แชร์

15 - Penyelidikan

ผู้เขียน: Harina
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-06 17:22:11

Lani mengangkat bahu. Wajahnya menyiratkan cemas. Dia bahkan malah balik bertanya, “ada apa ya, Bu?”

Anaya menggeleng. Setelah meletakkan catatannya, ia berjalan mendekati kedua orang tersebut.

“Selamat sore … ada yang bisa saya bantu?” Senyum Anaya mengembang ramah.

Kedua lelaki itu serentak berdiri. Menyalaminya bergantian.

“Selamat sore … dengan Ibu Anaya?” tanya salah seorang dari mereka.

“Iya betul.” Anaya menatap mereka bergantian.

“Perkenalkan, kami ini penyidik dari bareskrim kepolisian. Saya Raffi, dan rekan saya Hendra. Mohon maaf sebelumnya sudah mengganggu waktu Ibu. Maksud kami kesini bermaksud menanyakan sesuatu ….”

“Mau menanyakan sesuatu apa? Apakah ada kaitannya dengan usaha saya?” Anaya bersikap waspada.

“Tidak ada kaitannya dengan rumah makan ini. Yang mau kami tanyakan berhubungan dengan … keluarga Bu Anaya,” jawab Raffi yang sepertinya menjadi juru bicara.

“Terus, kenapa menemui saya di kedai … tidak di rumah?” Anaya semakin berhati-hati.

“Tadi kami sudah kesa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • DI ANTARA DUA SUAMI   23 - Terus Terang

    Abizar melirik Anaya melalui kaca spion. Wajah perempuan itu diliputi ketegangan dan ketakutan. Betapa ingin dirinya memeluk dan membisikkan kata-kata lembut untuk menenangkannya.“Anaya, kamu nggak perlu cemas berlebihan seperti itu,” ujar Abizar.“Bagaimana aku nggak cemas … aku nggak ngerti persoalannya!” Anaya berucap keras.“Oke … aku akan cari tempat yang aman dan cerita ke kamu. Tapi, kamu harus tetap tenang dan merahasiakan semuanya!” tegas Abizar.Anaya mengangguk. “Iya.”Abizar mengemudi dengan sikap waspada melintasi jalan yang tidak terlalu padat. Ia memutar balik arah, menuju mall. Ia membawa Anaya ke parkiran basement. Dicarinya tempat yang tersembunyi. Ia tidak mematikan mesin, namun membuka sedikit jendela agar tetap ada udara yang masuk ke dalam kabin mobil.“Ceritakan!” Anaya memerintah.“Sabar!” Abizar melepaskan sabuk pengaman dan memutar separuh tubuhnya, hingga matanya leluasa menatap Anaya.“Aku nggak sabar!” Anaya merengut.Didesak demikian, tidak membuat Abiza

  • DI ANTARA DUA SUAMI   22 - Rahasia Mulai Terkuak

    “Pembunuhan? …. Siapa yang dibunuh?” Suara Anaya bergetar. Jantungnya berdegup kencang.“Seorang pengusaha.”Kepala Anaya pusing. Otaknya pengar seperti habis terpapar cahaya silau yang tajam menusuk mata.“Bagaimana Kak Damar bisa terlibat?” Anaya tidak percaya. Setahunya, Damar tidak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Lelaki itu terkenal berperilaku lembut dan santun. “Itu yang sedang kami dalami. Makanya kami mendatangi Ibu. Saat ini, penyelidikan kami mengarah ke Damar sebagai pelaku. Tapi, karena dia sudah meninggal, maka kami mencari keterangan dan pendukung untuk membuktikan sejauh mana keterlibatannya.”Anaya bingung dan khawatir. Jangan-jangan inilah rahasia yang disembunyikan Damar, yang membuatnya bersembunyi, merubah wajah dan berganti nama menjadi Abizar. Bila benar, artinya dirinya telah bekerja sama dan mempercayai seorang penjahat. Tepatnya, pembunuh.“Kami meminta izin memeriksa barang-barang almarhum Damar. Apakah Ibu masih menyimpannya?”Sesuatu di dalam d

  • DI ANTARA DUA SUAMI   21 - Tindak Lanjut Penyelidikan

    Pagi-pagi, Arlo sudah pergi. Meninggalkan Anaya yang enggan bangkit dari tempat tidur. Mood-nya sudah rusak sejak semalam. Sasha pun seperti tertular rasa malas berangkat ke sekolah. Anak kecil itu, menolak disuruh mandi oleh mbak asisten rumah tangga, dan malah pindah ke tempat tidur Anaya, menggulung dirinya di dalam selimut.“Mama … aku nggak mau ke sekolah hari ini. Sekali-sekali, aku kepengen libur.” Sasha berbisik.“Oke … Mama juga ngantuk. Kita tidur aja lagi, ya.” Anaya mendekap anaknya dan kembali memejamkan mata. Tak ada yang berani mengganggu ibu dan anak itu. Abizar juga cuma bisa menahan gelisah karena Anaya tidak kunjung keluar dan memberikan perintah hari ini. Sementara, hari terus berjalan menuju siang.Jam sepuluh, baru Anaya bangun. Itupun karena Sasha mengeluh lapar. Lekas ia bangkit dan menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Asisten rumah tangganya memberi tahu bahwa sedari tadi Abizar menunggu arahannya hari ini.“Bilang ke dia, hari ini, aku nggak pergi kemana-

