LOGINDeretan mobil mewah bermesin buas merayap memasuki pelataran luas Kastil Riciteli, membelah kabut tipis yang menyelimuti patung-patung marmer kuno. Lampu depan yang terang benderang memantul pada dinding batu kastil yang kokoh, menciptakan bayangan panjang yang mengancam. Don Lazaro Riciteli berdiri di teras atas, matanya yang dingin mengamati saat cucunya, George, keluar dari Bugatti biru metaliknya.Lazaro menyipitkan mata saat melihat George tidak keluar sendirian. Dengan gerakan posesif yang sangat mencolok, George menggandeng Bella—yang masih mengenakan gaun malam hitamnya—menuju pintu utama kastil. Ini bukan prosedur standar. Biasanya, siapa pun yang ditangkap dari pihak musuh akan diseret ke penjara bawah tanah untuk diinterogasi, bukan digandeng layaknya tamu kehormatan."Luca!" suara bariton Lazaro menggelegar, memanggil sang consiglierie yang baru saja turun dari mobil pengawal.Luca menghampiri dengan langkah sigap, namun hatinya mencelos. Ia tahu persis apa yang akan di
Milan di malam hari adalah labirin neon yang menyembunyikan dosa-dosa paling gelap di balik kemegahan katedral dan butik-butik mewahnya. Di pinggiran kota yang suram, The Crimson Serpent, bar kasino milik Fabrizio Jonas, bergetar oleh dentuman musik remix yang memekakkan telinga. Namun, getaran itu mendadak berubah menjadi hening yang mencekam saat pintu ganda berbahan mahoni itu ditendang terbuka dari luar.George Riciteli melangkah masuk. Ia tidak datang sebagai tamu; ia datang sebagai malaikat maut dengan selera berpakaian yang sangat mahal. Di belakangnya, Luca dan tiga bodyguard pilihan Klan Riciteli berjalan dengan formasi tempur, tangan mereka siap di balik jas, mencengkeram senjata otomatis.George tidak menunggu basa-basi. Sambil berjalan tenang menuju meja judi VIP di tengah ruangan, ia menghunus revolver peraknya.Duar! Duar! Duar!George menembakkan senjatanya ke arah langit-langit dan meja judi dengan presisi yang menakutkan. Peluru-peluru panas melesat, memecahkan bot
Pusat Kota Milan – Siang Hari yang Membeku.Aspal jalanan Milan yang biasanya tertib mendadak berubah menjadi sirkuit maut. Suara raungan mesin quad-turbocharged W16 membelah kesunyian kota, menciptakan resonansi yang menggetarkan kaca-kaca gedung butik mewah di sepanjang jalan. Sebuah Bugatti Veyron biru metalik melesat layaknya peluru nyasar, berkelok tajam di antara barisan mobil komuter yang terpaksa mengerem mendadak. Klakson bersahutan, makian para pengemudi tenggelam oleh deru angin dan dentuman musik tekno yang diputar dengan volume maksimal dari dalam kabin mobil mewah tersebut.Di belakangnya, sebuah SUV hitam melaju dengan susah payah menjaga jarak. Luca mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Wajahnya pias. Ia menekan tombol earphone di telinganya untuk kesekian kali."George! Demi Tuhan, pelankan kecepatannya! Kau bisa membuat kita semua berakhir di koran pagi sebagai tumpukan rongsokan!" teriak Luca. "Tuan Besar akan menembak kepalaku tepat di pelipis jika cuc
Kegelapan musim dingin di puncak pegunungan menyelimuti asrama para tentara bayaran layaknya kain kafan yang dingin. Namun, di tengah lapangan beton di belakang gedung utama, sebuah api unggun raksasa menyala, mengirimkan lidah-lidah api yang menari ke langit malam yang pekat. Suara gemeretak kayu terbakar beradu dengan tawa kasar para tentara yang sedang merayakan Natal dengan cara paling primitif yang mereka tahu: memanggang daging liar dan menenggak anggur murah. Di sudut lain, petikan gitar yang sumbang melantunkan nada-nada rindu yang terdistorsi oleh dinginnya udara.Dari jendela lantai tiga yang terbuka lebar, Bella Austin Castaro berdiri mematung. Angin malam menyapu wajahnya, namun ia tak bergeming. Matanya menatap kosong ke arah pesta kecil di bawah, sebuah pemandangan yang biasanya ia abaikan, namun malam ini terasa begitu menyakitkan.Di belakangnya, Elena duduk di tepi ranjang dengan wajah pucat. Bella baru saja menumpahkan segalanya—tentang misinya yang gagal, tentan
