Home / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 202. Tangan Maut George

Share

202. Tangan Maut George

Author: Dewa Amour
last update publish date: 2026-06-08 22:47:29

"Apa yang kau lihat? Maut mu?" George tersenyum sinis.

​Morton menatap George dengan rasa takut yang teramat sangat, tubuhnya gemetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Di depan pria ini, ia tidak melihat seorang manusia, melainkan sesosok singa lapar yang siap mengoyak dagingnya hingga tak bersisa.

​George menegakkan tubuhnya kembali, menatap Morton dengan pandangan merendahkan dari atas.

"Aku bisa membuatmu menghilang dari muka bumi ini untuk selamanya malam ini juga, Morton. Tidak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    279. Cara Kotor Mafia

    ​Suasana di dalam Muller Bridal terasa bagai dunia dongeng. Elena berdiri di atas podium bundar berlapis karpet beludru merah, mengenakan gaun pengantin model ballgown berwarna putih gading dengan ekor panjang yang menjuntai indah. Renda-renda halus melapisi bahunya, membuat wajah cantiknya kian terpancar.​Betty melayaninya dengan tingkat ketelitian luar biasa, membetulkan setiap lipatan kain seolah Elena adalah seorang putri kerajaan yang akan menikah dengan raja dunia bawah tanah.​Elena memutar tubuhnya di depan cermin besar, matanya berbinar-binar. Ia menoleh ke arah Rebecca yang berdiri kaku di dekat pintu masuk.​"Rebecca, bagaimana menurutmu? Apakah gaun ini terlalu berlebihan?" tanya Elena dengan nada riang.​Sebelum Rebecca sempat menjawab, sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan penuh keanggunan terdengar menggema dari arah pintu masuk.​"Sangat cantik, Elena! Kau sangat cantik dengan gaun itu!"​Elena terperanjat. Ia menoleh cepat.​Rebecca langsung membungkukkan badan

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    278. Desakan Menikah

    ​Hari telah sepenuhnya disapu oleh pekatnya malam ketika Elena melangkah masuk ke dalam unit apartemennya. Perasaan lelah pasca-mengunjungi bridal boutique milik Betty Muller masih mengayungi langkahnya, namun kegelisahan tentang Jacobs jauh lebih melingkupi dadanya. Elena menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk, menatap langit-langit kamar dengan napas helaan berat.​Kerinduan dan kepanikan berbaur menjadi satu. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping ranjang, kembali mencoba menghubungi nomor telepon kakaknya.​Di saat yang bersamaan, beberapa kilometer dari sana...​Ponsel milik Jacobs—yang sengaja tertinggal di atas meja tamu rumah Edoardo sewaktu Jacobs pergi bergegas tadi—terus berdering nyaring. Di sudut dapur terbuka, Nigel yang sedang menyeduh cangkir kopi panas menghentikan kegiatannya. Pria tua itu melangkah mendekat, memandang layar ponsel yang berkedip menampilkan nama "Elena". Dengan penuh keraguan, Nigel menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai itu ke

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    277. Permainan Licik

    Suara gemercik hujan gerimis yang mengguyur Kota Roma sore itu tidak mampu memadamkan api amarah yang membakar dada Detektif Jacobs. Mobil sedan hitam yang dikendarainya berhenti mendadak tepat di depan pelataran gedung apartemen megah bernuansa abu-abu gelap. Di sampingnya, Edoardo menyesuaikan posisi pistol di balik jasnya, matanya terus melirik ke sekeliling area yang tampak tenang—terlalu tenang untuk ukuran tempat tinggal seorang kriminal.​Menurut informasi yang diperas James dari informan jalanan, di sinilah Louis tinggal. Pria yang menyewa mobil yang dicurigai membawa Mario sebelum sekretaris kepolisian itu menghilang tanpa jejak.​Jacobs melangkah lebar melintasi pintu kaca otomatis, disusul Edoardo yang menjaga jarak aman. Tanpa basa-basi, Jacobs memotong antrean kecil di depan meja resepsionis dan menghempaskan lencana kepolisiannya ke atas permukaan marmer yang mengilap.​"Kepolisian Roma. Saya butuh data penghuni atas nama Louis. Sekarang," gertak Jacobs, nadanya tidak m

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    276. Tiket Menuju Kematian

    Menjelang siang hari di kediaman keluarga Edoardo. ​Jacobs perlahan membuka matanya. Rasa pening yang luar biasa hebat menghantam kepalanya akibat efek minuman keras semalam. Dari arah luar, ia mendengar suara samar Nigel yang sedang mengobrol hangat dengan Edoardo. Jacobs berusaha mendudukkan tubuhnya di sofa, wajahnya tampak sangat kuyu dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.​Mendengar pergerakan dari ruang tamu, Edoardo dan ayahnya segera melangkah mendekat.​"Jacobs! Kau sudah bangun?" sapa Edoardo menatap khawatir. "Bagaimana keadaanmu?"​Jacobs hanya menggelengkan kepalanya yang terasa berat secara lesu, tak mampu berkata-kata.​Nigel menepuk bahu Jacobs dengan penuh rasa kasih sayang seorang ayah. "Ayo bangkit, Jacobs. Kau harus mengisi perutmu. Paman sudah menyiapkan sarapan di teras belakang."​Jacobs mengangguk perlahan, membanting kakinya turun dari sofa dan melangkah perlahan mengikuti Nigel menuju teras belakang yang asri. Edoardo berjalan menyusul di belakang mereka

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    275. Labirin Kematian

    Malam kian larut membungkus kota Palermo dalam kesunyian yang dingin. Di dalam unit apartemennya, Elena terduduk lemas di lantai semen berselimut karpet tebal, menyandarkan punggungnya yang bergetar pada tepi ranjang kamar. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur yang memancarkan cahaya kekuningan redup. Air mata tak berhenti menetes membasahi pipi mulusnya. Gadis itu meremas ponsel di genggamannya, menatap layar yang menampilkan foto profil kakaknya. Puluhan panggilan telpon yang ia layangkan sama sekali tidak membuahkan hasil. Pria tegap itu seolah menghilang ditelan kegelapan malam. "Kak Jacobs... kau di mana?" bisik Elena lirih di antara terisak. "Maafkan aku, Kak... Maafkan aku..." Rasa penyesalan yang teramat sangat menghantam jiwanya. Elena menyesali perbuatannya yang telah tersulut emosi, menaikkan nada suara dan berbicara begitu kasar kepada kakak yang selama ini mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya. Sementara itu, beberapa kilometer dari sana. Di

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    274. Mengejar Bayangan Riciteli

    Malam kian larut membungkus kota Palermo dalam kesunyian yang dingin. Di dalam unit apartemennya, Elena terduduk lemas di lantai semen berselimut karpet tebal, menyandarkan punggungnya yang bergetar pada tepi ranjang kamar. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur yang memancarkan cahaya kekuningan redup. Air mata tak berhenti menetes membasahi pipi mulusnya. Gadis itu meremas ponsel di genggamannya, menatap layar yang menampilkan foto profil kakaknya. Puluhan panggilan telpon yang ia layangkan sama sekali tidak membuahkan hasil. Pria tegap itu seolah menghilang ditelan kegelapan malam. "Kak Jacobs... kau di mana?" bisik Elena lirih di antara terisak. "Maafkan aku, Kak... Maafkan aku..." Rasa penyesalan yang teramat sangat menghantam jiwanya. Elena menyesali perbuatannya yang telah tersulut emosi, menaikkan nada suara dan berbicara begitu kasar kepada kakak yang selama ini mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya. Sementara itu, beberapa kilometer dari sana. Di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status