LOGINKegelapan musim dingin di puncak pegunungan menyelimuti asrama para tentara bayaran layaknya kain kafan yang dingin. Namun, di tengah lapangan beton di belakang gedung utama, sebuah api unggun raksasa menyala, mengirimkan lidah-lidah api yang menari ke langit malam yang pekat. Suara gemeretak kayu terbakar beradu dengan tawa kasar para tentara yang sedang merayakan Natal dengan cara paling primitif yang mereka tahu: memanggang daging liar dan menenggak anggur murah. Di sudut lain, petikan gitar yang sumbang melantunkan nada-nada rindu yang terdistorsi oleh dinginnya udara.Dari jendela lantai tiga yang terbuka lebar, Bella Austin Castaro berdiri mematung. Angin malam menyapu wajahnya, namun ia tak bergeming. Matanya menatap kosong ke arah pesta kecil di bawah, sebuah pemandangan yang biasanya ia abaikan, namun malam ini terasa begitu menyakitkan.Di belakangnya, Elena duduk di tepi ranjang dengan wajah pucat. Bella baru saja menumpahkan segalanya—tentang misinya yang gagal, tentan
Markas Besar Organisasi EXO, Perbukitan Milan – Hari Natal, Pukul 13.00 Siang.Angin pegunungan yang menggigit tulang menyapu pelataran markas EXO, sebuah benteng beton yang tersembunyi di antara tebing-tebing kapur yang menjulang tinggi. Di sini, Natal hanyalah sebuah tanggal di kalender; tidak ada pohon cemara yang dihias, tidak ada nyanyian damai, yang ada hanyalah aroma minyak senjata dan dinginnya disiplin militer.Bella Austin Castaro melangkah menyusuri koridor panjang yang diterangi lampu neon pucat. Setiap langkah pantofel taktisnya bergema di lantai granit, menciptakan irama yang kontras dengan kekacauan di dalam dadanya. Pikirannya masih tertinggal di atas ranjang kapal The Black Siren, tertinggal pada sentuhan George yang masih terasa membekas di kulitnya."Bella! Kau kembali!"Sebuah pekikan senang memecah kesunyian koridor. Elena, rekan satu tim sekaligus satu-satunya orang yang Bella anggap teman di tempat terkutuk ini, berlari menghampiri. Mereka berpelukan singkat—s
Kastil Riciteli, Roma – Hari Natal, Pukul 11.00 Siang.Matahari musim dingin menggantung pucat di langit Roma, namun sinarnya cukup untuk membuat cat biru metalik pada Bugatti Veyron itu berkilau layaknya berlian mentah. Mobil itu merambat pelan, membelah jalanan setapak yang dipayungi pohon-pohon cemara yang berselimut salju tipis, menuju pelataran luas Kastil Keluarga Riciteli. Bangunan tiga lantai itu berdiri megah, sebuah monumen kekuasaan yang telah bertahan selama ratusan tahun, menjaga rahasia-rahasia berdarah di balik dinding batunya yang kokoh.Di pelataran, barisan bodyguard berpakaian jas hitam berdiri kaku bak patung prajurit Romawi. Mereka membungkuk serempak saat pintu Bugatti terangkat ke atas dengan suara hidrolik yang halus. George Lazaro Riciteli keluar. Sang Putra Mahkota, sang predator dengan garis wajah yang dipahat sempurna oleh ketampanan dan kekejaman, melangkah dengan acuh tak acuh. Mantel wol hitamnya berkibar ditiup angin dingin, sementara Luca mengikuti
Pesta telah usai, menyisakan keheningan yang mencekam di lorong-lorong kapal pesiar mewah itu. Para tamu undangan, yang sebagian besar adalah sisa-sisa penguasa bawah tanah, telah kembali ke bilik mereka masing-masing, terbuai oleh alkohol dan janji-janji kekuasaan. Dua orang penjaga berseragam hitam membungkuk hormat saat Dante Cosla melintasi pintu kamar Bella. Dante, sang arsitek dendam yang kini mulai dimakan usia, tidak menaruh kecurigaan sedikit pun. Ia hanya melihat pintu yang tertutup rapat, mengira senjata rahasianya—Bella—sedang beristirahat setelah berhasil menjerat Marques Jonas.Malam di Mediterania terasa begitu tenang, dingin, dan sunyi. Dua bodyguard yang berjaga di depan pintu Bella mulai memejamkan mata, bersandar pada dinding kayu yang dingin, membiarkan kantuk menguasai mereka di bawah pengaruh sisa sampanye pesta.Namun, di balik pintu kamar nomor 202, suasana temaram itu meledak oleh frekuensi gairah yang memburu. Cahaya bulan yang masuk melalui celah gorden pe
