共有

Pertemuan Pertama

作者: Pena_rusak
last update 公開日: 2025-09-27 19:11:56

"Aku Menerima Perjodohan Itu"

Setelah menerima saran yang tidak sengaja keluar dari mulut Bayu, Arga menemui ayahnya, dan langsung mengatakan jika ia menerima perjodohan itu. Prasetyo yang mendengarnya tentu merasa sangat senang, tanpa ia ketahui maksud dan fikiran jahat dari Arga akan menjadi sebuah mala petaka.

"Apakah itu benar?" Tanya Prasetyo meyakinkan, Arga menganggukkan kepalanya yang sudah merencanakan rencana jahat itu cepat.

"Wah, terimakasih anak ku, ayah merasa senang jadinya" ujar Prasetyo gembira. Ia langsung memeluk anak semata wayangnya itu erat. Sungguh ia tidak pernah merasa sesenang ini, tanpa di sadari oleh Prasetyo, Arga saat ini tengah tersenyum sinis di balik itu semua. Ia benar benar akan memulai permainannya sendiri, tanpa memikirkan apakah ia akan terjebak di permainan yang di buatnya sendiri atau tidak.

Belum terjadi, tidak ada yang tahu apa yang terjadinya nanti, termasuk Arga sendiri.

---

Setelah hari itu, hari dimana Arga mengatakan di mana ia menerima perjodohan yang baginya adalah perjodohan bodoh, Prasetyo langsung menghubungi Pak Surya untuk mengatur pertemuan pertama anak mereka, mereka memutuskan pertemuan pertama di akan di rumah keluarga Nindya, mereka akan makan malam bersama.

Dan di sinilah mereka saat ini, di kediaman sederhana keluarga Surya itu.

"Arga. Kau jangan terlalu dingin nantinya huh, dan jangan berbicara asal." Ucap Prasetyo memperingati anaknya itu lalu melirik kearah Arga yang berdiri di sampingnya, ia faham betul sikap anaknya yang diam tapi sekali ia bicara akan membuat orang sakit hati. Tidak pernah menyaring apa yang ingin ia katakan.

Saat ini, mereka sedang berada di depan pintu kayu rumah keluarga Surya, Prasetyo berdehem sebentar lalu mengetuk pintu kayu itu sebentar.

"Ah ya sebentar..." Terdengar suara seorang pria dari dalam sana setelah mereka mengetuk pintu, tidak lama kemudian, pintu itu terbuka, dan memperlihatkan wajah seorang pria paruh baya yang membukakan pintu kayu rumah itu.

"Pak Prasetyo dan Arga. Kalian sudah datang..." Sambut pria itu ramah dengan menampilkan senyumannya yang sangat ramah pula, walau sudah ada kerutan di wajahnya, tapi senyum pria tua itu masih terlihat menawan.

Tentu Prasetyo membalas nya ramah juga, tapi tidak dengab Arga yang hanya menatap datar pada Surya.

"Yak Surya, Bahkan kau masih memanggil Arga dengan embel pak, padahal dia calon menantu mu.." Balas Prasetyo lalu terkekeh pelan.

"Ah Arga, ini Pak Surya, ayah Nindya, dan juga calon ayah mertuamu.." ucap Prasetyo memperkenalkan Surya kepada Arga, Surya sudah mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Arga, tapi Arga yang angkuh hanya melirik sebentar lalu melihat kearah lain. Surya yang menyadari kesombongan itu langsung menarik kembali tangannya, ia sadar siapa dirinya dan siapa Arga, ia tidak mengambil hati tentang hal itu, ia memakluminya. Arga mau datang ke gubuknya saja sudah membuatnya merasa senang.

"A-ayo masuk. Nindya dan Naren sudah menunggu" ucapnya dengan masih tersenyum ramah, menunjukan ia tidak mengambil hati atas perilaku sombong Arga.

Sedangkan Prasetyo tersenyum canggung dan membungkukkan badannya tanda permintaan maaf atas perilaku tidak mengenakan yang di berikan oleh anaknya, Arga. Kemudian ia melirik kearah Arga.

"Jaga sikap mu Arga.." bisik Prasetyo yang hanya dapat di dengari oleh mereka berdua saja. Setelah itu ia langsung mengikuti Surya memasuki rumah itu.

"Menyebalkan dan menjijikan.." Arga bergumam pelan sebelum ia menatap seisi rumah yang sangat jauh jika di bandingkan dengan rumahnya yang mewah dan megah layaknya istana. Kemudian ia mengikuti Prasetyo untuk memasuki rumah keluarga itu.

---

"Duduk lah pak." Surya langsung menarikan kursi untuk Prasetyo dan Arga agar mereka bisa duduk. Bahkan kedua anaknya berdiri sopan melayani kedua orang itu seperti raja.

