Home / Urban / DENDAM GADIS PEWARIS / Bantuan Tambahan

Share

Bantuan Tambahan

Author: Alnayra
last update publish date: 2026-06-20 21:36:55

"Kita butuh bantuan tambahan, Nona. Saya tahu, Nona yang akan banyak berkorban untuk sekarang. Tapi, kita tidak punya pilihan lain." Pelayan Sisca memberikan jeda sejenak, lalu mengambil alih laptop milik putranya agar bisa ditunjukkan langsung pada Amertha.

"Mereka adalah kandidat yang bisa menjadi bantuan kita, Nona. Dengan latar belakang Nona yang selama ini disembunyikan, para petinggi perusahaan pasti sedang mencari celah untuk menyingkirkan anda."

Amertha paham maksud ucapan Pelayan Sisca, dia sudah tahu kalau rencana mereka tidak akan berjalan mulus begitu saja. 

Tapi, ketika dihadapkan dengan deretan nama di layar laptop. Kening Amertha berkerut, batinnya bertanya, kenapa hanya ada deretan nama laki-laki dan lengkap dengan info usia mereka. 

Apa yang sebenarnya harus Amertha lakukan dengan mereka yang sudah dipilih pelayan Sisca ini. 

"Mereka semua ini siapa, Pelayan Sisca?"

Pelayan Sisca tidak langsung menjawab, tapi tangannya langsung menggenggam erat tangan Amertha yang ada di atas meja. 

"Saya dan Jevan sudah menyelidiki latar belakang mereka secara ketat, satu-satunya cara untuk menjalin hubungan dengan mereka adalah pernikahan kontrak yang menguntungkan satu sama lain.. Jadi, Nona..." 

Tersentak, Amertha sampai mendelikkan matanya. 

"Apa maksudnya aku harus menikah dengan mereka, Pelayan Sisca?" 

Pelayan Sisca hanya memberikan anggukan atas pertanyaan dari Nona mudanya. 

"T-tapi, bagaimana jika mereka tidak menyukaiku dan malah merebut harta milik mama dan papa?" 

"Anda tenang saja, Nona. Saya dan Jevan akan selalu mendampingi Anda, jika orang itu bermasalah, saya akan mempertaruhkan nyawa untuk Anda. Tapi, Anda tidak perlu khawatir, Nona. Saya bukan orang bodoh yang bisa ditipu, saya sudah memilih calon yang cocok untuk Anda. Anda bisa melihat fotonya dulu," ucap Pelayan Sisca, berusaha menenangkan Amertha. 

Jevan sejak tadi hanya bisa menghela nafas, tidak ada yang menyangka kalau Amertha akan menikah dengan cara seperti ini. Padahal, rasanya baru kemarin mereka bermain di taman bunga bersama. Tapi, sekarang mereka harus bergerak cepat untuk sesuatu yang berbahaya. 

Amertha langsung terfokus pada foto yang ditampilkan di laptop, sedangkan Pelayan Sisca segera memberikan penjelasan. 

"Namanya, Praja Adi. Nama panggilannya Raja, usia 28 tahun, dan point pentingnya dia adalah salah satu Dewan Komisaris termuda di perusahaan, Nona. Latar belakangnya bersih, tidak pernah bermain dengan wanita, pekerja keras, dan selama lima tahun terakhir ini, dia menjadi orang kepercayaan Tuan Ferdi."

Pelayan Sisca kembali teralihkan pada Amertha yang masih diam, menatap foto pria tampan yang membuat jantungnya berdetak tidak nyaman. Bukan karena terkagum pada sosok tampan dalam foto itu, tapi jantungnya hanya merasa tidak nyaman dengan tatapan mata pria di dalam foto itu, seolah dirinya bisa hanyut kapan saja jika terlalu lama memandangi foto tersebut. 

"A-apa dia benar-benar bisa dipercaya, Pelayan Sisca?" 

"Sejauh penilaian saya, dia bisa dipercaya, Nona. Tapi, jika anda ragu, saya bisa memberikan rekomendasi lainnya sesuai dengan selera Aanda."

"Ah, tidak-tidak. Aku hanya... " Ucapan Amertha menggantung, dia ingin bicara, tapi urung. 

"Ada apa, Nona? Apa Anda berubah pikiran?"

Amertha menggeleng pelan. "Tapi, Pelayan Sisca bukannya masalah ini sangat berbahaya? Aku hanya tidak mau kamu dan Jevan sampai berkorban nyawa hanya demi diriku," balas Amertha, kepalanya menunduk. 

