MasukSetelah acara kumpul keluarga, Prasetyo dan Pak Surya sepakat buat ngadain pernikahan mereka awal bulan depan. Jujur, ini kedengarannya terlalu cepat buat Arga dan Nindya yang bahkan baru saja kenal, bukan saling kenal melainkan baru sekali saja bertemu. Tapi mau bagimana lagi? Mereka nggak bisa menolak. Sekeras apa pun mereka nolak, keputusan itu nggak bakal berubah. Lagian, ini lebih ke keputusan Prasetyo. Pak Surya sih sebenarnya cuma ikut kata Prasetyo aja.
“Nak Arga, ayo masuk dulu…” tawar Pak Surya waktu Arga sampai di rumah sederhananya yang ada di daerah Jakarta Timur. “Gak usah om, aku di sini aja,” jawab Arga dengan wajahnya yang selalu datar jika datang kerumah ini, tanpa senyuman ramah memberi tanda menghormati calon mertua. Pak Surya cuma senyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. Kalau bukan gara-gara ayahnya yang maksa untuk datang dan fitting baju pengantin segala, Arga nggak bakal mau repot jemput cewek ini. Hari ini, dia sama Nindya dijadwalkan buat fitting baju pengantin dan tuxedo yang bakal mereka pakai nanti. Dari jauh-jauh hari, Prasetyo udah ngurus semuanya, bahkan sampai bikin janji sama pemilik butik langganan almarhumah istrinya dulu. “Nak Arga, mau minum dulu nggak?” tanya Pak Surya lagi. Arga cuma ngerasa jengah. Kenapa sih om tua ini terus-terusan nawarin sesuatu, padahal jelas dia nggak bakal terima. Lihat rumahnya aja bikin Arga enek. Apalagi memakan atau minum sesuatu dari rumah ini? tolong, Arga bakalan ngerasa jijik. Ya aneh juga, padahal Arga yang paling doyan memakan makanan masakan Nindya saat pertama kali pertemuan mereka dirumh ini. Susah memang jika gengsi sudah segede gaban. Belum sempet Arga jawab, Nindya udah muncul terlebih dahulu. “Gak usah kasih minum, nanti kelamaan,” celetuk Nindya cepat. Dia nggak mau pria sombong itu punya alasan lagi buat ngejek ayahnya atau kondisi keluarganya kayak semalam. Arga senyum miring. Tadi dia udah siap buat nolak dengan alasan mual sama apa pun yang datang dari keluarga “miskin”, tapi ternyata Nindya udah ngomong duluan. Jadi ya, dia nggak usah repot. “Ya udah, ayo berangkat,” kata Arga dingin, lalu langsung jalan ke mobilnya. “Ya ampun, dasar cowok ngeselin. Yah, aku berangkat ya…” pamit Nindya. Ayahnya cuma ngangguk. “Kalian hati-hati,” ucap Pak Surya ke anak dan calon menantunya sebelum mereka pergi. Hmm… calon menantu? Entah gimana nanti jalan pernikahan anaknya. Kalau boleh jujur, Pak Surya jauh lebih pengin anaknya nikah sama orang lain, bukan Arga. Tapi ya dia cuma bisa berharap semuanya baik-baik aja. --- Sampai di butik kenalan ayahnya di pusat Jakarta, Arga langsung parkir mobilnya. Dia cuma ngelirik Nindya sebentar, lalu buka pintu mobil. “Cepetan, gue masih banyak urusan,” ketus Arga terus ninggalin Nindya sendirian di mobil. “Ck, dasar cowok tembok. Emang dia doang yang punya urusan apa?” gerutu Nindya, lalu ikut keluar. Begitu masuk butik, Nindya langsung kagum. Dalam hati dia nggak berhenti bilang “wow”. Ya gimana, tempat belanja orang kaya tuh emang beda jauh dari kehidupannya sehari-hari. Dia yang biasanya cuma bisa beli baju di pasar, sekarang ada