yang sedikit gemetar ini.Dalam keadaan itu, aku menjawabnya dengan sangat singkat dan padat.“Ubah dirimu menjadi senjata.”Kenapa aku memilihnya? Sudah jelas, itu bukan pilihan pertama—tidak mungkin bagiku yang tak mengerti sihir, apalagi menggunakan sihir yang jelas asing bagiku. Jadi, pilihan kedua jauh lebih masuk akal untuk dicoba.“Baiklah, memulai fungsi senjata. Tuangkan keinginanmu ke atas kertas, dan sobek aku.”Aku bingung dengan kata “tuangkan” dalam buku ini, apa maksudnya itu. Tak bisakah kau tidak bermain teka-teki di saa
Balok kaca itu meluncur tepat ke arahku dari atas. Aku sudah tak sempat untuk lari. Aku mematung di tempat persembunyian, menatap ke atas tepat ke arah balok kaca itu."Apakah sungguh ini akan berakhir seperti ini?" kataku dengan suara samar, nyaris tak terdengar.Aku mencengkeram buku itu kuat-kuat karena hanya itu yang aku punya. Entah kenapa waktu terasa melambat. Aku sedikit mengingat kembali Ibu dan Alice di bumi. Entah kenapa ingatan ini selalu muncul di saat-saat seperti ini.Apakah ini ingatan sebelum kematian? Jika iya, syukurlah.Balok kaca itu meluncur dengan cepat, hampir jatuh menghantam diriku di bawah. Aku sudah pasrah. Mau bagaimana lagi, aku tak bisa lari. Aku sudah berusaha bertahan sejauh yang aku bisa. Jika ini akhirku, ya mau bagaimana lagi.Hanya... dewa, Tuhan, atau siapapun di sana—aku tahu aku bukan orang yang religius. Aku banyak menyia-nyiakan waktuku, aku juga jarang sekali berdoa. Tapi kali ini saja, aku mohon... jika aku mati di sini, tolong berikan kasih
Aku tersentak bangun. Kesadaranku kembali ke diriku yang sekarang masih dililit ular itu. Namun ada sesuatu yang berbeda—tanganku yang sebelumnya terasa sakit kini justru ringan, dan simbol-simbol yang terukir di kulitku semakin jelas, menjalar hingga ke pergelangan tangan.Untuk sesaat aku teringat pada wanita itu, yang menyentuh tanganku.Apakah ini ulahnya?Cahaya di tanganku semakin menyala terang. Ular yang melilitku meronta-ronta, mengeluarkan jerit melengking seperti kesakitan. Cengkeramannya mengendur sebelum melemparkanku ke tanah.Aku terbanting ke lantai yang berkilau itu. Melihat ke atas, tubuh monster itu mulai meleleh seperti lilin yang terkena api. Sisiknya mencair, sayapnya hancur, lalu seluruh tubuhnya menyusut hingga berubah menjadi miniatur kecil sebesar telapak tangan.“Ternyata kau menetralkannya!” kata pria bertopeng itu, tampak antusias.Aku sendiri bingung dengan apa yang terjadi, tapi ini pertanda baik. Hingga buku itu muncul di depanku entah dari mana, mengh
Kalian pergi tamasya ke rumah kaca? Kalau aku justru ke dunia kaca yang menakjubkan—saking menakjubkannya, aku sampai bermain kejar-kejaran dengan seekor ular bersayap hitam dan taring yang siap menjadikanku cemilan.Kau tahu, aku sudah berlari cukup lama. Setelah beberapa saat berhasil lolos darinya, aku menjatuhkan diri di balik dinding cermin sambil mengusap dahiku yang basah. Sekarang aku tahu pentingnya olahraga—selain untuk menjaga tubuh tetap sehat, juga untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti kau dikejar monster di dunia lain.Setidaknya aku berhasil bersembunyi untuk beberapa saat, meski napasku kini terasa pendek sekali."Sial..."Dan sekarang ini sepertinya aku terjebak di dalam sihir orang itu. Dunia ini sangat aneh. Jadi, bagaimana aku bisa keluar dari sini? Aku yang tak tahu apa-apa tentang sihir dipaksa melawan ular ganas dan orang gila? Yang benar saja."Andai ada Aster di sini..."Aku mendongak, melirik sekitar, sekadar memastikan ular itu tak mendekat. Baru saja aku
