LOGINLangit Roma menuju Milan – Pukul 23.00.Malam di atas Italia terasa begitu pekat, seolah-olah bintang-bintang pun enggan bersinar menyaksikan tragedi yang baru saja terjadi. Di dalam kabin helikopter militer yang menderu membelah cakrawala, Bella Austin Castaro duduk mematung. Ia mengenakan setelan taktis hitam mengkilap—seragam unit senior EXO yang melambangkan statusnya sebagai predator puncak. Rambut panjangnya yang biasa terurai kini terikat kencang ke belakang, menonjolkan rahangnya yang mengeras.Di pangkuannya, sebuah senapan runduk kaliber berat tergeletak dingin. Namun, beban senjata itu tak seberapa dibandingkan beban di dadanya. Pimpinan EXO, Henry Cirilo, telah menyatakan misinya selesai dan mengirimkan jemputan udara ini untuk menariknya kembali ke markas pusat di perbukitan Milan.Bella memejamkan mata, namun yang ia lihat hanyalah genangan darah di lantai marmer putih Kastil Riciteli. Ia mendengar kembali suara tembakan yang ia lepaskan sendiri—empat kali, tepat di
Udara pagi itu terasa sebeku es yang membeku di puncak Alpen. Don Lazaro Riciteli berdiri mematung di balkon ruangan pribadinya, menatap lurus ke cakrawala di mana langit biru pucat bertemu dengan garis Laut Mediterania. Mantel wol cokelat yang melapisi setelan jas hitam mahalnya berkibar ditiup angin kencang, namun tubuh tegak sang singa tua itu tak bergeming sedikit pun.Di dalam ruangan, George duduk tersampai di sofa kulit, mengembuskan asap rokoknya ke langit-langit dengan sikap masa bodoh yang melegenda. Ia hanya mengenakan celana pendek, bertelanjang dada, memamerkan tato salib besar di dadanya yang bidang—sebuah kontradiksi visual antara kesucian simbol dan kegelapan jiwa seorang mafia.Rambutnya yang acak-acakan dan mata yang kuyu menceritakan gairah yang ia habiskan semalam.Don Lazaro berbalik, menatap jengah pada cucunya. "Sebagai Raja yang baru dinobatkan, aku mengharapkan disiplin, bukan sisa-sisa kesenangan murahan di pagi hari, George."George menyandarkan kepalanya,
Keheningan malam di Roma terkoyak oleh ledakan memekakkan telinga yang menghantam gerbang besi tempa Kastil Riciteli. Dentuman itu bukan sekadar serangan; itu adalah pernyataan perang yang ceroboh. Don Lazaro Riciteli tersentak dari tidurnya, matanya yang tajam langsung terbuka, memindai kegelapan kamar dengan insting singa tua yang tak pernah tumpul. Di luar, lampu-lampu sorot kastil menyala serentak, membelah kepulan asap tebal yang membubung di pelataran. Luca berlari menuruni tangga teras dengan Beretta di tangan, jantungnya berdegup kencang. Di balik kabut asap, muncul sosok tinggi kekar dalam balutan setelan taktis hitam—Nacos, tangan kanan Fabrizio Jonas yang dikenal dingin dan tak kenal ampun. Nacos menodongkan senapan serbu ke arah Luca, matanya menyipit penuh kebencian. "Di mana George Riciteli?" suaranya berat, parau karena amarah yang tertahan. Luca berhenti, berdiri tegak dengan keberanian yang provokatif. Ia menyeringai tipis. "Tuan Muda sedang beristirahat, Nacos
Deretan mobil mewah bermesin buas merayap memasuki pelataran luas Kastil Riciteli, membelah kabut tipis yang menyelimuti patung-patung marmer kuno. Lampu depan yang terang benderang memantul pada dinding batu kastil yang kokoh, menciptakan bayangan panjang yang mengancam. Don Lazaro Riciteli berdiri di teras atas, matanya yang dingin mengamati saat cucunya, George, keluar dari Bugatti biru metaliknya.Lazaro menyipitkan mata saat melihat George tidak keluar sendirian. Dengan gerakan posesif yang sangat mencolok, George menggandeng Bella—yang masih mengenakan gaun malam hitamnya—menuju pintu utama kastil. Ini bukan prosedur standar. Biasanya, siapa pun yang ditangkap dari pihak musuh akan diseret ke penjara bawah tanah untuk diinterogasi, bukan digandeng layaknya tamu kehormatan."Luca!" suara bariton Lazaro menggelegar, memanggil sang consiglierie yang baru saja turun dari mobil pengawal.Luca menghampiri dengan langkah sigap, namun hatinya mencelos. Ia tahu persis apa yang akan di
