Beranda / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 84. Benang Putus Asa

Share

84. Benang Putus Asa

Penulis: Dewa Amour
last update Tanggal publikasi: 2026-01-22 10:16:43

"Tiga tahun aku melayani AXIS. Aku rela kau perlakukan seperti alas kaki, Orlando. Namun, aku tidak akan membiarkanmu menelan organisasi ini seorang diri," desis Maxi.

Suaranya serak, ditekan oleh amarah yang membara di balik topeng peraknya. Jari telunjuknya sudah menempel pada pelatuk revolver, siap meledakkan kepala pria di depannya.

Orlando, sang pemilik topeng emas, hanya menyeringai. Ia tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. "Kau melakukan semua pengabdian itu karena kau punya agenda p
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    163. Kematian Don Lazaro Riciteli

    Rumah Sakit Riciteli, Roma – Pukul 16.00.Koridor rumah sakit yang steril itu mendadak terasa mencekam saat ponsel di saku jas George bergetar hebat. Nama 'Carlo Riciteli' berkedip di layar. George mengangkatnya, dan suara yang menyambutnya bukanlah ketenangan biasanya, melainkan raungan mesin, desing peluru, dan napas Carlo yang tersengal penuh keputusasaan."George... Napoli... Mereka menjebak kami... Kakekmu..." Suara itu terputus oleh dentuman keras.Wajah George memucat. Ia menoleh ke arah Bella yang baru saja akan melangkah masuk ke ruang operasi untuk pengangkatan alat penyadap. "Bella, aku harus pergi. Paman dan Kakek dalam bahaya besar di perbatasan. Aku akan kembali secepat mungkin!" Tanpa menunggu jawaban, George berlari kencang meninggalkan koridor, sepatu botnya bergema di atas lantai porselen.Bella berdiri mematung, menatap punggung George yang menjauh dengan firasat buruk yang mencengkeram dadanya. Saat ia berbalik untuk masuk ke ruang operasi, dua pria berpakaian pe

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    162. Cinta Adalah Racun Paling Mematikan

    Matahari Roma yang biasanya hangat kini terasa menyengat, seolah ikut membakar emosi yang meluap di dalam aula utama Kastil Riciteli. Pintu ganda berbahan kayu ek itu terbanting terbuka, menampilkan sosok George yang melangkah masuk dengan angkuh. Di sampingnya, Bella berdiri dengan seragam taktis yang masih menyisakan noda debu dan darah kering dari Brazil."George! Apa-apaan ini?!" Suara Don Lazaro menggelegar, mengguncang lampu kristal di langit-langit. Pria tua itu berdiri dengan tongkat peraknya, wajahnya merah padam. Di sudut ruangan, Jane Pabio berdiri dengan mata sembab; kecemburuannya telah berubah menjadi kebencian yang murni. Ia menatap Bella seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.George tidak berhenti. Ia terus menarik lembut tangan Bella melewati kakeknya. "Dia akan tinggal di sini. Mulai sekarang, Bella adalah tanggung jawabku," ucap George dingin, tanpa sedikit pun keraguan."Kau membawa musuh ke dalam jantung kekuasaan kita!" raung Don Lazaro. "Dia adalah Unit 002 da

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    161. Lautan Darah Di Arpoador

    Langit malam Brasil dihiasi oleh kembang api yang meledak bagaikan pecahan permata, menerangi garis Arpoador Beach yang eksotis. Di sebuah vila megah yang bertengger di atas tebing, musik bossa nova mengalun lembut, beradu dengan suara deburan ombak yang menghantam karang. Namun, di balik kemewahan pesta Sekte Mawar Berduri, udara terasa sesak oleh konspirasi dan aroma mesiu yang tersembunyi.George Riciteli berdiri di balkon utama, mengenakan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Tangannya menggenggam segelas wiski, namun matanya tidak tertuju pada kerumunan sosialita yang menari di bawah sana. Ia menatap kegelapan laut, mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa. Di sampingnya, Jane Pabio tampak mempesona dengan gaun merah menyala yang berani, lengannya menggelayut manja di siku George."Lihatlah mereka, George. Semua orang menunggu pengumuman itu," bisik Jane, suaranya penuh kemenangan. "Malam ini, kau akan menjadi milikku sepenuhnya di depan dun

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    160. Api Cemburu Menuju Brasil