di butik mewah kayak gini. Buat injek kaki aja di tempat kayak gini, dia nggak pernah kepikiran. “Aku tau orang kayak kamu belum pernah liat hal kayak gini. Tapi bisa nggak mulutmu ditutup? Malu tau,” bisik Arga sinis waktu liat Nindya masih melongo. Langsung aja Nindya sadar. Apalagi beberapa orang di butik itu sempet liatin dia sambil ketawa kecil. Dia buru-buru berdehem, nutup mulut, dan coba jaga image. Oke, kali ini dia bisa maklum kalau Arga negur. Cuma ya, apa harus pake hinaan gitu? Dasar cowok sombong. “Sabar Nindya, sabar. Kalau sabar, hati lebih tenang,” batinnya. “Tuan Arga dan… calon istrinya Nindya?” sapa seorang wanita paruh baya, pemilik butik. Arga cuma senyum tipis dan ngangguk. Haruskah dia ngakuin cewek miskin ini calon istrinya? Memalukan banget. Kalau bisa, dia pengin bilang Nindya itu cuma asistennya. Tapi udah, ayahnya udah wanti-wanti, jadi dia tahan. “Wah, cantik banget. Pilihan Prasetyo buat kamu emang pas banget, Arga…” puji wanita itu sambil ngusap rambut Nindya. “Ah tante bisa aja…” balas Nindya sopan. Wanita itu senyum lembut. “Aku ngomong apa adanya, Nindya. Arga beruntung banget bisa dapetin kamu.” Arga cuma muter mata malas. Beruntung? Menurutnya justru Nindya yang beruntung dapet lelaki sempurna kayak dia. --- “Ini gaunnya sama tuxedo. Indah kan?” tanya tante pemilik butik sambil nunjukin setelan yang udah disiapin. Itu gaun dan tuxedo sebenarnya pilihan almarhumah ibunya Arga dulu, sebelum beliau meninggal. Nindya lagi-lagi kagum. Gaun itu simple tapi elegan, jelas terbuat dari bahan mahal. Buat orang kayak dia, jangankan beli, nyentuh aja nggak kebayang. “Ini pilihan almarhumah ibu Arga. Beliau dulu semangat banget nunggu pernikahan anaknya. Tapi ya… takdir berkata lain,” ujar tante itu agak sedih. “Pasti beliau liat dari atas sana,” balas Nindya sambil senyum lembut. Tante itu ikutan senyum dan ngangguk. “Ya udah, ayo coba dulu di ruang ganti. Tante bantuin kamu. Arga, kamu bisa kan?” Arga cuma angguk. Gampang lah, cuma pakai tuxedo. --- Setelah ganti baju, mereka keluar barengan. “Tante…” panggil Arga dan Nindya hampir bersamaan. Tante itu nengok, lalu matanya berbinar. “Ya ampun, kalian beneran kayak pangeran sama putri. Cocok banget!” puji tante itu. Nindya senyum malu-malu, sedangkan Arga tetap datar. Ya, dia akui Nindya kelihatan cantik. Tapi tetap aja, di hatinya cuma ada Celin. Harusnya yang ada di samping dia sekarang itu Celin, bukan Nindya. Dalam hati Arga udah nentuin: dia bakal bikin pernikahan ini jadi neraka buat Nindya. Biarlah dia dicap kejam, yang penting dia puas karena Nindya dianggapnya udah ngerebut kebahagiaannya. --- Selesai fitting, mereka balik. Tapi pas mau nyalain mesin mobil, itu mobil nggak mau hidup. “Apa mobil sebagus ini bisa mogok juga?” tanya Nindya heran. “Ck, diem. Sekarang turun, dorong mobilnya,” perintah Arga ketus. “Apa? Nyuruh cewek dorong mobil? Gila ya!” “Bawel. Emangnya kamu bisa nyetir?” Nindya langsung kalah. Ya, dia emang nggak bisa nyetir. Jadi gimana mau gantian? Mau nggak mau, dia turun dan dorong mobil dari belakang. “Dorong yang bener!” teriak Arga. “Apaan sih! Nggak liat aku