LOGIN๐๐ข๐ฆ๐ฃ๐๐ง๐๐ ๐๐ข๐ฅ๐ง๐จ๐ก๐ ๐ ๐๐๐๐๐
Kesadaran kembali menyusup pelan-pelan, menyibak kabut hitam yang menyelimuti pikiran Evelyn. Matanya terbuka, menatap kosong langit-langit ruangan yang berwarna putih steril. Bau disinfektan menusuk hidungnya, mengingatkannya pada kenyataan pahit yang baru saja terjadi. Ruangan ini sunyi, hanya dihiasi bunyi monoton mesin medis yang masih terhubung lengannya. Daddy-nya sudah tidak ada. Dan kini, ia sendirian. Keluarga satu-satunya yang ia punya kini telah pergi meninggalkan Evelyn sendirian untuk selamanya. Cekleek Suara pintu yang terbuka menyentak lamunannya. Seorang pemuda tampan dengan setelan jas hitam rapi memasuki ruangan, wajahnya dipenuhi concern yang tulus. โBagaimana perasaan Anda, Nona Muda?โ tanya Gio, suaranya lembut namun tegas. โPanggil Lo, Gue aja,โ sahut Evelyn dengan suara serak. Ia selalu merasa tidak nyaman dengan formalitas berlebihan yang ditunjukkan Gio, sang tangan kanan Daddy-nya. โApakah tidak masalah, Nona Muda?โ tanya Gio sekali lagi, nada ragu masih terasa. โHmmm,โ Evelyn hanya berdeham, mengangguk pelan. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi ia tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Dengan sigap, Gio membantunya turun dari brankar dan mendudukkannya dengan hati-hati di atas kursi roda yang sudah disiapkan. Malam ini, jenazah Tuan Damien akan dipulangkan ke Mansion ๐๐ฒ๐๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐๐ . Sebuah tugas yang terasa begitu berat bagi mereka semua. Sepanjang perjalanan, Evelyn hanya diam. Pandangannya tertuju pada kelamnya jalanan di luar jendela mobil. Jam telah menunjukkan pukul 03.00, membuat suasana terasa semakin sepi dan mencekam. Di depan, Gio dan sang supir duduk dalam keheningan, sesekali menghela napas berat. Duka yang mereka rasakan sama dalamnya. Tuan Damien bukan hanya pemimpin/bos, tapi juga seorang Daddy yang telah memperlakukan mereka dengan baik dan penuh hormat. Bagi Gio, Tuan Damien adalah Ayah yang tidak pernah ia miliki, dan Evelyn adalah adik perempuan yang ia janji untuk lindungi. Mobil melaju pelan, membawa serta duka dan janji yang harus ditepati. Dan dalam diamnya, Evelyn bertekad untuk menemukan jawaban di balik semua ini. ~ ๐๐ฆ๐ฅ๐ช๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ท๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ถ๐น Waktu terus bergulir bagai roda yang tak berhenti berputar, namun hari ini, waktu seolah membeku dalam duka yang paling dalam. Kediaman megah keluarga Devereux, yang biasanya dipenuhi tawa dan kemewahan, kini diselimuti kabut kesedihan yang pekat. Setiap sudut ruangan dipadati oleh orang-orang dari berbagai kalangan. Ada anggota setia Tuan Damien yang masih berseragam hitam khas mafia ๐๐ฟ๐ถ๐บ๐๐ผ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ด, berdiri kaku dengan mata berkaca-kaca. Ada pula para pengusaha ternama, beberapa dengan wajah duka tulus, sementara yang lain menyembunyikan senyum kepuasan di balik sapu tangan, senang karena saingan terberat mereka telah tiada. Di tengah semua itu, Evelyn terbaring lemah di lantai marmer yang dingin, tepat di depan peti mati megah yang terbuat dari kayu mahoni berukir halus. Tubuhnya menggigil, tangan mungilnya mencengkeram ujung peti hingga buku-buku jarinya memutih. "Daddy..." ratapnya