LOGINCEKKLEEKKK
Pintu ruang ICU terbuka dengan suara yang menusuk kesunyian. Evelyn langsung melesat berdiri, tubuhnya gemetar seperti daun yang diterpa angin malam. Di hadapannya, Dokter Richard berdiri dengan bahu yang lebih membungkuk dari biasanya, wajahnya diselimuti bayangan kelelahan dan sesuatu yang lebih gelap yaitu rasa bersalah yang tak terucap. "Bagaimana keadaan Daddy, Dok? Apakah dia baik-baik saja?" Evelyn menyerbu pertanyaannya dengan suara pecah, air mata yang sudah lama ditahan akhirnya meluber, membasahi pipinya yang pucat. Dokter Richard menatapnya, matanya berbinar iba. Di balik kacamata itu, ada pergulatan batin seorang dokter yang tahu kebenaran, tapi terbelenggu ancaman. "Sebelumnya maaf, Nona Evelyn. Kami sudah melakukan yang terbaik, nam—" Evelyn tak memberinya kesempatan. Tangannya mencengkeram bahu dokter Richard, kuku-kuku halusnya menekan jaket putih itu seolah ingin menggali kebenaran. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Suaranya tiba-tiba dingin, tegas, seperti pisau yang menuntut jawaban. Dokter Richard menarik napas dalam. "Tuan Damien tidak bisa lagi tertolong." Evelyn menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. "Tidak... tidak mungkin. Anda salah! Dia tadi pagi masih tersenyum padaku!" Tangannya meraih kerah jas dokter, mata yang membesar dipenuhi kegilaan dan penolakan. Dokter Richard mengeluarkan selembar kertas dari clipboard-nya. "Ini hasil pemeriksaan resmi. Ada indikasi keracunan arsenik dalam sistem" "BOHONG!" Evelyn menyambar kertas itu dan merobek-robeknya. Potongan kertas beterbangan seperti salju kematian. "Daddy tidak mungkin diracun! Ini rumah sakit, kalian seharusnya menyelamatkannya!" "Maaf nona Evelyn tapi ini kenyataannya" Balas Dokter Richard berusaha tenang. 𝘉𝘙𝘜𝘒𝘒𝘒 Seperti bumi runtuh di bawah kakinya. Dada Evelyn sesak, udara di paru-parunya tiba-tiba hilang. Lututnya bergetar, lalu menyerah tubuhnya luruh ke lantai dingin, seperti boneka yang talinya terputus. "DADDYYY!" Teriakannya memecah kesunyian lorong rumah sakit, bergema seperti suara hati yang tercabik. Ia memeluk lututnya sendiri, tubuhnya terguncang oleh isakan yang tak terbendung. Tuan Damien satu-satunya keluarga yang ia punya, orang yang selalu melindunginya kini pergi selamanya. Tak! Tak! Tak! Tak Di kejauhan, langkah cepat terdengar mendekat. Gio, tangan kanan setia Tuan Damien, berlari menghampiri, wajahnya pucat melihat Evelyn yang luruh di lantai. "Nona Muda, apa yang terjadi?!" Gio mengguncang bahu Evelyn, tapi tak ada respon. Evelyn hanya terdiam, matanya kosong, air mata terus mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Gio menoleh ke arah para pengawal yang berjaga biasanya wajah mereka keras, tak tergoyahkan. Tapi malam ini, mata mereka merah, rahang mereka mengeras menahan emosi. Dokter Richard, yang masih berdiri di ambang pintu, mengulurkan selembar kertas ke Gio. "Ini laporan penyebab kematian Tuan Damien," bisiknya, suaranya hampa, sebelum berbalik pergi seperti orang yang ingin segera lari dari dosanya sendiri. Gio membuka dokumen itu dengan tangan gemetar. Matanya menyapu baris-baris tulisan, lalu membeku. "Arsenik dan gagal ginjal?" Suaranya nyaris tidak keluar. Tapi Evelyn sudah tak mendengar apa-apa lagi. Dunia di sekitarnya gelap. Yang tersisa hanya bayangan Daddy, tersenyum lembut padanya untuk terakhir kali sebelum segalanya berubah menjadi abu. ~ Di kediaman keluarga 𝗠𝗢𝗡𝗧𝗚𝗢𝗠𝗘𝗥𝗬 cahaya lampu kristal memantulkan kilauan sinis di antara gelas-gelas anggur yang saling bersentuhan. Suara tawa riang mengisi ruang keluarga, seolah tak ada duka yang menyentuh dunia mereka. Adrian, suami Evelyn, bersandar di kursi kulitnya dengan sikap santai, jari-jarinya memainkan cincin kawin yang tiba-tiba terasa asing di tangannya. "Mama sudah dapat kabar dari rumah sakit," ujar Nyonya Sinta, seorang wanita paruh baya dengan riasan wajah yang tetap sempurna meski larut malam. Suaranya memotong