Home / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 179. Pertaruhan Nyawa

Share

179. Pertaruhan Nyawa

Author: Dewa Amour
last update publish date: 2026-05-05 14:58:43

Laut Baltik – Menuju Kepulauan Terpencil Rusia.

​Malam itu, dunia seolah menghilang bagi Miranda Ford. Perjalanan dari Manhattan ke Rusia terasa seperti mimpi buruk yang terputus-putus. Ia masih ingat rasa dingin yang menjalar di lengannya saat salah satu anak buah George menyuntikkan obat bius di dalam kabin jet pribadi. Setelah itu, kegelapan total.

​Miranda tersadar dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya seperti palu godam. Ia mengerang, mencoba memfokuskan pandangan pada langit-langi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    179. Pertaruhan Nyawa

    Laut Baltik – Menuju Kepulauan Terpencil Rusia.​Malam itu, dunia seolah menghilang bagi Miranda Ford. Perjalanan dari Manhattan ke Rusia terasa seperti mimpi buruk yang terputus-putus. Ia masih ingat rasa dingin yang menjalar di lengannya saat salah satu anak buah George menyuntikkan obat bius di dalam kabin jet pribadi. Setelah itu, kegelapan total.​Miranda tersadar dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya seperti palu godam. Ia mengerang, mencoba memfokuskan pandangan pada langit-langit ruangan yang tinggi dan dingin. Bau udara di sini berbeda—asin, lembap, dan berbau logam. Saat ia mencoba bangkit, sosok pria jangkung dengan ekspresi datar berdiri di dekat jendela.​"Kau sudah bangun, Dokter Ford," suara itu rendah dan tegas.​Miranda tersentak, jantungnya berpacu. "Kau... pria yang ada di mobil. Di mana aku?"​"Aku Luca. Tangan kanan Tuan Muda Riciteli," jawab pria itu tanpa menoleh. "Tuan Muda memintamu segera bersiap. Kau sudah pingsan selama dua belas jam selama perjalan

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    178. Permainan Takdir

    Manhattan, New York – Gedung Pengadilan Negeri, Siang Hari.​Udara di dalam ruang sidang terasa menyesakkan, lebih berat daripada beton pencakar langit yang mengepung Manhattan. Miranda Ford duduk dengan jemari yang saling bertautan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, pengacaranya yang tampak lelah terus merapikan berkas-berkas yang sebenarnya sudah kehilangan taringnya.​Di seberang ruangan, Morton Claire duduk dengan angkuh. Pria itu adalah perwujudan dari kekuasaan korup Manhattan; pemilik ECO Company yang raksasa sekaligus pemain kunci di Partai Hitam Putih. Morton tidak hanya menginginkan perceraian; ia menginginkan kehancuran total Miranda dengan merebut hak asuh putra mereka yang berusia empat tahun, Noah Claire.​Tok! Tok! Tok!​"Sidang ditunda hingga minggu depan," suara Hakim menggelegar, dingin tanpa empati. "Untuk sementara waktu, hak asuh Noah Claire jatuh ke tangan sang ayah, Morton Claire, menunggu hasil investigasi latar belakang lebih lanjut."​Dun

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    177. Harapan Terakhir

    Malam yang seharusnya tenang di Roma berubah menjadi pemandangan apokaliptik. Pelataran luas Kastil Riciteli kini dibanjiri oleh kilatan lampu merah dan biru dari belasan mobil polisi dan ambulans. Puluhan personel kepolisian bersenjata lengkap membentuk barikade, moncong senapan mereka tertuju lurus ke arah pintu jati raksasa kastil yang terbuka separuh, seolah-olah ada naga yang siap menyemburkan api dari dalamnya.Sebuah Rolls-Royce hitam meluncur kencang, mengerem mendadak hingga bannya berdecit di atas kerikil. Belum sempat Luca turun untuk membukakan pintu, George Riciteli sudah menerjang keluar. Wajahnya pucat pasi, matanya memancarkan ketakutan yang belum pernah terlihat selama ia memimpin klan."George, tunggu!" seru Luca, namun George tidak peduli.George membeku saat kakinya melangkah melewati ambang pintu. Bau amis darah yang kental menyengat hidungnya. Kekacauan di dalam kastil itu jauh lebih mengerikan dari medan perang mana pun. Marmer putih yang biasanya mengkilap k