udah ngos-ngosan gini?!” balas Nindya kesel. Arga senyum sinis liat cewek itu ngedorong mobil sekuat tenaga. Dan tiba-tiba, mesin nyala. Mobil langsung melaju… ninggalin Nindya jatuh ke depan. “YAAAA ARGA SIALAN!!!” teriak Nindya. Arga cuma ngelirik dari spion sambil ketawa ngakak, tanpa ada niat nolongin. TBC…"Selesai!" seru Nindya, meletakkan sendok kayu setelah menyiapkan makan malam untuk Arga.Sejak bekerja paruh waktu di cafe milik Rocky, ia selalu memastikan pulang sebelum sore agar bisa memasak untuk suaminya—meski ia tahu, Arga tidak pernah benar-benar menganggapnya istri. Tapi, setidaknya Nindya berpikir harus tetap menjalani kehidupan rumah tangga juga kan? Usai masak, Nindya berpikir untuk mandi, membersihkan tubuhnya. Tapi, baru saja ia ingin mandi, sebuah suara memanggil."Nindya."Ia berbalik cepat, lalu berlari ke pintu.Arga baru pulang.Namun bukan itu yang membuat dadanya menegang saat melihat kehadiran pria itu.Arga masuk bersama seorang wanita—cantik, anggun, dan postur tubuh yang seperti model. "Siapa wanita ini? tidak mungkin kan ini teman? atau.." Kata Nindya didalam hati, ia mencoba menebak siapa wanita itu dan memperhatikan bagaimana interaksi mereka berdua. Tangan kiri Arga melingkar di pinggang wanita itu dengan mesra. Perlakuan yang seakan menusuk jantungny
"Sebentar Celin, aku mengantuk…" Deg. Dunia Nindya seperti berhenti bergerak. Arga, yang masih memejamkan mata, justru memeluknya lebih erat. Pelukannya hangat… tapi bukan untuknya. Celin. Dari semalam… Arga mengira dirinya Celin? "Sayang, kenapa kamu diam? Biasanya kamu langsung cium kening aku…" lirih Arga, suaranya berat dan serak, seperti masih tersisa alkohol dari semalam. "Eun—" Arga tidak jadi melanjutkan. Kelopak matanya terbuka perlahan… dan saat melihat siapa yang ada dalam pelukannya, wajahnya langsung berubah drastis. "Woi, apa-apaan kamu!" Arga memekik panik, mendorong tubuh Nindya menjauh. Tatapannya turun ke tubuh mereka yang sama-sama telanjang. Dan saat itu juga, tatapan Arga berubah. Jijik. Seperti melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di dekatnya. Nindya mencoba tersenyum kecil. “P–pagi…” "Hmm. Pagi." Arga menjawab cepat, pendek, dan dingin. Ia memegangi kepalanya, berusaha mengingat kejadian semalam. Ia mabuk. Ia pulang. Lal
Malam itu rumah besar itu kembali terasa sunyi. Tak ada suara langkah kaki, tak ada dentingan gelas dari dapur. Hanya suara detik jam dinding yang terasa menusuk di antara kesepian. Nindya duduk di ruang tamu dengan wajah lelah. Televisi di depannya menayangkan drama yang sama sekali tidak menarik perhatiannya. Ia bahkan tidak tahu apa judulnya—yang penting ada suara yang menemaninya. Hanya itu yang ia butuhkan malam itu: sedikit suara di tengah sunyi. Di meja makan, dua piring sudah tertata rapi. Makanan masih hangat, tapi jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Arga belum juga pulang. “Hhh…” Nindya mengeluh lirih sambil menatap meja makan. “Sampai kapan aku menunggu orang yang bahkan tak ingin ditunggu…” Ia memegangi perutnya. Lapar. Tapi ia menahannya. Bagaimanapun juga, ia ingin makan bersama suaminya—setidaknya sekali saja malam ini. Namun begitu ia menatap jam sekali lagi, matanya terasa panas. “Sudah jam sembilan lewat tiga puluh… dia bahkan tak membe