"Ini makanan nya.." ucap Naren yang meletakan semangkuk sup ayam pangsit dan di ikuti Nindya yang membawakan nasi beserta acar.

"Wah ini anak mu? Cantik seperti almarhumah ibunya." puji Prasetyo untuk berbasa-basi, bukan sekedar basa basi, hal itu memang nyata, Nindya terlihat cantik dengan dress berwarna merah, dan rambutnya yang terurai menambahkan kesan angggun pada dirinya.

"Ah begitukah? Terimakasih pak.." jawab Nindya sopan dan tersenyum lembut. Itu sangat manis, tidak kah kau sasari itu Arga? Betapa beruntungnya dirimu mendapatkan wanita mendekati kata sempurna seperti Nindya?

"Bahkan dia sangat sopan, aku tidak salah memillihkan Arga istri, bukan begitu Arga?" Tanya Prasetyo kepada Arga yang sedari tadi hanya diam saja.

"Hmm.."

"Ah maafkan Arga, dia memang agak pendiam, mungkin masih merasa malu. " Ujar Prasetyo tidak enak hati, menurutnya, dia merasa malu karena gagal mengajarkan tata krama yang baik kepada anak semata wayangnya itu.

"Ah tidak apa. Ayo kita mulai makan, setelah itu kita membahas pernikahan mereka..." Sahut Surya karena melihat perubahan pada wajah Prasetyo, ntahlah kenapa, tapi ia merasa Prasetyo merasa bersalah karena sikap anaknya. Ia harus mengalihkan pembicaraan.

Saat makan malam, tidak ada satupun yang membuka suara untuk memulai percakapan, Nindya sesekali melirik kearah Arga yang hanya diam menatap makanannya, ia seperti tidak berminat untuk makan. Ck sombong sekali

"Arga pak, ayo di makan. Maaf ini sangat sederhana.." Naren yang mendapati Arga hanya diam langsung menegurnya, ia meletakan sepotong ayam di piring Arga.

"Miskin banget ya?" Tanya Arga, seketika Prasetyo tersedak makanannya mendengar pertanyaan bodoh yang di lontarkan oleh Arga. Keluarga Surya yang baru ingin menyendokan nasi kemulut mereka langsung terdiam. Terlihat Nindya yang memegang sendoknya sekuat tenaga menahan rasa kesalnya, jika bukan karena menghargai Prasetyo, dia sudah mencabik-cabik mulut Arga sekarang.

"Sombong sekali..." Batin Nindya lalu menusuk daging ayam itu sekuat tenaganya dengan garfu, membayangkan ia sedang menusuk daging Arga saat ini.

Jika di ingat, Nindya sangat mencintai Damar, kekasihnya yang lebih tepatnya sekarang sudah menjadi mantan kekasihnya karna ia mengakhiri hubungan mereka kaena ia dengan berat hati harus menerima perjodohan ini, ayahnya mengatakan tidak mampu membayar hutang, dan Prasetyo menawarkan perjodohan ini, Jika di terima, hutangnya di anggap lunas.

Damar ingin saja membayarkan hutang itu, tapi Surya tentu menolak, karna hutang yang di maksud olehnya bukan hutang uang, tetapi hutang nyawa.

"M-maafkan anakku.." ucap Prasetyo serba salah.

"Tidak apa, ayo di makan lagi, itu hal biasa, nak Arga hanya belum terbiasa.." balas Surya lalu terkekeh pelan, seolah mengatakan ia tidak mengambil hati atas pertanyaan Arga tadi.

"Sebaiknya kau coba acar ini.." ucap Nindya lalu meletakan acar pedas itu sangat banyak di piring Arga.

"Kau pasti akan sangat suka." Ucap Nindya lalu memamerkan senyuman jahatnya.

"Nindya It--"

"Tidak apa Surya, Arga pasti sangat suka." Ucap Prasetyo memotong perkataan Surya, setelah itu, Arga melihat tatapan ayahnya yang seakan mengatakan 'Makan atau mati?'

Arga bergidik ngeri di buatnya.

Padahal Prasetyo tau, Arga tidak suka rasa pedas, tapi bagi Prasetyo mulut Arga harus di hukum.

"Awas kau.." batin Arga lalu memasukan sesendok nasi yang sudah di campur sup dan acar pedas itu. Arga merasakan sensasi pedas yang luar biasa, tapi itu sangatlah enak, ia sampai lupa jika ia tidak suka pedas. Arga memakan nya dengan lahap, mereka yang ada di meja makan itu hanya melongo melihat Arga yang makan seperti orang yang sangat kelaparan.

