LOGIN"Halo..." Bella tersenyum mengerikan. Ujung pisau di tangannya berkilat dipenuhi aura iblis. Sebelum Natasha sempat membuka mulutnya untuk menjerit, Bella melesat maju dengan kecepatan abnormal. Tangan kirinya membekap mulut Natasha dari belakang, sementara tangan kanannya mengayunkan pisau, menusuk leher pramugari itu dengan brutal. JLEB! Darah segar seketika menyembur, mengotori permukaan cermin putih bersih di hadapan mereka. Tubuh Natasha lunglai, jatuh berdebam ke atas lantai marmer yang dingin. Namun, kegilaan psikopat Bella belum terpuaskan. Dengan mata yang berkilat penuh kepuasan sadis, Bella berlutut di atas tubuh Natasha yang megap-megap, menghujamkan pisaunya ke leher dan dada wanita malang itu berulang-ulang tanpa ampun hingga Natasha benar-benar berhenti bergerak dan tewas dalam genangan darahnya sendiri. Bella mengembuskan napas puas, senyum kegembiraan yang mengerikan terukir di wajah cantiknya. Ia mengambil selembar tisu, mengusap setitik noda darah yang ter
Tiga bulan telah berlalu sejak insiden berdarah di Melbourne yang hampir merenggut nyawa Miranda Ford dan melukai kaki Levin Miller. Namun, bagi George Riciteli, waktu seolah berjalan di tempat, tertahan oleh rantai kegilaan yang kian hari kian mencekik kewarasannya. Di dalam kabin eksklusif kelas bisnis maskapai penerbangan internasional menuju Roma, menjelang fajar menyingsing, keheningan terasa begitu berat. George duduk bersisian dengan istrinya, Bella Riciteli. Sinar remang-remang dari lampu kabin menerpa separuh wajah tampan George yang tampak lelah. Sementara matanya melirik ke arah Bella yang duduk di sampingnya, tampak sangat tenang, sibuk menggeser layar ponsel pintarnya seolah dunia di sekitarnya tidak pernah terjadi apa-apa. Satu bulan terakhir ini, George sengaja mengosongkan jadwal klan dan memboyong Bella ke sebuah resor privat terpencil di Maladewa. Niat awalnya adalah untuk memulihkan kesehatan mental Bella pasca-amukan di Kanada, sekaligus memperbaiki h
Lorong itu terasa makin dingin dan mencekam. George menghisap rokoknya untuk terakhir kali, lalu membuang puntungnya ke lantai, menginjaknya dengan ujung sepatu kulitnya hingga hancur. "Kau tidak perlu meninggalkan kota ini atau melarikan diri lagi ke ujung dunia. Tetaplah di Melbourne, karena aku telah memastikan jaringan keselamatanku mengunci tempat ini. Besok, aku akan kembali ke Roma. Dan selama aku berada di sisi Bella, aku pastikan dia tidak akan pernah mencari atau mengendus keberadaan mu lagi. Ini adalah terakhir kalinya... kita berdiri berhadapan seperti ini." Miranda mematung di tempatnya berdiri, seolah seluruh pasokan udaranya telah direnggut paksa. Terakhir kalinya. Ucapan George barusan bukan sekadar kalimat penenang; itu adalah sebuah kata perpisahan yang teramat sadis, sebuah eksekusi dingin yang menamparnya kembali pada kenyataan yang brutal. Di mata sang Raja Mafia, dirinya tidak lebih dari sekadar pelarian fisik sesaat, sebuah tempat singgah sementara di kala
Aroma antiseptik yang tajam menyengat indra penciuman di dalam bangsal perawatan rumah sakit Kota Melbourne. Pagi itu, suhu udara di luar terasa sangat dingin, menyisakan embun tebal yang menempel pada kaca jendela kamar. Di atas ranjang pasien, Levin Miller bersandar pada tumpukan bantal. Betis kanan pria itu terbalut perban putih yang tebal, sisa dari operasi pengangkatan proyektil peluru yang bersarang di ototnya akibat amukan Bella semalam. Miranda Ford duduk dengan tenang di sebuah kursi kayu di samping ranjang. Jemarinya yang ramping bergerak telaten, membantu Levin meminum beberapa butir obat pasca-operasi dengan menyodorkan segelas air putih hangat. Di sudut ruangan, tepat di atas sofa kulit hitam, Noah duduk meringkuk diam sembari memperhatikan gerak-gerik kedua orang dewasa itu. Sorot mata bocah kecil itu masih memancarkan trauma yang mendalam; bayang-bayang moncong pistol krom perak milik Bella yang sempat menekan dahinya semalam belum sepenuhnya hilang dari memoriny
"Waktumu sudah habis, Dokter Miranda Ford!" teriak Bella. Miranda tertegun dalam rasa takut yang mematikan. Matanya menatap sosok di depannya kini. Malam ini, Bella tampak teramat cantik dan seksi dalam balutan jaket kulit hitam ketat yang menonjolkan lekuk tubuh sempurnanya, dengan rambut cokelatnya yang dibiarkan terurai berantakan. Namun, di balik penampilan fisiknya yang memukau, jiwa wanita itu adalah manifestasi dari seorang psikopat sejati yang sama sekali tidak memiliki nurani atau empati kemanusiaan.Miranda menatap tangan Bella yang baru saja mendobrak kaca tebal. Kulit putih wanita itu sama sekali tidak terluka; goresan kecil akibat pecahan kaca yang sempat muncul seketika menutup kembali, mengering, dan beregenerasi dalam hitungan detik di depan matanya.Ini adalah efek mengerikan dari sel monster Chimera Omega yang masih hidup dan bersembunyi di dalam struktur DNA Bella. Tiga tahun lalu, di sebuah laboratorium bawah tanah yang terisolasi di Rusia, Bella menjadi kel
Sinar matahari jingga keemasan menyapu ladang bunga lavender yang membentang luas di kaki pegunungan Melbourne, Kanada. Menjelang petang itu, langit seolah dilukis dengan warna pastel yang menenangkan. Di tengah lanskap alami tersebut, rumah peninggalan mendiang ibu Levin Miller tampak berdiri kokoh, memancarkan aura damai, terawat, dan hangat yang selama ini belum pernah dirasakan oleh Miranda Ford semenjak ia memulai pelariannya yang melelahkan. Kedatangan dirinya dan Noah seolah mengembuskan napas kehidupan baru ke dalam rumah tua tersebut.Di dalam dapur, uap hangat mengepul dari panci. Miranda sedang sibuk menyiapkan bumbu masakan untuk menu makan malam mereka ketika suara deru mesin mobil yang familier memasuki pekarangan rumah.CRASH!Suara ban mobil dinas kepolisian yang menggilas kerikil halaman membuat Miranda menoleh. Ia segera mematikan kompor kecilnya, melangkah keluar dari dapur dengan sisa ketegangan yang mendadak luntur. Dari balik pintu, ia melihat Levin Miller






