Home / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 36. Dinner Yang Kacau

Share

36. Dinner Yang Kacau

Author: Dewa Amour
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-28 07:30:06

Malam ini cuaca sangat bagus. Big Lion berlayar menerjang gelombang Laut Tirenia dengan gagah. Lampu-lampu yang bersinar di kapal terlihat bak anai-anai malam dari kejauhan, indah sekali.

Nakhoda memberi instruksi agar mengurangi kecepatan laju kapal. Semua teknisi menurut. Kapal mulai melamban mengarungi laut.

Para tamu sedang menikmati dinner mereka dengan santai. Alunan biola nan merdu menambah selera makan mereka malam ini.

Genio melirik pada komplotan para Mafia yang sedang minum-minum di
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    166. Tahta Yang Kosong

    Cairan neon berwarna biru pucat mengalir pelan melalui selang transparan yang terhubung ke pembuluh darah Bella. Di dalam sel tahanan khusus subjek terpilih, Bella meringkuk di atas ubin dingin yang lembap. Tubuhnya menggigil hebat, namun keringat dingin membasahi seluruh permukaan kulitnya. Jantungnya berdegup dengan irama yang tak beraturan, seolah-olah ada makhluk asing yang mencoba mendobrak keluar dari dalam dadanya. Virus awal dari Proyek Chimera sedang bekerja, memetakan ulang jaringan saraf dan struktur molekulernya sedikit demi sedikit.Elena menempelkan wajahnya pada jeruji sel yang bersebelahan, air matanya jatuh membasahi lantai beton. "Bella... bertahanlah. Kumohon, jangan menyerah pada virus itu," bisik Elena parau, jiwanya hancur melihat sahabatnya yang biasanya tegar kini mengerang dalam kesakitan yang tak manusiawi.Di ruang rapat kaca yang menghadap langsung ke deretan sel, Dante Castanyo berdiri dengan tangan bersedekap. Di hadapannya, empat dokter spesialis genet

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    165. Subjek Eksperimen

    Malam di Danau Como yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang. Suara sepatu bot tentara Riciteli bergema di lorong-lorong marmer kastil milik keluarga Pabio. George Riciteli melangkah masuk ke ruang kerja Robert Pabio dengan aura kematian yang menyelimutinya. Di belakangnya, Luca dan sepuluh pengawal bersenjata lengkap segera melumpuhkan penjaga pribadi Robert.George mencengkeram kerah kemeja Robert Pabio, menekankan moncong pistol emasnya ke bawah dagu pria tua itu. "Di mana Jane? Di mana dia menyembunyikan Bella?!"Robert mengangkat tangan dengan gemetar, wajahnya pucat pasi. "George, kendalikan dirimu! Aku tidak tahu apa-apa! Jane bilang dia pergi ke Milan untuk urusan bisnis. Aku bersumpah, aku tidak tahu soal penyekapan itu!"George menatap mata Robert, mencari kebohongan, namun ia hanya menemukan ketakutan seorang ayah yang tidak tahu apa-apa tentang kegilaan putrinya. Ia menghempaskan Robert ke kursinya."Luca! Hubungi markas AXIS," perintah George tanpa menoleh.

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    164. Runtuhnya Kekaisaran Riciteli

    Langit Milan yang biasanya kelabu kini berubah menjadi merah membara. Suara helikopter tempur Riciteli menderu, membelah keheningan malam dengan desingan rudal yang menghantam menara pengawas EXO.Ini bukan sekadar penyerbuan; ini adalah pembersihan etnis dalam dunia hitam.George Riciteli berdiri di barisan depan, memegang dua pistol emas warisan ayahnya. Ia melangkah menembus kobaran api dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Setiap tentara EXO yang mencoba menghalangi jalannya tumbang dengan satu peluru tepat di dahi. George bergerak bagaikan malaikat pencabut nyawa yang haus akan penebusan."Temukan Dante dan Henry! Jangan biarkan satu pun dari mereka bernapas!" perintah George melalui radio.Luca dan tim elite Riciteli merangsek masuk ke ruang komando. Di sana, mereka menemukan Henry Cirilo yang sedang berusaha menghancurkan tumpukan dokumen rahasia. Henry mencoba meraih senjatanya, namun Luca lebih cepat; sebuah tembakan di kaki membuat sang pimpinan EXO t

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    163. Kematian Don Lazaro Riciteli