Tak berani menatap Pelayan Sisca dan Jevan secara langsung. 

Jauh di lubuk hati Amertha, dia juga ingin tahu siapa dalang dari kecelakaan berencana yang menewaskan orang tuanya. Tapi, Amertha yang sudah tidak punya siapa-siapa ini, haruskah sampai mengorbankan nyawa orang-orang terkasihnya?

Bagaimana jika akhirnya mereka semua berada di ambang kematian? 

Bagaimana jika nantinya pelayan Sisca dan Jevan membencinya? 

Pelayan Sisca langsung memeluk tubuh Amertha erat, mengusap pelan punggung Amertha yang rapuh. 

"Anda tidak perlu merasa bersalah seperti itu, Nona. Anda mungkin tidak tahu, bagaimana kebaikan Tuan Ferdi dan Nyonya Alea pada keluarga saya, tanpa mereka, mungkin saya tidak akan ada di dunia lagi. Jadi, jangan berpikir kalau pengorbanan saya ini berlebihan untuk menjaga Anda, saya akan sedih jika membiarkan keturunan dari orang yang menyelamatkan hidup saya, mengalami ketidakadilan di dunia ini." 

Pelukan mereka terurai, Amertha sudah menangis. 

"Satu hal lagi yang perlu Anda ketahui, Nona. Anda sudah dikenal sebagai pewaris seluruh aset Tuan Ferdi dan Nyonya Alea, meskipun Anda mundur sekarang, mereka yang seperti anjing gila itu akan terus memburu Anda. Jadi, saya mohon, jangan menyerah sekarang, Nona." 

Tangan Amertha terkepal di bawah meja, ucapan Pelayan Sisca memang benar. Amertha sudah terlanjur masuk ke dalam ombak besar yang tidak pernah dia bayangkan selama ini, meskipun dirinya memilih keluar, ombak besar itu akan tetap menyapu dirinya! 

"A-aku tidak akan menyerah, Pelayan Sisca. Tapi, aku mohon, jangan pertaruhkan nyawa kalian demi apapun. Di dunia ini, hanya kalian berdua yang aku miliki sekarang. Aku tidak mau ditinggal sendirian lagi," ucap Amertha dengan tegas. 

Pelayan Sisca hanya mengangguk pasrah untuk kali ini, toh tidak ada yang tahu di kemudian hari, apakah mereka perlu pengorbanan nyawa atau tidak. 

"Jadi, bisa kita lanjutkan pembahasan tadi, Nona? Apa Anda memiliki kriteria tertentu untuk calon suami kontrak, anda?"

"Aku rasa... Aku akan mencoba bertemu dengannya dulu, bisakah kita melakukannya?" 

Mata Amertha melirik foto di dalam laptop yang masih menampilkan sosok pria bernama Praja Adi, pilihan Pelayan Sisca. 

"Tentu saja bisa, Nona. Saya akan segera membuat janji temu untuk anda dengannya, semoga saja Tuan Raja bisa menjadi bantuan kita dalam menyelesaikan urusan perusahaan." 

"Ya, semoga saja."

Laptop sudah diambil alih oleh Pelayan Sisca, wanita paruh baya itu yang paling sibuk sekarang. Membiarkan Amertha dan Jevan duduk dalam keheningan. 

"Nona, apa Anda yakin mau menikah kontrak?" Diberikan pertanyaan demikian oleh Jevan, Amertha hanya mengangguk pelan. 

Memangnya Amertha punya pilihan lain? 

"Hanya nikah kontrak, Jevan. Aku tidak tahu, apakah keputusanku ini benar atau tidak. Tapi, selama pernikahan kontrak ini bisa membantu rencana kita, aku akan berusaha sebaik mungkin." 

Jevan diam, tidak lagi memberikan respon. Pada akhrinya, pria muda itu tidak bisa memberikan solusi yang lebih baik daripada pernikahan kontrak yang diusulkan ibunya sendiri. 

"Nona, kita dalam masalah!" Pekikan Pelayan Sisca membuat ruangan yang tadinya hening, kembali tegang. 

Pelayan Sisca yang tadinya hendak menghubungi orang yang akan menjadi calon suami Amertha, mendadak berteriak. Kemudian berjalan cepat ke arah pintu ruangan yang terkunci otomatis tadi. 

"Ada apa, Pelayan Sisca?"

"Apa yang terjadi, Bu??" 

