Share

Bab 2

Author: Uti
last update Last Updated: 2025-08-05 20:14:45

CEKKLEEKKK

Pintu ruang ICU terbuka dengan suara yang menusuk kesunyian. Evelyn langsung melesat berdiri, tubuhnya gemetar seperti daun yang diterpa angin malam. Di hadapannya, Dokter Richard berdiri dengan bahu yang lebih membungkuk dari biasanya, wajahnya diselimuti bayangan kelelahan dan sesuatu yang lebih gelap yaitu rasa bersalah yang tak terucap.

"Bagaimana keadaan Daddy, Dok? Apakah dia baik-baik saja?" Evelyn menyerbu pertanyaannya dengan suara pecah, air mata yang sudah lama ditahan akhirnya meluber, membasahi pipinya yang pucat.

Dokter Richard menatapnya, matanya berbinar iba. Di balik kacamata itu, ada pergulatan batin seorang dokter yang tahu kebenaran, tapi terbelenggu ancaman.

"Sebelumnya maaf, Nona Evelyn. Kami sudah melakukan yang terbaik, nam—"

Evelyn tak memberinya kesempatan. Tangannya mencengkeram bahu dokter Richard, kuku-kuku halusnya menekan jaket putih itu seolah ingin menggali kebenaran.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Suaranya tiba-tiba dingin, tegas, seperti pisau yang menuntut jawaban.

Dokter Richard menarik napas dalam. "Tuan Damien tidak bisa lagi tertolong."

Evelyn menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. "Tidak... tidak mungkin. Anda salah! Dia tadi pagi masih tersenyum padaku!" Tangannya meraih kerah jas dokter, mata yang membesar dipenuhi kegilaan dan penolakan.

Dokter Richard mengeluarkan selembar kertas dari clipboard-nya. "Ini hasil pemeriksaan resmi. Ada indikasi keracunan arsenik dalam sistem"

"BOHONG!" Evelyn menyambar kertas itu dan merobek-robeknya. Potongan kertas beterbangan seperti salju kematian. "Daddy tidak mungkin diracun! Ini rumah sakit, kalian seharusnya menyelamatkannya!"

"Maaf nona Evelyn tapi ini kenyataannya" Balas Dokter Richard berusaha tenang.

𝘉𝘙𝘜𝘒𝘒𝘒

Seperti bumi runtuh di bawah kakinya. Dada Evelyn sesak, udara di paru-parunya tiba-tiba hilang. Lututnya bergetar, lalu menyerah tubuhnya luruh ke lantai dingin, seperti boneka yang talinya terputus.

"DADDYYY!"

Teriakannya memecah kesunyian lorong rumah sakit, bergema seperti suara hati yang tercabik. Ia memeluk lututnya sendiri, tubuhnya terguncang oleh isakan yang tak terbendung. Tuan Damien satu-satunya keluarga yang ia punya, orang yang selalu melindunginya kini pergi selamanya.

Tak! Tak! Tak! Tak

Di kejauhan, langkah cepat terdengar mendekat. Gio, tangan kanan setia Tuan Damien, berlari menghampiri, wajahnya pucat melihat Evelyn yang luruh di lantai.

"Nona Muda, apa yang terjadi?!" Gio mengguncang bahu Evelyn, tapi tak ada respon. Evelyn hanya terdiam, matanya kosong, air mata terus mengalir seperti sungai yang tak pernah kering.

Gio menoleh ke arah para pengawal yang berjaga biasanya wajah mereka keras, tak tergoyahkan. Tapi malam ini, mata mereka merah, rahang mereka mengeras menahan emosi.

Dokter Richard, yang masih berdiri di ambang pintu, mengulurkan selembar kertas ke Gio.

"Ini laporan penyebab kematian Tuan Damien," bisiknya, suaranya hampa, sebelum berbalik pergi seperti orang yang ingin segera lari dari dosanya sendiri.

Gio membuka dokumen itu dengan tangan gemetar. Matanya menyapu baris-baris tulisan, lalu membeku.

"Arsenik dan gagal ginjal?" Suaranya nyaris tidak keluar.

Tapi Evelyn sudah tak mendengar apa-apa lagi. Dunia di sekitarnya gelap. Yang tersisa hanya bayangan Daddy, tersenyum lembut padanya untuk terakhir kali sebelum segalanya berubah menjadi abu.

~

Di kediaman keluarga 𝗠𝗢𝗡𝗧𝗚𝗢𝗠𝗘𝗥𝗬 cahaya lampu kristal memantulkan kilauan sinis di antara gelas-gelas anggur yang saling bersentuhan. Suara tawa riang mengisi ruang keluarga, seolah tak ada duka yang menyentuh dunia mereka. Adrian, suami Evelyn, bersandar di kursi kulitnya dengan sikap santai, jari-jarinya memainkan cincin kawin yang tiba-tiba terasa asing di tangannya.

