Share

Bab 4

Author: Uti
last update publish date: 2025-09-06 15:30:52

Malam telah menyelimuti Kediaman Devereux dengan perasaan yang terasa begitu berat. Evelyn duduk menyendiri di tepi jendela kamar mendiang kedua orang tuanya yang terbuka lebar, membiarkan angin malam yang berdesir pelan menyapu kulitnya yang dingin. Rintik hujan mulai turun, menari-nari di atas kaca jendela, seiring dengan derai air mata yang tak henti mengalir di pipinya yang pucat. Langit gelap dihiasi oleh kilatan petir yang sesekali menyambar, seolah alam turut meratapi kepergian sang pemimpin dunia bawah yang telah pergi untuk selamanya.

Gio telah menawarkan untuk menemaninya, namun Evelyn menolak. Ia butuh kesendirian malam ini. Butuh waktu untuk meluluhlantakkan segala kesedihan yang menggunung dalam dadanya.

"Daddy, Mommy! Evelyn hancur..." ratapnya lemah, suaranya parau oleh tangisan yang tak putus sejak pagi. "Di hari yang paling kalem ini, kenapa nggak ada satupun dari mereka yang menemani Evelyn? Dad? Mom?"

Pikirannya melayang kepada Adrian, suaminya. Pagi tadi, sebelum ia pergi dengan alasan rapat yang mendesak...

𝗙𝗹𝗮𝘀𝗵𝗯𝗮𝗰𝗸 𝗼𝗻

𝘈𝘥𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘌𝘷𝘦𝘭𝘺𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘭𝘦𝘴𝘶 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳. 𝘐𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘶𝘵𝘶𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘌𝘷𝘦𝘭𝘺𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯.

"𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨," 𝘣𝘪𝘴𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵, 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘪𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘬𝘢. "𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳. 𝘈𝘥𝘢 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘷𝘦𝘴𝘵𝘰𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘚𝘪𝘯𝘨𝘢𝘱𝘶𝘳𝘢. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢."

𝘌𝘷𝘦𝘭𝘺𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱. "𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘈𝘥𝘳𝘪𝘢𝘯... 𝘋𝘢𝘥𝘥𝘺 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪."

𝘈𝘥𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘴 𝘱𝘪𝘱𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘵𝘪𝘱𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘭𝘦𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘌𝘷𝘦𝘭𝘺𝘯. "𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘋𝘢𝘥𝘥𝘺. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘪𝘵𝘢. 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘭, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘢𝘳."

𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘥𝘶𝘬, 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘶𝘮 𝘬𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘌𝘷𝘦𝘭𝘺𝘯. "𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘢𝘯𝘪𝘮𝘶. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘶𝘢𝘵, 𝘬𝘢𝘯? 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘶?"

𝘌𝘷𝘦𝘭𝘺𝘯, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘳𝘦𝘮𝘶𝘬, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘬 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘢-𝘭𝘢𝘮𝘢, 𝘺𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪."

"𝘗𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘶𝘢 𝘫𝘢𝘮, 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘯𝘨𝘦𝘯," 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘈𝘥𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘮𝘢𝘯𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳.

𝗙𝗹𝗮𝘀𝗵𝗯𝗮𝗰𝗸 𝗼𝗳

Evelyn memeluk lututnya yang ditekuk, menatap hujan yang semakin deras. Adrian belum juga kembali. Bahkan tak ada satu pun telepon atau pesan darinya. keluarga suaminya juga sejak tadi nggak ada yang datang, Evelyn hanya dikabarkan jika Tuan Deren mengalami serangan jantung sedangkan Nyonya Sinta mengalami gula rendah. Ayyana adik iparnya yang serasa saudara selama ini juga tak hadir dihari kalem Evelyn.

"Mungkin dia masih sibuk," bisik Evelyn mencoba menghibur diri sendiri, meski hati kecilnya mulai meragukan segala sesuatu. "Pasti sekarang dia masih sibuk dengan kerjaan kantor. Adrian tak mungkin meninggalkanku dengan sengaja."

Tapi di sudut hatinya yang paling dalam, sebuah pertanyaan mulai bersemi sebuah keraguan yang pelan namun pasti, seperti tetes hujan yang mulai mengikis batu karang.

~

𝗠𝗮𝗿𝗸𝗮𝘀 𝗖𝗿𝗶𝗺𝘀𝗼𝗻 𝗙𝗮𝗻𝗴

Pusat Kegelapan yang Tak Terjamah, Gio melangkah mantap menuju markas Crimson Fang yang tersembunyi di balik facade sebuah perusahaan logistik legal di pinggiran hutan. Gedung beton bertingkat lima itu tampak biasa dari luar. Namun, di bawah tanahnya, tersembunyi sebuah kompleks yang membuat siapa pun yang melihatnya akan tercekat.

Pintu baja setebal setengah meter terbuka dengan desis halus, mengungkapkan koridor yang diterangi lampu neon biru. Suara mesin pendingin yang berdengung rendah menyambut kedatangannya. Udara di dalam terasa dingin dan steril, beraroma logam dan minyak pelumas.