"Enak kan pak? Itu masakan Nindya kak" goda Naren yang melihat Arga memakannya sangat lahap, bahkan ia menambah isi piringnya.

"Gak biasa aja.." jawab Arga lalu memakan nya secara perlahan, padahal itu benar benar sangat enak.

Surya dan Naren hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arga, Nindya hanya tersenyum sinis dalam diam. Sedangkan Prasetyo menopang dagunya sambil melirik kearah Arga, bibirnya mengulum senyuman mengejeknya.

"Dasar gengsi.."

TBC...

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   12

    Suara deruman mesin mobil Arga terdengar saat ia memasuki perkarangan rumahnya, pria yang baru saja kembali dari apotik itu langsung terburu-buru turun dari mobil saat mobil sudah terparkir dengan rapi. Dengan langkah cepat, ia dengan tergesa-gesa masuk kedalam rumah dan menuju dapur untuk melihat keadaan Nindya, rasa khwatir yang sejak tadi ia tahan sejak keluar dari rumah benar-benar menggerogoti hatinya. Namun, rasa khawatir itu langsung mereda saat Arga mendapati Nindya tengah duduk menikmati semangkuk bubur yang tadi sudah ia siapkan. Arga dengan cepat mengontrol wajahnya, wajahnya kembali datar seperti biasanya, kemudian ia berdeham. "EKHM!" Nindya menoleh dengan cepat, mendapati Arga yang sudah berdiri tidak jauh darinya. Seketika Nindya teringat kejadian sebelumnya, terlebih saat Arga tifak mengizinkannya duduk di meja makan, bahkan melarang Nindya makan di piring dan perentelan sejenisnya. Nindya langsung melepas sendok yang ia gunakan, wanita itu langsung berdi

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Bab 11

    "Hey? kau tidak mati kan? Nindya bangunlah!" Tanya Arga begitu saat ikat pinggang yang ia gunakan untuk memukul Nindya tanpa sengaja malah mengenai kepala wanita yang berstatus istri sahnya itu. Dan entah kenapa, tersebesit rasa penyesalan dan rasa kasihan di lubuk hati Arga. Aneh, seharusnya tidak sepert ini, harusya ini berjalan sesuai dengan niat awal, ini memang tujuan Arga. Tapi, kenapa sekarang ia malah mengkhawatirkan Nindya? Bukankah seharusnya Arga merasa senang? "Nindya?" Panggil Arga khawatir, pria itu berjongkok untuk menyamai posisinya dengan Nindya, "Hey Nindya, ini gak lucu.. Bangunlah! aku tidak akan memukulmu lagi." Ujar Arga sembari terus menampar-nampar kecil pipi Nindya yang terasa dingin. Ia pandangi wajah pucat Nindya yang nyaris membiru, sekelibat bayangan tentang meja makan yang masih di penuhi oleh makanan yang tak tersentuh sama sekali muncul begitu saja di kepala Arga. Saat itulah, Arga ingat jika Nindya belum makan sama sekali, bahkan mungkin sejak

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Nindya pingsan

    "Selesai!" seru Nindya, meletakkan sendok kayu setelah menyiapkan makan malam untuk Arga.Sejak bekerja paruh waktu di cafe milik Rocky, ia selalu memastikan pulang sebelum sore agar bisa memasak untuk suaminya—meski ia tahu, Arga tidak pernah benar-benar menganggapnya istri. Tapi, setidaknya Nindya berpikir harus tetap menjalani kehidupan rumah tangga juga kan? Usai masak, Nindya berpikir untuk mandi, membersihkan tubuhnya. Tapi, baru saja ia ingin mandi, sebuah suara memanggil."Nindya."Ia berbalik cepat, lalu berlari ke pintu.Arga baru pulang.Namun bukan itu yang membuat dadanya menegang saat melihat kehadiran pria itu.Arga masuk bersama seorang wanita—cantik, anggun, dan postur tubuh yang seperti model. "Siapa wanita ini? tidak mungkin kan ini teman? atau.." Kata Nindya didalam hati, ia mencoba menebak siapa wanita itu dan memperhatikan bagaimana interaksi mereka berdua. Tangan kiri Arga melingkar di pinggang wanita itu dengan mesra. Perlakuan yang seakan menusuk jantungny