"Mama sudah dapat kabar dari rumah sakit," ujar Nyonya Sinta, seorang wanita paruh baya dengan riasan wajah yang tetap sempurna meski larut malam. Suaranya memotong obrolan ringan mereka, tapi tak ada kesedihan yang terpancar dari matanya. "Mertuamu sudah tiada."

Adrian mengangkat gelas anggurnya, senyum tipis mengembang di bibirnya. "Aku malah senang," suaranya dingin seperti pisau yang baru saja diasah. "Tua bangka itu selalu menghalangi kesuksesanku. Selama ini"

Tuan Deren, sang patriark keluarga, mengangguk puas sambil menyeruput anggurnya."Kita harus tetap bersikap berduka di depan umum,"bisiknya, matanya berbinar licik."Jangan sampai sikap kita membuat Evelyn curiga."

CEKKLEEKKK

Pintu terbuka, Ayyana, putri sulung keluarga Montgomery, masuk dengan langkah anggun. Wajahnya yang biasanya cerah kini sedikit pucat, tapi senyumnya tetap terkembang.

"Ayyana," sapa Tuan Deren, matanya menyelidik. "Di mana suami dan anakmu?"

"Mereka di rumah, Papa," jawab Ayyana sambil duduk di samping Nyonya Sinta. "Aku baru saja pulang dari rumah sakit. Evelyn masih di sana... sendirian."

Nyonya Sinta menghela napas palsu, pura-pura tersentuh. "Kasihan dia. Kehilangan satu-satunya keluarga." Tapi senyum di bibirnya tak pernah pudar.

Tuan Deren tiba-tiba tertawa terbahak-bahak saat ponselnya bergetar. "Lihat ini!" serunya, mengangkat ponselnya yang menampilkan laporan dokter Richard. "Laporan resmi kematian Tuan Damien. Gagal jantung akut."Matanya berbinar. "Hahahaha! Ini salahmu, Damien, karena kau lebih sukses dari pada aku!"

Adrian bergabung dalam tawa itu, tapi Ayyana hanya diam, matanya menerawang ke arah jendela. Di luar, langit malam gelap gulita, seolah menelan semua kepalsuan yang terucap di ruangan itu.

"Kita harus tetap berhati-hati," bisik Ayyana tiba-tiba, suaranya hampir tak terdengar. "Evelyn bukan wanita bodoh. Jika dia sampai tahu...."

"Dia tidak akan tahu apa-apa,"potong Adrian dengan nada meremehkan. "Dia terlalu hancur untuk berpikir jernih sekarang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 12

    Evelyn duduk di tepi kasur king zisenya, berusaha menormalkan detak jantungnya yang berlomba tak karuan. Napasnya ditarik dalam, dihembuskan perlahan. Ia mencoba berpikir positif, meyakinkan diri bahwa mungkin ada penjelasan logis untuk semua ini. Tapi suara naluri seorang istri, naluri yang selama lima tahun ia pendam, berteriak keras. Tak akan ada ketenangan sebelum semuanya terang benderang.Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, ia meraih ponselnya. Jari-jarinya menari di layar, mencari satu nama, Gio.Gio adalah tangan kanan mendiang Daddynya, sosok kepercayaan yang setia. Sejak kecil, Gio sudah berada di lingkungan keluarga Devereux. Gio tumbuh bersama bayang-bayang dunia yang sama. Usianya hanya terpaut beberapa bulan dari Evelyn, dan meski posisinya sebagai bawahan, kedekatan mereka lebih seperti saudara sepupu, namun saat Evelyn memutuskan untuk menikah kedekatan tak sama lagi. Namun saat di rumah sakit hanya Gio satu-satunya yang mengurus mayat Tuan Damien karena waktu i

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 11

    Mobil Rolls-Royce Phantom hitam milik Evelyn berhenti dengan sunyi di gerbang utama Mansion yang selama ini ia tinggalin bersama sang suami. Selama lima tahun terakhir, gerbang megah bergaya Eropa Klasik ini adalah simbol kehidupan barunya sebuah kehidupan yang ia pilih dengan meninggalkan segalanya. Kini, setelah berhari-hari di rumah masa kecilnya, gerbang itu terasa seperti pintu masuk menuju ruang hampa.Selama lima tahun itu, ia dengan setia menjalani peran sebagai istri yang patuh, ibu rumah tangga yang mengurus setiap detail rumah ini dengan cermat, menanti kepulangan suaminya dengan senyum yang selalu siap. Namun, sejak kematian sang Daddy, kenyamanan semua itu retak. Tak ada lagi telepon atau kunjungan dari mertuanya. Adrian, sang suami, menghilang bagai ditelan bumi, hanya menyisakan pesan singkat tentang urusan bisnis yang mendesak.Walaupun hati hancur dan kepala dipenuhi tanda tanya, Evelyn menarik napas dalam. Ia tetap harus pulang. Ini adalah rumahnya, setidaknya di ata