"Laporan kondisi terkini, Ketua,"seorang anggota Crimson Fang dengan tattoo circuitry di lehernya, menyodorkan tablet ke tangan Gio. "Stok senjata ringan menipis. Permintaan dari jaringan Eropa meningkat 70% sejak bulan lalu."

Gio mengangguk, matanya menyapu data yang berderak di layar. "Prioritaskan pengiriman untuk klien tier satu. Sisanya, tunggu restock minggu depan."

Markas ini adalah sebuah mahakarya rekayasa yang membuat Pentagon iri. Tiga level bawah tanah yang saling terhubung dengan elevator biometric. Level pertama adalah pusat komando, dipenuhi puluhan monitor yang menampilkan data real-time dari seluruh penjuru dunia. Di sini, setiap transaksi, setiap pergerakan rival, bahkan setiap desas-desus di dunia bawah dipantau tanpa henti.

Level kedua adalah gudang persenjataan. Rak-rak setinggi langit-langit berisi senjata dari yang paling konvensional hingga prototype yang belum pernah dilihat publik. Senjata-senjata itu berjejer rapi bagai perpustakaan kematian yang terorganisir dengan sempurna.

Level ketiga, yang paling dalam dan paling rahasia, adalah ruang riset dan pengembangan. Di sinilah Crimson Fang mengembangkan teknologi mereka sendiri senjata pintar, sistem cyber warfare, dan alat-alat yang membuat mereka selalu selangkah lebih depan.

"Ketua," lapor seorang anggota lain, "kita menerima ratusan pesanan dari Amerika malam ini. Mereka minta pengiriman prioritas."

Gio mengerutkan keningnya. "Siapkan pesanan tersebut. Jangan sampai mengecewakan pelanggan."

"Baik, dilaksanakan, Ketua!"

Dalam hatinya, Gio bertekad untuk membalas budi keluarga Devereux berlipat ganda. Janjinya pada Tuan Damien bergema dalam dirinya ia akan melindungi Evelyn bahkan jika nyawa adalah taruhannya.

"Tuan Besar, Nyonya Besar, tenang saja," bisiknya dalam hati saat menatap foto keluarga Devereux yang terpajang di dinding pusat komando. "Aku janji akan membujuk Nona Muda untuk mengambil alih semua yang menjadi haknya. Crimson Fang harus tetap menjadi yang terkuat."

Ironisnya, meski Crimson Fang ditakuti di seluruh dunia bawah, identitas pemimpin sebenarnya tetap menjadi misteri. Dalam setiap pertemuan besar para mafia, Tuan Damien tak pernah hadir secara fisik. Selalu Gio yang mewakili, duduk di kursi yang seharusnya untuk Tuan Damien, membuat banyak spekulasi bermunculan. Ada yang menduga pemimpin sebenarnya adalah Gio sendiri, ada yang bilang itu adalah sosok yang lebih tua dan lebih berbahaya yang tak pernah ingin terlihat.

Tapi malam ini, dengan tekad yang membara, Gio tahu bahwa takdir organisasi ini mungkin akan segera berubah dan semua mata sekarang tertuju pada Evelyn, wanita yang bahkan tidak menyadari kekuatan yang telah diwariskan padanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 24

    Malam ini, aula megah di kawasan tersembunyi kota berubah menjadi medan pertemuan para penguasa dunia bawah. Puluhan pemimpin klan mafia dari berbagai penjuru negeri bahkan dari luar negeri telah berkumpul. Mereka datang dengan pakaian terbaik, ditemani para pengawal setia, siap untuk malam tahunan yang selalu penuh intrik dan bahaya.Lampu kristal berkilauan di langit-langit tinggi, meja-meja panjang dipenuhi hidangan mewah dan minuman termahal. Tapi di balik kemewahan itu, udara dipenuhi ketegangan. Semua orang saling mengawasi, semua orang saling curiga.Di sudut aula, beberapa pemimpin klan peringkat bawah berkumpul sambil menyesap wiski."Selama bertahun-tahun aku belum pernah bertemu atau melihat langsung pemimpin Crimson Fang," ujar salah satu dari mereka, pria paruh baya dengan bekas luka di pelipis."Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia tidak akan hadir," sahut yang lain, pria bertubuh tambun dengan cincin emas di setiap jari. "Malam ini kita akan memanfaatkan peluang ini. Per

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 23

    Pagi itu, kediaman Montgomery yang megah tampak tenang. Matahari bersinar cerah, menerangi taman luas yang dirawat dengan sempurna. Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai sebuah paket kecil di titip kepada salah satu satpam. Seorang kurir berpakaian biasa mengantarkannya, lalu pergi begitu saja tanpa meminta tanda tangan atau konfirmasi penerima, tidak ada nama pengirim, tidak ada alamat kembali. Hanya sebuah kotak berukuran sedang, dibungkus kertas hitam polos, dan di atasnya dihiasi setangkai bunga mawar hitam yang kering mawar hitam asli, bukan buatan.Nyonya Sinta menerima paket itu dari tangan seorang satpam. Ia hanya memandangi benda itu dengan perasaan aneh. Jantungnya berdebar tak karuan, meskipun ia belum tahu apa isinya."Bawa masuk," perintahnya pada satpam itu.Setelah satpam itu pergi, Nyonya Sinta duduk di sofa ruang keluarga, menatap paket itu dengan intens. Bunga mawar hitam bukan simbol yang baik. Tuan Deren yang sedang bermain ponsel di sebelahnya, menyadari p