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Bukan Celine

    "Sebentar Celin, aku mengantuk…" Deg. Dunia Nindya seperti berhenti bergerak. Arga, yang masih memejamkan mata, justru memeluknya lebih erat. Pelukannya hangat… tapi bukan untuknya. Celin. Dari semalam… Arga mengira dirinya Celin? "Sayang, kenapa kamu diam? Biasanya kamu langsung cium kening aku…" lirih Arga, suaranya berat dan serak, seperti masih tersisa alkohol dari semalam. "Eun—" Arga tidak jadi melanjutkan. Kelopak matanya terbuka perlahan… dan saat melihat siapa yang ada dalam pelukannya, wajahnya langsung berubah drastis. "Woi, apa-apaan kamu!" Arga memekik panik, mendorong tubuh Nindya menjauh. Tatapannya turun ke tubuh mereka yang sama-sama telanjang. Dan saat itu juga, tatapan Arga berubah. Jijik. Seperti melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di dekatnya. Nindya mencoba tersenyum kecil. “P–pagi…” "Hmm. Pagi." Arga menjawab cepat, pendek, dan dingin. Ia memegangi kepalanya, berusaha mengingat kejadian semalam. Ia mabuk. Ia pulang. Lal

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Hanya ilusi

    Malam itu rumah besar itu kembali terasa sunyi. Tak ada suara langkah kaki, tak ada dentingan gelas dari dapur. Hanya suara detik jam dinding yang terasa menusuk di antara kesepian. Nindya duduk di ruang tamu dengan wajah lelah. Televisi di depannya menayangkan drama yang sama sekali tidak menarik perhatiannya. Ia bahkan tidak tahu apa judulnya—yang penting ada suara yang menemaninya. Hanya itu yang ia butuhkan malam itu: sedikit suara di tengah sunyi. Di meja makan, dua piring sudah tertata rapi. Makanan masih hangat, tapi jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Arga belum juga pulang. “Hhh…” Nindya mengeluh lirih sambil menatap meja makan. “Sampai kapan aku menunggu orang yang bahkan tak ingin ditunggu…” Ia memegangi perutnya. Lapar. Tapi ia menahannya. Bagaimanapun juga, ia ingin makan bersama suaminya—setidaknya sekali saja malam ini. Namun begitu ia menatap jam sekali lagi, matanya terasa panas. “Sudah jam sembilan lewat tiga puluh… dia bahkan tak membe

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Duo Bodyguard

    Setelah Andreas pulang, Nindya kembali sendiri di rumah besar itu. Rumah yang megah, luas, tapi anehnya terasa begitu sunyi dan dingin. Hening. Bahkan detak jam dinding pun terasa menggema. Ia melangkah pelan ke ruang tengah. Pandangannya kosong. Andai saja... andai saja ada anak kecil yang berlari di sini, mungkin sepi ini tak akan terasa sesakit ini. “Hey... apa-apaan sih, Nindya,” gumamnya sambil menepuk pipi sendiri pelan. “Jangan mimpi yang nggak-nggak. Arga nggak nyiksa aja udah bersyukur.” Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit putih di atas sana. Andai saja Arga bisa sedikit lembut. Andai dia memperlakukan dirinya dengan baik, mungkin pernikahan ini nggak akan terasa seperti penjara. Ya, kalau saja begitu... “Huh... bosen banget,” keluhnya sambil terus gonta-ganti saluran TV. Acara gosip, sinetron, berita politik — semuanya terasa sama: hambar. Biasanya, ia sibuk bekerja, nyapu, ngepel, ngatur rumah... sekarang? Sekarang dia cuma punya waktu buat duduk

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Permainan Arga

    Byurrrr Nindya terbangun dari tidurnya saat ia merasakan guyuran air di tubuhnya, ia langsung duduk dengan mengusap wajahnya yang terkena air, ia mendongak dan menemukan Arga dengan memegang sebuah ember di tangannya. "Buatkan aku sarapan" perintah Arga dengan wajah dinginnya, setelah itu ia meni

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Malam pertama

    Setelah acara pernikahan, Arga dan Nindya pun akhirnya pergi ke rumah baru mereka yang diberikan oleh Prasetyo sebagai hadiah pernikahan mereka.Rumah yang terlihat megah dan mewah di mata Nindya.Tapi kata mertuanya itu rumah minimalis biasa? Ck dasar orang kaya. Bahkan rumah Nindya saja belum da

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Pernikahan

    Sekarang tibalah hari itu, hari di mana Arga dan Nindya akan melangsungkan pernikahan mereka.Nindya yang berdiri di depan cermin rias menatap pantulan bayangan dirinya sendiri. Gaun pengantin putih sudah membalut tubuhnya, membuatnya terlihat lebih cantik, anggun, bahkan muaris sempurna sempurna d

  • DIJODOHKAN : SUAMI KEJAMKU   Fitting

    Setelah acara kumpul keluarga, Prasetyo dan Pak Surya sepakat buat ngadain pernikahan mereka awal bulan depan. Jujur, ini kedengarannya terlalu cepat buat Arga dan Nindya yang bahkan baru saja kenal, bukan saling kenal melainkan baru sekali saja bertemu. Tapi mau bagimana lagi? Mereka nggak bisa m

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status