Klak. Pintu terbuka. 

Amertha menganga, begitu melihat apa yang terjadi di luar ruangan sekarang. 

Semua kacau, kotor, banyak pecahan vas keramik yang berserakan lengkap dengan cairan merah berbau anyir. 

Ada apa ini? Apakah ada yang menyerang mereka di mansion pribadi ini secara langsung? Hanya itu yang ada di pikiran Amertha sekarang. 

Masih belum bisa mencerna situasi yang ada. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DENDAM GADIS PEWARIS   Bantuan Tambahan

    "Kita butuh bantuan tambahan, Nona. Saya tahu, Nona yang akan banyak berkorban untuk sekarang. Tapi, kita tidak punya pilihan lain." Pelayan Sisca memberikan jeda sejenak, lalu mengambil alih laptop milik putranya agar bisa ditunjukkan langsung pada Amertha."Mereka adalah kandidat yang bisa menjadi bantuan kita, Nona. Dengan latar belakang Nona yang selama ini disembunyikan, para petinggi perusahaan pasti sedang mencari celah untuk menyingkirkan anda."Amertha paham maksud ucapan Pelayan Sisca, dia sudah tahu kalau rencana mereka tidak akan berjalan mulus begitu saja. Tapi, ketika dihadapkan dengan deretan nama di layar laptop. Kening Amertha berkerut, batinnya bertanya, kenapa hanya ada deretan nama laki-laki dan lengkap dengan info usia mereka. Apa yang sebenarnya harus Amertha lakukan dengan mereka yang sudah dipilih pelayan Sisca ini. "Mereka semua ini siapa, Pelayan Sisca?"Pelayan Sisca tidak langsung menjawab, tapi tangannya langsung menggenggam erat tangan Amertha yang ada

  • DENDAM GADIS PEWARIS   PERMAINAN YANG MENYENANGKAN

    "Apa benar dia memang anaknya Ferdi, hah? Sialan!! Ini di luar ekspektasi ku!" Tuan Ramon berdecih kesal. Dia sungguh sangat kesal saat kedatangan Amerta tadi di rapat pemegang saham. Pria tua itu mengira semua jalannya akan semakin mulus setelah meninggalnya pasangan konglomerat itu, tapi nyatanya masih ada saja batu terjal yang menghalangi langkahnya untuk mengambil alih semua aset yang dimiliki Ferdi dan Alea."Menurut data yang diberikan pelayan tadi, beserta lembar tes DNA ... gadis itu benar-benar putri Nyonya Alea dan Tuan Ferdi, Tuan Ramon." Ajudannya berkata, memberikan informasi yang ingin diketahui oleh tuannya ini.Membuat Tuan Ramon semakin menggeram dalam kursi kebesarannya. "Aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja. Meski dia memang benar-benar putri Ferdi atau bukan. Dia hanya gadis lugu, menyingkirkan dia sama sekali bukan masalah yang besar bagi ku." Tersenyum puas, Tuan Ramon menatap Ajudannya."Segera kirim orang untuk mencari informasi tentang gadis itu, kem

  • DENDAM GADIS PEWARIS   GADIS PEWARIS

    "Sebenarnya, anda adalah pewaris tunggal semua aset keluarga konglomerat yang merajai industri pangan di Indonesia, Nona. Anda jelas tahu perusahaan itu bukan?""Kamu bercanda, Pelayan Sisca?""Tidak, Nona. Tidak ada waktunya bercanda saat ini."Amertha menatap Jevan, tersenyum miris. Ternyata banyak sekali rahasia yang baru ia ketahui. ‘Kenapa mereka menyembunyikan semua itu?’ pikir Amertha.***"Hasilnya tidak bisa begitu! Bagaimana bisa? Saya kerabat Ferdi, seharusnya saya yang mendapatkan hak kuasa atas perusahaan dan asetnya." Suara Tuan Alex menggema dalam ruangan, dia masih tidak terima jika tambuk kepemimpinan perusahaan jatuh pada Tuan Ramon."Semua sudah jelas, Tuan Alex. Anda harus menerima keputusan ini, jika tidak silahkan anda keluar dari perusahaan ini." Kini Tuan Ramon tersenyum remeh."Jadi, bisa diputuskan bahwa tanggal 06 Maret 2022, tambuk kekuasaan dan aset perusahaan milik keluarga konglomerat Ferdi Adistra Gunawan, SENTRA GOLDEN TBK… akan jatuh pada … .""Tunggu