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 22

    Pagi itu, Adrian tiba di apartemen Clara dengan perasaan ringan. Langkahnya riang, senyumnya mengembang, tak sabar untuk segera terbang ke luar negeri dan bertemu dengan putra kecilnya yang sudah lama tak ia peluk."Ayo sayang, aku sudah sangat tidak sabar untuk bertemu Kevin!" gegas Adrian begitu Clara membuka pintu.Clara hanya mengangguk cepat, tapi wajahnya sedikit pucat. Semalam ia tak bisa tidur memikirkan masa depannya dengan Adrian. Tapi melihat kekasihnya begitu bersemangat, ia memaksakan senyum dan menarik kopernya keluar dari kamar."Sebentar, Sayang. Aku cuma mau pastikan semua dokumen Kevin sudah lengkap."beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Adrian menyetir dengan kecepatan stabil, sesekali menggenggam tangan Clara yang duduk di sampingnya. Di kursi belakang, dua koper besar tergeletak tanda bahwa mereka berencana untuk tinggal cukup lama di sana.Sesampainya di bandara, mereka langsung menuju terminal keberangkatan internasional. Di sana, Evan su

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 21

    Matahari mulai merangkak naik di ufuk timur, menerangi Mansion yang megah dengan cahaya keemasan. Namun pagi itu, mansion yang biasanya hangat dan ramai terasa berbeda, sunyi, dingin. Seperti rumah kosong yang kehilangan jiwanya.Adrian melangkah masuk melalui pintu utama setelah semalaman beristirahat di kediaman orang tuanya. Biasanya, begitu pintu terbuka, akan ada Evelyn yang menyambutnya dengan senyuman manis, tangan terbuka, dan pertanyaan-pertanyaan penuh perhatian. Biasanya, ada kehangatan yang menyambutnya.Tapi pagi ini, hanya ada kehampaan.Matanya menyapu ruang tamu luas yang tertata rapi. Para maid berlalu lalang dengan pekerjaan mereka masing-masing, membersihkan debu, merapikan vas bunga, mengepel lantai marmer yang mengilap. Mereka menunduk hormat saat melihatnya, tapi tak ada satu pun yang menyapanya lebih dulu."Evelyn kemana?" gumam Adrian, keningnya berkerut. "Tumben banget."Ini pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan mereka, Evelyn tidak ada di rumah saat ia

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 20

    Aletta Chellys Gracelya.Wanita imut dengan senyum manis yang selalu mampu membuat mood Evelyn membaik, bahkan di hari-hari terburuk sekalipun. Mereka bersahabat sejak kecil, tumbuh bersama bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Kedekatan mereka bukan sekadar pertemanan biasa mereka seperti anak kembar yang lahir dari ibu berbeda.Aletta adalah orang yang tahu segalanya tentang Evelyn. Rahasia, ketakutan, mimpi, bahkan kelemahan, sebaliknya, Evelyn juga tahu semua tentang Aletta termasuk masa lalu orang tuanya yang pernah menjadi anggota setia Crimson Fang sebelum Aletta lahir.Pertemuan mereka setelah enam tahun terpisah terasa seperti mimpi. Evelyn menatap sahabatnya yang masih sama seperti dulu imut, ceria, dengan mata yang selalu berbinar. Tapi kali ini, Evelyn melihat potensi lain di sana."Aku mau kau menjadi dokter bedah Crimson Fang," ujar Evelyn tiba-tiba, suaranya datar sambil menggoyangkan gelas wine di tangannya. Warna merah anggur itu berputar perlahan, memantu

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 19

    "Apakah sudah lama menunggu?"Suara itu datang dari belakang. Dingin, tapi penuh kelembutan yang tak terbantahkan. Suara yang familiar, suara yang sudah enam tahun lamanya tak pernah lagi terdengar di telinga Evelyn. Suara yang selama ini hanya ada dalam mimpi dan kenangan masa kecil.Evelyn menoleh, dan dunia seolah berhenti berputar.Di belakangnya berdiri seorang wanita cantik, dengan rambut hitam legam terurai panjang hingga sebahu, wajahnya masih sama seperti dulu hanya lebih dewasa, lebih tegas. Matanya yang bulat berbinar menatap Evelyn dengan intensitas yang tak terlukiskan. Langkahnya tegas mendekati Evelyn yang masih berdiri mematung di samping meja.Evelyn mundur selangkah, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "A-Aletta?" Suaranya nyaris tak terdengar, hanya bisikan parau yang keluar dari tenggorokannya yang tiba-tiba tercekat.Matanya membelalak sempurna. Tangannya yang sedari tadi memegang ponsel kini gemetar hebat, sampai-sampai ponsel itu nyaris jatuh.Aletta terseny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status