  • DI ANTARA DUA SUAMI   20 - Perasaan Khianat

    “Boleh nggak, Bu?” tanya Lani lagi.“Kenapa harus meminta izin aku?” Anaya merasa janggal. “Ya, karena saya dan Pak Abizar ‘kan sama-sama kerja sama ibu. Saya takutnya ibu bikin aturan sesama karyawan nggak boleh ada yang pacaran.” Lani menjelaskannya sambil tersipu.“Kamu sudah resmi putus sama pacar kamu sebelumnya?” Anaya memastikan hubungan anak buahnya itu yang memang pasang surut.“Sudah, Bu. Bosan saya sudah diselingkuhin terus,” jawab Lani sambil mengeluh.“Nah, kamu sudah cek belum latar belakang Pak Abizar. Kalau dari rambutnya yang ubanan, kayaknya dia sudah cukup pengalaman. Jangan-jangan sudah punya isteri dan anak.” Anaya sengaja menumbuhkan keraguan di diri Lani.“Sudah kutanya, dia bilang pernah menikah. Sekarang sudah pisah dari isteri dan anaknya. Isterinya juga sudah menikah lagi.” Lani membantah keraguan Anaya.Anaya tertegun dengan jawaban Lani. Jika itu yang memang benar dikatakan Abizar, lelaki itu sebenarnya sudah berkata jujur apa adanya. “Kenapa kamu suka

  • DI ANTARA DUA SUAMI   19- Cemburu

    Udara di dalam kamar jadi hening. Anaya diam, sementara Arlo menunggu jawaban. “Kamu sedang ingat dia?” Arlo mengulang pertanyaannya. “Iya.” Anaya menjawab lirih. “Sebenarnya, aku nggak suka waktu kamu bilang bertemu Mama Marini, apalagi menemaninya ke makam” “Kenapa nggak suka?” tanya Anaya. “Nggak suka aja. Kesannya, kamu belum bisa move on dari dia,” jawab Arlo. “Walaupun kita sudah bertahun-tahun bersama, aku sering merasa kalau kamu masih tetap mencintai dia. Padahal, dia ‘kan sudah mati.” Anaya menggigit bibirnya. Apa yang dikatakan Arlo, memang benar adanya. Persoalannya kini, Damar ternyata masih hidup. “Bukankah dulu, sebelum kita menikah, aku sudah pernah bilang soal perasaanku ke dia? Walau bagaimanapun, aku nggak akan pernah bisa menghapus dia dari ingatan aku.” Anaya mengingatkan. “Iya, kamu memang pernah bilang begitu.” “Jadi, kenapa harus jadi masalah kalau aku bertemu dengan keluarga almarhum suami pertamaku dan mengunjungi makamnya? Mereka keluargaku juga …

  • DI ANTARA DUA SUAMI   18 - Bercabang

    “Aku … aku habis dari rumah mama, ngantar makanan … papa lagi sakit.” Anaya tergagap.“Cepat pulang!” perintah Arlo.“Ya, aku ke harus ke kedai dulu jemput Sasha,” elak Anaya.“Aku sudah di kedai, dan akan bawa dia pulang. Kamu langsung ke rumah!” tegas Arlo.“Loh, kok sudah pulang dari Medan?” Anaya heran. Arlo baru tadi pagi pergi, tetapi sore ini sudah kembali lagi.“Aku nggak jadi pergi,” jawab Arlo.“Oke! Aku otewe pulang.” Anaya memutuskan panggilan.Ia tahu bagaimana karakter Arlo. Tak perlu mengkonfrontirnya seketika. Cukup dipatuhi saja perintahnya.Abizar menginjak gas. Tidak perlahan, tapi tidak cepat juga.“Arlo sudah pulang?” tanyanya.“Iya. Katanya dia nggak jadi pergi ke Medan,” jawab Anaya.“Kenapa?” Abizar heran.“Nggak tahu.” Anaya lebih bingung. “Padahal, besok rencananya aku pengen ke rumah kita dulu.”Abizar diam saja. Ia sepertinya tengah memikirkan sesuatu.“Kak, kalau Pak Arlo menanyakan soal kedatangan polisi, bagaimana?” tanya Anaya. “Aku curiga, anak-anak di

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status