ホーム / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 39. Sisi Lain Bos Mafia

共有

39. Sisi Lain Bos Mafia

作者: Dewa Amour
last update 公開日: 2025-12-29 21:00:47

"Sekocinya penuh! Kau bisa menunggu sekoci berikutnya!"

"Hei! Jauhkan tanganmu!"

"Biarkan aku naik!"

"Awas!"

Para petugas kapal kewalahan menghadapi orang-orang yang ricuh. Mereka berebut ingin naik ke sekoci lebih dulu.

Maria menoleh pada Jose. Pria itu masih mencari-cari Meghan dengan gelisah. Kapal akan karam. Mereka harus segera menaiki sekocinya.

"Naiklah lebih dulu, aku mau mencari Meghan." Jose melepaskan tangan Maria. Dia bergegas pergi melawan arus orang-orang.

"Jose!" teriak Maria.

M
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    243. Babak Baru

    Suara dentingan piano dan alunan biola mengiringi langkah Klaus menuju pada Elena. Eksekusi terakhir adalah bagiannya, ia yang merupakan ayah angkat Bella, tidak peduli dengan nyawa Elena. Bagi Klaus, Bella adalah segalanya. Elena buru-buru berdiri, merapikan gaun merahnya dan membungkukkan tubuhnya penuh hormat. "Selamat malam, Tuan Vicenzio." ​Klaus tersenyum hangat. "Terima kasih banyak sudah menyempatkan hadir di pesta kami, Dokter. Pantas saja sejak tadi aku melihat Alando tampak sangat bahagia. Setelah berhari-hari ia terus murung dan mengurung diri, malam ini untuk pertama kalinya aku melihat putraku tertawa lepas kembali." ​Elena terkejut mendengarnya. "Tuan Muda Alando terus murung? Apakah terjadi sesuatu padanya, Tuan?" ​Klaus melirik ke arah dua tamu bayaran di sampingnya, memberikan kode mata agar mereka meninggalkan mereka berdua. Setelah kedua tamu itu pergi, Klaus menarik kursi di hadapan Elena dan duduk dengan raut wajah seorang ayah yang dilanda kesedihan mendalam

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    242. Fatamorgana Ciptaan Sang Raja Mafia

    Di Rumah Sakit Pusat Palermo. ​Suasana di luar ruang IGD terasa mencekat dan dingin. Di dalam ruangan steril tersebut, tim dokter ahli sedang berjuang keras menghentikan pendarahan hebat di kepala Jacobs yang tak sadarkan diri. ​Di luar pintu kaca, Mario berjalan bolak-balik dengan raut wajah panik dan pakaian yang masih basah kuyup oleh air hujan. ​Tak lama kemudian, derap langkah kaki terburu-buru terdengar menelusuri koridor. Edoardo berlari mendekat, dan di sampingnya tampak seorang wanita cantik bertubuh ramping dengan rambut terkuncir rapi—Detektif Mia. ​Mia adalah mantan rekan satu divisi Jacobs sewaktu mereka bertugas di markas kepolisian Roma. Pria itu adalah sosok yang diam-diam dicintai oleh Mia sejak bertahun-tahun lalu. Begitu mendengar kabar kecelakaan tragis yang menimpa Jacobs dari Edoardo, Mia langsung membatalkan seluruh agenda kerjanya di Palermo dan meluncur ke rumah sakit dengan hati yang hancur. ​"Bagaimana... bagaimana kondisinya, Mario?!" tanya Edoardo na

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    241. Gaun Merah Menuju Kehancuran

    Ratusan mil dari kota Palermo.Di dalam kamar utama kastil megah yang hening, George Lazaro Riciteli sedang duduk santai di atas sofa kulit. Pria itu mengenakan jubah tidur sutra berwarna hitam murni yang longgar, memegang sebotol anggur merah mahal di tangan kirinya dengan seulas senyum kemenangan yang kejam.Ponselnya bergetar. George mengangkatnya ke telinga. "Bicaralah, Luca."Suara Luca bergaung jernih dari balik speaker. "Laporan resmi, George. Mangsa telah sepenuhnya masuk ke dalam perangkap. Saat ini ia sedang mengenakan pakaian pesta di dalam kamarnya dan akan segera kami bawa ke Hotel Victoria."George menyesap anggurnya sedikit, membiarkan cairan merah itu membasahi bibirnya sebelum terkekeh rendah yang dingin. "Kerja yang sangat luar biasa, Luca. Bawa dia ke ballroom utama tanpa ada cacat sedikit pun."George mematikan telepon. Ia melirik ke arah dua orang pelayan wanita pribadi yang berdiri menunduk di depan pintu walk-in closet."Bantu aku bersiap-siap sekarang," perinta