  • DENDAM GADIS PEWARIS   MENEKAN DUA SISI

    "Kapan? Kapan mereka meninggal? Kenapa makam ini tampak sudah lama?" Suaranya sangat rendah, apalagi dengan paduan serak dari deru nafasnya yang tidak beraturan.Pelayan Sisca menghela nafas. "Satu bulan yang lalu, Nona."Amertha segera mengalihkan anestesinya pada Pelayan Sisca. "Apa? Sa--satu b--bulan yang la-lu?"Pelayan Sisca mengangguk, membenarkan."Kenapa kalian tidak memberitahuku? Aku tidak tahu jika mereka telah meninggal, aku juga tidak memberi penghormatan terakhir pada mereka sebelum dikremasi. Jahat! Kalian jahat! Kalian tega sekali," teriak Amertha keras, dia merasa semakin terpukul atas kepergian orang tuanya, juga pada Pelayan Sisca dan Jevan yang dengan tega sama sekali tidak memberitahu kabar besar ini padanya."Aku benci sama kalian, kalian jahat!!" Amertha terus saja berteriak. Bahkan, kesadarannya mulai menghilang secara berkala, karena anestesinya hanya tertuju pada rasa kesal dan marah yang menguras seluruh tenaganya."Nona Amertha!!" Jevan segera menghampiri N

  • DENDAM GADIS PEWARIS   KEBENARAN YANG ADA

    Amertha hanya mengangguk, kemudian tersadar akan sesuatu. "Tapi, aku tidak pernah dengar bahwa kamu masih memiliki keluarga," gumam Amertha. Kini, Jevan jadi gelagapan sendiri."Ah, iya. Dia itu dari keluarga angkat," jawab Jevan dengan menggaruk kepala bagian belakangnya."Jevan!! Oh ya aku baru ingat," pekik Amertha."A--apa?""Masa tadi ponsel ku mati sih? Coba lihat!! Sama sekali tidak terhubung dengan internet," ujar Amertha sembari menunjukkan layar ponselnya pada Jevan."Oh itu--" Jevan menggantung ucapannya. Itu adalah ulahnya, dia merupakan hacker yang cukup ahli. Atas perintah sang ibu, dia memutuskan jaringan pada ponsel Amertha, agar gadis itu sama sekali tidak mengetahui kabar trending hari ini tentang meninggalnya kedua orang tuanya."Iya, kamu kan bisa membenarkan hal seperti ini. Tolong benarkan ponsel ku, aku ingin menelpon Papa dan Mama." Jevan mematung."Ah kalau itu, ponsel ku juga tidak ada jaringan." Jevan membalasnya dengan nada tidak enak, ragu sebenarnya. Namu

  • DENDAM GADIS PEWARIS   RAHASIA YANG DISEMBUYIKAN

    Sedangkan kondisi di rumah Amertha, Pelayan Sisca sudah mengurung majikannya di dalam kamar. Ah, bukan mengurung. Lebih tepatnya, malam ini sudah sangat larut dan sudah waktunya untuk Amertha istirahat. Pelayan Sisca juga mengunci kamar Nona muda-nya, mengantisipasi dengan kedatangan tiba-tiba sang Nona, di tengah pemberitaan televisi pada malam ini yang menjadi banyak tontonan para pelayan malam ini. Termasuk dengan Jevan.Pria itu menjatuhkan rahangnya, saat identitas dari korban kecelakaan tersebut disebut dengan amat sangat jelas. Mereka adalah orang tua Amertha, Nona muda-nya. Menatap sang ibu dengan rasa cemas, Pelayan Sisca berdeham. Hatinya juga sedih, namun, dia tidak bisa menunjukkannya di depan sang anak."Ibu, bagaimana ini?" tanya Jevan. Para pelayan sudah banyak yang menangis dengan tersedu-sedu. Pelayan Sisca menatap anaknya dalam, kemudian menatap sekitar. Semua bersedih."Tolong, jangan ada yang menangis. Jangan membuat hal yang akan mengakibatkan Nona muda bangun dar

  • DENDAM GADIS PEWARIS   AMERTHA QUEENARA

    Hembusan angin dingin dan gulita malam menyapa pengendara mobil yang melintas di jalanan berbukit, dekat pantai. Di dalam mobil tersebut ada empat orang penumpang; satu supir, satu asisten pribadi yang duduk di kursi depan, juga sepasang suami istri yang merupakan majikan di dalam mobil itu duduk d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status