Aku membuka mataku di dunia lain lagi, ya.... lagi-lagi di dunia lain. Ini klise sekali. Jatuh tersungkur di antara kaca-kaca yang berkilauan, jidatku terasa sakit. Aku mendapati diriku di dunia yang.... penuh cermin.Aku tak tahu ini apa dan di mana, tapi aku akan menyebutnya dunia cermin, karena sepanjang mata memandang luasnya tempat ini, semuanya terbuat dari kaca cermin yang memantulkan bayanganmu.Kepalaku agak pusing akibat pendaratanku yang selalu tak mulus, ditambah nyeri di lengan kananku yang semakin menjadi. Aku melihat pria itu berdiri di depanku, menatapku sambil menyeringai aneh.Dia mendekat ke arahku sambil membuka tudung jubahnya, memperlihatkan wajahnya. Seorang pria paruh baya, atau bisa kubilang om-om. Dengan kumis tipis dan rambut coklat yang tersisir rapi, daripada seorang kriminal dia malah terlihat seperti pria beradab di film kolosal barat yang sering aku tonton."Si... siapa?" tanyaku."Menarik...." sambil mencubit dagunya.Entahlah, dia selalu bilang mena
Sebuah Novel Fantasi oleh Coffeeman Never Sleep Halo semua! Aku Coffeeman, seorang penulis pemula yang baru saja merampungkan novel pertamaku. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir ke sini. Karena ini adalah novel pertamaku, tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, aku sangat mengharapkan saran dan kritik dari kalian yang membacanya. Jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat, ya. Terima kasih! Mengenal Dunia: Dalam novel ini, Solita - sang tokoh utama - secara tidak sengaja terlempar ke dunia lain yang penuh dengan sihir: sebuah benua bernama Pandora. Di Pandora, semua orang mampu menggunakan sihir, dan sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di benua ini terdapat beberapa kerajaan yang tersebar luas. Namun, fokus cerita hanya akan berada di Kekaisaran Kahalin - sebuah kekaisaran megah yang terletak di ujung Utara benua Pandora. Definisi Penyihir : Meskipun semua orang di Pandor
Sepertinya melihat-lihat pameran ini adalah salah satu pengalaman paling indah dalam hidupku, dan aku bahkan membawa satu suvenir. Aku harap bisa membawa ini pulang dan menunjukkannya pada Alice. Aku yakin dia akan senang.Mungkin dia akan tertawa kecil sambil memuji bentuknya, lalu menyimpannya di
Sayang sekali pagi yang indah ini harus diwarnai oleh rasa nyeri di tanganku. Tidak terlalu parah, tetapi cukup mengganggu hingga sulit kuabaikan. Entah mengapa, ada pula perasaan tidak nyaman yang mengganjal di dalam dada, seolah sesuatu akan terjadi di depan. Aku dan Aster berjalan menyusuri
Penderitaanku kemarin seakan terbayar ketika aku berjalan menelusuri gemerlap kota yang dipenuhi sihir ini. Aku tak bisa berhenti ternganga ketika melihat sekelilingku. Maksudku... ini seperti dongeng yang diinginkan setiap orang di bumi.Aku benar-benar tidak tahu harus mulai mengagumi yang mana d
12 November 434, Kekaisaran KahalinKali ini aku bangun dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya, setidaknya sakit punggungku sudah mendingan. Hanya saja bau tak sedap sempat tercium di samping rumah, mungkin itu selokan. Ku berikan rating 4/10 untuk rumah ini, 4 untuk roti berbau enak di d