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    bab 10

    Setelah berjam-jam menyelami setiap folder, dokumen, dan foto digital di komputer sang daddy, Evelyn akhirnya menyandarkan tubuhnya yang lelah ke kursi kulit. Angin sepoi-sepoi masuk melalui jendela yang terbuka, membelai helai rambutnya yang mulai kusut dan menerpa wajahnya yang pucat pikirannya penuh data keuangan yang sehat, korespondensi bisnis yang rapi, dan ribuan kenangan yang tersimpan digital, semuanya menggambarkan Tuan Damien sebagai seorang pemimpin yang cermat dan seorang keluarga yang penuh cinta.Beberapa menit ia termenung, membiarkan angin dan kesunyian membersihkan kepalanya. Lalu, sebuah tekad perlahan mengkristal. Ia tak boleh terus terpuruk. Darah Devereux yang mengalir dalam nadinya, darah yang diajari sang Opa untuk tidak pernah menyerah, mulai bergejolak. Ia bangkit dari kursi, matanya yang masih merah namun sudah lebih tajam, mulai menyapu ruangan kerja itu dengan saksama.Ia berjalan perlahan, jari-jarinya menyentuh punggung buku-buku hukum tua, koleksi filsa

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 9

    Sementara itu, di Hospital Fortune Medika, suite VIP lantai paling atas…Suasana di dalam ruangan sama sekali tidak mencerminkan kesakitan atau keprihatinan. Justru, ada aroma sarapan kontinental mewah dan kopi spesialitas yang harum.Tuan Deren dan Nyonya Sinta duduk santai di sofa kulit suite mereka yang lebih mirip apartemen mewah. Sisa-sisa telur benedict dan croissant masih tergeletak di atas nampan perak. Wajah mereka segar bugar, tanpa sedikit pun tanda-tanda penyakit yang mereka keluhkan.“Dua hari terjebak di sini, sungguh membosankan,” gerutu Nyonya Sinta sambil memeriksa kuku barunya. “Aku sudah ingin kembali dan memastikan rencana kita berjalan lancar.”“Bersabarlah, Sayang,” jawab Tuan Deren, tanpa memalingkan pandangannya dari ponsel yang ia pegang. “Ini semua untuk pertunjukan. Kita harus konsisten. Jika anak sialan itu tiba-tiba muncul atau menelepon, setidaknya kita punya alasan yang terdokumentasi mengapa nggak datang melayat.”Tok.... tok.... tok... Tepat saat itu,

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 8

    Dua hari telah berlalu dalam kesunyian yang nyaris berbunyi. Dua hari di mana waktu merangkak pelan di Mansion Devereux, seolah ikut berduka atas kepergian tuannya. Bagi Evelyn, dua hari itu terasa seperti dua musim yang berganti dalam kesendirian yang menusuk.Tidak ada satu pun dari keluarga Montgomery yang datang. Tidak ada telepon yang menanyakan bagaimana kabarnya, atau setidaknya mengucapkan belasungkawa. Hanya angin yang setia masuk melalui jendela, membawa kabar sunyi dari luar.Alasannya selalu sama. Papa mertuanya Tuan Deren terkena serangan jantung, Mama mertuanya Nyonya Sinta gula darah rendah, sehingga mereka berdua harus beristirahat total. Dan Adrian Sang Suami , melalui pesan singkat yang dingin dan terburu-buru, hanya mengatakan ia sedang dalam perjalanan bisnis mendadak ke luar negeri. “Urusan sangat penting. Jaga dirimu.” Itu saja.Evelyn mencoba memahami. Mencoba menelan pil kepahitan itu dengan anggapan bahwa mungkin ini memang kebetulan yang malang. Tapi hati kec

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 7

    Kamar sunyi yang terasa padat, menyergapnya begitu kaki melangkah masuk. Ruang yang telah lama ia tinggalkan ini seketika menjadi galeri hidup yang memutar ulang film kehidupannya. Setiap sudut berbisik, setiap benda menyimpan cerita.Evelyn berdiri di tengah ruangan, membiarkan kenangan-kenangan itu mengguncang jiwanya. Dari kecil hingga dewasa, ia adalah pusat semesta keluarga Devereux. Sebagai anak tunggal, limpahan kasih sayang dari mendiang orang tuanya adalah udara yang ia hirup. Sang Daddy, Damien, tak pernah berhenti memanjakannya dengan segala kenyamanan dunia. Sang Mommy, Isabella, adalah pelabuhan hati yang selalu hangat.Namun, di balik kemewahan dan perlindungan itu, ada pendidikan lain yang lebih keras. Sang opa, Alistair dan oma Seraphina tidak membiarkannya tumbuh menjadi bunga rumah kaca. Sebagai cucu pewaris satu-satunya, mereka melatihnya dengan disiplin. Bukan hanya etiket dan akademik, tetapi cara membaca situasi, bela diri, mengendalikan emosi, dan memahami kekua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status