dalam isakan yang menyayat, seolah kekuatan dunia telah meninggalkan evelyn sepenuhnya. Wangi bunga lili dan mawar Merah yang memenuhi ruangan terasa menusuk, mengingatkannya pada kenyataan pahit yang harus ia hadapi. Gio, setia seperti bayangan, berdiri di sampingnya. Tatapannya waspada, mengawasi setiap orang yang mendekat, sementara hatinya hancur menyaksikan Evelyn yang remuk redam. Seragam hitamnya yang rapih tak mampu menyembunyikan kesedihan yang juga ia rasakan. Tuan Damien bukan hanya pemimpin, tapi juga ayah yang tak pernah ia miliki. Ketiadaan Adrian dan keluarganya terasa begitu menyolok. Dengan alasan yang dibuat-buat, Tuan Deren terkena serangan jantung, Nyonya Sinta gula darah rendah, dan Adrian harus menghadiri rapat yang tidak bisa ditunda, mereka telah pergi meninggalkan Evelyn sendirian di hari tergelapnya. Rayuan manis Adrian di pagi hari telah membuat Evelyn luluh, mengizinkan mereka pergi, tanpa menyadari bahwa itu semua adalah bagian dari kebohongan besar yang telah direncanakan. "Daddy," Evelyn kembali berbisik, pipinya menempel di permukaan peti yang dingin. "Hari ini Evelyn merasa tidak ada lagi yang menyayangiku. Bahkan suami dan keluarga yang selama ini selalu ada di sampingku... mereka semua pergi. Mengapa mereka meninggalkanku saat aku paling membutuhkan mereka?" "Evelyn," panggil Gio lembut, membungkuk di sampingnya. Evelyn hanya meliriknya sebentar sebelum kembali memusatkan perhatian pada peti sang Daddy, seolah tak ingin melewatkan detik-detik terakhir bersamanya. "Evelyn," Gio mencoba lagi, suaranya lebih tegas namun tetap penuh empati. "Mereka semua ingin memberikan penghormatan terakhir untuk Tuan. Anggota Crimson Fang telah menunggu." Seketika, udara berubah. Para anggota mafia Crimson Fang, organisasi bawah tanah terkuat yang dipimpin Tuan Damien dan seharusnya diwariskan kepada Evelyn di usia 20 tahun namun karena Evelyn telah dibutakan oleh cinta dan lebih memilih Adrian dibandingkan kejayaan yang di miliki keluarganya, itulah sebabnya tuan Damien masih mempertahankan mafia tersebut sampai Evelyn bisa mengambil alih semuanya. Aggota Crimson Fang mulai bergerak maju secara serentak. Ratusan pria dan wanita berseragam hitam dengan lencana rubah merah di dada mereka membentuk barisan rapi. Mereka menundukkan kepala dalam-dalam, bukan hanya sebagai tanda hormat, tetapi juga sebagai sumpah setia yang bisu. Setiap pandangan yang mereka arahkan pada Evelyn penuh makna, sebuah pengakuan diam-diam bahwa dialah penerus sah mereka. Namun bagi Evelyn, pemandangan itu justru melukai hatinya lebih dalam. Kata-kata "penghormatan terakhir" dari Gio terasa seperti pisau yang menikam jantungnya. Ini adalah pengakuan bahwa Daddy-nya benar-benar telah pergi. Bahwa ia kini benar-benar sendirian, tanpa perlindungan sang raja dunia bawah yang selama ini menjadi naungannya. Dari balik kerumunan, tatapan tajam Gio menangkap sorot mata beberapa pengusaha yang berbisik-bisik dengan senyum puas. Tangannya mengepal. Janjinya pada Tuan Damien untuk melindungi Evelyn membara dalam dadanya, mengobarkan tekad yang semakin kuat. Sementara Evelyn, di antara lautan duka dan pengkhianatan, mulai merasakan sesuatu yang lain menyala dalam hancurnya hati, sebuah tekad yang pelan namun pasti. Daddy mungkin