    Semburat jingga matahari yang tenggelam di cakrawala Mediterania menyelinap masuk melalui celah balkon kamar George, menyinari sebuah kanvas yang kini menjadi pusat semesta bagi pria itu. George duduk dengan tenang, jemarinya yang biasanya akrab dengan pelatuk senjata kini menggenggam kuas dengan kelembutan yang kontradiktif. Di atas kanvas, sesosok wanita dengan mata tajam namun menyimpan luka mulai terbentuk—Bella. Lukisan itu begitu nyata, seolah-olah helai rambut hitam Bella bisa bergerak tertiup angin laut Roma.Pintu balkon terbuka perlahan. Carlo melangkah masuk, senyum tipis tersungging di wajahnya yang penuh pengalaman. Ia berhenti di belakang George, terdiam sejenak mengagumi detail lukisan itu."Kau punya bakat yang luar biasa, George. Lukisan ini seolah memiliki nyawa," Carlo berdecak kagum, memecah keheningan.George tersentak, sedikit terkejut namun segera kembali ke raut wajah acuhnya. Ia meletakkan kuasnya, melirik sekilas ke arah pamannya dengan tatapan malas. "Aku

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    159. Badai Emosional

    Fajar belum benar-benar pecah di langit Milan, namun keheningan Markas Besar EXO telah hancur oleh raungan alarm darurat yang memekakkan telinga. Lampu sorot merah berputar-putar di sepanjang tembok beton, menciptakan bayangan-bayangan mengerikan di lapangan utama.Alando berdiri di depan jendela kamar 204 yang terbuka lebar, wajahnya memerah karena amarah yang meledak-ledak. Di tangannya, seutas tali yang terpotong menjadi bukti bisu pelarian yang memalukan. "Cari mereka! Tutup semua akses! Jangan biarkan tikus-tikus itu keluar dari perimeter!" teriaknya hingga urat lehernya menegang.Di kamarnya yang sunyi, Bella sudah terjaga sepenuhnya. Ia berdiri di depan cermin, mengenakan topi militernya dengan gerakan mekanis yang kaku, menyembunyikan getaran halus di jemarinya. Ia tahu kekacauan ini pasti terjadi. Suara sepatu bot para tentara yang berlarian di koridor terdengar seperti detak jantung yang memburu."Siswa dari kelas bangsawan itu kabur!" suara seorang tentara terdengar di ba

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    158. Perpisahan Di Ujung Neraka

    Angin malam yang menderu di celah-celah batu benteng tua itu terdengar seperti rintihan jiwa-jiwa yang terabaikan. Di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya rembulan yang masuk melalui celah sempit, suasana terasa jauh lebih dingin daripada udara di luar. George Riciteli mondar-mandir dengan langkah yang tidak tenang, setiap hentakan sepatunya menggema di dinding benteng. Pikirannya kalut setelah mendengar detail mengerikan tentang proyek monster Dante Castanyo yang baru saja merenggut Elena."Aku akan menghubungi Carlo sekarang juga," George berhenti mendadak, tangannya merogoh saku untuk mencari ponsel satelitnya. "Pasukan AXIS bisa tiba di Amsterdam dalam hitungan jam. Kita akan meratakan laboratorium itu dan membawa Elena kembali.""Jangan!" Bella memotong dengan suara yang tajam namun penuh keputusasaan. Ia berdiri di sudut yang gelap, bayangannya memanjang di lantai beton. "Jika kau melakukan itu, George, kau membongkar keberadaan mu di sini. Kau tidak mengerti betapa luas

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    73. Sentuhan Liar

    Brak!Meja kayu jati itu berdentum keras di bawah hantaman tinju Maxi. Di depannya, James mematung dengan napas tertahan. Kabar yang dibawa pria itu hanya racun bagi pendengaran Maxi."Gagal?" desis Maxi. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang lebih mengerikan daripada teriakan. "Kau bilang

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    70. Darah Di Atas Aspal

    Pukul dua belas malam. Kastil Riciteli biasanya adalah tempat di mana kemewahan bertemu dengan keheningan, namun malam ini, atmosfernya sepekat jelaga. Di dalam bengkel pribadi yang tersembunyi, cahaya lampu neon memantul pada logam dingin. Tangan Sergio bergerak dengan presisi seorang dokter beda

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    66. Obsesi Yang Membusuk

    Malam kian larut, menyelimuti kastil di tengah hutan pinus itu dengan kesunyian yang mencekik. Cahaya bulan yang pucat hanya mampu menyentuh pucuk-pucuk pohon, meninggalkan lorong-lorong kastil dalam kegelapan yang pekat. Lily, dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suar

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    63 Kebangkitan Singa Roma (Season Dua)

    Lama meninggalkan dunia hitam dan menjalani hidup layaknya manusia biasa di Brazil, Michele Lazaro Riciteli kembali mengangkat pistolnya.Para musuh memancing sang legenda untuk keluar dari zona nyaman. Istri dan anaknya telah di culik oleh pria bertopeng perak.Bos Mafia terkenal paling sadis di R

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status