Milan di malam hari adalah labirin neon yang menyembunyikan dosa-dosa paling gelap di balik kemegahan katedral dan butik-butik mewahnya. Di pinggiran kota yang suram, The Crimson Serpent, bar kasino milik Fabrizio Jonas, bergetar oleh dentuman musik remix yang memekakkan telinga. Namun, getaran itu mendadak berubah menjadi hening yang mencekam saat pintu ganda berbahan mahoni itu ditendang terbuka dari luar.George Riciteli melangkah masuk. Ia tidak datang sebagai tamu; ia datang sebagai malaikat maut dengan selera berpakaian yang sangat mahal. Di belakangnya, Luca dan tiga bodyguard pilihan Klan Riciteli berjalan dengan formasi tempur, tangan mereka siap di balik jas, mencengkeram senjata otomatis.George tidak menunggu basa-basi. Sambil berjalan tenang menuju meja judi VIP di tengah ruangan, ia menghunus revolver peraknya.Duar! Duar! Duar!George menembakkan senjatanya ke arah langit-langit dan meja judi dengan presisi yang menakutkan. Peluru-peluru panas melesat, memecahkan bot
Pusat Kota Milan – Siang Hari yang Membeku.Aspal jalanan Milan yang biasanya tertib mendadak berubah menjadi sirkuit maut. Suara raungan mesin quad-turbocharged W16 membelah kesunyian kota, menciptakan resonansi yang menggetarkan kaca-kaca gedung butik mewah di sepanjang jalan. Sebuah Bugatti Veyron biru metalik melesat layaknya peluru nyasar, berkelok tajam di antara barisan mobil komuter yang terpaksa mengerem mendadak. Klakson bersahutan, makian para pengemudi tenggelam oleh deru angin dan dentuman musik tekno yang diputar dengan volume maksimal dari dalam kabin mobil mewah tersebut.Di belakangnya, sebuah SUV hitam melaju dengan susah payah menjaga jarak. Luca mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Wajahnya pias. Ia menekan tombol earphone di telinganya untuk kesekian kali."George! Demi Tuhan, pelankan kecepatannya! Kau bisa membuat kita semua berakhir di koran pagi sebagai tumpukan rongsokan!" teriak Luca. "Tuan Besar akan menembak kepalaku tepat di pelipis jika cuc
Langit sangat biru pagi itu. Tahun baru telah tiba. Orang-orang di kota sibuk mempersiapkan sesuatu untuk merayakan malam tahun baru.Anak-anak berlarian di jalan sambil membawa balon dan kotak kembang api. Mereka tertawa begitu riang menuju rumah temannya.Menjelang siang butiran putih mulai turun
Jose mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengejar mobil-mobil para Mafia di depannya.Sial!Mau kabur kemana mereka? Dan di mana Michele menyekap Meghan? Dia menambah lagi kecepatan mobil, jangan sampai mereka kehilangan jejak para Mafia busuk itu."Bos, Letnan kaleng-kaleng itu masih men
Hari menjelang siang di kota Roma. Orang-orang berlalu lalang menjalankan rutinitas sehari-hari. Anak-anak pergi ke sekolah dan orang dewasa mulai jenuh dengan pekerjaannya.Aroma lasagna mentega tercium lezat dari sebuah restoran siap saji di pertigaan jalan.Jose terlihat menyusuri jalan di antar
"Apa hotelnya nyaman? Apa tidak ada yang mencurigakan, semacam pria mesum yang menguntit kalian?" Jose bicara pada Meghan lewat sambungan ponselnya yang ia jepit di antara telinga dan bahunya. Sementara kedua tangannya sibuk meracik espresso di meja kitcen set.Sudah sepuluh jam Meghan pergi, tapi







