MasukMalam telah menyelimuti Kediaman Devereux dengan perasaan yang terasa begitu berat. Evelyn duduk menyendiri di tepi jendela kamar mendiang kedua orang tuanya yang terbuka lebar, membiarkan angin malam yang berdesir pelan menyapu kulitnya yang dingin. Rintik hujan mulai turun, menari-nari di atas kaca jendela, seiring dengan derai air mata yang tak henti mengalir di pipinya yang pucat. Langit gelap dihiasi oleh kilatan petir yang sesekali menyambar, seolah alam turut meratapi kepergian sang pemimpin dunia bawah yang telah pergi untuk selamanya.
Gio telah menawarkan untuk menemaninya, namun Evelyn menolak. Ia butuh kesendirian malam ini. Butuh waktu untuk meluluhlantakkan segala kesedihan yang menggunung dalam dadanya. "Daddy, Mommy! Evelyn hancur..." ratapnya lemah, suaranya parau oleh tangisan yang tak putus sejak pagi. "Di hari yang paling kalem ini, kenapa nggak ada satupun dari mereka yang menemani Evelyn? Dad? Mom?" Pikirannya melayang kepada Adrian, suaminya. Pagi tadi, sebelum ia pergi dengan alasan rapat yang mendesak... 𝗙𝗹𝗮𝘀𝗵𝗯𝗮𝗰𝗸 𝗼𝗻 𝘈𝘥𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘌𝘷𝘦𝘭𝘺𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘭𝘦𝘴𝘶 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳. 𝘐𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘶𝘵𝘶𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘌𝘷𝘦𝘭𝘺𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯. "𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨," 𝘣𝘪𝘴𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵, 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘪𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘬𝘢. "𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳. 𝘈𝘥𝘢 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘷𝘦𝘴𝘵𝘰𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘚𝘪𝘯𝘨𝘢𝘱𝘶𝘳𝘢. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢." 𝘌𝘷𝘦𝘭𝘺𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱. "𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘈𝘥𝘳𝘪𝘢𝘯... 𝘋𝘢𝘥𝘥𝘺 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪." 𝘈𝘥𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘴 𝘱𝘪𝘱𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘵𝘪𝘱𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘭𝘦𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘌𝘷𝘦𝘭𝘺𝘯. "𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘋𝘢𝘥𝘥𝘺. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘪𝘵𝘢. 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘭, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘢𝘳." 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘥𝘶𝘬, 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘶𝘮 𝘬𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘌𝘷𝘦𝘭𝘺𝘯. "𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘢𝘯𝘪𝘮𝘶. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘶𝘢𝘵, 𝘬𝘢𝘯? 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘶?" 𝘌𝘷𝘦𝘭𝘺𝘯, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘳𝘦𝘮𝘶𝘬, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘬 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘢-𝘭𝘢𝘮𝘢, 𝘺𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪." "𝘗𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘶𝘢 𝘫𝘢𝘮, 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘯𝘨𝘦𝘯," 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘈𝘥𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘮𝘢𝘯𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳. 