obrolan ringan mereka, tapi tak ada kesedihan yang terpancar dari matanya. "Mertuamu sudah tiada." Adrian mengangkat gelas anggurnya, senyum tipis mengembang di bibirnya. "Aku malah senang," suaranya dingin seperti pisau yang baru saja diasah. "Tua bangka itu selalu menghalangi kesuksesanku. Selama ini" Tuan Deren, sang patriark keluarga, mengangguk puas sambil menyeruput anggurnya."Kita harus tetap bersikap berduka di depan umum,"bisiknya, matanya berbinar licik."Jangan sampai sikap kita membuat Evelyn curiga." CEKKLEEKKK Pintu terbuka, Ayyana, putri sulung keluarga Montgomery, masuk dengan langkah anggun. Wajahnya yang biasanya cerah kini sedikit pucat, tapi senyumnya tetap terkembang. "Ayyana," sapa Tuan Deren, matanya menyelidik. "Di mana suami dan anakmu?" "Mereka di rumah, Papa," jawab Ayyana sambil duduk di samping Nyonya Sinta. "Aku baru saja pulang dari rumah sakit. Evelyn masih di sana... sendirian." Nyonya Sinta menghela napas palsu, pura-pura tersentuh. "Kasihan dia. Kehilangan satu-satunya keluarga." Tapi senyum di bibirnya tak pernah pudar. Tuan Deren tiba-tiba tertawa terbahak-bahak saat ponselnya bergetar. "Lihat ini!" serunya, mengangkat ponselnya yang menampilkan laporan dokter Richard. "Laporan resmi kematian Tuan Damien. Gagal jantung akut."Matanya berbinar. "Hahahaha! Ini salahmu, Damien, karena kau lebih sukses dari pada aku!" Adrian bergabung dalam tawa itu, tapi Ayyana hanya diam, matanya menerawang ke arah jendela. Di luar, langit malam gelap gulita, seolah menelan semua kepalsuan yang terucap di ruangan itu. "Kita harus tetap berhati-hati," bisik Ayyana tiba-tiba, suaranya hampir tak terdengar. "Evelyn bukan wanita bodoh. Jika dia sampai tahu...." "Dia tidak akan tahu apa-apa,"potong Adrian dengan nada meremehkan. "Dia terlalu hancur untuk berpikir jernih sekarang."Malam ini, aula megah di kawasan tersembunyi kota berubah menjadi medan pertemuan para penguasa dunia bawah. Puluhan pemimpin klan mafia dari berbagai penjuru negeri bahkan dari luar negeri telah berkumpul. Mereka datang dengan pakaian terbaik, ditemani para pengawal setia, siap untuk malam tahunan yang selalu penuh intrik dan bahaya.Lampu kristal berkilauan di langit-langit tinggi, meja-meja panjang dipenuhi hidangan mewah dan minuman termahal. Tapi di balik kemewahan itu, udara dipenuhi ketegangan. Semua orang saling mengawasi, semua orang saling curiga.Di sudut aula, beberapa pemimpin klan peringkat bawah berkumpul sambil menyesap wiski."Selama bertahun-tahun aku belum pernah bertemu atau melihat langsung pemimpin Crimson Fang," ujar salah satu dari mereka, pria paruh baya dengan bekas luka di pelipis."Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia tidak akan hadir," sahut yang lain, pria bertubuh tambun dengan cincin emas di setiap jari. "Malam ini kita akan memanfaatkan peluang ini. Per
Pagi itu, kediaman Montgomery yang megah tampak tenang. Matahari bersinar cerah, menerangi taman luas yang dirawat dengan sempurna. Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai sebuah paket kecil di titip kepada salah satu satpam. Seorang kurir berpakaian biasa mengantarkannya, lalu pergi begitu saja tanpa meminta tanda tangan atau konfirmasi penerima, tidak ada nama pengirim, tidak ada alamat kembali. Hanya sebuah kotak berukuran sedang, dibungkus kertas hitam polos, dan di atasnya dihiasi setangkai bunga mawar hitam yang kering mawar hitam asli, bukan buatan.Nyonya Sinta menerima paket itu dari tangan seorang satpam. Ia hanya memandangi benda itu dengan perasaan aneh. Jantungnya berdebar tak karuan, meskipun ia belum tahu apa isinya."Bawa masuk," perintahnya pada satpam itu.Setelah satpam itu pergi, Nyonya Sinta duduk di sofa ruang keluarga, menatap paket itu dengan intens. Bunga mawar hitam bukan simbol yang baik. Tuan Deren yang sedang bermain ponsel di sebelahnya, menyadari p