telah pergi, tetapi warisannya, dan dendamnya, masih hidup. Darah seorang pemimpin yang selama ini tertidur mulai berdenyut dalam nadinya, membangkitkan kekuatan yang ia sendiri tak sadari masih dimilikinya. Anggota Crimson Fang terus berbaris memberikan penghormatan terakhir, masing-masing dengan pandangan penuh makna kepada Evelyn. Mereka tahu, putri Tuan Damien ini adalah penerus sah mereka. Dan mungkin, inilah saatnya bagi Evelyn untuk kembali ke dunia yang pernah ditinggalkannya dunia yang penuh dengan rahasia, kekuatan, dan bahaya yang mengintai.Evelyn duduk di tepi kasur king zisenya, berusaha menormalkan detak jantungnya yang berlomba tak karuan. Napasnya ditarik dalam, dihembuskan perlahan. Ia mencoba berpikir positif, meyakinkan diri bahwa mungkin ada penjelasan logis untuk semua ini. Tapi suara naluri seorang istri, naluri yang selama lima tahun ia pendam, berteriak keras. Tak akan ada ketenangan sebelum semuanya terang benderang.Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, ia meraih ponselnya. Jari-jarinya menari di layar, mencari satu nama, Gio.Gio adalah tangan kanan mendiang Daddynya, sosok kepercayaan yang setia. Sejak kecil, Gio sudah berada di lingkungan keluarga Devereux. Gio tumbuh bersama bayang-bayang dunia yang sama. Usianya hanya terpaut beberapa bulan dari Evelyn, dan meski posisinya sebagai bawahan, kedekatan mereka lebih seperti saudara sepupu, namun saat Evelyn memutuskan untuk menikah kedekatan tak sama lagi. Namun saat di rumah sakit hanya Gio satu-satunya yang mengurus mayat Tuan Damien karena waktu i
Mobil Rolls-Royce Phantom hitam milik Evelyn berhenti dengan sunyi di gerbang utama Mansion yang selama ini ia tinggalin bersama sang suami. Selama lima tahun terakhir, gerbang megah bergaya Eropa Klasik ini adalah simbol kehidupan barunya sebuah kehidupan yang ia pilih dengan meninggalkan segalanya. Kini, setelah berhari-hari di rumah masa kecilnya, gerbang itu terasa seperti pintu masuk menuju ruang hampa.Selama lima tahun itu, ia dengan setia menjalani peran sebagai istri yang patuh, ibu rumah tangga yang mengurus setiap detail rumah ini dengan cermat, menanti kepulangan suaminya dengan senyum yang selalu siap. Namun, sejak kematian sang Daddy, kenyamanan semua itu retak. Tak ada lagi telepon atau kunjungan dari mertuanya. Adrian, sang suami, menghilang bagai ditelan bumi, hanya menyisakan pesan singkat tentang urusan bisnis yang mendesak.Walaupun hati hancur dan kepala dipenuhi tanda tanya, Evelyn menarik napas dalam. Ia tetap harus pulang. Ini adalah rumahnya, setidaknya di ata
Setelah berjam-jam menyelami setiap folder, dokumen, dan foto digital di komputer sang daddy, Evelyn akhirnya menyandarkan tubuhnya yang lelah ke kursi kulit. Angin sepoi-sepoi masuk melalui jendela yang terbuka, membelai helai rambutnya yang mulai kusut dan menerpa wajahnya yang pucat pikirannya penuh data keuangan yang sehat, korespondensi bisnis yang rapi, dan ribuan kenangan yang tersimpan digital, semuanya menggambarkan Tuan Damien sebagai seorang pemimpin yang cermat dan seorang keluarga yang penuh cinta.Beberapa menit ia termenung, membiarkan angin dan kesunyian membersihkan kepalanya. Lalu, sebuah tekad perlahan mengkristal. Ia tak boleh terus terpuruk. Darah Devereux yang mengalir dalam nadinya, darah yang diajari sang Opa untuk tidak pernah menyerah, mulai bergejolak. Ia bangkit dari kursi, matanya yang masih merah namun sudah lebih tajam, mulai menyapu ruangan kerja itu dengan saksama.Ia berjalan perlahan, jari-jarinya menyentuh punggung buku-buku hukum tua, koleksi filsa