    Rumah Sakit Riciteli, Roma – Pukul 16.00.Koridor rumah sakit yang steril itu mendadak terasa mencekam saat ponsel di saku jas George bergetar hebat. Nama 'Carlo Riciteli' berkedip di layar. George mengangkatnya, dan suara yang menyambutnya bukanlah ketenangan biasanya, melainkan raungan mesin, desing peluru, dan napas Carlo yang tersengal penuh keputusasaan."George... Napoli... Mereka menjebak kami... Kakekmu..." Suara itu terputus oleh dentuman keras.Wajah George memucat. Ia menoleh ke arah Bella yang baru saja akan melangkah masuk ke ruang operasi untuk pengangkatan alat penyadap. "Bella, aku harus pergi. Paman dan Kakek dalam bahaya besar di perbatasan. Aku akan kembali secepat mungkin!" Tanpa menunggu jawaban, George berlari kencang meninggalkan koridor, sepatu botnya bergema di atas lantai porselen.Bella berdiri mematung, menatap punggung George yang menjauh dengan firasat buruk yang mencengkeram dadanya. Saat ia berbalik untuk masuk ke ruang operasi, dua pria berpakaian pe

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    162. Cinta Adalah Racun Paling Mematikan

    Matahari Roma yang biasanya hangat kini terasa menyengat, seolah ikut membakar emosi yang meluap di dalam aula utama Kastil Riciteli. Pintu ganda berbahan kayu ek itu terbanting terbuka, menampilkan sosok George yang melangkah masuk dengan angkuh. Di sampingnya, Bella berdiri dengan seragam taktis yang masih menyisakan noda debu dan darah kering dari Brazil."George! Apa-apaan ini?!" Suara Don Lazaro menggelegar, mengguncang lampu kristal di langit-langit. Pria tua itu berdiri dengan tongkat peraknya, wajahnya merah padam. Di sudut ruangan, Jane Pabio berdiri dengan mata sembab; kecemburuannya telah berubah menjadi kebencian yang murni. Ia menatap Bella seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.George tidak berhenti. Ia terus menarik lembut tangan Bella melewati kakeknya. "Dia akan tinggal di sini. Mulai sekarang, Bella adalah tanggung jawabku," ucap George dingin, tanpa sedikit pun keraguan."Kau membawa musuh ke dalam jantung kekuasaan kita!" raung Don Lazaro. "Dia adalah Unit 002 da

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    161. Lautan Darah Di Arpoador

    Langit malam Brasil dihiasi oleh kembang api yang meledak bagaikan pecahan permata, menerangi garis Arpoador Beach yang eksotis. Di sebuah vila megah yang bertengger di atas tebing, musik bossa nova mengalun lembut, beradu dengan suara deburan ombak yang menghantam karang. Namun, di balik kemewahan pesta Sekte Mawar Berduri, udara terasa sesak oleh konspirasi dan aroma mesiu yang tersembunyi.George Riciteli berdiri di balkon utama, mengenakan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Tangannya menggenggam segelas wiski, namun matanya tidak tertuju pada kerumunan sosialita yang menari di bawah sana. Ia menatap kegelapan laut, mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa. Di sampingnya, Jane Pabio tampak mempesona dengan gaun merah menyala yang berani, lengannya menggelayut manja di siku George."Lihatlah mereka, George. Semua orang menunggu pengumuman itu," bisik Jane, suaranya penuh kemenangan. "Malam ini, kau akan menjadi milikku sepenuhnya di depan dun

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    80. Cengkeraman Gairah

    Jarum jam dinding kuno di sudut kamar berdentang sepuluh kali, suaranya menggema dingin di langit-langit kastil yang tinggi. Meghan baru saja selesai merapikan selimut tebal yang membungkus tubuh kecil George. Napas bocah itu terdengar berat dan panas. Demam tinggi menyerangnya pasca kejadian trau

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    82. Sang Tawanan

    "BODOOOOH!"Suara lengkingan Maxi memecah kesunyian ruang kerjanya yang luas di Markas AXIS. Tanpa peringatan, ia menarik revolver peraknya dan menodongkan moncong senjatanya ke arah barisan bodyguard yang gemetar. Bibir Maxi bergetar hebat, napasnya memburu—sebuah perpaduan antara kemarahan murni

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    76. Rencana Baru

    "Mr. Agust Hernandez."Georgino mengeja nama itu dengan nada mengejek, matanya memicing menatap papan nama plastik yang tergantung di ujung ranjang rumah sakit. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada pria yang terbaring kaku di bawah selimut putih bersih. Pria itu mengenakan setelan rumah sakit

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    75. Jangan Dekati Putraku

    "George!"Suara Meghan pecah, terserap oleh sunyinya hutan di sekitar Aventine Hill. Ia berlari limbung, lentera di tangannya bergoyang liar menciptakan bayangan monster di pepohonan. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di pangkal tenggorokan. George hilang. Putranya lenyap dari kamar.

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status