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    176. Kebahagiaan Singkat Mereka

    Eisenvall, Jerman – Musim Dingin 2036.Keputusan George Riciteli sudah bulat. Ia tidak akan kembali ke Roma—setidaknya tidak dalam waktu dekat. Di sebuah kantor sementara yang menghadap ke pegunungan bersalju, Luca berdiri dengan wajah frustrasi, mencoba meyakinkan tuannya untuk melihat realitas bisnis keluarga yang terbengkalai."George, bisnis di Roma butuh kehadiranmu. Klan Pabio mulai berulah sejak kabar kecelakaan itu tersebar, dan transaksi di Napoli butuh tanda tangan basah mu, George." Luca memprotes dengan nada rendah namun tajam.George menatap keluar jendela, ke arah rumah sakit tempat Bella bertugas. "Biarkan mereka bicara, Luca. Jika mereka ingin takhta itu, biarkan mereka mencoba mengambilnya. Aku sudah kehilangan sepuluh tahun hidupku karena percaya dia sudah mati. Aku tidak akan membiarkan satu jam pun berlalu tanpa berada di kota yang sama dengannya."Luca menghela napas panjang, akhirnya menyerah pada keras kepala tuannya. Sebagai tangan kanan yang setia, Luca segera

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    175. Memori Yang Kosong

    Rumah Sakit St. Maria, Jerman – Unit Perawatan VVIP.Bau ozon dan antiseptik memenuhi ruangan saat kelopak mata George Riciteli bergerak perlahan. Cahaya lampu yang terang terasa seperti pisau yang menusuk korneanya. George mengerang pelan, tenggorokannya terasa seperti padang pasir yang terbakar. Hal pertama yang ia lihat saat penglihatannya mulai fokus adalah sesosok wanita yang berdiri di samping ranjangnya, sedang memeriksa botol infus.George tertegun. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga mesin pemantau di sampingnya mengeluarkan bunyi bip yang cepat dan tidak beraturan."Bella...?" bisik George, suaranya parau dan pecah.Wanita itu menoleh. Ia tersenyum profesional, namun ada kilatan kebingungan di matanya. "Selamat pagi, Tuan Riciteli. Senang melihat Anda sudah siuman. Saya Dokter Bella, kepala tim bedah saraf yang menangani Anda."George mencoba meraih tangan wanita itu, namun tubuhnya masih terlalu lemah. "Ini kau... kau benar-benar masih hidup?""Maaf, Tuan Riciteli,"

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    174. Harapan Terakhir

    Heidelberg, Jerman – Musim Dingin, 2036.Sepuluh tahun telah berlalu seperti abu yang tertiup angin di atas makam kenangan. Satu dekade sejak George Riciteli meninggalkan Rusia dengan hati yang mati, meyakini bahwa cintanya telah dikubur di bawah es abadi. Kini, pada tahun 2036, sang Raja Mafia telah bertransformasi menjadi sosok yang lebih dingin dan tak tersentuh. Ketampanannya memang tak berkurang, namun matanya hanya memancarkan kekosongan kekuasaan dan ambisi.George sedang berada di Jerman untuk memperluas jaringan logistik klan Riciteli di kota Eisenvall, sebuah kota samaran di pinggiran Black Forest yang diselimuti kabut abadi. Namun, di balik kabut itu, sebuah dendam lama telah bermutasi menjadi sesuatu yang lebih mengerikan.Klan Kelabang Hitam tidak pernah benar-benar mati. Fabrizio mungkin telah tewas di tangan George bertahun-tahun lalu, namun sains gila warisan Dante telah melahirkan monster baru: Dominico Jonas. Adik Fabrizio itu dulunya hanyalah pria pesakitan yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status