𝗙𝗹𝗮𝘀𝗵𝗯𝗮𝗰𝗸 𝗼𝗳 Evelyn memeluk lututnya yang ditekuk, menatap hujan yang semakin deras. Adrian belum juga kembali. Bahkan tak ada satu pun telepon atau pesan darinya. keluarga suaminya juga sejak tadi nggak ada yang datang, Evelyn hanya dikabarkan jika Tuan Deren mengalami serangan jantung sedangkan Nyonya Sinta mengalami gula rendah. Ayyana adik iparnya yang serasa saudara selama ini juga tak hadir dihari kalem Evelyn. "Mungkin dia masih sibuk," bisik Evelyn mencoba menghibur diri sendiri, meski hati kecilnya mulai meragukan segala sesuatu. "Pasti sekarang dia masih sibuk dengan kerjaan kantor. Adrian tak mungkin meninggalkanku dengan sengaja." Tapi di sudut hatinya yang paling dalam, sebuah pertanyaan mulai bersemi sebuah keraguan yang pelan namun pasti, seperti tetes hujan yang mulai mengikis batu karang. ~ 𝗠𝗮𝗿𝗸𝗮𝘀 𝗖𝗿𝗶𝗺𝘀𝗼𝗻 𝗙𝗮𝗻𝗴 Pusat Kegelapan yang Tak Terjamah, Gio melangkah mantap menuju markas Crimson Fang yang tersembunyi di balik facade sebuah perusahaan logistik legal di pinggiran hutan. Gedung beton bertingkat lima itu tampak biasa dari luar. Namun, di bawah tanahnya, tersembunyi sebuah kompleks yang membuat siapa pun yang melihatnya akan tercekat. Pintu baja setebal setengah meter terbuka dengan desis halus, mengungkapkan koridor yang diterangi lampu neon biru. Suara mesin pendingin yang berdengung rendah menyambut kedatangannya. Udara di dalam terasa dingin dan steril, beraroma logam dan minyak pelumas. "Laporan kondisi terkini, Ketua,"seorang anggota Crimson Fang dengan tattoo circuitry di lehernya, menyodorkan tablet ke tangan Gio. "Stok senjata ringan menipis. Permintaan dari jaringan Eropa meningkat 70% sejak bulan lalu." Gio mengangguk, matanya menyapu data yang berderak di layar. "Prioritaskan pengiriman untuk klien tier satu. Sisanya, tunggu restock minggu depan." Markas ini adalah sebuah mahakarya rekayasa yang membuat Pentagon iri. Tiga level bawah tanah yang saling terhubung dengan elevator biometric. Level pertama adalah pusat komando, dipenuhi puluhan monitor yang menampilkan data real-time dari seluruh penjuru dunia. Di sini, setiap transaksi, setiap pergerakan rival, bahkan setiap desas-desus di dunia bawah dipantau tanpa henti. Level kedua adalah gudang persenjataan. Rak-rak setinggi langit-langit berisi senjata dari yang paling konvensional hingga prototype yang belum pernah dilihat publik. Senjata-senjata itu berjejer rapi bagai perpustakaan kematian yang terorganisir dengan sempurna. Level ketiga, yang paling dalam dan paling rahasia, adalah ruang riset dan pengembangan. Di sinilah Crimson Fang mengembangkan teknologi mereka sendiri senjata pintar, sistem cyber warfare, dan alat-alat yang membuat mereka selalu selangkah lebih depan. "Ketua," lapor seorang anggota lain, "kita menerima ratusan pesanan dari Amerika malam ini. Mereka minta pengiriman prioritas." Gio mengerutkan keningnya. "Siapkan pesanan tersebut. Jangan sampai mengecewakan pelanggan." "Baik, dilaksanakan, Ketua!" Dalam hatinya, Gio bertekad untuk membalas budi keluarga Devereux berlipat ganda. Janjinya pada Tuan Damien bergema dalam dirinya ia akan melindungi Evelyn bahkan jika nyawa adalah taruhannya. "Tuan Besar, Nyonya Besar, tenang saja," bisiknya dalam hati saat menatap foto keluarga Devereux yang terpajang di dinding pusat komando. "Aku janji akan membujuk Nona Muda untuk mengambil alih semua yang menjadi haknya. Crimson Fang harus tetap menjadi yang terkuat." Ironisnya, meski Crimson Fang ditakuti di seluruh dunia bawah, identitas pemimpin sebenarnya tetap menjadi misteri. Dalam setiap pertemuan besar para mafia, Tuan Damien tak pernah hadir secara fisik. Selalu Gio yang mewakili, duduk di kursi yang seharusnya untuk Tuan Damien, membuat banyak spekulasi bermunculan. Ada yang menduga pemimpin sebenarnya adalah Gio sendiri, ada yang bilang itu adalah sosok yang lebih tua dan lebih berbahaya yang tak pernah ingin terlihat. Tapi malam ini, dengan tekad yang membara, Gio tahu bahwa takdir organisasi ini mungkin akan segera berubah dan semua mata sekarang tertuju pada Evelyn, wanita yang bahkan tidak menyadari kekuatan yang telah diwariskan padanya.Tiga hari telah berlalu sejak pertemuan di cafe itu. Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun bagi Clara, dan tiga hari yang terasa seperti tiga detik bagi Evelyn. Waktu berjalan dengan kecepatan yang berbeda bagi mereka yang menang dan bagi mereka yang kalah.Di ruang pribadinya di markas Crimson Fang, Evelyn duduk di balik meja kaca besar yang dulu menjadi tempat sang daddy memimpin markas. Dokumen-dokumen hukum bertebaran di atas meja surat gugatan cerai, daftar aset yang akan dikembalikan, laporan investigasi tentang penggelapan dana perusahaan oleh Adrian. Semuanya telah disiapkan dengan rapi oleh tim hukum terbaik yang bisa dibayar oleh uang Devereux.Evelyn menatap dokumen-dokumen itu dengan tatapan kosong. Ia telah membaca semuanya berkali-kali, menghafal setiap detail, setiap angka, setiap pelanggaran yang dilakukan Adrian selama lima tahun terakhir. Tapi tetap saja, ada bagian dari dirinya yang masih tidak percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi.Gio masuk dengan langkah
Tangan Evelyn melayang dengan kecepatan yang tidak terduga. Tamparan itu keras, jelas, dan menggema di seluruh cafe. Kepala Clara tersentak ke samping, rambutnya yang tertata rapi kini berantakan. Beberapa pengunjung menarik napas tajam, sedangkan para pelayan membeku di tempat.Clara menatap Evelyn dengan mata membelalak, tangannya meraba pipi yang memerah dan perih."Kau... kau menamparku?" bisiknya, suara bergetar antara terkejut dan marah.Evelyn menatapnya dengan tatapan yang membuat Clara ingin menghilang. "Kau pikir kau bisa berbicara seenaknya padaku?"Suara Evelyn rendah, tapi setiap kata terasa seperti pukulan. "Kau pikir karena kau berhasil merebut suamiku, kau lebih baik dariku?"Ia melangkah maju, dan Clara mundur selangkah. "Kau hanya wanita murahan yang tidak tahu diri. Kau pikir Adrian mencintaimu? Dia hanya membutuhkanmu untuk memuaskan nafsunya, kau hanya pelampiasan, Clara. Hanya itu."Clara mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarah. "Kau tidak tahu apa-apa! Ad
Pagi hari di markas Crimson Fang terasa berbeda. Udara yang biasanya dingin dan tegang, kini terasa lebih ringan. Matahari menyelinap melalui celah-celah jendela, menciptakan pola-pola cahaya di lantai marmer ruang Evelyn. Evelyn duduk di kursinya, dikelilingi oleh laporan kemenangan yang menumpuk di atas meja. Di depannya, segelas kopi hitam masih mengepul, menemani kesunyian yang nyaman setelah malam yang panjang.Gio masuk dengan langkah cepat, membawa tablet yang penuh dengan notifikasi. Wajahnya cerah, berbeda dengan ekspresi tegang semalam."Nona, kabar baik dari semua front," ucapnya, suara penuh semangat. "Gambino sudah mengirim utusan untuk bernegosiasi. Volkov juga, mereka mengakui kekalahan mereka dan siap untuk membayar kompensasi. Dan Die Schatten... mereka setuju untuk menjadi sekutu tetap, sesuai dengan permintaan Nona."Evelyn mengangkat alis, sedikit terkejut tapi tetap tenang. "Cepat sekali mereka menyerah."Gio tersenyum. "Setelah melihat apa yang terjadi pada pasuk
Moskow....Satu Jam KemudianDua gudang logistik Crimson Fang di Moskow kini tampak seperti benteng mati. Tidak ada aktivitas, tidak ada penjaga, hanya bangunan kosong yang berdiri sunyi.Klan Volkov bergerak masuk dengan keyakinan penuh. Mereka berjumlah lebih dari lima puluh orang, bersenjata lengkap, dan dipimpin oleh seorang pria bertubuh raksasa bernama Igor operasional kedua klan Volkov."Masuk!" perintah Igor, suaranya menggema di gudang kosong. "Ambil semua amunisi dan perlengkapan! Dalam satu jam, kita sudah kaya!"Pasukan Volkov menyebar dengan cepat. Tapi beberapa detik kemudian...KLIK!Semua pintu gudang tertutup otomatis, baut-baut raksasa mengunci setiap keluar masuk."Apa ini?" teriak Igor, matanya melotot.Dari atas, terdengar suara yang membuat bulu kuduknya berdiri."Selamat datang, Tuan Igor."Semua mata mendongak di atas gudang, sejumlah pasukan Crimson Fang berdiri dengan senjata di tangan, menunjuk ke bawah. Di samping mereka, beberapa tabung gas air mata sudah s