Markas Besar Organisasi EXO, Perbukitan Milan – Hari Natal, Pukul 13.00 Siang.Angin pegunungan yang menggigit tulang menyapu pelataran markas EXO, sebuah benteng beton yang tersembunyi di antara tebing-tebing kapur yang menjulang tinggi. Di sini, Natal hanyalah sebuah tanggal di kalender; tidak ada pohon cemara yang dihias, tidak ada nyanyian damai, yang ada hanyalah aroma minyak senjata dan dinginnya disiplin militer.Bella Austin Castaro melangkah menyusuri koridor panjang yang diterangi lampu neon pucat. Setiap langkah pantofel taktisnya bergema di lantai granit, menciptakan irama yang kontras dengan kekacauan di dalam dadanya. Pikirannya masih tertinggal di atas ranjang kapal The Black Siren, tertinggal pada sentuhan George yang masih terasa membekas di kulitnya."Bella! Kau kembali!"Sebuah pekikan senang memecah kesunyian koridor. Elena, rekan satu tim sekaligus satu-satunya orang yang Bella anggap teman di tempat terkutuk ini, berlari menghampiri. Mereka berpelukan singkat—s
Kastil Riciteli, Roma – Hari Natal, Pukul 11.00 Siang.Matahari musim dingin menggantung pucat di langit Roma, namun sinarnya cukup untuk membuat cat biru metalik pada Bugatti Veyron itu berkilau layaknya berlian mentah. Mobil itu merambat pelan, membelah jalanan setapak yang dipayungi pohon-pohon cemara yang berselimut salju tipis, menuju pelataran luas Kastil Keluarga Riciteli. Bangunan tiga lantai itu berdiri megah, sebuah monumen kekuasaan yang telah bertahan selama ratusan tahun, menjaga rahasia-rahasia berdarah di balik dinding batunya yang kokoh.Di pelataran, barisan bodyguard berpakaian jas hitam berdiri kaku bak patung prajurit Romawi. Mereka membungkuk serempak saat pintu Bugatti terangkat ke atas dengan suara hidrolik yang halus. George Lazaro Riciteli keluar. Sang Putra Mahkota, sang predator dengan garis wajah yang dipahat sempurna oleh ketampanan dan kekejaman, melangkah dengan acuh tak acuh. Mantel wol hitamnya berkibar ditiup angin dingin, sementara Luca mengikuti
Fajar mulai menyingsing dari timur. Sinar jingganya menerpa Kapal Big Lion yang masih berlayar mengitari Laut Tirenia.Air laut sebening kaca, dengan tebing-tebing tinggi menjulang di sepanjang sisi pantai dan panorama pegunungan yang indah.Laut Tirenia merupakan sebuah laut marjinal terbesar keti
Michele melepaskan borgol di pergelangan tangan Meghan. Namun saat wanita itu hendak bangkit, dia menahannya langsung. Hanya beberapa detik dia memandang sebelum kemudian melumat habis bibir ranum Meghan. Wanita itu nyaris mati kehabisan oksigen. Manik kebiruan Meghan terpejam tak menentu. Bibir
"Hei, Junior Riciteli! Apa kau melihatku? Kau mendengar ku?!" Dante mencengkeram mulut Carlo sambil menatapnya heran.Remaja laki-laki enam belas tahun itu tidak menjawab. Hanya tatapan hampa yang Carlo tunjukkan.Dante menoleh ke arah dua orang anak buahnya."Dia seperti bocah idiot!" ucapnya lalu
Kabut putih masih menyelimuti udara, mobil-mobil hitam melesat kencang saling berkejaran.Sergio dan Paolo berada di masing-masing mobilnya. Pagi-pagi buta begini mereka sudah berkeliaran untuk berburu.Seorang informan menelepon dari Napoli, mereka melihat Alfa hitam yang sempat menepi di jalan ya