Setelah Andreas pulang, Nindya kembali sendiri di rumah besar itu. Rumah yang megah, luas, tapi anehnya terasa begitu sunyi dan dingin. Hening. Bahkan detak jam dinding pun terasa menggema. Ia melangkah pelan ke ruang tengah. Pandangannya kosong. Andai saja... andai saja ada anak kecil yang berlari di sini, mungkin sepi ini tak akan terasa sesakit ini. “Hey... apa-apaan sih, Nindya,” gumamnya sambil menepuk pipi sendiri pelan. “Jangan mimpi yang nggak-nggak. Arga nggak nyiksa aja udah bersyukur.” Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit putih di atas sana. Andai saja Arga bisa sedikit lembut. Andai dia memperlakukan dirinya dengan baik, mungkin pernikahan ini nggak akan terasa seperti penjara. Ya, kalau saja begitu... “Huh... bosen banget,” keluhnya sambil terus gonta-ganti saluran TV. Acara gosip, sinetron, berita politik — semuanya terasa sama: hambar. Biasanya, ia sibuk bekerja, nyapu, ngepel, ngatur rumah... sekarang? Sekarang dia cuma punya waktu buat duduk
Byurrrr Nindya terbangun dari tidurnya saat ia merasakan guyuran air di tubuhnya, ia langsung duduk dengan mengusap wajahnya yang terkena air, ia mendongak dan menemukan Arga dengan memegang sebuah ember di tangannya. "Buatkan aku sarapan" perintah Arga dengan wajah dinginnya, setelah itu ia meninggalkan Nindya begitu saja tanpa berkata apapun lagi. Dengan badan yang masih terasa sakit, Nindya perlahan bangun dari tidurnya, kakinya melangkah untuk keluar gudang itu. Tapi tunggu, Nindya sadar akan sesuatu. "Astaga, aku tidak punya baju, bagaimana ini?" Nindya menggigit bibir bawahnya, bingung dengan keadaan. "Huh, tidak mungkin aku masak dalam keadaan begini? Astaga Nindya, seharusnya kau membawa pakaianmu semalam.." Ya Nindya ingat bahwa setelah resepsi pernikahannya selesai ia langsung dibawa oleh Arga ke rumah pemberian mertuanya ini, tanpa kembali ke rumah untuk mengambil pakaiannya lagi. Mata Nindya melilau ke sekitar, ia mencari sesuatu yang bisa ia gunakan. Tapi tunggu,
Setelah acara pernikahan, Arga dan Nindya pun akhirnya pergi ke rumah baru mereka yang diberikan oleh Prasetyo sebagai hadiah pernikahan mereka.Rumah yang terlihat megah dan mewah di mata Nindya.Tapi kata mertuanya itu rumah minimalis biasa? Ck dasar orang kaya. Bahkan rumah Nindya saja belum da seujung kuku rumah megah nan mewah ini. Dan yang mengesalkan bagi Nindya kata-kata dari Gunawan, pengacara tuan Prasetyo."Rumah itu hanya seharga 5 milliar dolar amerika"Wtf? Hanya dia bilang? Hanya? Bahkan jika disuruh untuk mengganti sekua pembayaran dengan seluruh orgn tubuh Nindya, harga semua organ tubuh Nindya tidak akan mampu menutupinya. Dasar orang-orang kaya, Nindya merasa tidak pantas berada di sini jadinya."Apa lagi yang kau tunggu? Ini sudah malam, jika kau sakit karena angin malam, ayahku akan menyalahkan aku." Ketus Arga yang sudah membuka pintu, ia menatap Nindya dengan datar lalu berjalan meninggalkan Nindya sendirian di sana."Apa dia saudara kembar dengan tembok? Datar