Malam itu, langit di atas markas Crimson Fang terlihat berbeda. Awan hitam bergulung-gulung, menyembunyikan bulan dan bintang-bintang. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah dan ketegangan yang tak terlihat. Di dalam ruang komando, Evelyn duduk di kursi kepemimpinannya dengan tenang, dikelilingi oleh puluhan layar yang memantulkan data intelijen dari seluruh penjuru dunia.Gio berdiri di sampingnya, membawa tablet yang terus berdering dengan notifikasi. Aletta berada di sisi lain, tangannya bergerak cepat di atas keyboard, mencoba menstabilkan jaringan komunikasi yang mulai terganggu."Nona," ucap Gio, suaranya tegang, "kami menerima laporan dari jaringan Eropa. Ketiga klan Gambino, Volkov, dan Die Schatten bergerak bersamaan. Mereka sudah mengirim pasukan ke berbagai posisi kita di Italia, Rusia, dan Jerman."Evelyn tidak bergerak, matanya tetap terpaku pada layar utama yang menampilkan peta Eropa dengan titik-titik merah yang bergerak cepat."Apa yang mereka lakukan?" tany
Pesawat mendarat mulus di bandara internasional Paris. Adrian dan Clara berjalan bergandengan tangan melewati terminal, meninggalkan kekacauan di bandara beberapa jam lalu. Wajah Adrian masih pucat, tapi ia berusaha tersenyum, berusaha melupakan amplop hitam dan foto-foto itu. Clara menggenggam erat tangannya, menyandarkan kepala di bahunya."Kita sudah sampai, Sayang," ucap Clara lembut. "Kevin pasti sudah menunggu."Adrian mengangguk, tapi pikirannya masih melayang pada pesan misterius itu. Siapa pengirimnya? Apa tujuannya? Dan yang paling mengganggu apakah Evelyn tahu?Mobil sport mewah sudah menunggu di luar. Mereka naik, dan dalam waktu sekitar empat puluh menit, mereka tiba di sebuah apartemen mewah di kawasan pinggiran Paris. Apartemen yang disewa Adrian untuk keluarga keduanya, tempat Kevin dan orang tua Clara tinggal.Begitu pintu terbuka, seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun berlari menyambut. "Papa! Mama!"Adrian tersenyum lebar, melepas semua kekhawatirannya u
Matahari mulai merangkak naik di ufuk timur, menerangi Mansion yang megah dengan cahaya keemasan. Namun pagi itu, mansion yang biasanya hangat dan ramai terasa berbeda, sunyi, dingin. Seperti rumah kosong yang kehilangan jiwanya.Adrian melangkah masuk melalui pintu utama setelah semalaman beristir
Malam telah larut....Mansion yang megah itu kini sunyi, hanya ditemani oleh suara jangkrik dari taman belakang dan desiran angin yang menerbangkan dedaunan. Di kamar utama, Evelyn merebahkan tubuhnya di atas kasur baru, tempat tidur king-size dengan ranjang berukir elegan dan seprai sutra hitam yan
Matahari siang menyinari ruang kerja Adrian melalui jendela kaca besar, tapi tak mampu menghangatkan suasana hatinya yang sedang kacau. Ia duduk di kursi direkturnya, jari-jari memijit pelipis yang berdenyut tak karuan. Di depannya, bertumpuk dokumen setinggi gunung kecil kontrak kerja sama, lapora
Jam dinding di apartemen mewah itu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Adrian terbangun dari tidurnya, matanya masih berat namun tangannya secara refleks meraba kasur di sampingnya tapi kosong. "Clara?" panggilnya lirih, suara masih serak karena ngantuk.Ia duduk di tepi tempat tidur, mengucek mata