Sementara itu, di Hospital Fortune Medika, suite VIP lantai paling atasโฆSuasana di dalam ruangan sama sekali tidak mencerminkan kesakitan atau keprihatinan. Justru, ada aroma sarapan kontinental mewah dan kopi spesialitas yang harum.Tuan Deren dan Nyonya Sinta duduk santai di sofa kulit suite mereka yang lebih mirip apartemen mewah. Sisa-sisa telur benedict dan croissant masih tergeletak di atas nampan perak. Wajah mereka segar bugar, tanpa sedikit pun tanda-tanda penyakit yang mereka keluhkan.โDua hari terjebak di sini, sungguh membosankan,โ gerutu Nyonya Sinta sambil memeriksa kuku barunya. โAku sudah ingin kembali dan memastikan rencana kita berjalan lancar.โโBersabarlah, Sayang,โ jawab Tuan Deren, tanpa memalingkan pandangannya dari ponsel yang ia pegang. โIni semua untuk pertunjukan. Kita harus konsisten. Jika anak sialan itu tiba-tiba muncul atau menelepon, setidaknya kita punya alasan yang terdokumentasi mengapa nggak datang melayat.โTok.... tok.... tok... Tepat saat itu,
Dua hari telah berlalu dalam kesunyian yang nyaris berbunyi. Dua hari di mana waktu merangkak pelan di Mansion Devereux, seolah ikut berduka atas kepergian tuannya. Bagi Evelyn, dua hari itu terasa seperti dua musim yang berganti dalam kesendirian yang menusuk.Tidak ada satu pun dari keluarga Montgomery yang datang. Tidak ada telepon yang menanyakan bagaimana kabarnya, atau setidaknya mengucapkan belasungkawa. Hanya angin yang setia masuk melalui jendela, membawa kabar sunyi dari luar.Alasannya selalu sama. Papa mertuanya Tuan Deren terkena serangan jantung, Mama mertuanya Nyonya Sinta gula darah rendah, sehingga mereka berdua harus beristirahat total. Dan Adrian Sang Suami , melalui pesan singkat yang dingin dan terburu-buru, hanya mengatakan ia sedang dalam perjalanan bisnis mendadak ke luar negeri. โUrusan sangat penting. Jaga dirimu.โ Itu saja.Evelyn mencoba memahami. Mencoba menelan pil kepahitan itu dengan anggapan bahwa mungkin ini memang kebetulan yang malang. Tapi hati kec
Kamar sunyi yang terasa padat, menyergapnya begitu kaki melangkah masuk. Ruang yang telah lama ia tinggalkan ini seketika menjadi galeri hidup yang memutar ulang film kehidupannya. Setiap sudut berbisik, setiap benda menyimpan cerita.Evelyn berdiri di tengah ruangan, membiarkan kenangan-kenangan itu mengguncang jiwanya. Dari kecil hingga dewasa, ia adalah pusat semesta keluarga Devereux. Sebagai anak tunggal, limpahan kasih sayang dari mendiang orang tuanya adalah udara yang ia hirup. Sang Daddy, Damien, tak pernah berhenti memanjakannya dengan segala kenyamanan dunia. Sang Mommy, Isabella, adalah pelabuhan hati yang selalu hangat.Namun, di balik kemewahan dan perlindungan itu, ada pendidikan lain yang lebih keras. Sang opa, Alistair dan oma Seraphina tidak membiarkannya tumbuh menjadi bunga rumah kaca. Sebagai cucu pewaris satu-satunya, mereka melatihnya dengan disiplin. Bukan hanya etiket dan akademik, tetapi cara membaca situasi, bela diri, mengendalikan emosi, dan memahami kekua