Pagi itu, Adrian tiba di apartemen Clara dengan perasaan ringan. Langkahnya riang, senyumnya mengembang, tak sabar untuk segera terbang ke luar negeri dan bertemu dengan putra kecilnya yang sudah lama tak ia peluk."Ayo sayang, aku sudah sangat tidak sabar untuk bertemu Kevin!" gegas Adrian begitu Clara membuka pintu.Clara hanya mengangguk cepat, tapi wajahnya sedikit pucat. Semalam ia tak bisa tidur memikirkan masa depannya dengan Adrian. Tapi melihat kekasihnya begitu bersemangat, ia memaksakan senyum dan menarik kopernya keluar dari kamar."Sebentar, Sayang. Aku cuma mau pastikan semua dokumen Kevin sudah lengkap."beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Adrian menyetir dengan kecepatan stabil, sesekali menggenggam tangan Clara yang duduk di sampingnya. Di kursi belakang, dua koper besar tergeletak tanda bahwa mereka berencana untuk tinggal cukup lama di sana.Sesampainya di bandara, mereka langsung menuju terminal keberangkatan internasional. Di sana, Evan su
Matahari mulai merangkak naik di ufuk timur, menerangi Mansion yang megah dengan cahaya keemasan. Namun pagi itu, mansion yang biasanya hangat dan ramai terasa berbeda, sunyi, dingin. Seperti rumah kosong yang kehilangan jiwanya.Adrian melangkah masuk melalui pintu utama setelah semalaman beristirahat di kediaman orang tuanya. Biasanya, begitu pintu terbuka, akan ada Evelyn yang menyambutnya dengan senyuman manis, tangan terbuka, dan pertanyaan-pertanyaan penuh perhatian. Biasanya, ada kehangatan yang menyambutnya.Tapi pagi ini, hanya ada kehampaan.Matanya menyapu ruang tamu luas yang tertata rapi. Para maid berlalu lalang dengan pekerjaan mereka masing-masing, membersihkan debu, merapikan vas bunga, mengepel lantai marmer yang mengilap. Mereka menunduk hormat saat melihatnya, tapi tak ada satu pun yang menyapanya lebih dulu."Evelyn kemana?" gumam Adrian, keningnya berkerut. "Tumben banget."Ini pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan mereka, Evelyn tidak ada di rumah saat ia
Aletta Chellys Gracelya.Wanita imut dengan senyum manis yang selalu mampu membuat mood Evelyn membaik, bahkan di hari-hari terburuk sekalipun. Mereka bersahabat sejak kecil, tumbuh bersama bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Kedekatan mereka bukan sekadar pertemanan biasa mereka seperti anak kembar yang lahir dari ibu berbeda.Aletta adalah orang yang tahu segalanya tentang Evelyn. Rahasia, ketakutan, mimpi, bahkan kelemahan, sebaliknya, Evelyn juga tahu semua tentang Aletta termasuk masa lalu orang tuanya yang pernah menjadi anggota setia Crimson Fang sebelum Aletta lahir.Pertemuan mereka setelah enam tahun terpisah terasa seperti mimpi. Evelyn menatap sahabatnya yang masih sama seperti dulu imut, ceria, dengan mata yang selalu berbinar. Tapi kali ini, Evelyn melihat potensi lain di sana."Aku mau kau menjadi dokter bedah Crimson Fang," ujar Evelyn tiba-tiba, suaranya datar sambil menggoyangkan gelas wine di tangannya. Warna merah anggur itu berputar perlahan, memantu
"Apakah sudah lama menunggu?"Suara itu datang dari belakang. Dingin, tapi penuh kelembutan yang tak terbantahkan. Suara yang familiar, suara yang sudah enam tahun lamanya tak pernah lagi terdengar di telinga Evelyn. Suara yang selama ini hanya ada dalam mimpi dan kenangan masa kecil.Evelyn menoleh, dan dunia seolah berhenti berputar.Di belakangnya berdiri seorang wanita cantik, dengan rambut hitam legam terurai panjang hingga sebahu, wajahnya masih sama seperti dulu hanya lebih dewasa, lebih tegas. Matanya yang bulat berbinar menatap Evelyn dengan intensitas yang tak terlukiskan. Langkahnya tegas mendekati Evelyn yang masih berdiri mematung di samping meja.Evelyn mundur selangkah, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "A-Aletta?" Suaranya nyaris tak terdengar, hanya bisikan parau yang keluar dari tenggorokannya yang tiba-tiba tercekat.Matanya membelalak sempurna. Tangannya yang sedari tadi memegang ponsel kini gemetar hebat, sampai-sampai ponsel itu nyaris jatuh.Aletta terseny