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    240. Harga Mati Sebuah Tawaran

    Suasana di dalam Ristorante e Bar Il Covo del Luppolo—sebuah bar eksklusif bergaya klasik Italia yang remang-remang di sudut kota Palermo—terasa dingin dan temaram.Suara alunan musik jazz pelan mengalun dari sudut ruangan, berpadu dengan gemericik hujan yang dihantamkan angin ke kaca luar.Di meja paling sudut yang terlindung dari pandangan pengunjung lain, Edoardo dan Mario sudah duduk menanti.Tak sampai sepuluh menit kemudian, sosok Jacobs yang mengenakan mantel basah melangkah cepat mendekati meja mereka dan langsung menduduki kursi kosong di tengah.Tanpa membuang kata, Edoardo mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dan menggesernya ke tengah meja. Jacobs meraih isi amplop tersebut: lima lembar foto beresolusi sedang hasil cetakan rahasia.Foto pertama dan kedua memperlihatkan siluet seorang wanita bergaun merah darah dari arah belakang dan samping di sebuah gang gelap kota Roma.Wajah wanita itu tertutup bayangan topi bertepi lebar, namun postur tubuhnya tampak ramping dan an

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    239. Memikirkan Alando

    Gerimis tipis yang menggantung sejak sore hari perlahan bertransformasi menjadi bulir-bulir air yang lebih rapat, membasahi kaca depan mobil sedan biru-putih milik kepolisian Palermo.Wiper berdecit teratur, menyapu genangan air yang memantulkan pendar remang dari lampu-lampu jalanan kota yang mulai meredup diselimuti malam.Di dalam kabin mobil yang remang dan dingin, Elena Botticelli duduk bersisian dengan kakak kandungnya, Jacobs Botticelli.Elena menyandarkan punggungnya pada kursi penumpangnya, kedua tangannya memangku tas kerjanya dengan jemari yang saling bertautan rapat.Tatapannya tertuju pada tetesan air yang meluncur di kaca jendela, namun pikirannya mengembara jauh dari jalanan Palermo yang basah.Undangan eksklusif berukir tinta emas dari Alando Vicenzio yang ia terima beberapa jam lalu seolah terus membayangi benaknya. Rasa penasaran, rasa kagum, dan getaran aneh yang tak menentu bergolak di dalam dadanya.Ia melirik samar melalui sudut matanya ke arah Jacobs yang sedang

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    238. Undangan Khusus

    Tiga hari berlalu dengan cepat. Sore harinya di Rumah Sakit Anak Sant’Agata, suasana di koridor mulai berangsur sepi. Elena Botticelli sedang menyelesaikan pemeriksaan medis terakhir pada berkas pasien anak sebelum jam dinasnya berakhir, ditemani oleh Mia yang sibuk merapikan obat-obatan di troli. Tiba-tiba, seorang perawat muda berlari mendekati mereka berdua dengan raut wajah penasaran. "Dokter Elena! Di ruang tunggu depan ada seorang tamu pria berpenampilan sangat rapi yang menanyakan keberadaan Anda." Elena mengernyitkan dahinya heran. "Menanyakan aku? Apakah kau tahu siapa dia? Seingatku aku tidak memiliki janji bertemu dengan siapa pun sore ini." Mia yang berdiri di sampingnya seketika menyenggol lengan Elena seraya tersenyum menggoda dengan mata berbinar. "Wah, wah! Apakah pangeran tampanmu, Tuan Muda Alando Vicenzio, datang lagi untuk menjemputmu, Elena?!" "Jangan bicarakan hal konyol, Mia," bisik Elena dengan wajah merona, meskipun di dalam hatinya ada sedikit rasa penasa

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status