Dek Dua Kapal The Black Siren – Satu malam sebelum Natal.Gemerlap lampu kristal memantul di atas gelas-gelas sampanye yang berdenting, menciptakan simfoni kemewahan yang palsu di tengah lautan. Suasana pesta mencapai puncaknya saat para penari salsa undur diri dengan gerakan dramatis, digantikan oleh seorang pianis ternama yang mulai menekan tuts-tuts gading piano. Alunan melodi yang keluar begitu lembut, romantis, dan melankolis, seolah-olah berusaha mencuci noda darah yang melekat pada tangan para tamu undangan.Namun, bagi Bella Austin Castaro, setiap dentingan piano itu tidak membawa kedamaian. Nada-nada itu justru terasa seperti sembilu yang mengiris hatinya. Setiap oktaf mengingatkannya pada tatapan manik biru George Riciteli yang tajam sekaligus teduh; setiap harmoni membangkitkan bayangan senyuman sang Raja Mafia yang memabukkan namun mematikan.Dan puncaknya, setiap nada rendah mengingatkannya pada ciuman mereka yang brutal—sebuah tabrakan emosi yang menghancurkan dinding
Ciuman itu bukan lagi sekadar pertarungan kekuasaan; itu telah bermutasi menjadi badai yang merusak sirkuit logika di otak Bella. Di bawah temaram lampu kristal yang bergetar karena mesin kapal, Bella merasa dunianya seolah terbalik. Ia, sang predator dari Unit 002 EXO yang dilatih untuk tidak memiliki nurani, kini justru tampak pasrah, tenggelam dalam kungkungan protektif sang Raja Mafia. Bella tahu ini adalah dosa besar. Setiap sel dalam tubuhnya seharusnya berteriak untuk meraih pisau di balik paha atau mencekik pria di atasnya, namun ciuman George memiliki daya hancur yang lebih mematikan daripada peluru kaliber .50.Sensasi aneh mulai menjalar—kenyamanan yang tidak pada tempatnya, kelembutan yang menyakitkan, dan rasa dimiliki yang sangat asing bagi seorang yatim piatu yang dibesarkan di jalanan. Bella memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba memanggil kembali kewarasannya yang telah hanyut dibawa ombak. Dia adalah targetmu, Bella! Dia adalah klan yang menghancurkan keluargamu
Langit sangat biru pagi itu. Tahun baru telah tiba. Orang-orang di kota sibuk mempersiapkan sesuatu untuk merayakan malam tahun baru.Anak-anak berlarian di jalan sambil membawa balon dan kotak kembang api. Mereka tertawa begitu riang menuju rumah temannya.Menjelang siang butiran putih mulai turun
Jose mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengejar mobil-mobil para Mafia di depannya.Sial!Mau kabur kemana mereka? Dan di mana Michele menyekap Meghan? Dia menambah lagi kecepatan mobil, jangan sampai mereka kehilangan jejak para Mafia busuk itu."Bos, Letnan kaleng-kaleng itu masih men
Hari menjelang siang di kota Roma. Orang-orang berlalu lalang menjalankan rutinitas sehari-hari. Anak-anak pergi ke sekolah dan orang dewasa mulai jenuh dengan pekerjaannya.Aroma lasagna mentega tercium lezat dari sebuah restoran siap saji di pertigaan jalan.Jose terlihat menyusuri jalan di antar
"Apa hotelnya nyaman? Apa tidak ada yang mencurigakan, semacam pria mesum yang menguntit kalian?" Jose bicara pada Meghan lewat sambungan ponselnya yang ia jepit di antara telinga dan bahunya. Sementara kedua tangannya sibuk meracik espresso di meja kitcen set.Sudah sepuluh jam Meghan pergi, tapi